
Alanzo meneguk bir dari gelas yang ia bawa. Rasa pahit serta panas langsung mengalir di tenggorokannya. Ia kembali mengambil botol dari rak yang berisi berbagai macam alkohol sebelum menuangkan cairan merah itu ke gelas dan kembali meneguknya. Pikirannya tak henti-hentinya berpacu pada Delana.
Prang! Alanzo membanting gelas yang tadi ia pegang ke arah lantai dengan keras saat teringat kejadian malam itu. Malam yang merenggut nyawa orang yang paling ia cintai. “Anjing lo, Van!” umpatnya membayangkan betapa Vano sangat membencikan saat itu.
Belum sempat Alanzo ingin mengambil botol alkohol untuk ia minum lagi, suara bel dari pintu utama kini mendominasi ruangan. Setengah sadar, Alanzo berdiri dari tempat duduknya, melangkah ke pintu utama. Penasaran siapa orang yang menganggu dirinya yang sedang tak baik-baik saja.
Pintu terbuka. Alanzo kira papanya atau Vano yang datang, nyatanya matanya kini menangkap seorang cewek cantik bermata almond yang sedang berdiri menatap dirinya kaget. Mendapati cewek itu, entah kenapa ada rasa tenang di tubuh Alanzo.
“Sheryl ...,” sebutnya dengan suara serak dan kesadaran tak penuh. Tanpa aba-aba, cowok itu mendekat kemudian mencium bibir Sheryl tanpa seizinnya. Sheryl membeku di tempat. Otaknya masih tersendat dengan perlakuan tiba-tiba Alanzo.
Alanzo sedikit menggigit bibir cewek itu agar Sheryl membuka mulutnya. Memeluk Sheryl dan menarik tengkuknya. Sheryl tak sengaja membuka mulut, memberi peluang Alanzo untuk menciumnya secara rakus.
Merasa tidak nyaman, Sheryl langsung saja mendorong tubuh Alanzo, membuat jarak sehingga Alanzo mundur ke belakang. “Gila lo ya?!” ucap Sheryl mengusap bibirnya, tidak terima dengan perlakuan Alanzo.
Melihat itu, Alanzo terkekeh. “Kenapa? Lo ‘kan pacar gue?” Jika sudah meggunakan bahasa ‘lo-gue’ seperti ini berarti Alanzo sedang tidak menyukai sesuatu. Begitupun Sheryl.
“Pacar, bukan budak bibir lo!” tegas Sheryl sangat kesal. Jujur, Sheryl tidak suka dengan ciuman Alanzo kali ini. Dari aromanya saja, ia tahu Alanzo sedang mabuk dan hanya melampiaskan amarahnya lewat ciuaman pada dirinya.
“Oh ya? Ngapain lo ke sini?!” tanyanya kasar. Mata tajamnya menghunus tepat pada manik mata almond Sheryl. Sangat berbeda ketika Sheryl bertemu dengan Alanzo terakhir kali. Hal yang membuat Sheryl bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan cowok itu.
“Gue awalnya nyari lo. Lo gak sekolah, gak ada kabar dua hari!”
“Dari mana lo tahu gue ada di sini?!”
“Dari GPS!” kata Sheryl, menatapnya sengit.
Alanzo tertawa meremehkan. “Jadi lo khawatir sama gue?”
“Awalnya iya, tapi sekarang enggak!” Sheryl terlihat sangat kesal kali ini. Tidak mempedulikan Alanzo yang menyebalkan, ia segera pergi dari hadapan cowok itu. Belum sempat melangkah semeter, Alanzo menarik tangannya secara kasar. Mengakibatkan Sheryl oleng dan kini terjatuh di dada Alanzo.
Dari dekat, Alanzo bisa mencium aroma feminim berbau cherryl dari tubuh Sheryl. Bau segar dicampur dengan aroma klasik yang cukup membuat candu. Alanzo memeluk erat tubuh cewek cantik itu yang meronta meminta dilepas. Seakan tidak ingin aroma Sheryl hilang dari penciumannya.
“Lepas!” tegas Sheryl penuh penekanan yang tak digubris oleh Alanzo.
“Kenapa? Bukannya lo yang awalnya nyariin gue?” desisnya menekan di setiap kata. Mungkin kata-kata itu akan membuat bulu kuduk orang lain berdiri, tapi Sheryl tidak. Ia masih berusaha melepas tangan kekar Alanzo dari perutnya.
“Lo mabuk, Zo!”
“Kenapa kalo mabuk? Takut diapa-apain sama pacar lo?” Alanzo tertawa devil. Ingin sekali melihat wajah Sheryl jika ketakutan. “Lo denger, jadi pacar gue harus rela gue apa-apain, Bodoh,” lanjutnya masih terpengaruh oleh alkohol.
Hal yang membuat dada Sheryl seakan dipecut. Terpaksa Sheryl kini mengeluarkan jurusnya. Ia memegang tangan Alanzo memutarnya agar bisa melepaskan diri. Sheryl menggunakan taktik bela diri secara sembunyi, membuatnya seolah-olah tidak sengaja melakukan di depan Alanzo.
“Mulai sekarang kita putus ya?! Jangan lagi jadiin gue pacar lo, karena gue bukan cewek murahan!” kelakar Sheryl menunjuk wajah Alanzo penuh emosi. Hatinya seperti diaduk-aduk. Sheryl tidak pernah seperti ini sebelumnya.
“Ya, pergi aja! Pergi yang jauh dari hidup gue! Jangan pernah tunjukin wajah lo lagi!” Mendengar ocehan Alanzo, Sheryl tak berhenti melangkah. “Semua orang emang bakal pergi dari hidup gue! Orang jahat kayak gue emang gak pantes dapetin orang baik! Gue emang pantes kehilangan!”
Seketika itu juga Sheryl menghentikan laju kakinya. Berbalik badak, menemukan Alanzo dengan kondisi yang kacau seperti frustasi dengan air mata yang membasahi pipi. Sheryl terdiam sesaat di tempat sebelum akhirnya secara perlahan kembali menghampiri Alanzo.
“Lo mabuk,” ucap Sheryl datar.
“Kenapa gak jadi pergi? Pergi aja kalo mau pergi!” Alanzo menunjuk gerbang rumahnya.
“Gue tahu lo lagi kacau,” kata Sheryl melemah.
“Lo?” kekeh Alanzo. “Lo gak tahu! Lo gak tahu apa-apa soal gue, gak rasanya jadi gue, rasanya kehilangan orang yang paling gue sayang!” teriak Alanzo, berusaha mengeluarkan segala unek-uneknya.
“Lo pernah gak punya orang yang jadi sumber kekuatan lo, pembela lo ketika orang lain jatuhin lo, dan tiba-tiba orang itu direnggut nyawanya dengan cara yang gak bisa lo terima?”
Mendengar itu, Sheryl membeku di tempat. Kalimat Alanzo tanpa sadar membuat pikirannya melayang pada kejadian beberapa bulan lalu yang membuat dirinya seperti ini. Sheryl menelan ludahnya kasar.
“Gak pernah, ‘kan?” tanya Alanzo dengan mata penuh rasa sakit. Sheryl menatap Alanzo sendu. Tak menjawab apa pun, cewek itu memegang tangan Alanzo dengan hangat meski pikirannya juga menerawang. Air mata Alanzo mengalir begitu saja seperti anak TK. Ini kali pertamanya Sheryl melihat cowok itu mengeluarkan air mata. Sangat tidak disangka.
Tak butuh waktu lama, Alanzo segera memeluk tubuh Sheryl erat. Mencari-cari energi positif darinya. Sheryl tertegun kembali, tapi perlahan tangannya membalas pelukan Alanzo. Mengelus punggung itu. Sheryl memejamkan mata, merasa nyaman dengan pelukan itu.
***
Kedua remaja itu masih berdiri berjajar menghadap ke arah luar balkon kediaman Alanzo, menyaksikan pemandangan malam kota yang memberikan semilir angin. Ketenangan memasuki tubuh keduanya, tapi tidak dengan pikirannya yang berkibar entah ke mana.
Sheryl menghirup udara secara rakus lalu menghembuskannya perlahan. Alanzo menoleh ke arah Sheryl. Setiap kali melihat wajah itu, rasanya sangat tenang setiap kali memandang wajah Sheryl. “Maaf,” ucap Alanzo mengawali.
Sedikit canggung, karena ‘maaf’ adalah kata yang tabu untuk Alanzo ucapkan. Alanzo tidak pernah minta maaf sebelumnya.
Setelah bangun dan sadar dari minuman alkohol tadi, Alanzo langsung menghampiri Sheryl yang sedang berdiri di balkon rumahnya.
Mendengar itu, jantung Sheryl berpacu cepat. “Gak papa.”
“Harusnya tadi aku ... gak bilang gitu ke kamu.”
Sheryl tersenyum tipis. “Gak semuanya bisa ditahan. I know everyone have a problem. Kamu bisa luapin emosi, bisa cerita, atau apa pun itu yang bikin kamu lega.”
Alanzo tergemap mendengarnya. Ia menatap mata Sheryl lekat kali ini. “Jadi ... kalau aku cerita soal dia ... boleh?”
***