Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Dia Kenapa?



“Papa! Papa! Lihat! Gambaran aku bagus apa enggak?!” seru seorang gadis kecil yang berlari ke arah seorang pria paruh baya yang sedang terduduk di ruang TV sambil memegang laptopnya, seperti tengah mengerjakan sesuatu.


Pria paruh baya itu tidak menjawab. Ia melirik gadis itu sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada laptopnya. Masih berpikir positif, gadis kecil itu kini melangkah pada Jovan, menarik-narik ujung bajunya. “Papa! Lihatin dong! Gambaran aku bagus apa engga, hehe!”


Jovan meletakkan laptop di meja, mendengus kesal. Ia menyingkirkan tangan gadis itu, lalu menatapna dingin. “Kamu gak lihat saya lagi apa? Kamu bisa tanya ke yang lain, ‘kan? Lagipula, saya juga bukan papa kamu!” katanya dengan tegas membuat Delana menunduk dalam-dalam lalu memundurkan langkah untuk pergi. Hatinya seperti ditusuk pisau tajam.


Niat Delana awalnya hanya ingin mendekatkan diri dengan Jovan yang selalu mengabaikan dirinya, menganggapnya sebagai angin lalu, atau menatap dirinya tidak suka. Segala cara telah Delana lakukan, tapi Jovan tetaplah Jovan yang tidak akan pernah menganggapnya keluarga seperti yang Mahalika dan Alanzo lakukan.


Meski begitu, Delana gadis yang pantang menyerah. Kala itu adalah hari ayah di mana semua murid di sekolah diminta memberikan hadiah pada ayah mereka masing-masing. Hadiah sederhana yang membuat semua ayah bangga atau setidaknya melontarkan pujian pada anak mereka masing-masing.


Namun, yang dilakukan Alanzo kecil sangat kontras dengan anak pada umumnya. Alanzo memang memberikan kotak hadiah pada Jovan. Jovan juga merasa bangga karena putranya itu mulai berubah. Tak disangka, saat Jovan membuka kotak itu, keluarlah sebuah sarung tinju yang membuat hidung Jovan merah akibat tinjuan. Bukan cuma itu, beberapa serangga juga keluar dari kotak itu.


Sedangkan Alanzo terpingkal melihat ekspresi papanya kali ini. Mulanya, Jovan ingin sekali memurkai anak nakal itu, tapi melihat Mahalika yang juga ikut tertawa mengakibarkan dirinya menahan amarah dan pergi begitu saja. Tidak ingin merusak suasana hati Mahalika.


“Alanzo, kamu gak boleh gitu!” ujar Delana yang bisa menangkap ekspresi tidak senang Jovan.


“Biarin! Biasanya Papa juga jahat ke aku!” jawab Alanzo masih tertawa. Delana kini berlari menyusul Jovan. Rencananya gadis kecil itu akan memberikan sebuket bunga yang beberapa hari ini ia susun sendiri dengan susah payah, berharap mengganti hadiah Alanzo yang membuat Jovan kesal.


“Papa, ini bunga buat Papa! Aku buat sendiri loh!” Delana menyodorkan bunga itu dengan riang. Alanzo yang penasaran, mengintip dari jauh.


Jovan hanya menatap datar bunga itu. Tidak ada minatan mengambilnya. “Pergi! Saya lagi gak mau nerima hadiah apa pun! Kasih ke orang lain aja!”


“Tapi ... ini aku buat khusus buat Papa! Papa tenang aja, ini gak ada serangganya atau apa pun kok!”


“Saya bilang pergi! Lagipula saya bukan papa kamu,” katanya lagi lebih tegas, tidak ingin didebat. Lagi-lagi, Delana mendapat penolakan dan hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Melihat itu dari kejauhan, Alanzo merasa kesal pada papanya.


Meski begitu, Delana tidak mau menyerah untuk mendapatkan hati Jovan. Hingga keduanya kini memasuki masa putih biru, pergantian masa anak-anak ke masa remaja, di mana perubahan pemikiran sedikit ketara. Hari itu Delana ingin mengantar secangkir kopi ke ruangan kerja papa angkatnya yang memang disediakan dalam mansion itu.


Delana mengetuk pintu ruangan. “Masuk!” suruh Jovan tanpa mengaluhkan perhatiannya dari berkas-berkas di meja. Delana tersenyum. Dengan hati-hati, ia menghampiri tempat duduk Jovan. Belum sempat cangkir itu tertaruh di meja, kakinya tesandung, membuat kopi itu secara tak sengaja menumpahi berkas yang menjadi titik fokus Jovan sedari tadi.


Jelas, papa angkatnya itu melotot, menatap tajam dirinya. “Kamu,” katanya tertahan, ingin sekali marah.


Jantung Delana berdentum kencang. Ia langsung menunduk ketakutan dengan bibir bawahnya yang ia gigir, sudah bersiap kalau-kalau Jovan akan melayangkan pukulannya pada dirinya seperti yang dilakukan Jovan pada Alanzo terkadang. “Kamu tahu ini apa?!”


Kini, tanpa sadar air mata cewek itu mengalir di pipinya. “Ma-maaf, Pa! Maaf! A-aku gak sengaja! Ma-maaf!” Delana langsung berlutut, memegang kaki pria itu meminta ampun sambil terisak.


Karena rasa penyesalan yang amat sangat, Delana masih kekeuh dengan posisinya meminta ampun.


“Saya bilang berdiri!” teriaknya menggelegar sampai ke luar ruangan, mendatangkan beberapa penghuni rumah besar itu, termasuk Alanzo.


Delana menuruti perintah Jovan untuk berdiri. “A-aku minta maaf, Papa!”


“Percuma minta maaf! Maaf kamu gak bisa ganti berkas penting saya!” jawabnya dingin.


“Papa, aku minta maaf. Aku janji gak ngulangin lagi. Aku bakal turutin apa pun perintah dan permintaan Papa, tapi aku mohon jangan marah ....” Delana memohon dengan tangisan.


Jovan berusaha meredakan amarahnya, memejamkan mata sejenak. “Kamu denger saya baik-baik,” ucapnya serius. “Permintaan saya, jangan pernah kamu panggil saya ‘papa’ dan jangan anggap saya papa lagi karena saya bukan papa kamu. Kamu bukan keluarga asli kita, dan saya gak akan pernah mau menerima kamu sebagai putri, karena kami sudah terdidik dari lahir. Berbeda dengan kamu yang dari panti asuhan.”


Mendengar itu, hati Delana mencelos. Sakit rasanya saat disadarkan oleh kenyataan bahwa ia memang hanya anak sebatang kara yang nasibnya beruntung karena bertemu dengan keluarga Gilbartan. Sejak saat itu Delana sadar, pintu hati Jovan telah tertutup permanen padanya. Delana sadar, Jovan tidak menginginkan dirinya sebagai anak.


Sejak saat itu juga, Delana tidak pernah membuat interaksi lagi dengan papa Alanzo.


“Jangan nangis, nanti jelek!” ujar Alanzo saat cewek itu tengah menenggelamkan wajah di antara lutut yang ia pegang dengan tubuh bergetar. Alanzo memegang tangan cewek itu yang terasa dingin, berbeda dari biasanya.


“Lan,” panggil Alanzo merasa ada yang tak beres.


“Lan,” panggilnya lagi. Delana kini menaikkan wajah. Hal yang membuat Alanzo kaget karena cewek itu terlihat sangat kacau. Ekspresinya seperti orang linglung dan ketakutan akan sesuatu. Nafasnya tersengal kemudian memegang tangan Alanzo dengan tangan yang bergetar.


“Kamu kenapa?” Alanzo terlihat panik saat ini. Delana menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kak ... a-aku takut! A-aku ga-gak tahu kenapa!” Dengan cepat, Alanzo berusaha menenangkan cewek itu. Nihil, semua usahanya sia-sia karena Delana seperti orang kesurupan yang menjambak-jambak rambutnya. “Argghh! Ke-kenapa sa-sakit semua!”


“Bi Ultiii! Bi Ultiii!” teriak Alanzo keras yang tak hanya mendatangkan bi Ulti, tapi pembantu lain dan juga mamanya yang sepertinya terusik.


“Astaga! Delana!” pekik Mahalika menghampiri kedua remaja awam itu dengan buncah. Tidak bisa terdeskripsikan betapa kacaunya Delana yang tengah berlarian ke sana ke mari menjambak rambut lalu membuat barang-barang di sekitarnya berantakan. Sangat anomali dengan watak yang biasa Delana tampilkan.


“Panggil dokter!” Mahalika berteriak keras pada seluruh ART-nya, menompang tubuh Delana yang kini terjatuh di lantai, pingsan.


***