
“Alanzo!” pekik Sheryl bersamaan dengan keempat cowok Gebrastal yang berlari ke arah Alanzo dan menyangga tubuhnya agar tak terjatuh lagi ke tanah. Jantung Sheryl berdebar hebat menyaksikan itu dengan mata melebar.
Sheryl mengepalkan tangannya. Dengan cekatan, melangkah pelan, mengarahkan Smith and Wesson itu pada Zezan. “Buang pisau lo!” pekinya. Zezan mau tak mau membuang pisaunya ke tanah saat pistol itu sudah di tengah dahi sambil mengangkat tangan.
“Apa-apaan ini, Sheryl?!” Suara serak-serak tegas dengan maskulin serta aura yang kuat dan sangat familiar di telinga Sheryl itu, merasuk ke gendang telinganya. Seketika, matanya membola dengan dadanya yang bergetar. Semua orang kini mengarahkan matanya pada sosok peneriak yang berhasil membuat Sheryl menurunkan pistolnya.
“Pak Menteri!” ujar Zezan berlutut, begitu juga dengan anggota Vernos yang lain.
“Pak Widjodiningrat?” beo Omero yang mengenal orang itu sebagai penjabat negara. Menteri Keamanan dan Ketahanan Nasional. Kenart, Leon, dan Jehab menoleh ke arah orang yang disebut Zezan dan Omero. Melototkan mata saat sadar jika pria itu adalah pria yang ada di rekaman cctv bersama Sheryl, pria yang ada di pesta yang mencium kening Sheryl.
Ketiga cowok itu ikut memberikan hormat saat menengok pakaian resmi serta sebuah pin yang melambangkan pangkatnya sebagai pria terhormat di negara ini.
“Pak Widjodiningrat!” Vano membungkukkan badannya. Begitupula Leyana yang takut dan merasa heran apa yang pria terhormat itu lakukan di sini.
“Papa? Papa ngapain di sini?” kaget Sheryl menyaksikan tatapan tajam papanya itu pada dirinya.
Jleb! Seolah ditusuk oleh keris tajam, semua orang di hutan ini melototkan matanya tak percaya. Mulai dari Zezan, anggota Vernos, Gebrastal, dan Leyana yang merasa kaget dengan sebutan ‘papa’ oleh Sheryl.
“Apa katanya? Papa?” tanya Erza mewakili semua orang, terlihat kicep. Mampus sudah nasib mereka semua.
“Papa tanya, kamu jawab, Sheryl! Bukan balik bertanya! Apa yang kamu lakuin sama pistol itu tanpa pengawasan Papa! Dan kenapa pistol itu kamu todongkan ke orang lain?!” tegasnya sekali lagi dengan muka garang.
“Pa, aku bisa jelasin!”
“Jelasin kalo lo udah ambil senjata di ruangan gue sama papa tanpa izin?!” sahut seorang cowok tampan bertubuh gagah yang kini datang, diikuti oleh banyak tentara dan bodyguard di belakangnya.
“Kak Helios!” Zezan memberi hormat pada Helios begitu juga Kenart dan Vano yang selama ini mengenal Helios sebagai orang penting.
“Kak, ini—“
“SHERYL!” pekik dua orang cewek cantik yang berlari menghampiri. Semua cowok menoleh pada Taletta dan Hawra. Bidadari secantik itu bisa di hutan ini demi Sheryl?
“Kalian berdua?! Jadi kalian yang bilangin papa sama kakak kalo gue di sini?!” Sheryl menatap tajam kedua cewek itu.
“Helios, cepat bawa Alanzo pake ambulance sebelum dia kehabisan darah!” perintah Dirgantara Widjodiningrat dengan teriakannya. Helios cepat membopong tubuh Alanzo yang telah lemas diikuti bodyguard di belakangnya.
Sheryl kini menghampiri papanya. “Pa! Aku lakuin ini punya alasan! Mereka udah lakuin tindakan kriminal, penggunaan pisau buat nusuk orang lain dan pelemparan tuduhan pemerkosaan, Pa! Mereka udah ngejebak Gebrastal buat ada di hutan ini! Mereka bahkan mau nusuk aku pake pisau!” Sekarang Vernos ketar-ketir saat Dirgantara menatap mereka satu per satu. “Maaf, Pa. Aku tahu ini salah, tapi tanpa pistol ini, mungkin semuanya bakal kacau.”
Dirgantara mendengar putrinya menunduk dan menyerahkan pistol itu tanpa mau menatapnya. “Wiryo!” panggil Dirgantara, memunculkan seorang pria berpangkat perwira tinggi kepolisian. “Bawa semuanya ke kantor polisi!”
“Kami membawa kalian ke kantor untuk diinterogasi, semuanya bisa dijelaskan di kantor polisi.”
“Pa,” panggil Sheryl.
“Kamu juga ikut ke kantor polisi, Sheryl!” cetus Dirgantara tanpa mau dibantah.
***
Dirgantara Widjodiningrat. Seorang penjabat negara dengan kedudukan Menteri Pertahanan dan Kemanan Negara berpangkat Letnal Jenderal sekaligus pembisnis kaya itu memasuki ruangan polisi membuat orang-orang yang ada di ruangan ini memberi hormat. Siapa yang tidak mengenalnya? Pria duda beranak tiga yang beberapa bulan yang lalu ditinggal meninggal oleh istrinya.
Setelah tiga jam lamanya menunggu, akhirnya interogasi telah selesai. Sheryl keluar dari ruangan dengan lemas. Ia langsung berlari memeluk papanya dengan air mata yang mengalir. “Pa ... aku gak mau diinterogasi lagi! Beberapa bulan yang lalu gara-gara kejadian itu udah cukup, Pa!”
Dirgantara mengembuskan nafasnya. Membalas pelukan putri kesayangannya itu dengan erat dan mengelus punggungnya secara halus. Sebenarnya ia tidak marah karena pistol mahalnya diambil sembarangan oleh putrinya. Ia hanya mengkhawatirkan putrinya itu, ia khawatir Sheryl lepas kendali, ia khawatir ada orang lain yang terluka karena pistol itu. Cukup ia kehilangan istrinya karena kejadian mengerikan itu. Ia tidak ingin kehilangan Sheryl.
“Ssttt ... udah selesai, My Little Daughter! Lain kali jangan lagi! Papa khawatir, Nak!”
Kini Kenart, Omero, Leon, dan Jehab keluar dari ruangan. Keempat cowok itu melihat interaksi antara kedua manusia di hadapannya dalam diam. Tidak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa jam, akhirnya hasil interogasi dan keputusan dibacakan. Vano dan Zezan dinyatakan bersalah dengan tuduhan penganiayaan dan dihukum sesuai pasal 351 KUHP ayat 1.
“Sheryl! Lo gak papa?!” heboh dua orang cewek yang baru datang dengan muka panik setelah keputusan pelaku dibacakan tadi, ingin memeluk Sheryl. Namun, Sheryl menghindar dan memeluk papanya. Ia masih kesal dengan dua cewek itu.
***
Dirgantara menaikkan selimut putrinya yang sempat turun. Melihat wajah putrinya yang tertidur membuat dirinya tenang. Ia mencium kening Sheryl seperti yang ibu-ibu pada umumnya lakukan pada anak-anaknya kemudian tersenyum tipis. Nafasnya berhembus. Sejak kejadian yang mengakibatkan traumatik itu, Sheryl tidak lagi bertingkah seperti dulu.
Dulu, Sheryl adalah sosok pemberani yang tenang dalam menghadapi masalah. Saking pemberaninya, Sheryl menjadi sosok yang pemberontak dan troublemaker seperti yang Taletta dan Hawra lakukan. Mulai dari belajar bela diri dan berbagai macam sport, drifting atau balapan mobil, kejar-kejaran dengan gurunya karena bolos, datang ke club, sampai membuat masalah hanya untuk meresahkan polisi suruhannya.
Ia masih ingat, saat ia memarahinya karena membuat masalah dengan tak sengaja menabrak gerobak tukang sayur.
“Mulai hari ini, gak ada keluar malem! Gak ada drifting! Kamu dilarang keluar! Semua aset kamu, Papa sita!” Yang menyebalkan dari Sheryl adalah wajah cewek itu yang masih tenang tak terinterupsi.
"Oke," ujarnya. Namun nyatanya Sheryl terlalu berani melawan papanya. Ia kabur dibantu Taletta dan Hawra. Hal yang menyebabkan Dirgantara greget tapi selalu saja ada istrinya yang menangkan.
“Udahlah, Pa. Dia masih muda, biar dipuas-puasin nakalnya. Lagian senakal-nakalnya Sheryl, Sheryl udah janji gak akan minum alkohol, gak akan berhubungan diluar nikah, atau ngelakuin hal haram lainnya.” Ia masih ingat kata-kata Leontine saat itu. Wanita italia yang ia nikahi. Ia percaya pada Sheryl, kenakalan yang dilakukan Sheryl hanya sebatas ingin membuat dirinya kesal.
Tapi itu dulu. Sebelum Sheryl menjadi seorang penakut pasca trauma. Terkadang, ia ingin putrinya menjadi pemberani seperti dulu lagi meski ia tahu sekarang Sheryl telah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi gadis teladan.
***