
Sheryl mendudukkan dirinya di sofa kamar itu seperti yang Alanzo minta. Alanzo kini juga mendudukkan diri di samping Sheryl. Kening Sheryl berkerut kala Alanzo kini membelakanginya. Tak disangka, Alanzo menidurkan diri, meletakkan kepalanya di atas paha Sheryl. Jemarinya kemudian memegang jemari lentik Sheryl untuk ditaruh di rahang tegasnya.
Seperti ada kupu-kupu terbang di perut Sheryl, cewek itu memalingkan wajahnya kala Alanzo menatap dirinya lekat. “Gini aja! Tangan kamu anget!” pinta Alanzo saat Sheryl hendak menarik tangan.
Satu tangan Alanzo yang lain meraih tangan kiri Sheryl lalu Alanzo meletakannya di dada. Sheryl bisa merasakan degub jantung Alanzo yang tak beraturan.
“Dia selalu perlakuin aku kayak gini,” kata Alanzo tiba-tiba. Sheryl diam. “Dia cewek yang paling gue sayang.”
Entah kenapa dada Sheryl terasa panas saat mendengar kata-kata terakhir itu. “Dia siapa?”
Alanzo tersenyum hambar, pandangannya menerawang. “Delana. Dia cantik, dia baik, dia sabar dan lembut, dia cewek penurut.”
“Gue suka sama dia,” tambah Alanzo. Tangan Sheryl yang tadi sibuk mengusap-usap rambut Alanzo, kini terhenti.
“Kenapa gak pacaran aja sama dia?” Pertanyaan yang melayang dari bibirnya itu, entah mengapa terdengar seperti sewot. Ada rasa aneh di dadanya saat Alanzo mengatakan itu.
Melihat ekspresi menyerupai orang Sebal, Alanzo tersenyum jahil. “Karena kamu lebih cantik.”
Sheryl melepas tangannya dari rahang Alanzo, menatapnya tidak suka. “Jadi kalo gue gak cantik—“
“Aku gak bakal mau pacaran sama kamu!” potongnya. Yang dikatakan Alanzo memang benar adanya. Jika dilihat-lihat, Delana memang cantik, tapi Sheryl lebih cantik dan memiliki ketertarikan tersendiri. Alanzo awalnya juga tidak akan mau memacari Sheryl kalau saja Sheryl tak se-spek bidadari. Awalnya.
Alanzo tertawa saat Sheryl diam saja. “Enggak,” katanya, “karena dia suka sama cowok lain.”
Kekehan di wajah Sheryl terbit. “Kenapa gak maksa jadiin dia pacar aja? Bukannya itu yang biasa lo lakuin ke cewek-cewek yang lo mau?”
“Gue bilang jangan panggil ‘lo-gue’, harus panggil ‘aku-kamu’!”
“Lo aja masih pake ‘lo-gue’!”
“Pake ‘aku-kamu’ ya, Sayang!” Alanzo tersenyum menyebalkan.
Sheryl mendengus. “Aku udah serius dari tadi!”
“Aku suka sama kamu,” kata Alanzo secara tiba-tiba. Sheryl terdiam di tempat, tidak tahu ada apa dengan perasaannya, tidak tahu harus berekspresi dan berkata apa. Yang pasti, seperti ada kesenangan mengalir di dadanya. “Andai aku bisa bilang itu ke dia.” Seketika itu juga, rasanya Sheryl seperti dipermainkan oleh kata-kata Alanzo.
“Kamu mau cerita kalau kamu suka sama seseorang dan kamu minta saran ke aku buat ambil hati dia dari orang lain?” tanya Sheryl sudah kelewat kesal. Kenapa Alanzo tidak terus terang saja sedari tadi kalau dia ingin menyatakan perasaan? Kenapa Alanzo malah mempacarinya kalau dia menyukai orang lain? “Sayangnya aku juga gak tahu!”
Sheryl menggoyangkan pahanya untuk membuat Alanzo tidak nyaman dan terduduk di sofa. Alanzo mengerutkan dahi. “Kenapa? Delana itu cantik, dia bisa ngertiin aku, dia ada waktu aku bangkit, dia segala-galanya. Jadi wajar ‘kan kalo aku mau dia?”
“Ya udah, putusin gue! Pacarin dia!”
Alanzo kini sedikit mengerti kenapa Sheryl terlihat kesal. “Dia adik gue, dan dia udah gak ada.”
Sheryl terpaku di tempat. Kekesalannya mereda begitu saja dengan rasa lega yang entah kenapa. Ia menyadari sesuatu lalu enatap mata Alanzo yang kosong. “Kamu suka sama adik kamu sendiri?”
“Adik angkat.”
Sheryl menatap ke arah lain. “Maaf,” ucapnya.
Sheryl menoleh ke arah cowok itu, menemukan senyuman antara bahagia dan kecewa di wajah Alanzo. Sheryl memegang tangan Alanzo. “Delana selalu perjuangin apa pun buat dapetin Vano, tapi Vano gak pernah ngehargain itu.”
“Aku mohon, Kak, aku sayang sama Kak Vano. Aku mau dia, aku cuma mau dia!” rengek Delana pada Alanzo saat dilihat semakin hari, Vano semakin dingin padanya. Ini kali pertamanya Delana meminta dengan cara merengek. Cinta memang merubah jati diri seseorang.
“Vano gak pantes buat kamu yang terlalu baik, Lana,” jawab Alanzo yang sudah sebal dengan hubungan keduanya.
Delana menghela nafas lemas. “Kakak gak mau bantuin aku lagi ya?”
“Lan—“
“Aku tahu mungkin Kakak udah capek. Tapi gak papa, aku bakal tetep berjuang!” semangat Delana mengepalkan tangannya semangat.
Pikiran Alanzo kemudian beralih pada saat ia membujuk Vano untuk mau menemui adiknya di taman. Rencananya saat itu, Delana ingin memberikan kejutan spesial pada Vano karena telah menjuarai olimpiade dan pertandingan basket sekaligus dalam bulan yang sama. Delana sudah menyiapkan semua dekorasi di taman yang biasa mereka bertiga main di sana.
“Gue udah bilang, gue gak bisa nerima adik lo. Gue gak bisa bohongin dia kalo gue suka sama dia. Gue suka sama orang lain!” tegas Vano frustasi dengan desakan Alanzo.
“Dia bukan cuma adik gue, dia sahabat lo kalo lo inget!”
“Justru itu, Bro! Kita sahabat, dan gak ada sahabat yang pacaran!”
Alanzo mengacak-acak rambutnya dengan penolakan Vano. Antara tertuntut oleh permintaan adiknya untuk mendapatkan Vano, dan terdorong oleh penolakan Vano. “Terserah lo deh, sekarang lo ikut gue! Delana udah nyiapin kejutan buat lo!”
“Gue gak bisa! Kalo gue dateng, sama aja gue kasih harapan ke dia! Gue gak mau dia berharap lagi!” engkelnya menarik tangannya dari tangan Alanzo.
“Seenggaknya hargain dia, sekali ini aja dateng biar dia seneng! Setelah itu terserah lo!” Mendengar itu, Vano mendengus kesal. Ngomong dengan sahabatnyasudah seperti ngomong dengan emak-emak toa. Dirinya yang biasa bicara singkat sampai harus biacara panjang lebar saja, Alanzo tidak mengerti.
Alhasil Vano mengikuti cowok itu, menemui Delana di taman.
“Aku seneng bangett Kak Vano dateng!” Delana langsung memeluk Vano yang menatapnya datar. “Ini buat Kakak yang udah berhasil juara basket! Kakak keren bangett!”
Alanzo yang menatap itu hanya bisa tersenyum. Andai dirinya yang berada di posisi Vano.
“Makasih, tapi sebelumnya gue mau bilang sesuatu sama lo, Lan.” Delana terlihat berbinar mendengar kalimat Vano yang biasanya singkat sekarang berbicara panjang.
“Ngomong apa, Kak?”
“Maaf, gue gak bisa nerima lo, Lan. Karena ... karena ... gue suka sama cewek lain.”
Seketika itu juga, Delana meneguk ludahnya kasar. Ia mundur beberapa langkah dari Vano. “Oh, Kak Vano udah pernah bilang kayaknya, hehehe.”
Vano menghela nafas. Ekspresi yang ditampilkan Delana sekarang tampak tak percaya, seakan Vano telah membohonginya supaya Delana mau menjauh darinya. Begitupun ekspresi Alanzo. Padahal Vano memang sedang menyukai cewek lain.
“Tapi gak papa. Dia gak akan cemburu ‘kan? Dia ‘kan bukan pacarnya Kakak.”
Mengingat itu, Alanzo merasakan sakit di dadanya saat melihat air muka Delana kala itu. Ia melihat Sheryl yang juga melihatnya. “Sampai kejadian itu, kejadian yang buat gue gak akan pernah maafin Vano.”
***