
Setelah take beberapa foto selfie, Sheryl meletakkan kamera itu di sebuah batu, mengaktifkan selang waktu. Sheryl kemudian berlari bermain ombak bersama Alanzo yang mengajaknya berenang ke lautan. Keduanya saling terbahak saat ombak menerpa. Mulai dari membuat istana pasir, menulis kata-kata di pasir, sampai berteriak mengeluarkan keluh kesah kemudian tertawa riang, semuanya terekam dalam kamera itu.
Itu adalah momen yang mungkin tak akan mereka lupakan sampai kapan pun.
Sekarang Alanzo menarik tangannya menuju sebuah gerobak penjual kelapa muda. “Satu aja! Sedotannya dua!” Ia tersenyum menatap Sheryl.
Si Pedagang Kelapa itu memberikan se-bundar kelapa hijau dengan dua sedotan di atas, setelahnya Alanzo memberikan selembar uang merah pada bapak-bapak itu.
“Kembaliannya, Mas?”
“Ambil aja!”
“Tapi ini kebanyakan—“
“Ambil aja, itung-itung amal!” Sang Pedagang terlihat senang bukan main.
“Beneran?” tanya pedagang memastikan yang diangguki Alanzo. “TERIMAKASIH, GUSTII!” teriaknya. “Beberapa hari ini pantainya sepi, jadi jarang yang beli degan saya! Anak saya juga mau kuliah, butuh biaya. Eh, ada rejeki dari masnya! Semoga Tuhan bales kebaikan masnya ya!” Pedagang itu menyatukan tangan di depan dada.
Alanzo mengangguk sambil tersenyum setelah pedagang itu pergi. Sedangkan Sheryl sedari tadi menatap Alanzo dengan hati yang menghangat melihat itu semua.
“Kamu dulu pernah bilang aku cowok sombong yang gak ada hati, ‘kan?” sindirnya mengingat kata-kata Sheryl saat beberapa hari saling mengenal.
“Kalo lo inget, lo cuma cowok sombong dan gak punya hati,” ucap Sheryl dengan ekspresi tenangnya kala itu, memperingatkan Alanzo agar tidak lupa diri usai menghinanya.
Sheryl mengangguk-angguk saja kemudian Alanzo yang tidak ingin memusingkan lagi, menarik tangan Sheryl kembali ke bibir pantai, tapi bedanya di tempat yang lebih rindang. Di bawah pohon untuk menikmati pemandangan pantai.
Keduanya duduk bersebelahan. Kakinya saling mereka luruskan ke depan. Diletakkannya kelapa itu di atas kaki mereka, lalu saling menyedot air kelapa yang sama dari sedotan yang berbeda membuat wajah keduanya berdekatan, saling bertatapan, kemudian tertawa. Entah menertawakan apa.
Setelah itu, keduanya saling diam di tengah suara ombak dan angin mendominasi. Sheryl mengarahkan matanya ke laut. Tampak sayu. Rasanya tenang. “Bagus ya?”
“Lebih bagus dan indah pemandangan di sebelah aku,” balas Alanzo membuat keduanya bertatapan. Sheryl mengalihkan pandangannya kembali ke laut karena pipinya jadi merah. Sial! Kenapa pipinya harus panas dingin?
“Kamu tahu? Semenjak dia gak ada, aku gak pernah ke pantai lagi.”
Sheryl segerah menolehkan kepala kembali pada Alanzo, melihat wajah yang tampak layu sedang mengingat-ingat sesuatu. “Jadi .... “
“Kamu pacar pertama yang aku ajak ke pantai.”
Mendengarnya Sheryl tampak tenang. “Dulu kamu sering ke pantai sama Delana?” Alanzo menganggukkan kepala, menatap ke laut tanpa menoleh ke lawan bicaranya. “Se-sayang itu kamu sama dia.”
“Iya, dia cinta pertama aku, dan aku gak akan pernah bisa lupain dia.”
Sheryl mengikuti arah pandang Alanzo. Ombak yang yang berguling-guling, terasa sangat tenang dan aman di telinga. “Aku boleh nanya sesuatu?”
Alanzo menatap Sheryl kali ini saat nada cewek itu terdengar serius. “Kenapa harus izin dulu? Tanya aja!”
“Kamu ....”
“Kenapa?”
“Kalau sendainya Delana masih hidup, apa yang bakal kamu lakuin?”
“Minta maaf?”
“Emang kamu mau apa?”
“Kamu gak bakal nyatain perasaan ke dia?”
Alanzo terdiam sejenak sebelum akhirnya bibirnya melengkung. “Mungkin. Aku gak bakal biarin dia deket sama Vano, dan buat dia jatuh cinta ke aku.”
“Jadi, kalau Delana masih ada, kamu bakal ngejar dia dan ninggalin aku ya?” Pertanyaan itu membuat Alanzo semakin menatap dirinya intens. Sheryl yang ditatap hanya menampilkan ekspresi datar, tidak ada nada sedih maupun kecewa di matanya. Padahal, Alanzo sedang menebak apa yang sedang cewek itu pikirkan.
Setelah bertatap-tatapan cukup lama itu, Alanzo mengalihkan matanya ke arah ombak. Ekspresinya yang tadi senang, kini jadi tidak bersahabat dengan alisnya yang saling bertaut.
Sheryl masih menunggu jawabannya cowok itu, hingga akhirnya ia bersuara. “Ombaknya udah gak se-kenceng tadi. Ayo!” Alanzo mulai berdiri dari duduknya, ingin menarik tangan Sheryl kalau saja Sheryl tidak menahannya.
“Kamu gak mau jawab pertanyaan aku dulu?”
Alanzo masih menatap ke arah laut lalu matanya menyipit. “Ada orang sewa speedboat. Kayaknya seru kalau main speedboat!” Tanpa menjawab pertanyaan Sheryl, Alanzo langsung menarik tangan cewek itu mendekati sebuah kedai yang di sana juga menyediakan penyewaan berbagai macam boat.
Kali ini Sheryl tidak bertanya lagi. Ia hanya menatap mata Alanzo, meski perasaannya mulai berkecamuk saat tahu Alanzo seperti sedang menghindari pertanyaannya.
***
Sunset. Sedari dulu hal yang paling Sheryl sukai dari pantai adalah sunset, senja. Ia rela menunggu di pantai hanya untuk sekadar melihat matahari terbenam. Menurut Sheryl, senja mengajarkan bahwa kita harus menunggu untuk menikmati sesuatu yang indah dan memuaskan.
Sheryl tersenyum saat dirasa sebuah tangan besar menggandeng dirinya mendekat ke permukaan pantai untuk melihat sunset lebih dekat. Setelah membersihkan diri tadi, mereka kembali ke bibir pantai untuk melihat sunset.
Seperti bekerja sama dengan senja, ombak perlahan memelankan lajunya, berguling dengan tenang. Alanzo memegangi kameranya, memotret Sheryl secara kendit lalu menarik senyum saat melihat hasilnya.
Cantik. Hanya kata itu yang terus terngiang di otaknya. Semua bagian dari wajah dan tubuh Sheryl tampak sempurna di mata Alanzo. Senyum itu, matanya yang berbenih, rambutnya, alisnya, serta bibir merahnya. Kalaupun tua nanti, Alanzo tidak akan lupa dengan betapa cantiknya perempuan di hadapannya saat ini.
Langit yang tadi biru bersemu merah, kini berubah menjadi merah dengan warna keunguan yang seolah berlomba menandingi warna orange. Burung-burung walet berbaris terbang di langit, semakin membumbui keindahan langit.
“Wow ....” Mata Sheryl tak berhenti berkedip melihat itu semua. Ada binar yang muncul di sana. Ini kali pertamanya Alanzo melihat cewek itu berekspresi kagum setelah sekian kenal selalu melihat wajah angkuh dan tenang.
Alanzo menghirup udara beraroma lautan sebelum menghembusnya perlahan. “Kalau ada yang tanya apa hal yang paling bikin aku seneng, jawabannya sunset.”
“Kenapa sunset?” tanya Sheryl diiringi senyum, meski ia sudah tahu jawabannya.
Ditanya seperti itu membuat pikiran Alanzo kembali pada Delana. Dulu, Delana senang mengajaknya ke pantai melihat sunset untuk menenangkan diri usai Alanzo bertengkar dengan papanya. Bagaimanapun Alanzo marah, sedih, gelisah, Delana selalu memiliki cara untuk menenangkannya.
Alasan Alanzo menyukai sunset juga sama dengan alasan Delana saat itu; “Sunset ngajarin kita, bahwa yang indah gak harus datang lebih awal. Karena hidup bukan hanya tentang besok, tapi tentang hari ini.”
Saat itu juga, Sheryl menyadari bahwa itu bukan kata-kata Alanzo, tapi kata-kata Delana.
***
A/N:
Huhu gimana part ini guys? janlup komen ya hehe!