Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Is This the Ending?



Okey, guys. Before you read this part, i want you to know kalau ini adalah part spesial sebelum the real ending. Karena kalo biasanya aku nulis sebanyak 1000 kata doang, sekarang aku tulis 1500 kata buat bonus.


Okedeh, selamat membaca part spesial!😘


***


Sejak hari itu, hubungan Alanzo dan papanya mulai membaik. Entah kenapa energi positif semakin masuk dalam raganya. Seperti yang ia lakukan kali ini, ia akan mengunjungi Vano serta Zezan di penjara bersama Sheryl.


“Lo beneran gak papa?” tanya Sheryl memandang bangunan di depannya.


“Harusnya gue yang nanya, lo gak papa gue ajak ke sini?”


“Tujuan kita sama, ‘kan? Cuma mau nyelesain masalah?”


Alanzo mengangguk. “Ayo!” Ia menggandeng tangan Sheryl memasuki bangunan yang di dalamnya berisi jeruji besi.


“Tahanan atas nama Vano Geordano dan Zezan Amarangesha?” tanya petugas yang diangguki keduanya. Petugas itu kemudian mengarahkannya ke ruang kunjungan. Di sana, Alanzo dan Sheryl bisa melihat Vano dan Zezan yang memakai baju tahanan.


Vano hanya berekspresi datar seperti wataknya, sedangkan Zezan memberi hormat pada Sheryl.


“Santai aja, gak usah tegang!” ucap Sheryl. Zezan menunduk.


“Maafin gue, gue bener-bener gak tahu kalo lo anak pak menteri.”


“Jadi kalo misal gue bukan anak Dirgantara Widjodiningrat, lo gak bakal minta maaf?” telak Sheryl membuat Zezan terdiam. Sheryl mengembuskan nafas. “Gue mau lo minta maaf karena lo bener-bener nyesel lakuin kesalahan, bukan karena gue anak pak menteri.”


Zezan masih menunduk, tidak tahu mau menjawab apa.


“Lo gak mau minta maaf ke gue?” tanya Alanzo heran. Zezan tidak berani mengangkat wajah. Alanzo berdecak. “Oke, gue yang minta maaf duluan! Gue juga salah waktu itu udah biarin ibu lo sujud di hadapan gue karena gue terlalu gak bisa nerima kenyataan kalo dia udah pergi. Tapi keputusan gue buat penjarain bapak lo itu, gue gak akan minta maaf, karena itu udah dari pasalnya.”


Zezan berani menatap Alanzo kali ini, berdecak. “Lupain aja! Udah terlanjur!” Sebenarnya Zezan masih sangat kesal dengan Alanzo. Kali ini ia menatap Sheryl. “Tolong bilang maaf ke papa lo gue udah nyakitin anaknya.”


Sheryl mengerutkan kening. “Ucapin makasih selama ini udah biayain pengobatan ibu gue,” lanjut Zezan Seketika itu juga, Sheryl melirik Alanzo dan mengerti kenapa Zezan sangat merasa bersalah.


“Bakal gue bilangin kalo lo juga minta maaf ke Alanzo.”


Zezan mendengus, terpaksa melakukan perkataan Sheryl. “Maaf,” ucapnya pada Alanzo.


“Papa bakal maafin lo nanti kalo lo janji gak akan ngulangin kayak kemarin lagi,” ucap Sheryl entah kenapa terdengar seperti anak kecil karena bahasanya sangat blak-blakan pake kata ‘janji’.


“Janji,” balasnya membuat Sheryl tersenyum dan Alanzo menggelengkan kepala. Kini perhatiannya tertuju pada Vano.


“Bro!” panggil Alanzo. “Kali ini gue gak bakal nyalahin lo.”


“Lo tahu ‘kan kenapa gue lakuin ini semua?” Vano melirik pada Sheryl, dan Alanzo mengikut arah pandang Vano. Alanzo kini menggenggam tangan Sheryl secara posesif.


“Gue gak nyangka ternyata cewek yang lo suka selama ini Sheryl. Cewek yang jadi alasan lo gak bisa bales perasaan Delana.”


Vano tertawa singkat mendengarnya lalu menganggukkan kepala. “Gue juga gak nyangka pertemenan kita bisa hancur cuma karena cewek. Pertama Delana, kedua Sheryl. Lo tahu alasan gue gak pernah respon Delana selain karena gue suka sama Sheryl?”


Ia menatap Alanzo mantap. “Karena gue tahu sahabat gue suka sama adik angkatnya.”


“Kayaknya posisi kita berputar seratus delapan puluh derajat ya? Dulu lo suka sama orang yang suka sama gue, sekarang gue suka sama orang yang suka sama lo,” lanjut Vano yang kini menatap Sheryl yang hanya diam.


“Jadi lo mau apa? Lo mau gue cuekin Sheryl kayak yang lo lakuin ke Delana karena gue tahu lo suka sama Sheryl?” tanya Alanzo tanpa ekspresi membuat Sheryl langsung menatap dirinya tidak setuju.


Vano kembali terkekeh saat melihat Sheryl semakin mengeratkan pegangan tangannya dengan Alanzo, seolah tidak ingin Alanzo melepaskannya pada orang mana pun. Vano terdiam sejenak. “Awalnya sih iya, tapi ....”


“Kalo lo bisa lakuin apa pun demi orang yang lo suka dulu, kenapa gue gak?”


Alanzo mengangkat satu alisnya meminta penjelasan. Vano menghela nafas sedikit tersenyum. Dengan berat hati ia mengatakan, “dulu lo relain Delana buat gue demi buat dia bahagia, hari ini gue relain orang yang selama ini istimewa di hidup gue ... buat lo, supaya dia juga bahagia.”


***


Sheryl melangkahkan kakinya di koridor. Kalau kemarin-kemarin, semua siswa menatap dirinya santai atau bahkan ada yang menatapnya rendahan, kini semuanya memberi tatapan antara segan, takut, dan merasa bersalah.


“Sheryl,” panggil salah satu cewek berkuncir kuda, menghampiri dirinya. Cewek itu adalah cewek kemarin yang melontarkan kata-kata tidak pantas padanya. “Gue minta maaf ya, gue gak tahu kalo lo anak pak menteri.” Cewek itu menunduk.


Sekarang, bukan hanya satu yang maju mendekati Sheryl. Beberapa siswa kini satu per satu datang, membentuk gerombolan, mengepung cewek itu hanya untuk melemparkan kata ‘maaf’. Awalnya Sheryl merespon dengan senyum singkat dan kata ‘it’s oke’ tapi lama-kelamaan rasanya mereka bakal mengeroyok Sheryl.


Sheryl berusaha keluar dari kerumunan itu, mencari celah. Akan tetapi, ada saja yang menahan lengannya. Bahkan parahnya ada yang berlutut. Apa-apaan nih?


Hingga sebuah tangan terulur untuk menarik lengannya dari kerumunan itu dengan cepat. Sip! Pinter! Sheryl bakal berterimakasih se-gebok pada orang yang menariknya ini.


“Lo gak papa, Sher?” tanya Rimbi ngos-ngosan usai lari dari murid-murid gila itu.


“Ke lab komputer aja yuk!” ajak Rimbi menuntun tangan Sheryl. Keduanya kini melewati koridor belakang kelas yang sepi, tanpa ada lagi kerumunan.


“Gila! Semenjak mereka tahu lo anak pak Menteri dan tahu user IG lo, mereka nge-fans sama lo kayak mereka nge-fans sama Alanzo! Wah! Gue sebenernya juga gak nyangka sih gue bisa temenan sama anak penjabat yang famous!” Kini Rimbi memeluk Sheryl erat. Melihat itu Sheryl tidak menolak pelukan. Ia malah tersenyum.


“Makasih ya, Rim, udah jadi temen gue,” ucap Sheryl dengan senyumannya.


“Gue yang harusnya makasih, gue bersyukur punya temen famous yang mau temenan sama cewek biasa kayak gue!” Rimbi menunduk.


“Kita sama, Rim. Lo temen yang baik. Waktu orang lain tahu keburukan gue dan ngejauh, cuma lo yang mau temenan sama gue. Lo temen yang bener-bener temen!” Sheryl menepuk pundak Rimbi membuat Rimbi kembali memeluknya.


“Oh ya, Leyana hari ini masuk kelas?” Pertanyaan Sheryl itu membuat Rimbi menatapnya tak percaya.


“Masa lo gak tahu sih beritanya?”


“Berita apaan?”


“Leyana dikeluarin dari sekolah karena tindakan telanjangnya waktu di hutan. Orang tuanya pindahin dia ke luar negeri.” Seketika Sheryl terdiam di tempat. Awalnya ia hanya ingin menyelesaikan masalah, bicara secara baik-baik dengan Leyana tanpa ada permusuhan lagi. Telat. Leyana sudah pindah. “Sejak itu nomornya udah gak aktif, sosial media juga. Dia kayak menghilang gitu. Kayaknya sih dia malu banget!”


“So that’s it ...,” gumam Sheryl.


“Sher,” panggil seorang cowok menolehkan kepala cewek itu. Kini, matanya menangkap seorang cowok diikuti oleh tiga cowok di belakangnya. Kenart menatapnya dengan rasa bersalah. Omero, Leon, dan Jehab hanya diam. “Gue ... gue mau minta maaf.”


Sheryl menatapnya datar. “Kalo lo minta maaf karena udah tahu siapa gue sebenernya, gue gak bakal pernah nerima maaf lo.”


Kenart menggelengkan kepala. “Gue minta maaf bukan karena siapa lo, tapi karena gue punya salah ke lo.” Sheryl kali ini menatapnya. “Gue, Leon, dan lainnya beneran gak tahu kalo lo punya trauma. Meski lo gak punya trauma pun, gue tahu harusnya gue gak nakut-nakutin lo. Gue terlalu benci sama lo, sampek selalu mandang lo dari sisi buruk lo tanpa tahu sebenernya lo baik. Sekarang gak lagi. Gue gak tahu harus bilang apa, intinya gue minta maaf.”


Rimbi terperangah mendengarnya. Seumur melihat Kenart yang famous itu, tidak pernah melontarkan kata maaf.


Sheryl mengangguk saja dan tersenyum. “Appologies accepted.”


Kenart menatap mata almond milik Sheryl. “Beneran nih?” dan Sheryl hanya mengangguk. “Ternyata, ini yang Alanzo lihat dari lo. Thanks ya!”


Saat hendak menyudahi percakapan, Omero menghentikan langkahnya membuat yang lain juga berbalik badan. Ia menatap Sheryl kali ini. "Lo tahu? Semenjak Alanzo kenal sama lo, dia tunjukin sisi dia yang beda. Dari awal pertama gue lihat lo, gue emang suka sama lo, tapi lo tenang aja. Se-suka-sukanya gue sama lo, gue gak akan lagi ngerebut lo dari Alanzo. Gue bakal jadi pendukung terdepan lo buat selalu ada sama Alanzo."


***


“Eh iya! Besok malem ‘kan pesta ulang tahunnya sekolah, lo udah siapin pasangan belum?” tanya Rimbi menggendong tasnya saat bel pulang berbunyi.


Sheryl mengerukan kening. “Besok ulang tahun sekolah?”


“Iya, lo baru tahu?” Rimbi menepuk dahinya pelan. “Ah iya, ‘kan lo kemarin gak masuk. Tapi gak papa, entar pengumumannya.”


“Emang harus bawa pasangan ya?”


“Ya enggak sih, tapi kebanyakan bawa!”


“Lo sendiri udah ada pasangan?”


Rimbi mengangguk lalu tersenyum salah tingkah sendiri. “Udah.”


“Siapa?”


“Joshua.”


“Ketua kelas itu?” tawa Sheryl yang semakin disenyumi dengan pipi tomat oleh Rimbi membuat Sheryl geleng-geleng kepala.


“Lo pasti sama Alanzo, ‘kan?” tebak Rimbi mengalihkan bahasan soal Joshua. Bukannya kesemsem seperti Rimbi, Sheryl termangu. Pikirannya kembali pada Alanzo. Sejak putus, Alanzo tidak pernah mengajaknya balikan meski semua masalah telah selesai. Alanzo juga tidak seperti dulu yang mendekatinya atau berkata dengan bahasa ‘aku-kamu’. Bahkan sekarang dirinya saja jarang bertemu dengan cowok itu.


Sejak dari penjara hari itu, Sheryl kira Alanzo bakal menjadikannya pacar kembali, tapi tidak. Semuanya kembali pada semula sebelum ia bertemu Alanzo.


Terkadang Sheryl berpikir, apa cowok itu hanya ingin menjadikannya teman? Sheryl mengembuskan nafas. Oke, lagipula semua masalah telah selesai. Jika memang ini akhirnya, Sheryl harus berhenti berharap.


***


Sudah siap endingnya, bestiee?!


Mana suaranyaa?!! Yang penasaran ending, aku up entar sore 💗


SEKALI LAGI AKU CUMA MAU INGETIN, JANGAN LUPA LIKE, VOTE, SUBSCRIBE, KOMEN, SHARE, DAN FOLLOW KARENA BENERAN BERARTI BUAT AUTHOR!! Cerita ini gratis guys buat dikomenin dan follow author!


Semoga yang follow, subs, like, komen rejeki kalian lancar yaa!!😘


See u ntar soree💗