Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Vano?



Eginta menaruh minumannya di meja, menyipitkan mata kala merasakan kecutnya perasan jeruk nipis tanpa gula. Andro hanya mendengus saja. “Heh, ini acara orang! Lo harus inget!” ucap Andro.


“Ck, makanya itu, gua sengaja cari tempat yang sepi supaya gak ada yang lihat gue nikmatin betapa enaknya jeruk nipis ini!”


“Yang ada, kalo orang lewat, mereka bakal ngira gue mesumin lo!” decak Andro. Dirinya itu harus menemani Eginta yang sudah seperti orang mabuk jeruk nipis dari jangkauan orang-orang dengan status sosial yang tinggi di pesta ini.


Semua orang nampaknya ramai berkumpul di ruang tengah, merayakan acara utama, meniup lilin. Sedangkan Eginta yang tomboi dan tak suka keramaian menyuruh Andro menemani di sini.


Belum sempat Eginta membalas Andro, cewek itu mengernyit kala matanya menemukan objek yang tak asing. Sheryl sedang ditarik oleh seorang pria paruh baya menuju tempat sepi. “Anjir!” umpatnya langsung melek.


“Itu Sheryl, ‘kan? Sama om-om yang kita lihat di cctv hotel itu?” Andro langsung saja mengalihkan pandangannya pada kepada kedua manusia yang sedang berjalan dengan menoleh kanan-kiri agar tak dilihat siapa pun.


Andro menyipitkan mata. Benar, itu Sheryl. Cowok itu mendelik tak percaya.


“Gue bilang apa kemarin! Yang di cctv hotel itu Sheryl!” Eginta menepuk Andro yang masih diam. “Ck, kita ikutin mereka aja gimana?”


Andro mengangguk, mengikuti Eginta yang berjalan mengendap agar tidak ketahuan Sheryl. Sheryl dan pria itu kini berhenti di sebuah balkon mansion itu di sebelah timur, jauh dari keramaian, tempat yang sangat privasi karena terjaga oleh beberapa bodyguard yang rupanya memang disewa oleh pria itu.


Eginta mengajak Andro mundur, bersembunyi di belakang kaca tidak tembus pandang sehingga masih bisa menyaksikan pergerakan Sheryl dan pria itu. Tak sadar, ternyata seorang cowok juga sedang menguntit keduanya. “Lo?”


Andro menoleh, menemukan Kenart di sebelahnya yang menaruh jari telunjuk di bibir.


“Gue kok kayak gak asing sama muka om-nya ya?” bisik Eginta.


“Dia kayaknya penjabat,” jawab Kenart lirih.


Kini pandangannya kembali pada Sheryl.


“Kalo ada yang lihat gimana?” tanya Sheryl khawatir membuat pria itu mendengus. Suara Sheryl masih bisa didengar samar-samar.


“Memangnya kenapa kalo ada yang lihat?” Sheryl melepas tangannya dari pria itu. “Kamu malu punya—“


“Niente, Padre.” Sheryl menatap pria itu kali ini dengan tatapan serius. “Non voglio che gli altri sappiano che sono il figlio di un funzionario. Non voglio che mi spaventino per quell'incidente.”


Eginta, Andro, dan Kenart saling mengumpat saat Sheryl menggunakan bahasa asing yang mereka saja tidak tahu itu bahasa apa. Percakapan keduanya berlanjut menggunakan basa asing dan suaranya terlalu remang-remang untuk ditraslate di google.


Alhasil, mereka hanya menatap interaksi Sheryl dan pria itu. Pada akhinya, hal yang tak disangka terjadi. Pria itu mengelus kepala Sheryl sebelum kemudian mencium keningnya. Andro menegang sekarang. Sheryl yang ia lihat selama ini ternyata sangat berbeda dengan aslinya.


Rasa marah hadir di dalam diri Kenart. Cowok itu sedari tadi bukan hanya memvideo, tapi juga memotret ketika pria itu mencium kening Sheryl.


“I really love you, my little girl. Take care yourself.” Ia mengacak rambut Sheryl yang hanya membalas dengan ekspresi datar.


“I love you too!” Sheryl tersenyum segaris. Hal yang semakin membuat Andro kaget. Kali ini suara Sheryl yang terakhir terekam jelas di video itu.


“Gue harus bilang ini ke Alanzo!” ucap Kenart tidak sabar yang langsung dicegah Andro.


***


Sheryl melangkahkan kakinya cepat. Menengok ke kanan-kiri memastikan tidak ada yang melihatnya usai dari balkon timur, berbicara dengan orang penting secara privasi tadi. Ia memasuki ruang tengah di mana banyak orang yang ramai ingin merayakan acara puncak. Sheryl yakin, Alanzo pasti sudah mencarinya.


Bruk! Handphone yang tadi Sheryl bawa, kini tergeletak di tanah saat dirinya tak sengaja bertabrakan dengan seorang cowok tampan bertubuh tinggi dengan setelan rapinya. Cowok itu mengambil ponsel Sheryl yang sudah retak. “Maaf, gue baru dateng, jadi keburu-buru buat—“


Seketika cowok itu tercenung saat melihat wajah cewek di depannya. Antara kaget karena bisa bertemu secara seperti ini dan terpukau dengan kecantikan Sheryl. “Lo ....”


“Lo ... Sheryl?” tanyanya dengan netra berbinar, tatapan yang sangat berbeda.


Sheryl mengangguk, mengambil ponsel itu dari tangan Vano. Lalu mengambil sebuah jam tangan di tanah milik Vano yang tadi terjatuh karena bertubrukan. “Jam tangan lo,” ucapnya.


Vano baru menyadari jika arlojinya terjatuh. Namun, pandangannya sedari tadi tak beralih dari kecantikan Sheryl. “Sorry, kayaknya gue juga gak lihat jalan,” lanjut Sheryl yang tidak merasa ditatap. Ia melihat layar handphone-nya yang sudah tak berbentuk.


“Bentar,” jeda Vano saat Sheryl hendak pergi. “Lo inget gue gak?” tanyanya penuh harap.


Sheryl hanya mengerutkan dahi sebelum menggeleng sambil tersenyum. Hal yang membuat Vano tersenyum kecut. “Gue Vano, anak basket yang pernah se-club sama lo kalo lo inget. Anak European School di Surabaya.”


“Vano?” Sheryl menyipitkan. Bukan karena ingat, tapi pikirannya langsung menjurus pada Vano yang diceritakan Taletta dan Hawra waktu itu, serta Vano yang diceritakan Alanzo.


Vano mengulurkan tangan. “Gue seneng bisa ketemu lo lagi, gue selalu nunggu buat ketemu lo.” Vano tidak ingin menjadi penakut lagi, ini langkah awalnya untuk mendekati Sheryl.


Belum sempat Sheryl menyambut tangan Vano, tiba-tiba saja telapak tangannya yang hendak terangkat digandeng oleh tangan maskulin seorang cowok. Sheryl menoleh, menemukan wajah Alanzo yang tak bersahabat. “Gak usah deketin cewek gue!” ucapnya pada Vano.


Vano langsung tersentak melihat betapa posesifnya Alanzo saat ini. “Ce—wek lo?” Alanzo tidak menjawab, Sheryl mengangguk sambil tersenyum. Hal yang membuat hati Vano seperti diparut. Tidak pernah menyangka jika cewek yang sudah ia kagumi serta sukai sejak dulu telah menjadi milik Alanzo.


Vano hanya ber-oh ria, memaksakan senyumnya. Meski dalam hati ia tidak senang akan fakta itu.


“Kamu dari mana aja?” tanya Alanzo terlihat khawatir karena ia tidak menemukan Sheryl selama tiga puluh menitan.


“Tadi ada yang ngajak aku ngobrol,” jawabnya menampilkan wajah yang tenang.


“I’m really worried about you, Sheryl.” Ia memeluk pinggang ramping Sheryl. Interaksi keduanya masih bisa ditangkap Vano. Dadanya terasa panas saat ia melihat Alanzo dengan mudahnya meluluhkan cewek yang sedari dulu ia kenal tak tersentuh. Tak ingin menjadi penonton, cowok itu pergi dengan perasaan berkecamuk.


Kini saatnya acara puncak sekaligus penghujung party Mahalika. Semua orang mulai menata barisan untuk berdansa. Alanzo menatap Sheryl dengan senyumannya. “Do you wanna dance with me, Princess?”


***


A/N:


Guys! Jangan lupa tinggalkan jejak ya!