Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
THE END



Sheryl menatap bangunan sekolah di hadapannya. Sekolah yang bakal melukiskan banyak kenangan kalau Sheryl nanti lulus, entah kenangan dengan guru, teman, atau ... bersama Alanzo. Sheryl masih tampak cantik dengan dress simple berwarna putih serta polesan make up natural. Iturun dari mobil BMW-nya, melangkahkan high heels keemasan miliknya memasuki area sekolah.


Sheryl mengerutkan kening kala tak mendapati kehadiran seorang pun di sini padahal lampu di sepanjang koridor menyala. Sheryl berpikir positif, mungkin semua orang berada di aula mengetahui acaranya memang diadakan di aula.


Cewek itu memasuki Aula, tapi hanya ada ruangan gelap. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rimbi, tapi kenapa Rimbi tidak aktif?


Sekarang, ia menghubungi Shakir, tapi sama. Tidak aktif.


Mau tak mau, Sheryl harus menghubungi Omero. Setidaknya, yang paling soft di antara cowok-cowok itu adalah Omero. Namun, Omero tidak menjawab panggilannya sama sekali.


Hembusan nafas keluar dari bibir cantiknya. Tidak, dia tidak akan menghubungi Alanzo, ‘kan? Terakhir kali Sheryl menghunginya mengucapkan ‘selamat malam’, cowok itu tidak membalas. Bahkan sebelum-sebelumnya Alanzo hanya menjawab singkat-singkat pesannya meski Sheryl mengetikkan kalimat panjang seolah Alanzo tidak ingin diganggu.


Cewek itu kini berjalan mengelilingi sekolah. Berharap meihat kehadiran seseorang. Namun, nihil. Sejauh Sheryl towaf seluruh sekolah yang se-gedhe hutan ini, tetap sepi. Akhirnya Sheryl melangkah menuju gerbang, sudah kesal, ingin pulang saja.


Tapi wait ... “Kok dikunci?!”


Sheryl kini berteriak memanggil-manggil satpam. “Pak! Bukain! Ada orang di dalem! Pak!” Dengusan kesal hinggap ke udara saat tidak ada yang mendengar. Kalau saja gerbang sekolah tidak setinggi itu, Sheryl yakin ia sudah meloncat.


Kini, Sheryl berusaha menelepon Taletta, Hawra, Eros, supir pribadinya, atau bahkan kakaknya, tapi tidak ada yang menjawab! “Mereka semua lagi apa sih?!” sebalnya.


Sheryl terduduk di kursi dekat gerbang, menengok jam yang menunjukkan ia sudah setengah jam di sini. Terus mengamati ponsel sebelum jarinya dengan yakin mengetikkan sesuatu pada Alanzo.


Ting!


Alanzo: Apa?


Sheryl melototkan mata tak percaya saat tahu pesannya ternyata dibalas secepat itu.


^^^You: mlm ini pesta ultah sklh kn? Kok sepi?^^^


Alanzo mengetik ...


Alanzo: bkn, ultah skolah msh buldep


Sheryl melotot. Mampus!


^^^You: oh gt, oke thanks^^^


Alanzo: lo dmn?


^^^You: sekolah^^^


Alanzo: coba liat sesuatu di bawah kursi yg lo dudukin!


Hah?


Alanzo: cepet!


Dengan cepat, Sheryl mengikuti apa yang Alanzo mau dan menemukan sebuah kertas keemasan di sana. Sheryl membalikkan kertas itu, memunculkan tulisan: Ballroom sekolah sekarang!


***


Sheryl melangkahkan kakinya menuju ballroom sesuai dengan instruksi kertas tadi. Di depan ballroom sudah terdapat seorang cowok yang sedang berdiri mengangkat sebuah kertas bertuliskan ‘masuk aja, gak ada yang gigit!’ yang membuat Sheryl terkekeh.


“Acara ultahnya diganti di ballroom?” tanya Sheryl. Cowok itu tak menjawab. Hanya menunjuk kertas itu dengan jarinya.


‘masuk aja, gak ada yang gigit!’


Sheryl tidak bertanya lagi. Ia melangkahkan kaki memasuki ballroom, tapi kenapa gelap?


“Ini kenapa gelap? Gak ada orang, ‘kan?” tanya Sheryl curiga pada cowok itu. Cowok itu melakukan hal yang sama, menunjuk kertas itu.


‘masuk aja, gak ada yang gigit!’


Sheryl mengembuskan nafas kesal. Orang aneh. Ia kembali melanjutkan jalannya menuju ballroom yang gelap itu. Tiba-tiba, pintu tertutup keras membuat Sheryl melangkah pada untuk membuka pintu. “Eh! Gak lucu! Buka pintunya!” teriak Sheryl.


Ctik!


Dalam satu jentikan jari, lampu ballroom menyala, menampilkan kerlap-kerlip tumbler yang telah didesain sempurna. Sheryl mengamati sekitar. Bunga-bunga yang dulu Alanzo berikan untuk Sheryl. Kue pancong, papeda, seblak, serta kelapa yang Alanzo belikan saat di pantai ada di meja. Ruangan ini terlihat sangat indah saat lampu diredupkan. Suara alunan biola kini mengalir di udara.


Sheryl mengerling, menemukan Alanzo dengan jas hitamnya yang terlihat maskulin dan sangat-sangat tampan dari biasanya. Cowok itu berjalan ke arahnya.


“Mungkin selama ini hubungan kita dimulai dengan main-main. Selama ini, kamu nganggep aku mainin kamu tanpa pernah serius. Selama ini, mungkin kamu nganggep aku masih naruh perasan ke Delana. Mungkin juga, kamu jadi ngerasa bersalah karena setelah kemarin, aku jauhin kamu sampek kamu ngerasa maybe that’s the end of us.”


Sheryl masih sibuk menatap Alanzo, rasanya tidak percaya cowok itu bisa berbicara seperti ini.


Kini, Alanzo berlutut di hadapan Sheryl. Hal yang membuat degup jantung cewek itu cepat. “Will you be my fiancee?” Alanzo membuka sebuah kotak merah berisikan dua cincin mewah.


Sheryl masih membeku di tempat. Mendadak, Sheryl lupa bagaimana cara bernafas. Senyuman tipis yang selalu Alanzo rindukan kini terbit di bibirnya. Ia menganggukkan kepala. “Yes.”


Kini Alanzo membuang nafas lega, memakaikan cincin di jari manis cewek itu. Begitupun Sheryl yang kini mengambil cincin dari kotak yang sama lalu memakaikannya pada jari Alanzo. Percayalah, sampai saat ini, jantungnya berdebar kencang diikuti dengan pipinya yang merah padam.


Alanzo mencium jari-jari lentiknya itu sebelum berdiri. “Mulai hari ini, kamu jadi tunangan aku. Aku janji, suatu hari, waktu aku udah siap dan mapan, aku bakal nikahin kamu.”


“I promise to will be your wife, Alanzo Gilbartan.”


“YEY! WUHUU!” Suara ramai kian terdengar. Bersorak gembira. Ternyata, orang-orang sedari bersembunyi di balik dinding tadi sedang senam jantung menunggu Sheryl memberi jawaban pada Alanzo.


Sheryl yang mengamati mereka semua, semakin panas pipinya. Ada papa mama Alanzo, ada juga papanya dan kedua kakaknya. Jangan lupakan yang paling heboh adalah para anggota Gebrastal, Eros, lalu Taletta dan Hawra.


“Jadi ini alasannya aku telepon gak ada yang angkat?” sebal Sheryl yang diangguki keduanya. Taletta dan Hawra kemudian memeluk tubuh Sheryl yang dibalas olehnya.


“Jadi, udah tunangan nih?” Rimbi kini datang bersama Joshua menyenggol bahu Sheryl. Sheryl pun memeluk cewek itu.


“Sheryl itu putri saya satu-satunya, saya serahkan ke kamu untuk jadi tunangan dia. Tolong jagain Sheryl ya! Saya percayakan semuanya ke kamu!” ucap Dirgantara diikuti Helios dan Julian.


Alanzo menaruh tangannya di depan alis menandakan hormat. “Siap, Jenderal!”


“Bro!” Kenart mengulurkan tangan pada Alanzo untuk bersalaman lalu melakukan handshake yang biasa mereka lakukan sesama anggota geng.


“Whats up!” ucap Omero yang melakukan hal yang sama.


“Yang lain ke mana?” tanya Alanzo. Belum juga dijawab, kini Andro, Leon, dan anggota Gebrastal lainnya berkumpul menuju dirinya. Hanya tinggal Jehab yang belum muncul.


“Elah! Tuh cowok pasti sibuk ngebucin!” ujar Leon syirik saat ada yang menanyakan Jehab. Cowok-cowok itu kini mengarah-pandangkan matanya pada cowok yang sedang merayu seorang cewek cantik. Benar yang Leon katakan. “Noh!”


“Ehm, kalo besok lo ada acara gak?” tanya Jehab pada Hawra yang sedang berjalan mengambil soda gembira.


“Enggak.”


“Jalan yuk!” Jehab menaik-turunkan alisnya. Hawra tampak berpikir lalu melihat ekspresi Jehab.


“Ih apaan sih! Lo jangan natap gue kayak gitu dong!” Hawra mencubit lengan Jehab saat Jehab mengedip-ngedipkan mata.


“Kenapa, Sayang? Salting?” Pipi Hawra semakin memerah.


Menyaksikan itu, Taletta yang sedang melangkah menuju Sheryl, menggelengkan kepala. “Dasar dua merpati baru kejedot cinta!” Ya, sejak Hawra di-DM oleh Jehab lewat instagram kemarin, keduanya jadi lebih dekat.


Melihat itu, Alanzo dan Sheryl hanya saling tertawa. Keduanya kini saling bertatapan. “Kalo hari itu kita gak tabrakan, mungkin hari ini gak akan terjadi,” ucap Sheryl sambil tersenyum membayangkan betapa konyol pertemuan mereka.


“Alanzo,” panggil Sheryl. Ia menghirup udara panjang sebelum menghembuskan perlahan. Kali ini ia akan mengatakan sesuatu yang selalu enggan ia katakan. “Sebelumnya gue gak pernah bilang ini ke cowok lain selain papa gue, karena lo pacar pertama gue.”


Alanzo mematung di tempat baru tahu kalau Sheryl pertama kali pacaran dengannya.


“Ti amo,” lanjut Sheryl dalam bahasa italia.


Alanzo mengubah ekspresinya menjadi senyuman. “I love you too.”


“Ih, kok dibales pake bahasa inggris?”


“Anch’io ti amo, Placida Nasheryl Fiorella.” Saat itu juga, Sheryl tersenyum terang. Senyum milik si 404 Page Not Found yang akan selalu Alanzo temui setiap saat.


...The End...


***


A/N:


Hufftt, finally gak kerasa ya udah di penghujung bab. Gak nyangka banget bisa sampek 70 bab padahal awal expect aku cuma bikin 50 bab. Terima kasih buat kalian yang udah pantengin cerita aku sampek bab ini. Meski cuma dikit yang baca, itu aku udah seneng banget karena ada yang baca cerita aku dengan ikhlas 💐


Jadi, menurut kalian gimana endingnya? Puas atau kurang puas nih? Kalau cerita ini tembus 10k komen, maybe suatu hari aku bakal bikin extra part.


Maybe, kalian ada yang miripin cerita ini dengan cerita lain, tapi cerita ini real dari pemikiran aku sendiri! Semoga cerita yang aku bawain, kalian bisa ambil makna untuk pembelajaran. Ambil yang baik dan buang yang buruk. Semoga cerita ini bukan pertemuan kita yang terakhir ya, tetep pantengin karya-karya aku selanjutnya. Thankk uuu guyss!


Salam manis, Yundaa🧡🧡