GHOST IS REAL 2

GHOST IS REAL 2
KELUARGA BAHAGIA



Di suatu kerajaan, hiduplah keluarga yang bahagia. Keluarga itu selalu bersama dan kehangatan terus menyelimuti mereka, ayah dari keluarga itu bernama Tuv.


Tuv adalah seorang ayah yang sangat peduli dan perhatian kepada anak perempuannya, Tuv selalu mengajak anaknya bermain saat libur sekolah tiba. Anak perempuannya tidak pernah merasa sedih atau pun kesepian, anaknya sangat bahagia ketika ia bersama ayahnya.


Tuv sangat menyayangi putrinya itu, ia bahkan tidak ingin putrinya menangis. Jiwa seorang ayah di dalam diri Tuv bagaikan buah yang mantang, Tuv ayah yang baik dan ingin sekali anaknya mendapatkan kebahagiaan terlebih dulu dari pada dirinya.


Tuv bekerja sebagai penjual kayu, setiap pagi ia berangkat menuju hutan bersama teman - temannya untuk menebang pohon dan menjualnya. Sebelum berangkat, anaknya dengan cepat memberi Tuv kotak makan. Tuv senang dan ia mengelus kepala anaknya dan pergi.


Tuv berjalan ke hutan dan ia ingin secepatnya pulang ke rumah untuk makan malam, di rumah Tuv. Anaknya sedang membuat kue bersama ibunya, anak Tuv sangat fokus membuat adonan kue.


Ibu melihatnya dengan senyuman dan ibu ikut membantunya, anak Tuv ingin membuat kejutan untuk ayahnya. Di sisi lain Tuv sedang bekerja dengan temannya, ia dan temannya sedang menebang kayu.


Temannya berkata, "Tuv, kita akan membawa banyak kayu. Musim dingin sebentar lagi tiba dan permintaan kayu sangat banyak. Sepertinya kita akan banyak menghabiskan waktu."


Tuv mendengar itu dan berkata, "Tidak apa, ayo cepat selesaikan ini."


Tuv dan temannya melakukan pekerjaan, Tuv mengikat kayu yang sudah di potong setelah itu Tuv memotong kayu lagi. Setelah memotong beberapa kayu, Tuv menanam bibit pohon agar ekosistem tidak rusak.


Setelah melakukan pekerjaannya, Tuv melihat ke langit dan ia melihat sinar matahari yang berwarna oren. Sekarang sudah waktunya untuk pulang, tapi Tuv masih melihat beberapa kayu yang belum di potong dan di ikat.


Tuv merasa sedih karena terlambat pulang, temannya melihat wajah Tuv yang sedih dan temannya mengerti perasaan Tuv. Temannya berkata, "Tuv, bawa kayu itu dan potong di rumahmu. Setelah itu bawa ke rumahku ya!"


Tuv terkejut dan senang mendengar perkataan tamannya. Tuv tersenyum dan berkata, "Terima kasih, aku akan secepatnya membawa kayu itu ke rumahmu."


Temannya tersenyum melihat Tuv sangat senang, temannya berkata, "Baiklah kau boleh pulang Tuv."


Tuv mengangguk dan ia mengangkat kayu itu di pundaknya, setelah itu ia membawa kapaknya dan pulang. Saat sampai di rumah, Tuv menaruh kayunya dan mengetuk pintu. Pintu terbuka dan anaknya melihat Tuv, anaknya memeluk Tuv dan ibu melihat mereka.


Tuv berkata, "Sayang maaf, tapi aku harus membawa kayu ini ke gudang."


"Tidak apa - apa, tapi jangan mengenai makanan kita." Kata istrinya.


Tuv mengangguk dan masuk ke dalam rumah sambil membawa kayu dan kapak, Tuv menaru kayu di gudang dan ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi, Tuv terkejut melihat anaknya tiba - tiba berada di depannya.


Tuv tersenyum dan berkata, "Ada apa?"


Anaknya memegang tangan Tuv dan menariknya sampai di meja makan, ibunya sudah menunggu dan di atas meja makan, terdapat kue yang masih hangat.


Tuv melihat kue itu dan berkata, "Ini buatanmu?"


Anaknya mengangguk dan Tuv tersenyum sambil duduk, saat mengambil satu kue dan memakannya. Tuv terkejut karena rasanya yang sangat enak, Tuv berkata, "Ini sangat enak!"


Wajahnya anak Tuv terlihat sangat senang mendengar perkataan ayahnya, anaknya ikut duduk di samping Tuv dan mereka makan bersama. Istri Tuv terlihat tersenyum melihat mereka memakan kue dengan lahap.


Hari demi hari mereka lewati bersama, waktu terus berjalan dan Tuv sangat bahagia bersama keluarganya. Pada saat musim dingin tiba, Tuv di luar sedang memotong kayu terakhirnya sebelum memberinya kepada temannya.


Pada saat itu, pintu tiba - tiba terbuka. Anaknya Tuv membukanya dan berkata, "Ayah, sudah hampir malam. Ayo masuk ke dalam, ayah pasti kedinginan bukan?"


Tuv berkata, "Sedikit lagi ayah selesai."


Anaknya menunggu Tuv sampai selesai, ketika selesai memotong kayu terakhir. Anaknya membantu Tuv membawa beberapa kayu ringan, Tuv dan anaknya menaru kayu itu di gudang setelah itu mereka menuju ke meja makan.


Malam sudah tiba dan saatnya untuk makan malam, Tuv sebelum itu sudah memasak sup untuk anaknya, Tuv memakai sarung tangan dan membawa sup itu sampai di meja makan.


Saat anaknya duduk dan Tuv sedang menaru sup ke piring, anaknya melihat ke kanan dan ke kiri. Ia berkata, "Di mana ibu?"


Tuv diam beberapa saat, setelah itu ia tersenyum dan berkata, "Ibu berada di kamar, ibu sedang sakit."


"Apa ayah tidak memberitahumu? Sepertinya ayah lupa." Kata Tuv.


Tuv kemudian memberi sup kepada anaknya dan berkata, "Ayah akan ke atas untuk memberi sup ini kepada ibumu. Kamu makanlah."


"Baik ayah." Kata anak Tuv.


Saat meninggalkan anaknya dan menaiki tangga. Tuv berkata, "Kenapa aku membohonginya lagi."


Tuv sampai dan membuka pintu, terdengar suara batuk di dalam dan Tuv mendekati istrinya yang sedang terbaring. Tuv menaru sup di meja dan berkata, "Sayang, ayo makanlah."


"Uhuk - uhuk. Aku tidak lapar." Kata istrinya Tuv.


"Tapi kamu harus makan." Kata Tuv.


"Ayo, satu suapan saja." Kata Tuv membujuk istrinya.


Istrinya bangun dan Tuv menyuapi istrinya, Tuv menyuapi istrinya dengan wajah sedih. Ia tampak kebingungan, penyakit istrinya benar - benar aneh. Ia dan istrinya pernah memeriksa ke dokter, tetapi dokter tidak bisa berbuat apa - apa karena penyakit aneh ini.


Penyakit ini bisa membuat tubuh sangat lemas dan seperti tidak mempunyai energi, tubuh yang lemas ini bisa mendatangkan penyakit lain karena imun di tubuh menurun. Penyakit ini belum bisa di sembuhkan oleh dokter, Tuv berencana untuk pergi bersama istrinya menuju kerajaan lain untuk menemui dokter yang bisa menyembuhkan penyakit itu.


Tapi istri Tuv menolaknya karena mungkin ini adalah penyakit keturunan, tapi Tuv tidak percaya itu. Sekarang istri Tuv hanya meminum obat yang di beri oleh dokter, obat itu hanya meredam rasa sakit dan tidak menyembuhkan penyakit itu.


Tuv berkata kepada istrinya, "Aku akan mencari obat untukmu!"


Istrinya berkata, "Tidak usah, mungkin penyakit ini tidak ada obatnya."


"Apa yang kamu bicarakan, aku akan membuat dirimu sembuh." Kata Tuv dan air matanya mengalir.


Istri Tuv tersenyum dan memeluk Tuv, istrinya berkata, "Terima kasih, tapi siapa yang akan menjaga anak kita. Aku belum tentu bisa menjaganya, jadi tidak usah melakukan itu."


Tuv tidak berkata apa - apa, ia terdiam dan memeluk erat istrinya. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi, hatinya merasa sangat sakit membiarkan istrinya terus merasakan kesakitan.


Tuv tidak mau itu terjadi, tapi istrinya tidak ingin merepotkan Tuv. Tuv bingung dan sedih, apa yang harus ia perbuat? Tuv hanya keluar dari kamar istrinya dan membawa piring sampai ke dapur.


Anak Tuv selesai makan dan melihat Tuv yang sedang cuci piring. Wajah Tuv terlihat sedih dan anaknya berkata, "Ayah, ada apa?"


Tuv menengok dan berkata, "Tidak apa - apa, kamu sudah selesai makan? Sana tidurlah, besok kamu sekolah bukan?"


"Baik ayah." Kata anaknya dan meninggalkan Tuv.


Tuv merasa sedih dan ingin menangis, tapi ia tidak bisa melakukannya. Malam itu adalah malam yang membuat Tuv sangat sedih, ia hampir tidak bisa tidur. Ia selalu memikirkan istrinya, di malam itu Tuv memeluk erat - erat istrinya saat tertidur.


Pagi harinya, Tuv menyiapkan sarapan. Setelah sarapan siap, Tuv membawa makanan ke atas dan membuka pintu kamar istrinya. Tuv berjalan dan menaru makanan di meja. Ia berkata, "Sayang bangun, ayo makan setelah itu minum obat."


Tidak ada jawaban, Tuv mulai mengelus - elus tubuh istrinya dan berkata, "Sayang ayo bangun."


Setelah mengelus tubuh istrinya, Tuv baru menyadari kalau tubuh istrinya sangat dingin. Tuv panik dan ketika ia melihat wajah istrinya, wajah istrinya terlihat pucat.


Tuv semakin panik dan ia berkata, "Sayang - sayang!!"


Mata Tuv melotot dan berkata, "Nafasnya, denyut nadinya."


Tuv menangis sejadi - jadinya dan ia tidak percaya ini akan terjadi. Tuv berkata sambil menangis, "Kenapa kita berpisah secepat ini!!!!"