
“Sheryl mau ketemu sama kamu!” ujar Jovan memasuki kamar Alanzo saat Alanzo sedang berada di balkon menikmati udara segar.
Alanzo terkekeh meremehkan. “Tumben? Bukannya biasanya gak boleh?” Pertanyaan itu membuat Jovan mendekati dirinya. “Kenapa? Udah tahu Sheryl anak penjabat aja sekarang baru boleh gue deket sama dia?”
Jovan menghisap rokoknya sambil tertawa. “Asal kamu tahu, Papa udah tahu semua tentang Sheryl jauh sebelum kamu tahu.” Alanzo kini mengerutkan kening, menatap tajam papanya. “Kamu pikir selama ini Sheryl bisa masuk ke EHS karena beasiswa? Kamu salah. Papa yang masukin dia. Kamu masih inget kenapa kepala sekolah gak bisa keluarin Sheryl meski kamu yang minta? Itu karena Sheryl berbeda, Sheryl anak dari sahabat Papa.”
“Jadi maksudnya papa Sheryl itu—“
“Iya. Kamu pikir kenapa selama ini Papa nyuruh kamu jauhin dia? Itu karena Papa gak mau Sheryl celaka gara-gara kamu yang berandal!” Jovan menghisap rokoknya. “Tapi kalian malah tambah deket, dan ternyata Sheryl sendiri yang minta deket sama kamu. Papa gak nyangka!” Ia menggeleng-gelengkan kepala kesal.
“Jadi maksudnya Sheryl bukan kayak yang gue lihat itu—“
“Bisa gak kamu ngomongnya lebih sopan gak pake ‘gue-lo’?!” tegas Jovan merasa risih dengan sebutan anaknya pada dirinya. Alanzo berdecak kesal.
“Jadi maksud—Papa—Sheryl gak kayak yang—aku—lihat itu bukan cewek murahan? Tapi ternyata dia bukan anak orang sembarangan?” tanyanya terasa aneh menggunakan bahasa ‘aku-papa’ karena tak terbiasa. Sedikit tidak mudah dipahami juga, tapi Jovan bisa ngerti maksud Alanzo.
Jovan mengacak rambut putranya. “Pintar.”
Alanzo mendengus kesal. Ia tidak menyangka bisa bercakap-cakap seperti ini dengan papanya. “Kenapa gak bilang dari dulu?”
“Papa gak mau rahasia Sheryl yang selama ini dia sembunyiin, kamu dan geng kamu ketahui. Tujuan Sheryl ke Jakarta buat sembuhin traumanya dan supaya deket sama papanya yang bertugas di Jakarta. Itu sebabnya dia dititipin ke orang percayaan, Yanuar dan Dian yang kamu ketahui sebagai pedagang bakpao."
“Dia mau sembunyiin semua identitasnya, papanya gak mau ada orang yang tanya-tanya ke dia soal kematian ibunya beberapa bulan yang lalu karena itu bakal memicu traumanya.”
Semua perkataan Jovan terdengar jelas di telinganya. “Aku udah tahu soal semua itu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Dari papanya. Cuman ... yang gak aku tahu ... kenapa setiap kali cari Sheryl di internet selalu eror 404? Papa pasti tahu alasannya, ‘kan?” tanya Alanzo menyipitkan mata membuat Jovan terdiam.
***
“Masuk aja gak papa! Om ngobrol dulu sama papa kamu di bawah ya!”
Sheryl memasuki kamar Alanzo dengan hati-hati saat Jovan telah mengizinkannya masuk. Ia mengerling ke penjuru ruangan, tidak menemukan keberadaan Alanzo sekalipun, kecuali pintu balkon yang terbuka. Sheryl melangkah menuju balkon kamar Alanzo, menemukan seorang cowok yang sedang bertelanjang dada di sana.
Sedang mengoleskan salap ke luka di punggungnya usai tusukan pisau kemarin.
“Mau gue bantu?” tanya Sheryl hati-hati.
“Boleh.”
Sheryl tersenyum, mengambil salap itu dari tangan Alanzo kemudian mengoleskannya secara perlahan. Entah mengapa kini jantungnya berdebar saat menyentuh punggung Alanzo di tengah suasana hening ini.
“Sakit?” tanya Sheryl.
“Enggak. Kayak gini tuh udah biasa.”
Sheryl mengangguk-anggukkan kepala. “Kenapa gak diperban?”
“Belum kering.”
Sheryl menutup salap di tangannya, menaruhnya di sebuah meja. Sekarang ia mensejajarkan diri dengan Alanzo, melakukan hal yang sama. Menatap ke arah luar balkon dan mencari udara. Keheningan langsung menyerbu keduanya begitu saja saat angin sepoi-sepoi mengelus wajahnya.
“Alanzo.”
“Maaf.”
“For what?”
“Udah bohongin lo.”
Alanzo menolehkan kepalanya pada Sheryl. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa melihat wajah cantik itu lagi dari dekat. Alanzo tersenyum.
“Maaf. Harusnya gue jujur dan gak nyakitin lo. Gue bakal ceritain semua kejadian itu, Zo.”
“Sssttt ... udah jangan diceritain, jangan diinget-inget lagi. Gue udah tahu semuanya kok.” Alanzo mengarahkan jari telunjuknya ke mulut Sheryl. “Lo gak perlu minta maaf, gue juga bakal lakuin hal yang sama kalo gue di posisi lo.”
“Lo ... tahu semuanya? Papa lo yang kasih tahu?”
Alanzo menggeleng. “Gue tahu sejak dulu, jauh sebelum kita putus.”
“Apa?!”
“Gue gak akan sediem itu buat gak nyari tahu siapa lo sebenernya. Lo inget waktu lo nyariin ke rumah gue malam itu? Dari situ gue bertanya-tanya dari mana lo bisa tahu soal rumah kedua gue? Gue nyari tahu soal lo, dan gue gak sebodoh orang lain, Sher. Gue mulai tahu lo anak om Dirgantara. Awalnya gue kecewa, tapi waktu gue ngobrol sama papa lo, gue sadar. Gak semua yang lo punya harus lo ungkapin.”
“Waktu di pesta mama, gue juga tahu lo lagi nemuin bokap lo yang kangen sama lo. Di video itu juga kelihatan beda antara kasih sayang sugar daddy ke simpanannya sama kasih sayang papa ke anaknya yang ngebuat anak Gebrastal salah paham. Gue juga tahu, waktu di hotel sebenernya, papa lo pesenin kamar buat lo doang waktu lo awal pertama kali ke Jakarta dan belum punya tempat tinggal. Papa lo cerita semua, bahkan soal kejadian itu.”
Sheryl kini menatap Alanzo tak percaya. Antara kagum karena Alanzo tak pernah bicara seserius dan sepanjang ini dan bingung. “Trus kenapa waktu itu lo putusin gue?”
“Sheryl.” Alanzo mengusap rambutnya, membuat jantungnya kembali berdebar. Sial. “Gue gak sebodoh itu buat gak tahu niat Leyana yang pingin banget deketin gue karena dia mau ngejebak gue. Gue putusin lo karena gue sengaja mau pacarin Leyana.”
“Jadi lo udah tahu Leyana itu anggota Vernos?!” Alanzo mengangguk.
“Awalnya gue cuma nebak, tapi gue mulai tahu dari tato dia. Gue juga udah prediksi rencana Vernos yang bakal jebak gue di hutan. Karena gue ngehitung tanggal.”
“Jadi bener yang dikatain Rimbi?”
“Apa?”
“Vernos nyerang setiap empat bulan sekali dengan tanggal yang maju?” Alanzo tertawa mendengar itu lalu menganggukkan kepala.
“Temen lo pinter juga. Karena gue tahu waktu itu mereka bakal lakuin rencana besar, gue telepon bokap lo buat antisipasi kalo mereka ngelakuin kekerasan sama benda tajam. Waktu itu emang gak ada sinyal, jadi gue aktifin iSharing lokasi yang cuma bisa dilacak pake iphone supaya bokap lo bisa datengin lokasi gue di hutan. Tapi lo malah dateng.”
Sheryl mengamati muka Alanzo mengingat kemarin ketika ia melacak lokasi Alanzo dengan iphone-nya. Ia mengerutkan dahi. “Jadi ... yang hubungin papa kemarin itu lo? Bukan Taletta sama Hawra?” Alanzo menganggukkan kepala membuat Sheryl kini merasa salah pada kedua cewek yang udah ia bentak-bentak sedari kemarin.
Alanzo tersenyum tipis. Kedua tangannya mengusap pipi lembut Sheryl, mengarahkannya pada wajahnya. “Maaf udah bikin lo ikut andil dalam masalah ini.”
“Gue yang harusnya minta maaf, karena gue lo ketusuk pisau, Zo. Gue juga mau ucapin makasih udah lindungin gue.” Mata almond itu saling bertatapan dengan mata elang Alanzo. Tanpa sadar, Alanzo mendekatkan bibirnya pada bibir Sheryl. Hanya tinggal satu senti dan Sheryl telah memejamkan mata, tapi ....
“Guys! Makan siang yuk—ah! Mama gak lihat! Mama gak lihat! Lanjutin aja!” Mahalika yang baru saja datang kini berbalik badan untuk pergi. “Jangan lupa bikinin Mama cucu ya!” teriaknya dari luar. Sedang Alanzo dan Sheryl hanya saling memandang, canggung.
***
A/N:
Guys! Aku up 2 eps nih buat gantiin minggu lalu yang belum ke-up! Jangan lupa lanjut ya!
Ohiya, buat part ini, aku jelasin dikit² ya di atas supaya gak bingung, alasan Sheryl ntar ada di eps selanjut selanjutnya!💗💗