Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Alasan



Alanzo menghampiri brankar tempat Sheryl terduduk, tidak mempedulikan kedua cewek yang masih tercengang itu. “Kamu udah gak papa?” tanya Alanzo menggunakan bahasa ‘aku-kamu’, tidak seperti biasanya. Lebih epiknya lagi, Alanzo mengelus pipi Sheryl saat mengatakan itu.


Sheryl menegang di tempat. Tidak tahu harus berkata apa, yang pasti jantungnya itu berdebar lebih cepat dari biasanya. Dengan cepat, Sheryl melepas tangan Alanzo dari pipinya. Berusaha menatap ke arah lain.


“Wow, udah ‘aku-kamu’ manggilnya! Emmm!” Hawra kesemsem sendiri, menyenggol-nyenggol Taletta di sampingnya. Sangat mengganggu suasana romantis itu.


Alanzo mengerutkan kening. “Mereka siapa?”


“Gue Hawra!” sahut Hawra langsung duduk di kursi samping kiri Sheryl, menjadikan posisinya berhadapan-hadapan dengan Alanzo. Ia memberikan tangannya dengan excited yang tidak dibalas oleh Alanzo.


Plak! Taletta menepis tangan Hawra. “Gue Taletta.”


“Sakit!” Hawra membalas memukul tangan Taletta sebelum tersenyum pada Alanzo. Sheryl melirik keduanya, mengisyaratkan sesuatu.


“Kita temannya Sheryl, dari Bandung,” ucap Taletta.


Alanzo mengamati penampilan kedua cewek di depannya. Jika dilihat-lihat, mereka seperti anak orang berada. “Lebih kelihatan kayak anak Jaksel.”


Jleb.


“E—enggak! Kita dari Bandung kok! Buktinya kita bisa basa Bandung kok! Basa Sunda! Ya ‘kan, Haw?” balas Taletta menyenggol Hawra agar berbahasa sunda.


Kini Hawra yang berucap. “Iya! Nih! Emmm ... wo shi xun taren, wo de mingzi shi Hawra.”


Si Bego. Rasanya Sheryl dan Taletta ingin melenyapkan Hawra sekarang juga.


“Itu basa china, Bego!” bisik Taletta menginjak kaki Hawra. “Biar gue aja, nih. Nami kulo niki Taletta. Kulo urang sunda atuh.”


“Lo ngomong sunda atau jawa?” tanya Alanzo yang ternyata tahu bahasa Jawa. Tidak terprediksi sama sekali oleh Taeltta.


Krik! Krik! Krik!


Taletta terdiam di tempat, tersenyum kecut. Ia menatap Alanzo. “Kita emang orang Bandung, tapi gak bisa basa sunda,” ucap Hawra masih berusaha. Sheryl menatap ke arah lain saat Hawra menatapnya meminta tolong.


“Aku baru tahu kamu punya temen kelas atas,” sindir Alanzo setengah terkekeh tajam. Taletta dan Hawra saling lihat-melihat. Ia memandangi penampilan diri mereka saat berhadapan dengan Alanzo saat ini. Mulai dari style modern hingga tas louise vuttion ori. Mungkin itu yang membuat Alanzo heran gimana seorang Sheryl si cewek biasa bisa berteman dengan cewek seperti mereka.


Taletta sekarang diam saja. Sadar membodohi Alanzo, si Ketua Geng itu, tak semudah itu. Namun, Hawra malah menciptakan drama baru. “Emmm, sebenernya kita tuh juga gak mau temenan sama Sheryl, anak penjual bakpao! Ogah banget! Gak level! Itu dulu sih, sekarang kita akrab mau minta maaf karena ngerasa bersalah udah sering ejekin Sheryl!”


Hal yang membuat Taletta menepuk jidat lalu menginjak kaki Hawra. Si Bego.


“Apaan sih!” ucap Hawra tidak terima.


Alanzo tidak menggubris kedua manusia yang sangat annoying di hadapannya. Perhatiannya sedari tadi hanya terfokus pada wajah indah Sheryl. Meski ada cewek yang juga cantik di depannya, nyatanya Sheryl lebih menarik di penglihatannya. Alanzo memengang tangan Sheryl yang sedari tadi diam entah memikirkan apa.


Sheryl melihat tangan itu, kemudian melihat Alanzo yang menatap dirinya datar.


“Apa yang lagi lo sembunyiin?” tanya Alanzo kembali menggunakan ‘lo-gue’.


“Bilang ke gue, lo kenapa?” Tangan Alanzo masih memegang tangan Sheryl dengan hangat. Ada keseriusan di mata cowok itu saat menanyakannya. Hal yang membuat Sheryl menegang karena selama mengenal Alanzo, Alanzo tidak pernah seperti ini.


“Aku gak papa,” jawab Sheryl mengalir begitu saja dari mulutnya. Mata mereka masih bertatapan.


“Bohong!” elak Alanzo terkekeh, melepas tangan itu.


Taletta dan Hawra tertegun memandang interaksi keduanya. Mereka memutuskan untuk beranjak keluar ruangan, membiarkan kedua pasang kekasih itu berbicara secara privat.


“Aku beneran gak papa.” Entah sadar atau tidak, rasanya Sheryl ingin menggunakan bahasa ‘aku-kamu’ untuk lebih lembut.


“Kalo lo gak papa, kenapa lo tadi pingsan?! Kenapa lo sering mimisan?! Lo tahu sebetapa paniknya gue waktu lo tadi kayak gitu?!” amuk Alanzo. Perasaannya mulai campur aduk. Alanzo tidak tahu kenapa kata-kata itu bisa meluncur dari mulutnya. Tidak! Ini seperti bukan dirinya! Ia tidak mungkin mencemaskan seorang cewek begitu saja!


Sheryl jelas kaget di tempat mendapati Alanzo semarah itu. Sheryl kini menyentuh jari-jari Alanzo, menenangkan cowok itu.


“Gue tahu, lo lagi sembunyiin sesuatu.” Alanzo masih menatap cewek itu. “Gue berhak tahu atas lo, gue pacar lo! Gue gak suka lo bohong! Bilang ke gue, Sheryl Auristella.” Suara Alanzo mulai melemah di akhir kalimat, menunggu cewek itu membalasnya.


“Alanzo,” panggil Sheryl lirih dengan tatapan nanar. Ia mengambil nafas pelan lalu membuangnya. “Aku sakit.”


“Aku punya gangguan otak dan phobia.”


Taletta dan Hawra yang masih bisa mendengar di depan, saling bertatapan tak percaya.


Seketika itu juga, Alanzo menegang di tempat. Genggaman tangannya dengan Sheryl merenggang. Menyaksikan ekspresi itu, Sheryl tertawa ringan.


“Haha, kenapa? Sekarang lo mau ninggalin gue karena sakit, ‘kan? Lo bilang lo gak akan pernah suka punya cewek sakit-sakitan? Gue sakit, Zo. Kalau lo mau ninggalin gue, go ahead!” Entah kenapa, dada Sheryl terasa sesak saat mengungkap itu. Sudah banyak orang yang pergi dalam hidupnya. Mungkin Alanzo juga bakal meninggalkannya.


“Lo pikir gue cowok apaan yang bakal ninggalin ceweknya cuma karena sakit?”


Sheryl malah tersenyum tenang. Senyuman yang sangat Alanzo tidak sukai karena saat di masa-masa buruk cewek itu selalu tenang seolah tak terjadi apapun. “Semua orang juga bakal bilang gitu, and then they said that they disgusted me because my illness.”


“Lo tahu? Gue pernah ketemu sama seseorang yang lemah dan dicampakkan seseorang karena penyakitnya, dan rasanya gak enak. Gue gak mau lo rasain pengalaman yang sama kayak yang orang itu alami.” Genggaman Alanzo yang sempat merenggang tapi ia eratkan kembali.


“Tapi waktu itu lo bilang, lo bakal putisin gue kalo gue sakit? Lo bilang lo gak mau ‘kan pacaran sama cewek sakit?” Sheryl terkekeh.


Alanzo menyentuh mengelus tangan halus cewek itu. “Tadinya.” Alanzo mengecup punggung tangan Sheryl yang membuat jantungnya berdetak kencang. “Gak peduli apa yang gue katain sebelumnya, lo harus percaya gue kali ini. Gue gak akan ninggalin lo, Sheryl. Never.”


Dari depan, Taletta yang masih mendengar samar-samar menghela nafas. Ia menatap Hawra. “Lo tahu apa yang gue pikirin sekarang, ‘kan?”


“Kenapa Sheryl gak bilang yang sebenenya aja sih?”


“Karena kejadian itu, Haw.”


***