Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Pasar Bunga



...Aku tidak pernah menatap senyuman tipis itu sebelumnya....


...***...


Mobil lamborghini hitam itu kini berhenti di sebuah sekolah dasar negeri yang tidak Alanzo temui sebelumnya. Sekolah dasar yang di depan gerbangnya terdapat berbagai macam pedagang kaki lima yang berjajar-jajar, anak-anak SD yang sedang mengantri membeli makanan disertai uap yang mengepul.


Alanzo mengerutkan dahinya Sheryl turun dari mobilnya yang membuat dirinya mau tak mau juga turun. “Lo ngapain ngajak gue ke sini?”


Sheryl malah tersenyum. “Dulu, waktu pertama kali gue ke Jakarta, Eros ngajak gue ke sini. Awalnya gue heran, tapi setelah gue ngikut, gue tahu alasan kenapa gue harus ke sini sekali dalam hidup gue.”


“Apa?”


“Ikut aja!” Sheryl memberikan telapak tangannya pada Alanzo untuk digandeng. Alanzo yang merasa penasaran pun akhirnya menggandeng tangan Sheryl dan mengikut saja. Sheryl mengajaknya ke sebuah pedagang kaki lima yang di gerobaknya bertuliskan ‘Papeda’.


“Saya pesen sepuluh tusuk, Mang!” katanya pada pedagang yang sedang sepi pembeli itu.


“Eh? Neng cantik ke sini lagi? Udah saya bilang, Neng! Papeda buatan saya teh enak, ‘kan?” Sheryl menganggukkan kepala dengan tersenyum. Pedagang itu menjejer sebuah kursi merah. “Silahkan duduk atuh, Neng! Ini pacarnya?”


Sheryl mengangguk dan mendudukkan diri di bawah payung yang melindunginya sementara dari sinar matahari bersama Alanzo.


“Ganteng banget pacarnya, Neng! Neng juga cantik! Kalian cocok!” ujarnya. Alanzo hanya menatapnya datar.


“Lo gak salah tempat ngajak gue ke SD?” tanya Alanzo agak sanksi. Tentu saja, Sheryl menggelengkan kepala.


“Gue gak lagi ngajak lo ke SD-nya, lo nanti bakal tahu!”


Abang tukang papeda itu kini memberikan sekresek papeda padanya. Sheryl hendak membayarnya, tapi Alanzo langsung memberikan selembar uang merah pada abang-abang itu. Mang Anjum melototkan mata. “Waduh, gak ada kembalian atuh!”


“Ambil aja!”


“Eh? Jangan! Kebanyakan inii!”


“Gak papa, ambil aja!”


“Ini beneran?!” tanyanya yang diangguki Alanzo. Mang Anjum melototkan matanya dan beberapa saat kemudian mencium tangan Alanzo juga Sheryl secara bergantian. Alanzo terlonjak kaget dan memundurkan langkah. Mata mang Anjum terlihat berkaca-kaca terharu.


“Makasih, Mas! Makasih! Dagangan saya kurang laku hari ini, dan Mas udah mau bantu dengan beli dagangan saya! Makasih, Mas! Ya Allah Gusti! Makasih!” ucapnya menyatukan tangan di depan dada.


Alanzo terdiam di tempat, tidak akan menduga bahwa tindakan kecilnya akan sangat membantu untuk orang lain. Ia melirik Sheryl yang juga meliriknya. Cowok itu tersenyum tipis. “Sama-sama.”


Hal yang membuat Sheryl menatap Alanzo tak percaya kala cowok itu bisa berkata dengan senyum tipis seperti itu. Alanzo menggandeng tangan Sheryl kembali. “Lo mau ajak gue ke mana?”


“Ke sana!” tunjuknya ke arah barat. Sheryl menarik cowok yang sedang mengerutkan dahi setengah berlari. Mata Alanzo kini ditampakkan dengan keindahan pasar bunga yang ramai tapi masih bersih. Sebuah vibe yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.



Wangi-wangi bunga langsung menusuk hidungnya. Meski judulnya pasar bunga, nyatanya masih ada beberapa pedagang makanan, kerajinan, bahkan hingga kesenian ondel-ondel. Suara kesenian asri betawi melantun di telinganya. Sheryl mengajaknya jalan menyusuri pasar bunga. Uniknya di pasar ini terdapat beberapa spot estetik yang mungkin bisa digunakan foto.


“Lo harus coba jajanan ini!” Ia mengarahkan sebungkus papeda yang hanya digelengi Alanzo.


“Seenggaknya lo harus coba seumur hidup, setelah itu gue gak akan minta lo buat nyoba lagi.” Sheryl menyodorkan setusuk papeda pada Alanzo. Alanzo mendengus, ia mengambil tusuk itu, menatapnya ngeri karena penampilan makanannya yang aneh.



Ia menggigit kecil kue berbahan sagu lalu menelannya. Alanzo tertegun. Ternyata tak seburuk itu. Ada rasa kenyal perpaduan antara telur degan bumbu keju dan saus. Alanzo menggigit lagi makanan itu yang membuat Sheryl tersenyum senang. Alanzo tidak pernah merasakan makanan aneh seperti ini sebelumnya.


“Lumayan!” kata Alanzo mengambil setusuk lagi dari kantung yang Sheryl bawa.


Seorang anak lelaki berbaju salur hitam putih dengan wajahnya yang sengaja dicat putih mendekat ke arahnya tanpa berbicara, memperagakan gerakan dan mimik lucu seolah-olah mengisyaratkan menggunakan sesuatu. Beberapa orang mulai berkerumun ke arahnya ketika anak itu menyalakan musik komedi hingga ke sound suara hewan. Pantomim.


Beberapa yang menontonnya mulai tertawa, termasuk Sheryl. Anak itu kemudian mengayunkan topi pada Sheryl. Alanzo yang mengerti memberi sebuah uang ke anak itu.


Setelah saling tertawa karena ulah pantomim anak itu, Sheryl mengajaknya ke sebuah lotre. “Gue kalo main ke sini sama Eros cuma buat menangin lotre ini!”


“Lo hampir setiap hari ke sini?”


Sheryl menggelengkan kepala. “Enggak. Pasar bunga ini adanya cuma weekend. Tapi meski weekend kadang Eros sibuk, gak ada yang nemenin gue ke sini.” Sheryl mulai menembakkan panah mainannya pada bundaran, tapi meleset. Kini giliran Alanzo yang bermain, sayangnya tetap saja, meleset. Alanzo tidak menyerah, cowok itu tidak ingin terlihat kalah begitu saja. Ia menembakkan panahnya lagi ke bundaran, sayangnya hampir kena.


Sial! Rasanya lebih gampang menembakkan panah asli daripada panah bohonngan untuk lotre itu. Sheryl terbahak kala Alanzo mengambil kartu kekalahan dan mendapati kartu kuda. “Karena lo dapet kartu kuda, lo harus tiruin suara kuda.”


“Apaan?! Aneh bener! Enggak-enggak!”


“Gak boleh curang! Itu emang dear-nya!” Sheryl berbicara sambil menembakkan panah yang kemudian meleset. Sheryl mengambil kartu, wajahnya pucat pasi saat mendapatkan hewan kembing. Alanzo sekarang yang terkekeh.


“Mbek!” ucapnya singkat, padat, jelas seperti ibu-ibu kosidahan yang suka glegek-an di sembarang tempat. Alanzo tertawa. “Lo juga!”


“Gak! Kayak anak kecil aja!”


“Terkadang kita butuh jadi anak kecil buat lupain sejenak hal yang gak perlu kita pikirin.” Sheryl tersenyum ringan kemudian melanjutkan permainannya. Alanzo diam mendengar itu, ia mengamati wajah cantik Sheryl yang dapat tersenyum lepas kala di sini, tidak seperti biasanya yang sednag menyembunyikan sesuatu.


Mulai dari tertawa hingga cemberut, mata Alanzo tidak pernah berpaling sedikit pun dari pemandangan indah di hadapannya. Tak terasa, keduanya sudah bermain sebanyak 67 kali dan hanya memenangkan beberapa snack, padahal hadian incarannya adalah boneka tedy besar.


“Gue bisa beliin lo boneka itu sebanyak yang lo mau, gak perlu repot-repot menangin ini.”


Sheryl masing pantang. Ia terkekeh, menatap Alanzo tepat di matanya dengan senyuman tenangnya. “Lo tahu gak? Hasil yang kita peroleh dari kerja keras itu bakal lebih nikmat ketimbang hasil kita melakukan secara cuma-cuma.”


Alanzo cukup terpana mendapati kata-kata Sheryl, seolah mengingatkannya kala ia meraih sesuatu dengan usahanya sendiri dan ia bandingkan dengan sesuatu yang ia dapat secara instan. Semua itu juga terbukti dengan rasa senang Alanzo yang lega kala bisa mendapatkan boneka incaran Sheryl setelah 69 kali menembakkan panah. Rasa senang yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Dan, lagi-lagi senyuman tipis terukir di wajahnya.


***


Oh ya buat yang nanya, kak emang papeda tuh ada yang rasa keju? Ada gais tergantung request😭


Jangan lupa like and share ya!