
“Sayangnya gue masih belum puas! Lo phobia ini, ‘kan? Nih! Nih!” Kenart mendekat-jauhkan alat itu dengan tawa menggelegar seolah itu adalah hal terlucu yang pernah ia temui.
“Eh, udah anjir! Gue tahu rasanya phobia lo gituin! Gak enak!” kata Sean membela.
“Diem lo!” sergah Kenart.
“Yon, ini udah berlebihan!” Jehab hendak menghampiri Sheryl dan Kenart tapi dicegah Leon.
Mata Sheryl terpejam kala merasakan sakit di dadanya akibat jantungnya yang semakin berdetak kencang. Satu tangannya ia gunakan memegang dada, satu tangannya lagi ia gunakan memegang kepala. Air mata cewek itu tak berhenti mengalir. Wajahnya merah karena kehilangan nafas.
“Oke gue matiin!” Kenart mematikannya. “Tapi gue belum puas karena ini aja gak cukup buat balas betapa sakitnya Glenca diputusin Alanzo, dan gue gak terima gara-gara lo hubungan gue hancur sama Alanzo!” Kemudian ia menyalakan gergaji itu lagi semakin membuat nafas Sheryl tak beraturan.
Mata Kenart penuh permusuhan. Ia semakin mendekati Sheryl, dan Sheryl semakin mundur meski tahu ia sudah mentok. “Haha, kenapa takut, Cantik? Gue cuma nyalahin doang, gak bakal ngebunuh lo!”
“Aelah! Udah, Bro! Kasihan dia!” ucap Zamrut berdiri ingin melangkah pada Sheryl yang dicegah Leon.
“Gu-gue ....” Sheryl masih berusaha menggedor pintu dengan tubuh bergetarnya, berharap ada seseorang yang mau membukakan pintu itu.
Dan benar, keajaiban datang. Pintu terbuka, menampakkan cowok tampan bertubuh gagah dengan sorot mata tajamnya. Melebarkan mata kala mendapati kekecauan dan seorang cewek yang kini ambruk di dada bidangnya. Seketika, semua orang di ruangan itu terdiam. Kenart kini mundur, mematikan gergaji mesin itu.
Sheryl yang terlihat berantakan itu kini memeluknya erat seolah cowok itu adalah pahlawannya karena berhasil menghentikan kekacauan. “Alanzo ...,” lirih Sheryl.
Alanzo merasakan sebuah cairan menembus kausnya. Darah. Hidung Sheryl mengeluarkan darah. Sheryl yang lemas dengan keringat yang membasahi pelipis tak sadarkan diri di tempat. “Sheryl ....”
“Mampus!” gumam Jehab menyaksikan darah itu menetes di lantai. “Mati kita sama Alanzo.”
Dada Alanzo seperti diguncang beserta jantungnya yang berdetak kencang kala mendapati itu. Dengan cepat, Alanzo menggendong tubuh Sheryl menuju mobil miliknya diikuti Omero yang juga merasa tidak tenang.
***
“MINGGIR! MINGGIR!” raung Alanzo dengan langkah cepat di koridor rumah sakit seperti orang kalap. Semua orang yang ada di sekitar cowok anak pemilik rumah sakit itu minggir karena takut. “DOKTER! DOKTERNYA PADA KEMANA, ANJING! LEMOT!”
Beberapa orang berjas putih kini memunculkan batang hidung. Terlihat syok saat melihat anak pemilik rumah sakit ini menggendong seorang cewek dengan amarah. Dokter Ivan langsung saja menginstruksikan seluruh perawat untuk mengambil brankar beroda ke hadapan Alanzo.
“CEPETAN!” ucap Alanzo membuat panik seluruh perawat. Alanzo kini menempatkan tubuh Sheryl di atas brankar dengan hati-hati. Mengusap pipi Sheryl dengan lembut lalu menghilangkan darah di hidung Sheryl dengan jempolnya.
“Permisi, Nak Alanzo. Pasien harus di periksa,” ucap dokter Ivan membuat Alanzo melepaskan tangannya dari Sheryl saat kekasihnya itu dibawa masuk ke dalam ruangan. Kali ini Alanzo tampak panik. Ia menyugar rambutnya ke belakang.
“Permisi!” Seorang wanita paruh baya yang juga berjas putih dengan kaca matanya menghalangi dokter Ivan untuk menutup pintu ruangan. Tampak tergesa. “Saya Evelyn Margiane, dokter yang biasa menangani Sheryl! Izinkan saya yang memeriksa keadaan pasien!”
Alanzo menoleh pada wanita yang masih tampak segar dan muda di usinya yang sudah berkepala tiga. Dokter Ivan menatap wanita itu seolah tak percaya. Dengan cepat, ia segera mempersilahkan Evelyn memasuki ruangan seolah telah percaya sepenuhnya pada dokter itu.
“Baik-baik! Silahkan!” Dokter Ivan kini menghampiri Alanzo yang menatap dirinya aneh.
Dokter Ivan tidak marah, sudah biasa dengan kelakuan Alanzo yang seperti ini. “Maaf, Nak Alanzo. Saya penah bilang, ‘kan? Cuma dokter pribadi Sheryl yang bisa menangani.”
“Sheryl bilang dia gak punya dokter pribadi!”
“Kalau gitu, dokter Evelyn adalah dokter yang menangani dia biasanya. Dia dokter terbaik di Cambride dan Italia. Kemampuannya melebihi dokter di negara ini kayak saya.” Kini Alanzo melepaskan kerah jasnya. “Nak Alanzo tenang aja, dia dokter istimewa yang gak bisa dibayar sembarang orang. Dia pasti melakukan yang terbaik.”
Dokter Ivan menatap cowok yang sudah ia rawat sejak kecil itu. Ia tersenyum tipis. Setelah sekian lama, ia kembali menemukan kekhawatiran dan sosok kepedulian pada Alanzo yang telah lama tekubur.
***
Setelah saling berdiam selama tiga puluh menit, kini Alanzo angkat bicara. Greget dengan cowok di hadapannya yang sedari tadi ingin berbicara tapi terlihat ragu memulai. “Lo ngomong sendiri atau gua pukul dulu biar lo gak bisu?!”
Omero yang sedari tadi menatap ke tanah, mengangkat wajahnya, mendapati wajah Alanzo yang penuh emosi dengan rahangnya yang mengeras. “Ngomong apa?” tanya Omero refleks.
Seketika itu juga, Alanzo berdiri dari duduknya terbawa emosi karena ketololan temannya itu. Ia menarik kerah Omero hingga berdiri dari duduknya, menatapnya tajam. “Dari tadi gue udah nahan buat gak ribut karena gue tahu ini rumah sakit, sekarang lo mau bikin gue murka?” Suara Alanzo terdengar serak, lirih, tapi bisa menghunus ke ulu-ulu.
“Zo, gue—“
“Apa yang udah lo semua lakuin sama cewek gue sampek jadi kayak gitu?”
“Oke, Zo! Tenang! Tenang! Gue bakal ceritain! Jangan ribut dulu!” Omero melepaskan tangan Alanzo dari kerahnya secara hati-hati. Mencoba agar amarah Alanzo tidak berlanjut. “Pertama-tama gue gak ikut andil! Gue gak ikutan! Ini semuanya rencana Kenart sama Leon.” Dengan demikian, Omero menceritakan semua yang terjadi dari awal hingga akhir, bagaimana Kenart menyodorkan gergaji mesin pada Sheryl hingga Sheryl berlagak aneh seperti orang kesetanan, dan tergeletak di dadanya.
Saat itu juga, Alanzo mengepalkan tangannya. Giginya menggertak keras disertai mata merahnya. “Lo ikut gue!” serunya lalu pergi begitu saja dengan langkah lebar yang diikuti oleh Omero. Alanzo membawa dirinya ke arah parkiran di mana dia memarkirkan mobilnya.
Dengan cepat, ia mengenderai mobil itu bersama Omero, masih dengan amarah dan mata tajam yang siap menghabisi mangsa. Insting Omero mengatakan sebentar lagi akan ada keributan saat ia merasakan Alanzo mengendarai mobil dengan kalang kabut. Benar saja, dalam sepuluh menit, mobil itu sudah sampai di depan markas Gebrastal. Entah karena cara berkendara Alanzo atau karena letak rumah sakit yang dekat dengan markas itu.
Alanzo turun dari mobilnya diikuti Omero. Langkahnya cepat. Alanzo memasuki markas yang angsung disambut dengan wajah pucat pasi oleh semua orang. Tak ada orang yang tak menatapnya. Jantung mereka semua dibuat berdebar kencang kali ini. Alanzo melirik pada Kenart yang juga menatap dirinya.
Bugh! Cowok itu berhasil membonyokkan pipi Kenart dengan sekali pukulan. “Anjing lo!” umpatnya membogem Kenart kembali semakin menegangkan suasana.
***
A/N:
Maap, ternyata bisanya up jam segini soalnya tadi pulang soree 😭
Btw ini yang kalian tunggu² kan ehehehe, Alanzo marah huhu.
Oh ya jan lupa like and komen ya guys, sangat berharga bangettt❤️❤️