
Iniko dengan wajah yang berkeringat mulai berjalan perlahan menuju desa itu.Dengan perlahan Iniko berjalan dan tidak menunjukan sesuatu yang menonjol agar ia tidak menjadi pusat perhatian para hantu - hantu itu.Iniko merasa hawa di sekitaran desa ini sangat dingin dan berkabut.Jantung Iniko berdegub sangat kenjang dan Iniko merasa ketakutan saat berjalan melihat rumah - rumah desa itu.
Iniko berjalan dan saat melihat ke kanan dan kiri.Rumah di desa itu terbuat dari rotan dan atapnya di tutupi oleh daun kelapa.Iniko merasa ini seperti desa jaman dulu.Iniko berjalan dan mengelilingi desa itu.Iniko melewati banyak hantu dengan wajah menyeramkan,Iniko berusaha menjaga tingkah lakunya di hadapan hantu - hantu itu.Iniko berkeliling desa dan melihat beberapa sawah.
Iniko melihat ada tempat duduk yang terbuat dari bambu dan Iniko langsung mendudukinya.Iniko duduk dan berfikir merencanakan rencana yang matang.Iniko harus matang - matang memikirkan tentang bagaimana caranya dia bisa berinteraksi dengan hantu - hantu itu tanpa membuat mereka tidak nyaman.Iniko harus menggunakan bahasa yang ramah dan juga ia harus memiliki indentitas yang baik di desa ini.
Iniko harus berkenalan kepada penduduk desa atau para hantu - hantu itu agar Iniko memiliki reputasi yang baik.Iniko merasa penduduk desa tidak menyerangnya kalau dia tidak melakukan sesuatu yang menyimpang.Iniko berfikir di keadaan gelap dan kegelapan itu di sinari oleh bulan yang terang.Iniko mulai merencanakan sesuatu di kepalanya dan setelah setelah berfikir Iniko berdiri.
"Kakak,kau sedang apa? Kau seperti orang bodoh." Iniko terkejut dan menengok kebalakang.
Seorang gadis kecil sedang memegang boneka kelinci yang kotor dan sedang terduduk di samping Iniko.Iniko melihat gadis itu memakai pakaian warna putih dengan beberapa debu di pakaiannya.Iniko ketakutan melihat seorang gadis di depannya.
Iniko mencoba menenangkan dirinya dan berkata, "Aku sedang duduk sebentar,adik sedang apa?" Kata Iniko dengan tersenyum pada gadis itu.
Gadis itu melihat Iniko dengan tatapan suram dan berkata, "Aku sedang bermain bersama Perry dan aku tersesat.Aku lupa rumahku di mana."
Iniko tersenyum dan berkata, "Kalau begitu mau kakak antar sampai ke rumahmu?"
Gadis itu mengangukan kepalanya dan memegang tangan Iniko.Iniko dan gadis itu berjalan menuju rumahnya.Tangan gadis itu sangat dingin dan Iniko melihat wajahnya pucat,bibirnya kering dan kelopak matanya berwarna hitam.
Iniko tidak tahu di mana rumah gadis itu dan ia mau bertanya pada seseorang.Iniko melihat seseorang yang sedang melihat sawah dan Iniko berkata, "Pak,di mana ya rumah gadis ini?"
Orang itu berbalik arah dan Iniko terkejut karena orang itu tidak memiliki mata,hidung,kuping,dan mulut.Iniko menelan ludahnya dan mengulangi perkataannya, "Pak,di mana ya rumah gadis ini?" Orang itu tidak berbicara,ia hanya menunjuk pada suatu rumah dan Iniko mengerti.
Iniko berkata, "Terima kasih pak."
Iniko berjalan bersama gadis itu dan tangan Iniko gemetaran karena ketakutan melihat wajah orang itu.Iniko hanya bisa menyembunyikan rasa takutnya agar ia tidak di curigai oleh penduduk di desa.Iniko dan gadis itu sudah sampai di pintu depan rumah,Iniko menjulurkan tangannya dan dengan perlahan mengetuk pintu itu sampai tiga ketukan.
Setelah itu ia berkata dengan nada ketakutan, "Permisi,apa ada orang?"
Iniko menunggu pintu terbuka tetapi pintu tidak terbuka,Iniko menunggu beberapa menit dan saat ingin di ketuk lagi,pintu tiba - tiba saja terbuka.Seorang perempuan dengan celemek yang robek membuka pintu dan Iniko merasa kalau itu adalah ibu gadis itu.Iniko melihat wajah ibunya,wajah ibu gadis itu pucat dan sama persisi seperti gadis itu.
Dengan nada lambat perempuan berkata, "Ada apa ya?"
Iniko menghembuskan nafasnya dan berkata, "Apa ini anak ibu?"
Perempuan itu melihat gadis yang di samping Iniko dan dengan wajah cemberut berkata pada Iniko, "Iya benar."
"Baguslah kalau begitu,tadi dia tersesat dan lupa jalan pulang,jadi saya bantu mengantarkannya sampai rumah." Kata Iniko dan tersenyum ramah,meski begitu Iniko masih ketakutan di dalam dirinya.
tersenyum, "Terima kasih." Iniko melihat senyuman yang mengerikan itu dan ia semakin takut melihat seorang wanita tersenyum di hadapannya.
Iniko menunduk dan berkata, "Kalau begitu saya permisi pergi dulu."
Ibu gadis itu berkata, "Jangan pergi dulu,sebagai ucapan terima kasih bagaimana kalau kita makan malam bersama."
Iniko dengan wajah berkeringat dan sangat ketakutan berkata pada hatinya, "Bagaimana ini?! Apa aku harus menolak? Tetapi bukannya itu tidak sopan,aku harus menerimanya tapi aku sangat takut."
Iniko mengertakan giginya dan dengan senyum terpaksa berkata, "Ba baik." Iniko masuk ke dalam rumah sambil melepas sepatunya dan dengan ketakutan berjalan dengan perlahan.
Iniko mulai memberanikan dirinya melihat ke depan,saat melihat ke depan ia melihat ada beberapa rak dan di dalam rak itu terdapat foto keluarga yang di bingkai.Iniko melihat itu dari dekat dan melihat ada seorang ibu dan di samping ada seorang suaminya.Di depan ada seorang gadis kecil,Iniko menyadarinya kalau ini adalah foto keluarga gadis itu.Tetapi jika di lihat,keadaan yang terlihat di foto itu tampak baik - baik saja,wajah mereka terlihat normal dan tidak seperti yang di lihat Iniko sekarang.
Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.Iniko di panggil oleh ibu gadis itu dan dengan cepat Iniko sampai di meja makan.Iniko sampai dan di suruh untuk duduk,Iniko duduk dan mereka berdua menatap Iniko dengan tatapan yang membuat Iniko menunduk dan tidak berani melihat tatapan mereka.Suasana di meja makan itu sangat sunyi,tidak ada yang mengambil makanan duluan dan tidak ada yang berbicara.
Iniko tidak ingin mengambil makan duluan karena merasa tidak enak.Iniko hanya terdiam beberapa menit dan mulai berbicara duluan.
Iniko berkata pada gadis itu, "Ayah kamu kemana?"
Gadis itu menjawab, "Ayah sedang bekerja di ladang,sebentar lagi dia akan pulang.Ah itu dia."
Pintu terbuka dengan sangat pelan,tangan mulai terlihat,suara pintu terbuka dan kabut yang masuk ke dalam rumah.Iniko hanya melihat pintu yang terbuka itu dengan wajah ketakutan.
Seorang pria masuk dengan memakai baju robek dan dengan membawa pacul di pundaknya.Wajahnya sama seperti gadis dan ibu itu.Iniko hanya bisa terdiam dan melihat pria itu dengan wajah yang tidak bisa di jelaskan.
Pria itu berkata, "Ternyata ada tamu."
Iniko dengan sikap paling sopan dan ramah dengan tersenyum lebar berkata, "Hallo,perkenalkan saya orang baru,cari saja saya jika anda mambutuhkan bantuan saya,saya siap membantu kapan pun." Iniko sudah sangat ketakutan sehingga menggunakan bahasa paling formal.
"Oh,kalau begitu ayo kita makan bersama." Kata pria itu dan dengan menaru paculnya ke lantai,ia duduk bersama dan di situlah Iniko mulai berani mengambil makanan.Iniko hanya mengambil makanan sedikit dan tidak berani mengambil banyak makanan.Iniko makan dengan perlahan dan melihat ketiga orang itu makan.
Pria itu berkata sambil melihat Iniko, "Sepertinya kita akan cepat kehabisan makanan.Cepat beri tamu kita ini makan yang banyak." Ibu gadis itu tiba - tiba saja lehernya memanjang dan lehernya mengeliat seperti ular dan dengan mulutnya ia mengambil makanan dari dapur dan menarunya di meja itu.
Iniko berhenti mengunyah karena terkejut dan itu membuatnya kesulitan dalam menelan makanannya.Iniko merasa kalau rumah ini lebih seram dari apa pun yang di takuti oleh Iniko.Iniko hanya bisa makan dan makan sampai makanannya habis.
Saat sudah selesai makan bersama,Gadis itu berkata, "Ayo bermain bersamaku."
Iniko dengan berkata dengan nada lemas, "Ba baik."