
Usai mengelilingi kota menikmati sore hari yang terasa begitu ramai setelah pulang sekolah, akhirnya Alanzo mengajak Sheryl ke sebuah tempat yang tidak pernah Sheryl kunjungi di Jakarta. Tempat yang selalu Sheryl kepoi karena sejak dulu ia ingin ke sini, hanya saja Eros selalu melarangnya.
Stasiun MRT Sudirman.
Alanzo tersenyum kala melihat wajah cerah Sheryl kali ini. Ia memang sengaja mengajak cewek itu ke tempat ini karena ia tahu Sheryl suka dengan hal-hal kecil sederhana. Ini adalah salah satu aktivitas yang sering Alanzo lakukan dulu bersama Vano dan ‘dia’. Naik MRT di Jakarta meski kadang tak tahu tujuan. Yang mereka pikirkan dulu hanya bersenang-senang.
“Lo pernah ke sini?” tanya Alanzo yang digelengi kepala oleh Sheryl semakin membuat Alanzo merasa istimewah. “Jadi ini yang pertama?”
“Ya, Eros gak pernah ngajak gue. Gue cuma bisa liat kereta bawah tanah lewat tiktok.”
Alanzo tersenyum lagi lalu menggandeng tangan Sheryl dengan lembut. Ia mengajak cewek itu melewati terowongan lalu belok kanan memasuki stasiun dukuh atas menuju lanta dasar. Jauh berbeda dengan stasiun biasa yang pernah Sheryl kunjungi, stasiun MRT bisa dikatakan sangat bersih dengan tempat elegan yang membuat dirinya nyaman berada di stasiun itu.
Sheryl melihat ALanzo yang sedang melakukan pembayaran dengan sebuah kartu pada benda menyerupai mesin ATM. Sheryl tidak tahu, yang ia tahu dari layarnya, ternyata harga naik MRT tak semahal yang Sheryl kira.
“Kamu ... gak laper?” tanya Alanzo tiba-tiba dengan nada ‘aku-kamu’.
Postur tubuh Alanzo yang lebih tinggi darinya membuat ia mendongak, sedikit terlonjak. “Gue ...?”
Alanzo menghentikan langkah. Menatap Sheryl. “Molai sekarang kamu gak boleh manggil pake ‘lo-gue’ ke aku. Kamu harus manggil aku kamu!” pinta Alanzo mengacak-acak rambut Sheryl lalu memeluknya secara posesif dari samping kala beberapa lelaki di sekitarnya curi-curi pandang pada Sheryl. Tidak heran, jika dibandingkan dengan sekitar, Sheryl terlihat sangat mencolok. Bukan karena dandanan, tapi karena wajahnya yang sudah seperti menandingi dewi aphrodyte.
“Karena aku pacar kamu,” lanjut Alanzo membuat Sheryl diam. Rasanya aneh, seorang ketua geng motor yang biasanya kasar bisa memanggil dengan sebutan halus itu.
“Emang ... kamu laper?” tanya Sheryl gantian.
Rasa senang hadir di dada cowok itu kala mendapati panggilan Sheryl. Sejak Sheryl memanggil menggunakan ‘aku-kamu’ di rumah sakit kemarin, rasanya seperti candu. “Dikit.”
Alanzo menggandeng tangannya memasuki kereta yang kini jalan menyusuri rel bawah tanah. Keduanya sengaja berdiri memegang segitiga orange yang digunakan untuk berpegangan. Keduanya saling berhadap-hadapan. Alanzo sibuk menikmati pemandangan indah di depannya, wajah cantik Sheryl yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Semakin Alanzo memandang, rasanya wajah itu semakin menarik di matanya.
“Kamu tahu? Kamu pacar pertama aku yang aku panggil pake ‘aku-kamu’.” Tidak sungkan Alanzo mengatakan itu. Mungkin terdengar norak atau lebay untuk seukuran cowok gengsian seperti Alanzo. Alanzo juga tidak tahu kenapa ia harus mengatakan itu pada Sheryl.
“Kamu juga,” balas Sheryl sambil tertawa, menerbangkan sebuah pertanyaan di otak Alanzo.
“Kamu pernah pacaran sebelumnya?” tanyanya yang langsung ditatap Sheryl. Sheryl terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
Belum sempat ada jawaban, kereta itu berhenti. Pertanda mereka sudah sampai di tujuan. Beberapa orang kini turun dari kereka, menyisakan kedua manusia yang sedang berdiri itu.
“Ayo!” ajak Alanzo, dan lagi-lagi menggandeng tangan Sheryl menuruni kereta, memijakkan kaki di stasiun Setiabudi Astra. Tujuannya adalah Chillax Sudirman yang terkenal dengan vibes yang bagus seolah sedang merenangi luar negeri.
Alanzo menarik tangan Sheryl, berjalan di antara keramaian. Cowok itu terlihat sangat girang membuat seorang pun tidak akan percaya jika seorang Alanzo bisa se-excited itu. Sheryl tertawa saja. Menikmati suasana senja yang begitu menghangatkan.
Dari sini, Sheryl bisa melihat berbagai macam insan yang sedang berfoto-foto ala selebgram di berbagai spot. Ada juga content creater yang sedang membuat video memegang uang merah dengan embel-embel ‘Yang bisa split di sini, dapat uang satu juta rupiah’. Tak hanya itu, di dekat toko, ia menemukan orang yang mewawancarai orang lain.
“Mbak, dari angka satu sampek sepuluh, milih angka berapa?”
“Sepuluh dong!”
“Yeayy! Akhirnya bisa beli sepatu!” pekik orang yang diberi mic.
Sheryl terkekeh saja melihatnya. Entah itu settingan atau bukan. Arah kaki keduanya kini menuju area yang ditempati banyak tenant-tenant estetik—para penjual seperti kios—yang menjual berbagai macam makanan. Mencium aroma makanan, perut sialan Sheryl tiba-tiba berbunyi. Kriukk ...!
Sial! Alanzo mendengar itu!
Alanzo terkekeh. Ia menarik cewek itu ke sebuah tenant. “Yogurt yang paling enak di sini, dua!” pesan Alanzo pada mas-mas bertopi merah dengan celemek di dadanya. Si Penjual sekaligus Penjaga tenant. Beberapa menit kemudian, ia menyodorkan dua mangkuk yogurt buah padanya.
“Satuannya enam puluh, totalnya seratus dua puluh, Mas!” katanya yang disodori uang merah dan biru dari Alanzo.
“Kembaliannya ambil aja!”
“Eh?” kata si Penjual. “Makasih mas!”
Alanzo mengajak Sheryl berjalan kembali, menyodorkan yogurt buah itu padanya. “Aku tahu kamu laper.”
“Enggak. Aku gak laper kok!” bohong Sheryl yang sebenernya malu karena perutnya sempat keroncongan tadi.
“Makan ini biar perut kamu gak kosong!” Sheryl masih diam, tidak mengambil semangkuk yogurt itu dari tangan Alanzo. Alanzo mendengus, menatap cewek itu tepat di matanya. “Aku gak mau calon perut untuk mengandung anak-anak aku nanti sakit cuma karena hari ini kelaperan!”
Deg! Oh.my.god! Jantung Sheryl berdetak kencang kala mendengar kata-kata itu. Sangat kencang. Saking kencangnya rasanya Sheryl tidak tahu cara bernafas yang benar. Seluruh darah Sheryl berdesir begitu saja. Sheryl tergemap di tempat. Seperti ingin pingsan saja kali ini.
“Kamu denger?” tekan Alanzo merasa kesal.
Sheryl mengedipkan mata sambil menelan salivanya. Seumur-umur tidak pernah ia merasakan hal aneh seperti ini dalam tubuhnya. “Denger!” Shery langsung saja menyahut yogurt itu dari tangan Alanzo memakannya secara tidak perlahan, tanpa menengok Alanzo.
Semakin membuat Alanzo yakin cewek itu kelaperan, padahal aslinya Sheryl sedang mentralkan keadaan tubuhnya.
Alanzo tertawa, menikmati wajah indah itu. Meskipun makan dengan cepat, nyatanya Sheryl masih saja terlihat cantik dan anggun di matanya. Ia mengacak-acak rambut Sheryl. “Aku mau kamu sehat supaya nanti bisa ngandung anak sehat.”
“Udah, cukup, Zo! Bahasa lo udah kayak mau ngehamilin gue aja!” katanya sebal setengah marah. Sangat geli dengan yang terakhir ini.
Alanzo malah tertawa. Seolah sengaja menggoda cewek itu supaya geli dan marah. “Kalo iya gimana?”
“Gue putusin lo ya!” ancam Sheryl marah besar. Membuang mangkuk yogurt yang tinggal bungkusnya aja ke tempat sampah kemudian meninggalkan Alanzo di sana.
Alanzo semakin tertawa. Kena lo! Sangat suka dengan ekspresi itu, ketimbang ekspresi tenang Sheryl.
***
A/N
Finally, guys sesuai janji aku kemarin bisa up 2. Itu bersyukur bett karena belakangan lagi sibuk. Oke deh jan lupa like and komen ya!