Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Sentuh Dia, Lo Mati!



“Pukul dia, Anjrit! Ngapain lo pukul gua?!” emosi seorang cowok yang sedang memegang rahang agak gesernya ulah pukulan dari rekannya.


“Sorry, Bos! Sorry!” jawab umpannya saat tadi ingin melayangkan pukulannya pada Jehab tapi malah meleset pada Werdo, panglima perang Vernos yang memiliki pangkat di atas cowok itu. Werdo memukul kepala cowok itu dengan telapak tangannya. Jehab terbahak-bahak menyaksikan satu geng itu saling pukul.


“Dasar lo bodat!” kecam cowok itu pada Jehab merasa kesal, ingin melayangkan tinjuannya, tapi Jehab cepat menghindar.


Bukannya membalas, Jehab malam mengejek dengan kedua telapak tangan di telinga seperti anak kecil. “Apa lo?!”


“Hab! Hab! Tolongin gua, Hab! Dia bawa kecoa, Anjing!” Seorang anggota Gebrastal bernama Sean berlari terbirit-birit ke arahnya saat dikejar oleh seorang cowok yang tertawa membawa kecoa. Jehab tahu Sean itu jago berantem, tapi kalo lawan kecoa, gak usah ditanya.


“Tenang!” Leon menghadang cowok itu dengan membawa kotak yang ia lempar ke anggota Vernos dan berisi ratusan kecoa yang keluar.


“Bajingan!” umpat cowok yang tadi membawa kecoa saat beberapa kecoa mengerubungi rambutnya. Leon, Jehan, dan Sean berlari sambil terbahak.


Pertempuran antara kedua geng itu masih terjadi. Omero berhasil mengalahkan tiga orang dengan satu aksinya. Menendang salah satu darinya hingga berbatuk darah. Belum juga satu menit, tanpa ia sadari seorang cowok berjalan pelan di belakangnya, hendak memukulnya dengan balok kayu.


Omero berbalik badan. Cowok itu sudah bersiap, tapi seorang cowok berjaket Gebrastal menyerangnya dengan sekali pukulan. Kenart.


Bugh!


“Bisanya nyerang dari belakang.”


Setelah beberapa hari menghilang, cowok itu kembali? Kenart dengan wajah babak belurnya itu masih berantem bertarung Gebrastal.


Bugh! Suara pukulan Alanzo yang begitu keras bisa terdengar hingga ke tempat Jehab maupun Omero berada. Lawannya tersengkur di tanah. Zezan. Ketua geng Vernos yang mengusap darah di bibirnya. Kedua mata sengit itu saling mengobarkan kebencian.


“Lo pikir gue bakal ngalah sama geng lo gitu aja? Enggak!” ucap Zezan menyerang Alanzo. Alanzo sudah tidak tahan lagi. Sedari tadi cowok itu menahan emosinya, menyerang Zezan tanpa membuatnya lengah, tapi sekarang tidak lagi, ia akan memberi cowok itu pelajaran.


Bugh! Brak! Alanzo memukul dada Zezan dengan telapak tangan. Teknik bela diri mahir. Ia membanting tubuh cowok itu hingga lemas. Ia kembali menyerang beberapa antek-antek di belakang Zezan yang masih memiliki kedudukan tinggi di Vernos saat cowok-cowok itu menyerangnya.


“Eh? Ada cewek cantik?” kata seorang cowok yang mengundang perhatian beberapa cowok lainnya, termasuk Kenart, Leon, dan Omero. Mereka menoleh ke arah seorang cewek yang berjalan ke arah gerbang dengan air muka tenangnya. Seolah tak terjadi apa-apa di lingkungan sekitarnya. Cewek bermata almond yang sesekali berdecak kala cowok-cowok yang saling menghajar menyenggolnya.


Alanzo yang melihat itu menggertakkan giginya. Apa yang Sheryl lakukan di sini? Bagaimana Sheryl masih bisa tenang di suasana seperti ini?


Cowok yang tadi berceletuk, ingin menyentuh Sheryl. tapi Alanzo lebih cepat menghalanginya, menyembunyikan tubuh Sheryl di belakangnya.


“Lo sentuh dia, lo mati!” peringatnya disertai mata elang yang siap memangsa.


Gerald memundurkan langkah. Meski dirinya anggota Vernos, ia paling takut dengan ketua Gebrastal.


“Ndro! Lo cepet amanin cewek gue!” perintah Alanzo pada Andro. Sekilas, ia menatap Sheryl tajam seolah memeperingati sebelum kemudian kembali ke medan perang untuk bertarung.


“Serang lagi, Anjing!” perintah Zezan, sang Ketua Vernos. Namun, sebagian dari mereka ada yang mengundurkan diri karena sudah lemas dan KO. Mereka semua pada akhirnya mundur. Satu per satu meninggalkan sekolah Alanzo.


***


“Anjing tuh Vernos! Sukanya bikin masalah!” umpat Jehab yang sedang mengobati luka lebam di bibir Leon.


“Goblok! Lo ngapain mukul luka gue, Sukiman?!” Jehab membalas pukulan Leon tepat pada luka Leon di pipi.


“Sakit, Anjir!” Leon berdiri dari duduknya seperti tidak terima, melotot pada Jehab. Suasana di markas Gebrastal yang tadinya tegang, jadi gaduh hanya karena aduan bacot kedua monyet yang sedang bonyok itu.


“Bau lo bau air comberan! Badeg!” celoteh Jehab pada Leon. “Bekas kecoa!”


Jehab mengingat-ingat kala Leon mengeluarkan sekotak kecoak ke anggota Vernos sampai meloncat-loncat ala banci lampu merah.


“Lo pikir gua dapet kecoa dari mana kalo gak dari god rumah lo? Lo kali yang badeg!” balas Leon sengit sambil tertawa enteng, berdebat dengan Jehab itu memang butuh energi.


“Heh, Cendol! Dawet! Lo bisa diem gak sih?!” ujar Verla, si Cewek tomboy yang masih merupakan anggota Gebrastal itu mulai puyeng.


Sedangkan Alanzo sedari tadi tak pernah mengalihkan mata elangnya sekalipun dari Sheryl. Sheryl yang merasa dirinya ditatap mengintimidasi akhirnya menoleh ke Alanzo dengan wajah santai.


“Apa yang lo lakuin di tengah keributan tadi? Lo gila?” tanyanya menekan. Sungguh ia tidak suka saat Sheryl berada di tengah kericuhan tadi.


Yang ditatap seperti itu hanya menampilkan wajah santai. “Cuma jalan doang.”


Alanzo menarik tangan Sheryl. Cowok itu memojokkannya ke tembok. “Jalan? Lo bilang jalan? Lo gak tahu banyak cowok tonjok-tonjokkan?”


Sheryl menatap Alanzo tanpa rasa takut saat cowok itu sedang marah. “Tau. Gue jalan ke gerbang buat amanin diri. Lo tinggalin gue sendiri di parkiran dan gue hampir dilecehin sama empat cowok waktu mereka narik gue keluar area sekolah. Lo tahu?”


Semua orang di ruangan itu merasa kaget. Alanzo diam, melepas cengkraman tangannya dari lengan Sheryl. Tatapannya meredup. “Siapa yang empat cowok itu?” tanyanya.


“Gue gak tahu. Gue cuma tahu nama di name tag jaketnya, Erza.”


Seketika Alanzo mengepalkan tangannya. Ia tahu benar, Erza adalah cowok brengsek yang akan melampiaskan nafsunya kepada siapa pun cewek yang terlihat cantik. Wakil dari Vernos.


“Kurang ajar!” ucap Andro yang mendengarnya.


“Gimana lo bisa lolos? Lo gak diapa-apain?” tanya Alanzo yang digelengi kepala Sheryl.


“Gue kabur dan berusaha ngelawan.” Hanya Andro di sini yang mengerutkan kening mendengar itu.


“Kenapa lo gak panggil nama gue waktu gue pergi?” tanya Alanzo lagi, kini menatap mata almond indah Sheryl yang sedang ia pojokkan di tembok.


“Karena berantem kayaknya lebih penting buat lo.”


Alanzo kemudian melakukan hal yang tak terduga. Cowok itu menyingkirkan beberapa helai rambut Sheryl ke belakang telinganya, mengusap pipi halus Sheryl. “Lain kali kalo gue pergi ninggalin lo, lo teriak nama gue! Supaya gue tahu ada lo di samping gue!” Mata biru Alanzo menilik lekat pada mata indahnya. Mereka saling bertatapan.


“Gue paling gak suka kalo milik gue disentuh-sentuh,” bisiknya di sisi telinga Sheryl. Alanzo mendekatkan wajahnya pada Sheryl, mengikis jarak keduanya. Tak butuh waktu lama, cowok itu mengecup bibir Sheryl sekilas. Sedangkan Sheryl membeku di tempat, membiarkan jantungnya meronta, memompa darah lebih cepat dari biasanya.


***