
Biasanya pagi-pagi seperti ini, akan ada suara motor dengan seorang cowok yang sudah siap menjemputnya ke sekolah, biasanya akan ada yang me-whatsapp dirinya menanyakan kabarnya. Biasanya juga, akan ada enam cowok yang duduk di sekitar bangkunya.
Namun, hari ini tidak. Tidak ada Alanzo yang melindunginya, tidak ada Jehab dan Leon dengan lawakannya, tidak ada Kenart dan Omero dengan dengan tatapan anehnya. Semuanya terasa aneh bagi Sheryl. Cowok-cowok itu memutuskan pindah kelas paling jauh dari kelasnya. Benar kata Alanzo malam itu, ia tidak akan menemui Sheryl lagi.
Hal yang membuat semua murid bertanya-tanya apa yang terjadi dengan keduanya. Alanzo tidak lagi ke kantin bersama Sheryl, tidak lagi berjalan berdua. Jangankan berjalan berdua, Sheryl saja tidak pernah melihat keberadaan Gebrastal lagi selama seminggu ini.
Sepi adalah hal yang terasa di benaknya. Hidupnya kembali lagi seperti dulu. Tanpa ada kejahilan Alanzo. Tapi bukannya itu yang Sheryl harapkan dulu? Meski terlihat diam, nyatanya Sheryl masih menginginkan Alanzo, berharap cowok itu akan muncul di hadapannya, memintanya penjelasan dan memaafkan kesalahannya. Walau ia tahu itu mustahil karena sejauh mengenal Alanzo, ia tahu Alanzo bukan orang yang suka dibohongi.
Jika dipikir, bagaimanapun Alanzo adalah orang pertama yang berhasil menenangkan dirinya saat kumat. Cowok yang berhasil membuatnya merasa berbeda dari cowok lain yang pernah ia temui.
Jadi ini yang dirasakan cewek-cewek yang diputuskan Alanzo?
“Kenapa lagi sih? Bukannya lo cuma main-main ya sama dia?” tanya Taletta merasa bingung mendengar cerita Sheryl.
“Ck, cowok ganteng
gue dimainin sama Sheryl!” tambah Hawra yang sedang mencatok bulu matanya.
Taletta mendudukan diri di kasur, di samping Sheryl yang duduk terdiam. Ini pertama kalinya ia mendengar Sheryl bercerita dan baru pertama kali mendengar Sheryl diputuskan seorang cowok. “Kenapa lo gak jujur aja sih?”
“Kalo jujur percuma dong semua yang gue lakuin di Jakarta selama ini?” Ekspresi Sheryl datar. "Lagian dia juga udah gak mau dengerin gue. Pun dia tahu, dia juga bakal gak maafin gue.”
“Tapi, Sher! Beberapa hari ini lo tuh kelihatan banget gamonnya, sumpah!” kesal Harwa mulai membuka tutup cat kuku Sheryl lalu mengoleskan ke kuku lentiknya.
“Buset! Lo udah ambil apa aja, Haw? Tadi masker eksfo gue, moiturizernya Sheryl, body lotion, serum sebotol, sampek kuteknya Sheryl mau lo abisin juga?”
“Elah, kutek aja gak bakal habis! Lo pikir kuku gue se-gedhe bagong sampek sekali habis?” Hawra mengelak, tapi beberapa detik kemudian saat mengusap di kuku terakhir, kuasnya terasa kering. Hawra berusaha mengobok-ngoboknya lagi dari wadahnya dan ternyata habis.
“Habis, ‘kan?” sewot Taletta sedang Hawra hanya cengengesan, mengembalikan kutek itu ke tempat asalnya.
“Kuteknya habis, orangnya juga gak protes kok, yakan, Sher?” Ia menepuk bahu Sheryl.
“Besok lo harus ganti karena itu limited edition,” balas Sheryl tak berekspresi.
Seketika senyum hawra menjadi kutek.
***
Sheryl melangkahkan kakinya menaiki tangga, menuju perpustakaan. Buku sosiologi adalah tujuannya. Retina matanya bergerak fokus mencari-cari kode S untuk menemukan buku yang ia mau. Ia berjalan ke arah barat, tapi tidak menemukan apa pun karena saking banyaknya rak di perpustakaan ini.
Ia menyipitkan mata saat mendapati buku yang ada di pikirannya berada di rak atas. Sheryl pun berjinjit, berusaha mengambil buku itu. Namun, nihil tinggi badannya masih tidak mengimbangi. Sebuah tangan besar kini mengambil buku itu dengan mudahnya.
Sheryl menolehkan kepala, menemukan cowok tampan berkulit eksotis dengan rambut curly ala pemain sepak bola sedang berdiri di sebelahnya. Cowok yang tidak tampak beberapa hari ini di matanya. Omero memberikan buku itu padanya.
“Makasih,” ucap Sheryl. Omero mengangguk.
“Sendirian?” Sheryl mengangguk. Ia hndak beranjak pergi.
“Gue—mau ngomong!” ucap Omero kaku.
“Gue gak akan nge-judge lo kayak lainnya, tenang aja!” Sheryl kini berbalik badan, memberikan peluang pada Omero. “Kenapa lo lakuin itu, Sher?”
“Did what?” Sheryl menaikkan salah satu alisnya.
“Kenapa lo selingkuhin Alanzo? Alanzo kurang menarik?”
“I’m not cheating if you know.”
Omero mengembuskan nafas, melangkah menuju Sheryl, dan tanpa Sheryl duga meletakkan kedua tangannya di bahu Sheryl. Sheryl melirik tangan Omero yang menyentuhnya lalu melihat mata Omero yang tak bisa ia artikan. “Sher, gue tahu lo bukan cewek yang kayak di luar sana. Lo bisa jujur ke gue apa yang sebenernya terjadi.”
“Sorry, you’re nothing in my life, by the way.”
“Gue tahu lo akan bilang kayak gitu. Tapi gue udah nganggap lo orang spesial dalam hidup gue. Lo tahu, Sher? Saat semua orang gak percaya sama lo, termasuk Alanzo, gue satu-satunya orang yang masih percaya sama lo sampek saat ini.” Omero kini memegang kedua tangan Sheryl membuatnya langsung menarik tangan.
Sheryl menolehkan kepala ke samping kanan-kiri. “Lo lagi disuruh ketua lo buat nemuin gue atau punya maksud tersembunyi?”
Omero mengacak-acak rambutnya frustasi. “Gue serius, Sher! Gue mau denger keluh kesah soal lo! Lo tahu? Semua gosip tentang lo yang ngatain lo gak bener mulai nyebar sekarang, dan gue gak mau lo rendah di mata orang lain! Gue tahu lo cewek baik!” katanya menatap Sheryl. Sharyl menegang di tempat, tidak tahu harus berkata apa. Omero tampak berbeda dari biasanya.
Jika kalian ingat, Omero itu memang tertarik dengan Sheryl sedari dulu. “Denger, Sher! Gue rela jadi pelindung lo, gue rela jadi apa pun yang lo mau, asal lo mau nerima gue dalam hidup lo.”
Sheryl menarik tangannya saat Omero menggenggam tangannya lagi. “Gak perlu! Ketua lo bisa marah waktu tahu lo deket sama gue!”
“Kenapa harus marah, ini semua hak gue! Kalau dulu gue gak bisa dapetin lo karena lo masih milik Alanzo, sekarang gue bebas, ‘kan?”
“Se-gak laku itu lo sampek harus sama gue?”
“Banyak cewek cantik di dunia ini, tapi gak ada yang semenarik lo! Lo penuh dengan kejutan, Sher! Lo penuh dengan misteri! Dan kalau Alanzo gak bisa tahu apa yang lo takutin, biarin gue tahu! Gue bakal nemenin lo sampek kapan pun!”
Sheryl menghela nafas kesal. “Mendingan lo balik ke markas lo deh.” Ia ingin pergi, tapi lagi-lagi ditahan oleh Omero.
“Gue masih gak ngerti apa alasan lo dulu nerima Alanzo yang gak beres! Suka main cewek, kobam, judi, balapan? Bahkan Alanzo makin parah dari sebelumnya sejak putus sama lo kalo lo tahu! Dia sering mabuk di club!”
“Lo sendiri gimana?”
“Kalau lo kenal Gebrastal, harusnya lo kenal gue. Gue gak akan pernah ngelakuin hal yang gak harusnya dilakuin pelajar.”
Sheryl terkekeh ringan. “Jadi menurut lo, lo paling baik? Mungkin semua orang juga ngira gitu, tapi aslinya lo gak ada bedanya. Asal lo tahu, kalo lo cowok yang baik, harusnya lo ngingetin mereka buat gak lakuin hal yang gak baik meski lo juga gak ikut-ikutan. Bukannya cuma diem aja.”
Seketika, Omero melepas pegangan tangannya dari Sheryl dan membiarkannya pergi kali ini. Terdiam di tempat. Selama ini Omero memang tidak pernah ikut-ikutan, tapi Omero tidak pernah sekalipun menegur atau mengarahkan teman-temannya pada hal yang baik.
***
A/N:
Giamana guys part ini? Jangan lupa vote, komen, like, and share ya guyss hehe💗💗