
Alanzo memundurkan wajahnya dari bibir Sheryl dengan seringaiannya kala Sheryl menatapnya tajam. “Apa yang lo lakuin?”
“Kecup pacar gue sendiri masa gak boleh?” tanyanya santai. “Lo denger ya, jadi pacar gue harus rela gue apa-apain.”
“Gue gak mau.”
“Sayangnya lo gak bisa nolak.”
Sheryl terkekeh. “Lo pernah bilang lo gak tertarik sama cewek kayak gue, ‘kan? Lo lupa?”
“Itu ‘kan dulu, sebelum lo jadi pacar gue. Sekarang ‘kan lo pacar gue,” ucapnya tersenyum menyebalkan membuat Sheryl rasanya ingin menyayat wajah tampan itu lalu membuang Alanzo ke rawa-rawa. Alanzo memegang pipi Sheryl, seperti akan mengecupnya kembali, tapi Sheryl langsung menepis tangan Alanzo yang menerbitkan kekehan di wajah Alanzo.
Kenart yang sedari tadi melihat itu langsung keluar dari markas, menganalogi ketidaksukaannya pada Sheryl. Begitupun Omero yang pergi entah ke mana lekas melihat interaksi keduanya.
Sheryl hendak melayangkan kata, tapi suara deringan benda kotak di saku berhasil menginterupsinya. Deringan dan notifikasi yang Sheryl buat berbeda dari biasanya. Sheryl menatap layar yang memperlihatkan nama seseorang di sana dengan mata melebar.
Orang Penting
Seven missed calls ( 7 panggilan tak terjawab).
Thirty one message (31 pesan).
Sheryl melirik Alanzo yang sedang menyipitkan mata sebelum akhirnya menjauh ke luar markas, menghindar dari beberapa orang untuk mengangkat teleponnya.
“Hallo?” Tidak ada suara. Hanya Sheryl yang dapat mendengar apa yang orang itu bicarakan melalui telepon dengan airpods yang sengaja ia bawa ke mana-mana. Sheryl tampak terdiam dan menghela nafas. Saat cewek itu hendak berbicara, tapi sepertinya orang di seberang sana langsung menyelanya, tidak memberikan kesempatan.
“You know what? You’re too much!” kata Sheryl antara kesal dan lelah. “Okey, okey! I’ll obey your order know! I’be home soon!”
Sheryl menghela nafas mendengar kata-kata yang keluar dari penelepon itu. “Love you too.” Setelahnya, ia mematikan jaringan telepon, menatap sendu ke arah langit yang memperlihatkan awan putih yang tengah berjalan.
“Huft ... i also really never hope this in my life,” gumamnya. Lalu ia berbalik badan, menemukan Alanzo yang sedang berdiri di sana. Di kusen pintu, menatapnya tak biasa.
“Lo?”
“Bokap lo pasti khawatir sama lo, dia pasti nelepon nyuruh lo pulang, ‘kan?” Mendengar itu, Sheryl melebarkan mata, menelan salivanya kasar.
“Dia juga nelepon gue tadi. Yanuar.” Alanzo menunjukkan layar ponselnya pada Sheryl. Saat itu juga, seketika Sheryl menghela nafas seakan lega. Alanzo tidak boleh tahu. Tidak boleh.
Namun, semua ekspresi panik Sheryl itu untungnya tidak tertangkap oleh Alanzo yang kini mengambil kunci motor di meja. “Ayok cepet! Gue anter lo pulang!”
***
Belum sempat Sheryl menginjakkan kakinya di kelas, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Alanzo untuk mengikuti langkah cowok itu menuju sebuah tempat yang sangat jarang dikunjungi siswa di sekolah ini. Sebuah tempat yang letaknya jauh dari jangkauan guru.
Alanzo mengajaknya masuk, menampakkan anggota Gebrastal yang bersekolah di sekolah ini. Ada Leon, Jehab, Omero, Kenart, juga dua orang cowok yang tidak Sheryl tahu. “Ini markas Gebrastal di Enternity High School! Mulai hari ini, lo harus nemenin gue setiap kali gue mau bolos di sini.”
“Ngapain bolos? Percuma dateng ke sekolah kalo akhir-akhirnya bolos.” Sheryl terkekeh kemudian hendak pergi dari tempat laknat itu yang tentu saja ditahan oleh Alanzo.
“Lo pikir lo bisa pergi dari sini? Lo pacar gue! Lo inget itu!” peringat Alanzo menyeringai, mengangkat dagu Sheryl bertujuan mengecup bibir, tapi Sheryl menepisnya dengan kesal. Dan, Alanzo suka mendapati ekspresi kesal itu.
“Ck, apaan sih!”
“Gue harus peringatin berapa kali sama lo, hum? Lo itu pacar gue.”
“Pacar bukan berarti budak bibir lo. Gue gak semurah cewek-cewek yang gampang ngasih bibirnya ke lo!” ucapnya menaikkan dagu. Alanzo semakin tersenyum. Ia mulai terbiasa dengan sikap Sheryl yang tenang, santai, tidak takut, ataupun pandai menjawab.
“Halah, monyet! Lo bisa main kagak sih! Ini kenapa lo gak gerak?!” Leon melempar kacang ke kepala Jehab.
“Sabar napa sih!”
“Yah, cewek bohainya ilang, Anjing!”
“Halah! Lo ngajak gue main beginian! Lo pikir gue tahu cara main game cari jodoh?! Lo main ajalah!” Jehab membanting handphone yang ada di tangannya dengan kesal. Sedari tadi Leon mengajaknya nge-game, nyatanya cowok itu malah asyik melihati profil cewek-cewek cantik dan seksi di aplikasi itu.
“Gue ajarin biar lo bisa deketin yang cantik!”
“Lo pikir gua gak laku?!”
“Buktinya lo gak pernah punya cewek! Apaan! Godain doang bisa, pacarin gak bisa! Cuaks!” Leon tertawa terbahak, masih fokus dengan ponselnya.
“Kenapa gak lo tanya sebelah lo aja?!” tunjuk Jehab pada Omero yang asyik menyalin tugas.
“Gue mah udah ada target. Gue cukup satu cewek,” jawab Omero. Tanpa orang lain sadari, Omero melirik Sheryl. Kenart yang merasa tidak diperhatikan langsung pergi meninggalkan markas.
Ada juga Desta dan Albert yang sedang perang bantal entah karena apa.
Alanzo melirik ke arah Sheryl yang masih berdiri di tempatnya. Sepertinya markas bukan tempat yang pas untuk mengerjai cewek itu. Dengan cepat, Alanzo menarik Sheryl entah kemana lagi. Yang pasti Sheryl hanya mengikut, tidak ingin mengeluarkan suaranya yang bakal sia-sia untuk menolak.
Langkah keduanya kini berhenti di balkon perpustakaan. Tempat sepi yang biasa digunakan untuk siswa bolos. Seluruh perasaan tenang langsung merasuki tubuh Alanzo karena udara segar serta pemandangan dalam Enternity High School. Hampir dua tahun ia sekolah di sini, ia baru tahu ada tempat setenang ini karena Sheryl.
Semilir angin langsung menerpa kulit eksotis miliknya. Alanzo memejamkan matanya.
“Kenapa ngajak ke sini?”
“Gue suka perpustakaan,” jawab Alanzo yang masih memegang tangan Sheryl.
“Sejak kapan?”
“Sejak gue ketemu lo di sini.”
Sheryl menoleh pada Alanzo yang masih menghirup udara segar di sekitar. Ia merasakan genggaman Alanzo yang hangat, tidak berpikir untuk melepaskannya. Matanya mengerling ke segala arah. Dari atas sini ia bisa menyaksikan beberapa siswa berlalu lalang, ada yang duduk-duduk di lantai koridor menyaksikan cowok yang sedang sepak bola dengan bola kertas, ada yang menyiapkan peralatan untuk pensi, ada yang rempong mencari background untuk tugas video, ada juga yang berjalan ke kantin bersama-sama saling lempar canda tawa.
Jangan lupa dua pasang siswa yang berduaan sepanjang jam pelajaran di taman.
Semua pemandangan SMA itu tidak luput dari mata Sheryl. Cewek itu tersenyum tipis. Andai ia bisa tertawa lepas seperti mereka tanpa perlu memikirkan penyakitnya.
“Gue suka tempat ini karena tenang, aman, sepi.” Alanzo menghadapkan diri pada Sheryl. Senyuman jahil terbit di wajahnya. Rasanya gak akan tenang kalau gak mengerjai Sheryl. “Supaya bisa mesum sama pacar gue.”
Sheryl mengangakan bibir tak habis pikir. Alanzo melangkah mendekat pada Sheryl yang mundur. Ia memojokkan cewek itu hingga ke dinding, mengunci Sheryl agar tidak kabur dengan kedua tangan di dinding, menatapnya dengan mata elang itu.
“Ternyata lo emang gak waras ya,” kata Sheryl yang tak kalah menatap berani mata cowok itu, ingin menepis tangan kekar Alanzo. Alanzo tersenyum menang, menikmati ekspresi tidak suka Sheryl. Cowok itu hendak membisikkan sesuatu di telinganya, tapi suara keras menginterupsi keduanya.
“KALIAN BERDUA! BERANI-BERANINYA BOLOS DAN MESUM DI SINI!” Mereka menoleh, mendapati Bu Ester—guru yang sedang piket—di sana.
Mampus!
***