
...Semakin mencari tahu tentang Sheryl, semakin menumpuk teka-teki....
...***...
Leon sempat terdiam di tempat kala mendengar perkataan Sheryl yang disuguhkan untuk Alanzo kala ia menguping semua pembicaraan keduanya tadi di perpustakaan. Leon sengaja mengikuti kedua manusia itu untuk tahu ke mana perginya. Penasaran, ia menguping sembunyi-sembunyi.
Leon kira, Sheryl mungkin bakal memanas-manasi Alanzo agar menjaga jarak dengan Leon, atau mengadu meminta perlindungan setelah kejadian kemarin—dikarenakan dendam dengan dirinya dan Kenart. Nyatanya, ucapan Sheryl berhasil memanah dirinya. Tidak pernah ia menemukan cewek dengan tatapan seperti Sheryl. Suara dan pemikiran yang dewasa.
Bukan. Bukan itu. Akan tetapi seperti ada penyesalan dan rasa bersalah dari Leon pada cewek itu setelah membuat penyakitnya kambuh. Leon tahu, penyakit bukan sesuatu yang bisa dibuat mainan.
“Gue udah bilang, ‘kan? Bebal banget lo dibilangin! Marah ‘kan dia?” lontar Andro yang mendudukkan diri di sofa bersama laptopnya. Terlihat sangat capek dengan insan kekanak-kanakan di hadapannya itu.
“Gue gak nyangka tuh cewek masih bisa ngomong gitu. Nyesel gue udah lakuin itu ke dia,” celetuk Leon tiba-tiba membuat Jehab, Omero, dan Kenart yang sibuk dengan pikirannya masing-masing menoleh ke arahnya.
“Emang dia bilang apa ke Alanzo tadi?” tanya Jehab.
“Gue pikir dia bakal nyalahin kita. Dia malah bela-belain kita, dia bilang dia gak mau kita retak cuma karena dia.”
“Ya kalo gitu harusnya dia sadar dia harus pergi dari hidupnya Alanzo! Lo tahu? Dia pembawa sial! Sejak ada dia, sering ada masalah di Gebrastal!” kata Kenart masih menyimpan begitu banyak kebencian pada Sheryl.
Brak! Leon menggebrak meja. “Sorry, Bro. Sheryl berusaha nyatuin kita. Dan lo? Lo gak nyesel udah mainin penyakit orang lain? Masih umpung Sheryl gak laporin kita ke polisi! Karena kita udah langgar pasal 204 dan 205 KUHP, ngebahayain nyawa dan kesehatan orang lain kalo lo sadar!”
Mendengar itu, bukannya merasa bersalah, Kenart terkekeh. “Jadi sekarang lo belain dia juga?! Dibayar berapa lo sama cewek miskin itu?!” Kenart berdiri dari duduknya. “Dan sejak kapan lo jadi hakim dadakan sama embel-embel pasal lo?!”
Andro menghela nafas. Tingkat kekesalannya dengan kedua ABG itu sudah di atas rata-rata. Untung ia masih bisa sabar. “Udah!” tegasnya.
Sedang Leon masih berusaha menahan Amarahnya karena Kenart yang seperti sedang memancingnya. Jehab menatap Leon aneh.
“Yang dibilang Leon ada benernya.” Andro menatap Kenart. “Ngebahayain nyawa dan kesehatan orang itu bisa kena pasal.”
Kenart membuang mukanya muak sebelum akhirnya pergi dari markas begitu saja. Meninggalkan keempat manusia itu.
“Heh! Bocah! Gua belum selesai ngomong!” teriak Andro. Cowok itu menggelengkan kepala kesal. Duduk kembali di sofa.
“Gimana lo bisa tahu pasal-pasal gituan?” tanya Jehab pada Leon mengingat Leon itu gak pinter-pinter amat, dan yang suka ngelanggar hukum tumben bisa menyebutkan pasal KUHP.
“Nyari di google!” jawab Leon masih kesal pada Kenart.
Tuk! Di tengah kekesalan itu, sebuah flashdisk hitam terlempar begitu saja pada meja di hadapan mereka. Keempat cowok itu langsung saja mendongak, bertanya siapa orang yang datang-datang mengganggunya. Seorang cewek dengan cat rambut ungu serta lipstik hitam di bibirnya menatap mereka datar. Cewek berpakaian petrak yang kini mengepulkan asap rokoknya. “Ini data yang kalian minta dari disdukcapil soal Sheryl,” katanya menjawab kerutan dahi yang sempat mempir di wajah mereka.
“Baru keluar sekarang?” heran Andro, padahal mereka sudah mengirim permintaan semua data soal Sheryl beberapa minggu yang lalu. Andro pikir awalnya disdukcapil tidak menanggapi permintaannya karena lama tidak memberi tanggapan.
Andro dengan cepat menancapkan flashdisk itu ke laptopnya, merasa penasaran dengan Sheryl. Hitung-hitung menambah informasi kalaupun nanti datanya sama seperti yang ia lihat.
Begitupun dengan Leon, Omero, dan Jehab yang menangkap data di layar laptopnya. “Tetep aja. Nama asli Sheryl Auristella, nama wali Yanuar sama Dian, tinggal di jalan Kamboja nomor 5, pindahan dari Bandung. Gak ada bedanya.”
Keempat cowok itu menyenderkan punggung di sofa, mengembuskan nafas. Hanya seorang cewek bernama Sheryl saja bisa membuat satu geng kerepotan mencari informasi tentang dirinya. Mungkin data yang dilampirkan adalah data yang sesungguhnya dan sangat jelas, tapi entah mengapa Andro masih merasa janggal dengan kehadiran Sheryl.
“Lo tenang, gue gak sia-sia datengin disdukcapil kenalan gue. Gue ketemu agen intel yang sempat kita sewa di sana, dan gue dapet informasi yang gak bakal lo duga.” Eginta tersenyum miring kala mereka terlihat sedikit tertarik.
“Lo nemu apa?” tanya Andro tidak mau tanggung-tanggung.
“Tapi sebelum itu ... lo tahu ‘kan gue ngasih info gak mau cuma-cuma?”
“Ah, elah!” Leon berdecak sebal. Ia merogoh kantung celananya, mengeluarkan uang merah di sana. “Nih, lo beli rokok sendiri, sekalian lo borong sono pabrik rokoknya!”
Eginta menerima uang itu. Ia paling suka jika dikasih rokok atau uang untuk membeli rokok. Sebenarnya Eginta bisa membeli rokok sekalian dengan pabriknya kalau ia mau, tapi Eginta terlalu sadar dirinya hanya pengangguran yang meminta uang dari orang tuanya. Eginta akan sangat malas jika berhadapan dengan orang tuanya untuk meminta uang, atau bahkan sampai bertengkar. Kembali ke pembahasan, Eginta memasang wajah serius. “Gue gak yakin lo bakal percaya sama yang gue omongin.”
Leon menghela nafas tidak sabar. Eginta terlalu bertele-tele.
“Emang kenapa?” Andro mengerutkan kening.
Eginta mengepulkan rokoknya. Ia membuka handphone miliknya dengan sidik jari, menunjukkan sebuah foto di dalam sana yang ia peroleh dari relasinya. Andro mengambil ponsel itu lalu bertanya pada Eginta maksud dari foto itu. “Agen intel kita nemuin beberapa bulan yang lalu, Sheryl sempat booking hotel sama bapak-bapak yang ada di foto itu.”
Foto itu menunjukkan jepretan yang diperoleh dari cctv hotel. Menunjukkan seorang cewek berumur belasan dipeluk oleh pria paruh baya “Mukanya emang gak terlalu jelas sih karena cctv, jadi gue gak bisa mastiin itu Sheryl atau bukan. Tapi di tanggal yang sama, nama Sheryl Auristella booking di hotel bintang lima ini.”
Tak hanya Leon, nyatanya ketiga cowok itu merasa kaget. “Ini kayaknya gak mungkin deh, kalaupun Sheryl, mungkin dia sama atasannya, klien, kenalan Sheryl atau apa?” Omero masih berprasangka baik.
“Kalaupun emang sebatas kenalan, kenapa bisa peluk-pelukan? Lo tahu gak? Ini udah kayak lebih dari kenalan biasa, mereka kelihatan deket. Bahkan,” kata Eginta menjeda kalimat sambil menscroll layarnya lagi. “Bapak-bapak ini cium kening cewek ini, dan cewek ini mukanya kelihatan sedih.”
Eginta berpikir sejenak sambil mengusap dagu. “Apa jangan-jangan cewek ini dipaksa—“ gumaman Eginta itu langsung dipotong.
“Heh! Itu belum tentu Sheryl, ‘kan?!” sergah Jehab tidak ingin berprasangka buruk.
Eginta menutup handphone-nya dan mengangguk. “Iya, cuma mirip doang.”
Andro menyugar rambutnya ke belakang. Tidak tahu sebenarnya itu Sheryl atau bukan karena wajahnya yang tak begitu jelas. “Gini, mending lo simpen itu. Jangan beri tahu siapa-siapa dulu, apalagi Alanzo. Soalnya itu belum tentu Sheryl.”
***