
Alanzo menghirup udara segar yang menerpa dirinya kala ia berdiri di balkon perpustakaan. Cowok itu menyaksikan pemandangan sekolah yang sepi karena semua siswanya sedang pembelajaran. Banyak sekali tanaman asri yang terawat sempurna bisa ia lihat dari sini. Cowok itu mengembuskan vape-nya keluar. Rasanya tenang, dan sedikit mendistraksi pikiran tentang papanya.
Sebuah tangan milik seseorang di samping Alanzo kini memegang pembatas besi. Hal yang membuat Alanzo menoleh dan menemukan wajah cantik yang sedang diterpa angin. Mata almod disertai bibir merah ranum dan hidung mancung yang menghadap pada pemandangan di hadapannya. Dengan cepat, Alanzo memasukkan vape-nya ke dalam saku.
Meski vape tidak menimbulkan asap, Alanzo tidak ingin jika cewek di sebelahnya mencium aroma vape.
“Kenapa gak ke kelas?” tanya Sheryl terdengar nyaring dan lembut di telinganya.
“Mendingan lo gak usah ngikutin gue.” Alanzo mengalihkan kepalanya ke depan kembali.
Sheryl hanya terkekeh. “Kenapa gue harus ngikutin lo? Lo lupa dari dulu gue suka ke sini jauh sebelum lo tahu tempat ini?” Mendengar itu, Alanzo tidak menjawab, tidak lagi berkata meski ia sendiri juga penasaran apa yang Sheryl lakukan di sini saat jam pembelajaran? Bolos sperti dirinya kah?
Masing-masing dari keduanya kini tidak berminat untuk saling berbicara. Bukan karena kehilangan topik, melainkan karena antara sibuk dengan pikiran masing-masing dan masih menikmati semilir angin.
Alanzo mengembuskan nafasnya yang terasa segar. Sebuah pertanyaan yang sedari dulu ingin ia tanyakan kini terlintas di pikirannya. Tanpa menoleh pada empu bicara, Alanzo berkata, “Gue mau lo jawab pertanyaan gue.”
Sheryl menoleh sekilas sebagai tanda persetujuan kalau ia bakal menjawab pertanyaan Alanzo. “Gimana lo bisa tahu semua tentang gue? Nama orang tua asli gue sampai karakteristik gue waktu awal ketemu?”
“Gue bertanya sebagai pacar,” tambah Alanzo supaya cewek itu mau jujur.
Mendengar pertanyaan itu, Sheryl tersenyum tenang. “Gue juga gak tahu, gue dapet informasi dari Eros yan bilang lo anak konglomerat, gue tahu mama sama papa lo juga dari Eros. Mungkin Eros berusaha cari data lo waktu dia tahu gue mulai berinteraksi sama lo.” Sheryl menggidikkan bahunya.
Jawaban Sheryl cukup meyakinkan jika dilihat dari cara bicara dan kemasuk-akalannya. “Lo udah tahu soal gue. Kalo gitu sekarang giliran gue yang harus tahu soal lo.”
Dengan ekspresi tenang dan santai, Sheryl tersenyum. “Jadi dateng ke rumah gue, interogasi keluarga angkat gue waktu itu belum cukup buat tahu siapa gue sebenernya?”
Alanzo kini mengalihkan perhatiannya pada mata almond milik Sheryl, memandangnya amat sangat lekat, mengunci kontak mata dan mulai menyambungkan aliran listrik di jantung kala Alanzo samakin mendekat. “Kenapa setiap kali gue cari data tentang lo di internet selalu nunjukin error 404?”
“Kenapa lo nanya ke gue?” tanya Sheryl balik. Seperti biasa, semakin Sheryl ditatap maka akan semakin menatap Alanzo dengan berani. Alanzo mendekatkan tubuhnya, mengikis jarak di antara keduanya.
“Karena nama Sheryl Auristella cuma lo yang punya dan semua website pencarian akan selalu nunjukin error 404 waktu gue nyari lo, Sheryl,” katanya bernada rendah di samping telinga Sheryl langsung. Hal yang membuat nafas Alanzo berembus di lehernya.
Alanzo kembali menatap cewek itu dekat. “Gue cuma mau lo jujur dan mengenal lo sebagai pacar gue.”
Mendengar itu, Sheryl terdiam sejenak. “Semua yang lo tahu tentang gue ... adalah gue yang sebenernya. Gue cuma anak yang diasuh pedagang bakpao, dan gue emang baru pindah ke Jakarta. Kalo lo tanya error yang ada di internet waktu nyari apapun soal gue, gue juga gak tahu.”
Alanzo berusaha mencari kebohongan di mata itu, tapi ia tidak menemukannya. Alanzo menjauhkan dirinya dari Sheryl, kembali menatap ke arah pemandangan balkon. “Oke, gue percaya. Mulai sekarang, jangan ada yang lo rahasiain lagi dari gue. Gue pacar lo, lo bisa cerita atau minta apapun yang lo mau ke gue!” Alanzo menggenggam hangat tangan Sheryl. Meyakinkan cewek itu.
Tak sadar, bibir Sheryl kini melengkung membentuk senyuman.
***
“Pulang,” jawab Sheryl.
“Kanjeng Ratu tidak bisa pulang dulu hari ini, karena Baginda Raja kami sedang menunggu Anda di kerajaan!” ucap Jehab ala-ala pengawal kerajaan yang ingin menjemput ratunya. Sheryl mengerutkan dahi, meminta penjelas pada Leon yang berdiri di samping Jehab. Mungkin aja cowok itu masih lebih waras dari Jehab.
“Markas geng kami adalah kerajaaan bagi Kanjeng Ratu,” tambah Leon yang ternyata sama gak warasnya kayak Jehab.
“Trus?”
“Karena Baginda Raja meminta Anda datang ke kekerajaan, maka izinkan kami para pengawalmu ini untuk mengantarkanmu ke kerajaan sesuai perintah Baginda Raja.” Leon menyodorkan tangannya pada Sheryl yang hanya didiami olehnya. “Ayo, Kanjeng Ratu! Sebelum Baginda Raja murka pada kami!”
Sebuah tangan kini menyambut tangan Leon. “Ayo, pengawalkuuuhhh yang tampaannn!” Bukan, itu bukan tangan dan suara Sheryl, melainkan Jehab yang melakukannya dengan nada diimut-imutkan ala cewek.
Leon langsung saja menghempas tangan Jehab. Niatnya ingin modus pada tangan lentik Sheryl, yang ia dapat malah tangan bau ikan tongkol milik Jehab. “Najis!”
“Baik. Mari ikut kami, Kanjeng Ratu! Kami akan menunjukkan jalan menuju kuda!” sambut Jehab kembali membukukkan badan dan juga membuka payung untuknya meski cuacanya gak panas juga gak hujan. Sheryl sedikit tertawa lalu mengikuti Jehab dan Leon ke arah parkiran.
Leon membukakan pintu belakang sebuah mobil McLaren berwarna merah untuk Sheryl. Jehab duduk di depan dengan Leon yang menyetir. Leon melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Kanjeng Ratu, selama ini saya selalu menemukan ekspresi Anda yang selalu tenang. Contohnya waktu ada orang nyungsep di pohon beringin, ada orang nyolong celana dalem dikejar sampek ke arab, trus waktu ada orang melayang ke angkasa, Anda tampak tenang gak panik,” bincangnya tiba-tiba masih dengan bahasa formal. “Saya jadi penasaran, apa yang buat Anda takut ya?”
Sheryl langsung mengarahkan padangannya pada spion mobil tengah, membuat Leon dan dirinya bertatap-tatap melalui spion itu. Sheryl tidak menjawab, ia mengalihkan perhatiannya lagi pada jendela mobil.
“Ck, lo nanyanya basi, Anjir! Nih, gue contohin. Pergi ke pasar dapat uang logam!”
“Cakep!”
“Kanjeng Ratu pasti takut sama benda-benda tajam.”
Seketika itu juga, Sheryl langsung menatap Jehab melalui spion. Namun, ekspresinya masih datar dan santai. Cewek itu diam, benar-benar tak berminat membalasnya.
Leon langsung memukul lengan Jehab. “Itu terlalu to the point, Momok!”
Beberapa saat kemudian, ketiganya sampai pada markas utama Gebrastal. Ini kedua kalinya Sheryl mengunjungi markas ini setelah serangan dari Vernos waktu itu. Ia memasuki markas Gebrastal diikuti Leon dan Jehab di belakangnya. Menemukan cowok-cowok yang sedang melakukan aktivitasnya di sini. Ada yang nge-game, ada yang rebahan, ada juga yang lagi nge-jokes. Mulai Omero, Kenart, dan Andro yang ia kenal ada di sini. Hanya satu yang tak ia lihat keberadaannya.
Alanzo.
“Lo bilang Alanzo minta gue ke sini? Dia gak ada?” tanyanya yang hanya disuguhi senyum miring oleh Leon.
***