
Setelah mengantar Sheryl pulang, cowok itu berencana untuk mengunjungi markas Gebrastal. Alanzo hendak memarkirkan lamborghini miliknya, tapi matanya dibuat menajam saat mendapati seorang cowok berjaket jeans tengah berdiri di depan markas, bersandar pada motor Kawasaki Ninja.
Gigi Alanzo menggertak dengan kepalan tangannya. Alanzo keluar dari mobilnya, tak butuh waktu lama, Alanzo telah mencengkram kerah Vano kasar. “Ngapain lo ke markas gue?!”
“Santai, Zo! Santai! Gue cuma mau ketemu lo baik-baik!” Vano mengangkat kedua telapak tangannya.
“Baik-baik?! Setelah kejadian itu lo bilang masih baik-baik?!” gertaknya kemudian melayangkan tinju pada Vano. Amarahnya muncul begitu saja setiap kali cowok itu memunculkan wajah di hadapannya.
“Zo, lo kenapa sih?! Lo berubah semenjak lo gabung sama geng motor!” ucap Vano yang merasa kesal karena niatnya yang baik malah dirajang oleh Alanzo.
“Lo bilang apa?!” Alanzo semakin mencengkram kerah cowok itu kasar. “Gue berubah karena lo! Karena kejadian itu! Gak usah nyangkut-pautin geng gue!”
Seketika Vano terdiam kala mengingat kejadian di malam itu, kejadian yang merenggut nyawa seorang cewek yang mereka sayangi, kejadian yang selalu membuat Vano menyalahkan dirinya sendiri dan tidak akan pernah Vano lupakan hingga detik ini.
Alanzo masih melotot pada cowok itu. Kemurkaan menyelimuti dirinya. “Harusnya lo malu! Lebih baik lo pergi! Dan jangan pernah tampakin lagi muka menjijikkan lo di hadapan gue!” Ia melepas kerah Vano yang masih diam di tempatnya.
“Gue udah minta maaf berkali-kali ke lo, Zo!” sesalnya. Sebenarnya ia sangat malu.
“Pergi lo dari sini!” usirAlanzo. “Sebelum gue bunuh lo sekarang juga!”
“Oke, gue bakal pergi. Tapi lo harus tahu alasan gue ke sini!”
“Gue gak mau tahu alasan bacot lo, pergi lo!”
“Karena papa!” Vano masih kekeuh. Hal yang membuat Alanzo kembali memukuli cowok itu hingga tersungkur di tanah.
“Uhuk! Uhuk! Zo, dengerin gue ...,”
Bugh! Bugh!
“OKE GUE BAKAL PERGI!” pekiknya berusaha melawan Alanzo. “Gue bakal pergi, asalkan lo jauhin Sheryl!” ucapnya cepat menghentikan pergerakan Alanzo untuk memukulnya lagi.
Vano berusaha berdiri dari tanah, memegang perutnya. “Lo jauhin Sheryl!”
“Maksud lo apa?!”
“Papa lo sendiri yang minta gue ke sini supaya lo jauhin Sheryl!” Vano mulai mengambil helmnya saat Alanzo terdiam di tempat, bersiap untuk pergi. “Papa lo gak suka lo deket sama cewek itu!”
***
Semua orang di koridor pagi ini yang tadi sedang asyik sendiri, kini memecah perhatiannya pada soerang cowok tinggi nan tampan yang diikuti keempat cowok di belakanganya. Mereka memilih untuk diam dan memelankan suara kala tahu air muka Alanzo yang tidak bersahabat.
Cowok itu berjalan cepat, melalui koridor, menebar wangi maskulin yang membuat para kaum hawa yang dilintasinya seakan ingin pingsan di tempat saking sukanya. Alanzo tidak peduli dengan respon orang di sekitarnya. Mata elangnya tetap menatap ke arah depan. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan orang yang sedang tidak ingin ia temui untuk beberapa hari.
Sheryl menolehkan kepalanya pada Alanzo kala cowok itu melintasinya. Sedikit mengulum senyum untuk sambutan kedatangannya pagi ini, tapi disaat Sheryl ingin menyapa, Alanzo hanya meliriknya sekilas sebelum akhirnya terus berjalan. Cewek itu mengikuti langkah Alanzo yang sepertinya menuju kelas.
Mata almond Sheryl masih menjadikan Alanzo sebagai objek tatapannya kala ia sampai di kelas, tak melangalihkan perhatiannya sekalipun. Ia mendudukkan diri di bangku samping Alanzo seperti biasanya. Alisnya menyatu kala Alanzo seolah tak ingin menatapnya.
“Lo pindah ke sini!” perintah Alanzo pada Bemo, si cowok gemuk di kelas dan kutu buku. Bemo melihat Alanzo takut-takut, lalu menuruti perintahnya untuk bertukar tempat dengan Alanzo.
Bukan hanya Sheryl yang dibuat heran, tapi juga Jehab, Leon, dan Omero. Sikap Alanzo bukan seperti sikap yang biasanya. Sheryl masih menatap cowok itu dari tempat duduknya. Dua hari yang lalu, setelah dari pasar bunga, Sheryl rasa keduanya masih baik-baik saja. Saling mengulum senyum tipis dengan sikap hangat Alanzo.
Namun, sekarang cowok itu berbeda seratus delapan puluh derajat dari terakhir ia bertemu.
“Selamat pagi!” sapa bu Zeline yang baru saja memasuki ruang kelas. Semua siswa langsung mendudukkan diri di tempat masing-masing. Wanita itu menempatkan diri di kursi guru, mengabsen mereka satu per satu.
“Jadi, hari ini kita bakal melanjutkan materi minggu lalu, teks prosedur yang sudah saya jelaskan.” Si Guru Bahasa Indonesia itu berdiri dari duduknya, menyambungkan laptop dan proyektor menggunakan kabel HDMI. Semua siswa—kecuali anggota Gebrastal yang tidur dan malah bermain game—sibuk menyimak bu Zeline yang menjelaskan mengenakan remot otomatis untuk mengganti slide power point di LCD.
“Sebelum saya lanjut menjelaskan, ada yang bisa mengulang? Apa itu teks eksplanasi?” tanyanya yang didiami oleh seisi ruangan. Lalu seorang cewek dengan ragu mengacung.
“Sebuah teks yang menyajikan tentang prosedur pembuatan dan penggunaan sesuatu!”
“Yup! Pintar, Rimbi! Ada yang tahu contoh prosedur pembuatan atau penggunaan sesuatu?” Wanita itu menatap satu per satu dari mereka.
Beberapa detik hening, Leon akhirnya mengacungkan tangan. Beberapa siswa dibuat heran dengan tindakan Leon, begitupun dengan bu Zeline. Tumben?
“Contohnya tuh prosedur pembuatan anak, Bu!” jawabnya yang langsung mengundang tawa orang-orang di kelas. Bu Zeline menghela nafas. Sudah terbiasa dengan sifat Leon yang agak geser.
“Yang lainnya gak ada yang mau jawab?”
“Ada! Ada! Saya!” acung Jehab yang dipersilahkan oleh bu Zeline. “Cara untuk meluluhkan hati si Dia yang ternyata suka sama yang lain.” Hal yang menimbulkan sorakan di kelas.
“Aw! Aw! Aw!”
“Lima puluuuhh!”
“Uwuwu!”
“Sa ae lu, Hab!”
“Apaan sih, anjrit!”
Brak! Bu Zeline kini menggebrak meja siswa yang duduk di barisan paling depan untuk mengheningkan suasana kembali. Wanita itu terlihat mengamuk sekarang. “Kalian ini! Gurunya menjelaskan, ribut sendiri!”
Seketika suara menjadi lengang perlahan meski masih diikuti dengan bunyi cekikikan dari beberapa cowok di pojok. “Sudah! Sekarang lanjut!” teriak bu Zeline yang kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada layar LCD.
Sedangkan Alanzo sedari tadi hanya diam. Mood-nya sungguh tidak baik dari beberapa hari yang lalu. Sesekali, ia melirik ke arah Sheryl yang masih menikmati pelajaran dengan tampang tenangnya di tengah suasana ramai. Begitupun Sheryl, merasa dirinya sedari tadi ditatap, cewek itu menoleh pada Alanzo. Keduanya sempat bertatap beberapa detik sebelum Alanzo membuang muka ke arah lain.
“Oke, salah satu contoh dari teks prosedur yaitu seperti cara menggunakan alat-alat di sekitar. Nah, di sini saya akan menjelaskan cara penggunaan alat di kehidupan sehari-hari yang mungkin sudah kalian tahu tapi kalian belum tahu cara pengunaannya.” Wanita itu memencet remot untuk memindah slide, menampilkan sebuah gambar benda yang ada di LCD.
Seketika, tubuh Sheryl menegang dengan jantungnya yang seakan digempur cambuk.
***