
“Kalau sunset hal yang paling kamu seneng, apa hal yang paling kamu benci di dunia ini?” tanya Sheryl menoleh ke Alanzo di sela-selanya menikmati matahari tenggelam.
Alanzo berpikir sejenak sebelum menumukan jawabannya. “Kebohongan.”
Deg! Seketika jantung Sheryl tergedor.
“Mungkin mereka bisa ngelakuin kesalahan apa pun, tapi aku gak akan pernah bisa maafin kalau dia bohong. Kebohongan buat Delana gak ada. Kebohongan nyiptain kekacauan lainnya. Itu sebabnya aku putusin cewek-cewek yang bohongin aku.”
Sheryl memalingkan kepala. Tidak ingin Alanzo melihat wajah pucat pasinya. “Jadi kalau misal aku bohong, kamu gak bakal maafin aku?”
“Kenapa? Kamu lagi bohongin aku?” Sekonyong-konyong, Sheryl membuat mata keduanya bertatapan.
“Cuma nanya.”
“Kebohongan fatal buat gue gak bisa dimaafin.”
Sheryl berusaha menenangkan perasaannya yang terasa aneh, khawatir, tidak suka, semua perasaannya jadi satu. Ia merogoh saku saat tiba-tiba ponselnya bergetar dengan notifikaisi yang berbeda. Sheryl membuka notifikasi itu dengan mata yang melotot.
Beberapa saat kemudian, Alanzo merasakan tubuh Sheryl ambruk di tanah dengan getaran di tubuhnya. Nafas cewek itu tersengal. Kepanikan langsung meraja lela dalam diri Alanzo ditambah Sheryl melempar HP-nya begitu saja. “Sheryl!”
Alanzo segera mengambil ponsel Sheryl dan mengeraskan rahang saat melihat sebuah nomor tak dikenal mengiriminya banyak sekali mulai dari gambar, stiker, hingga rekaman suara gergaji chainsaw yang berbunyi otomatis saat Sheryl membuka roomchat. Alanzo mematikan HP sheryl.
“Hey! Look at me! You’re strong!” Alanzo berbisik memegang pipi Sheryl dengan kedua tangannya. Sedangkan Sheryl berusaha mengendalikan diri agar tidak kumat.
Sheryl masih dipenuhi kecemasan. Memori di masa lalunya terngiang begitu saja. Alanzo menggosok-gosok tangan Sheryl yang bergetar kemudian mengelus kepala Sheryl. “Dengerin aku ....”
“Sheryl ... dengerin aku ...,” lirih Alanzo yang terdengar hangat di telinga Sheryl.
“A-aku ....”
“Sheryl, please staring my eyes!” Alanzo mengarahkan wajah Sheryl pada wajahnya. Kali ini Sheryl menurut dan mendengarnya. Ia melihat mata Alanzo. “Pikirin apa yang terjadi sekarang. Di laut ini, di matahari tenggelam ini. Aku di sini ....”
“Tarik nafas,” ucap Alanzo yang diikuti Sheryl. “Buang.” Sheryl mengembuskan nafas. Melakukannya berulang kali sampai tanpa sadar tubuhnya kembali normal. Keringat yang tadi mengalir di pelipisnya akibat kecemasan kini megering dengan rasa dingin oleh sore menjelang malam.
Sheryl masih menatap mata elang Alanzo, tak pernah mengalihkannya sekalipun karena Alanzo melarangnya untuk mengalihkan mata. Nafas Sheryl tidak lagi tersengal. Kini yang tersisa hanya mata sayu miliknya dengan jantungnya yang berkerja dua kali lipat dari biasanya.
“Kamu ... kamu orang pertama yang bisa ngebuat aku tenang tanpa obat penenang, Zo,” ucapnya tanpa sadar masih menatap netra Alanzo. Alanzo tertegun. Jadi selama ini, Sheryl selalu mengonsumsi obat penenang saat penyakitnya kambuh?
Alanzo memandang mata cewek itu dengan sayu. Ia membiarkan wajah Sheryl yang semakin dekat dengan wajahnya bersamaan dengan mata Sheryl yang terpejam. Tiga detik kemudian, bibir Sheryl telah menempel di bibirnya. Hal yang membuat jantung Alanzo seketika berdisko. Sheryl menciumnya?
Alanzo membuka mulutnya, memejamkan mata, dan membalas ciuman Sheryl. Tangan. Menikmati sensasi darahnya yang berdesir seperti tengah disetrum oleh listrik yang berjalan di seluruh tubuhnya. Beberapa detik kemudian, Sheryl melepas ciuman itu secara sepihak dan menunduk karena malu.“Maaf.”
Mendengar kata itu, rasanya Alanzo tidak terima. “Kenapa harus minta maaf?!” tanyanya bingung dengan nada marah.
Sheryl mengarahkan pandangannya ke arah, tidak mau melihat mata cowok itu. “Karena aku gak izin. Gak harusnya aku ....”
Kini Alanzo memegang kedua lengan Sheryl, mengarahkan pada dirinya. “Kenapa harus izin?!”
“Gak harusnya aku lakuin itu, Zo!” Perasaan Sheryl mulai berkecamuk.
“Pacar?” Sheryl terkekeh. “Pacar bohongan maksudnya? Pacar pajangan? Selama ini lo gak pernah serius! Kita cuma dua manusia dengan status pacaran tanpa ada perasaan di dalamnya! Bahkan lo sendiri aja masih mencintai orang lain! Lo cuma anggep gue pelampiasan, Zo!"
Kini Alanzo menatap mata Sheryl. “Jadi lo cemburu karena gue masih suka sama Delana?” baca Alanzo.
Bukan! Bukan kayak gini maksud Sheryl. “Kenapa harus cemburu? Dia ‘kan cinta pertama lo!
“Jadi lo mau kita nglibatin perasaan?”
Sheryl berusaha menatap ke arah kala air matanya mengalir. Perasaannya berkecamuk, tidak bisa dijelaskan betapa bodohnya ia sangat ini. Alanzo adalah orang pertama yang membuatnya merasa berbeda, Alanzo orang pertama yang membuatnya seperti ini, Alanzo orang pertama yang bisa membuatnya tenang, sekaligus membuatnya merasa takut jika kahilangan Alanzo. Sheryl rasa dirinya sudah gila.
“Sheryl, kamu kenapa?” tanya Alanzo pelan, mengusap air mata cewek itu.
“Gue juga gak tahu, Zo! Gue gak tahu kenapa gue tiba-tiba cium lo seolah-olah gue takut kehilang lo! Gue gila! Rasanya aneh!” jelas Sheryl.
Mendengar itu semua, Alanzo malah tersenyum. Ternyata ini sisi lain Sheryl. “Itu karena lo suka gue.”
Sheryl kali ini tidak menangis lagi, ia tersenyum. “Kenapa gue harus suka sama orang yang gak suka sama gue sama sekali?”
“Siapa bilang gue gak suka sama lo?”
Jreng! Sesaat, jantung Sheryl berdebar amat sangat kencang, panas dingin langsung merajai dirinya. “Gue suka sama lo.”
“Gue suka sama lo sejak gue minta lo jadi pacar gue, dan gue serius,” lanjut Alanzo tidak main-main.
Sheryl menilik mata elang Alanzo yang juga menatapnya, berusaha mencari-cari kebohongan di sana, tapi tak menemukannya sama sekali. Wajah cowok itu sepeti hendak mendekati frustasi karena Sheryl tidak pernah menyadari tindakan Alanzo selama ini. Tangannya mengusap pipi Sheryl lembut.
Cup!
Alanzo mengecup Sheryl tepat diujung bibirnya. Tubuh Sheryl kembali kaku dengan jantungnya yang sudah tidak bisa dikondisikan. Alanzo bukan hanya memberikan kecupan, tapi juga impresi yang menandakan bahwa ia benar-benar tulus menyukai cewek itu.
Otot Sheryl yang semula menegang seperti sedang dikekang, silir-silir mulai enteng. Sheryl memejamkan mata meski dadanya berdesir. Merasakan kehangatan di bawah langit yang mulai meredup dengan suara ombak yang beradu.
Tidak ada yang berencana mengakhiri. Alanzo ingin posisinya seperti ini setidaknya hingga beberapa saat saja. Ia baru menjauhkan bibir saat merasa Sheryl kehabisan nafas.
Sheryl menarik nafas secara rakus, memalingkan wajahnya secepat mungkin karena pipinya yang panas. Melihat kelakuan menggemaskan itu, Alanzo tersenyum jahil. “Hayo, yang habis ngapa-ngapain."
“Damn you, Alanzo!” Semu merah muncul di pipi Sheryl. Cewek itu mendorong tubuh Alanzo yang hanya tertawa, berdiri dari duduknya, dan berjalan menjauh dari Alanzo.
“Mau ke mana, Cantik?!”
“Pulang!”
“Gak mau sekalian aneh-aneh di sini?” Tidak, Alanzo tidak ada niatan untuk aneh-aneh. Cowok itu hanya menggoda Sheryl.
Sheryl berbalik badan. “Ngomong lagi, kita putus!” Ia mengacungkan jari tengahnya semakin membuat Alanzo tertawa. Si Ketua Geng itu berdiri, mengejar Sheryl yang sudah menjauh darinya.
***