
Flashback on:
“Tante nitip Delana ya! Tolong jagain baik-baik! Soalnya Alanzo lagi sakit, jadi gak bisa ikut-ikut!” pinta Mahalika pada Vano yang sudah siap dengan jas hitamnya, diikuti Delana yang mengenakan gaun indah di belakang Mahalika. Keduanya akan berangkat ke acara ulang tahun teman mereka.
Vano melirik pada Alanzo yang seperti terlihat sehat-sehat saja, tidak sakit. Tidak ingin ambil pusing, Vano menyanggupi permintaan Mahalika untuk berangkat berdua saja dengan Delana tanpa Alanzo. Delana terlihat senang saat ia bisa satu mobil berdua dengan Vano tanpa ada siapa pun.
Sepanjang perjalanan, Delana terlihat riang meski suasana di mobil saling diam. Sesekali cewek itu bakal curi-curi pandang pada Vano yang menyupir di sebelahnya.
“Kak,” panggil Delana yang tidak tahan lagi dengan keheningan yang terjadi di antara keduanya.
“Hm?”
“Kita lewat mana?”
“Kayak biasa,” jawab Vano sekenanya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
“Aku boleh nanya gak?”
“Lo udah nanya.”
“Kak Vano bilang, Kak Vano suka sama cewek lain. Boleh tahu gak siapa cewek yang udah berhasil dapetin hati Kakak?”
“Privasi.”
Delana menatap serius Vano dari samping kali ini. “Aku tahu Kakak bohong.”
Vano mengerutkan kening. “Maksudnya?”
“Kakak selama ini bohong ke aku kalo Kakak suka sama cewek lain supaya aku jauhin Kakak, ‘kan?”
Helaan nafas kini berembus dari hidung Vano. “Gue beneran suka sama cewek lain.”
“Buktinya Kak Vano gak bisa tunjukin orang yang Kak Vano suka. Sebenci itukah Kakak sama aku? Supaya aku ngejauhin Kakak?” Mata Delana terlihat nanar seperti hendak menangis. Vano menatap Delana. Dulu ia mengenal Delana sebagai gadis penurut yang selalu menerima keadaan apa adanya, entah kenapa rasanya Delana sekarang berubah menjadi sosok yang ambis untuk mendapatkan dirinya, lebih ke arah memaksa.
Vano yang tidak ingin ribut, mengeluarkan ponsel dari sakunya. Jujur, ia tidak suka menunjukkan sesuatu yang privasi meski dengan orang terdekat. “Nih, lo lihat isi galeri gue!” kesalnya menaruh benda kotak itu di pangkuan Delana.
Tujuannya juga supaya Delana tidak berhatap lagi padanya.
Delana kemudian membuka gadget itu dengan sandi yang entah ia tahu dari mana, lalu membuka isi galeri. Awalnya Delana kira, Vano berbohong. Benar. Vano menyukai cewek lain. Di galeri itu terdapat banyak sekali paparazi seorang cewek. Cewek pemain basket yang terlihat sangat cantik, bahkan jauh lebih cantik dan ramping dari Delana. Mungkin itu yang membuat Vano menyukainya.
Hati Delana mencelos melihat itu, rasanya seperti dirobek oleh belati. Padahal Vano hanya menyimpan foto, menunjukannya pada Delana, tidak mengatakan hal yang membuatnya sakit.
“Udah puas liat privasi gue?” tanyanya.
“Cantik. Siapa namanya?”
“Mama gue aja gak gue kasih tahu, apalagi lo! Dah, siniin!” Vano merebut ponsel itu dari Delana.
Delana terdiam di tempat. “Maaf,” ucapnya dengan air mata yang mengalir di pipi. Hal yang membuat Vano semakin frustasi karena tidak bisa melihat cewek nangis.
“Jangan nangis dong.” Delana semakin terisak. Entah kenapa kali ini sensitivitasnya tinggi. Selang beberapa saat, tubuh Delana bergetar tiba-tiba. Delana panik, penyakitnya kumat. Tidak, Delana tidak ingin Vano semakin kesal dengan dirinya.
“Turunin aku, Kak!”
Vano bingung. “Hah?”
“Tu-turunin aku!”
“Apaan sih? Bercanda? Ini jalannya sepi, gak ah!”
“Lo gak baik-baik aja!” Tidak menggubris, Delana langsung turun dari mobil. Vano mengikuti.
“Per-pergi, Kak! Pergi!”
“Gue gak akan biarin lo sendirian malem-malem!”
“Aku mau sendiri! Kakak bakal gak suka lihat aku kayak gini! Kakak bakal jijik!” Ia menghempas tangan Vano yang hendak menyentuhnya.
“Delana,” panggil Vano dengan tangan di pundak Delana. Delana menghempasnya.
“A-aku benci! Per-pergi, Ka-Kak! A-aku bisa pulang sendiri!” teriaknya sepeti orang kesurupan. Vano terdiam di tempat. Syok. Ia tahu tentang penyakit Delana, tapi baru melihat Delana kumat. “Ka-kakak pergi atau aku loncat ke jurang?”
Air muka Vano tampak ngeri saat Delana mendekati jurang yang memang ada di sisi jalan. “Jangan!”
Vano semakin gundah, ia merasa kehadirannya mungkin memperparah Delana. Mungkin, Delana seperti ini karena dirinya. “Aku telepon—“
“PERGI! TINGGALIN AKU!” Delana mendorong Vano masuk ke dalam mobil. Vano yang ketakutan, masuk ke dalam mobil. Masih syok, ia menuruti Delana untuk melajukan mobil untuk meninggalkan dirinya. Meski begitu, Vano tidak benar-benar meninggalkan Delana, cowok itu melaju dengan perlahan. Melihat Delana dari kaca spion dengan rasa bersalah yang amat sangat.
Delana pergi menengah ke jalanan yang gelap. Kala itu juga, sebuah truk melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Vano melototkan mata. Ia turun dari mobil dan meneriaki nama Delana.
Tiinnn! Tiinn! Suara klakson truk begitu keras.
“DELANA!!” panggil Vano begitu keras. Berlari ke arah Delana. Naas, semua terjadi begitu saja, truk itu telah menabrak tubuh Delana hingga terpental beberapa meter dari posisi awal. “DELANA!” panggilnya berlari menghampiri tubuh Delana yang bersimbah darah.
“Ka-Kak Vano,” panggil Delana terbata-bata.
“Lan! Lan! Lo bakal baik-baik aja, Lan!” kata Vano panik dengan tremor yang menguasai dirinya.
“A-aku ... sadar ... aku ...,” kata Delana lemas, menatap Vano. “Aku ... bukan cuma suka sama Kakak ... tapi cinta ....”
“DIEM, LAN! JANGAN BICARA!” Vano berusaha menggendong tubuh Delana, tapi tidak kuat. “PAK! TOLONGG!”
“Meski Kakak suka sama cewek lain ... aku bakal tetep cinta sama Kak Vano ...,” ucap Delana sambil tersenyum dengan darah yang mengalir di bibirnya. Vano melihat wajah itu, wajah penuh ketulusan. Wajah yang selalu menatapnya penuh dambaan. “Aku sadar ... a-aku suka sama Kakak sejak kita pertama ketemu ....”
“Diem, Lan! Lo harus bertahan!” ucap Vano meneteskan air mata.
Bapak-bapak pengendara truk kini turun dari truk dengan perasaan takut dan bersalah. "YA ALLAH YA RABB!" Hendak menggotong tubuh Delana yang perlahan memejamkan mata.
Sebuah mobil BMW hitam kini berhenti di hadapan keduanya dengan lampu yang menyilaukan pandangan. Seorang cowok keluar dari mobil itu diikuti oleh dua orang di belakangnya. Menatap keduanya dengan mata melotot. “DELANA!” kelakar Alanzo yang sedari tadi ternyata mengikuti keduanya.
Alanzo menyahut tubuh bersimbah darah yang hendak digotong itu.
“Mas, mbaknya udah gak ada!” ucap seoang pria yang sedang memeriksa tubuh Delana. Seketika jantung Alanzo dan Vano seperti digunjam ribuan tombak. Alanzo menggelengkan kepalanya. Ia memegang Delana, menggoyang-goyangkan badannya.
“Lana, Lana! Ini Kakak! Kamu baik-baik aja, ‘kan?!” Ia mengelus pipi Delana. Berusaha membangunkan, tapi yang Alanzo temui adalah dada Delana yang tak lagi berdegub, nafas yang tak berembus.
Vano memundurkan langkah dengan tangan yang menyugar rambutnya ke belakang. Air mata Alanzo jatuh begitu saja. Kini Alanzo menatap Vano. “ANJING LO!” umpatnya menarik kerah Vano.
Bugh! Ia membogem pipi Vano secara keras. “KENAPA LO TURUNIN DELANA DI TENGAH JALAN?!” Alanzo memukuli pipi Vano.
“Zo, dengerin gue dulu—“
Bugh! “BAJINGAN!”
Flashback off.
***