Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Kakak?



Pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Alanzo yang sedang menatap Sheryl dan Leon secara bergantian. Sial! Rasanya Sheryl lebih baik meledak saja sekarang. Alanzo berjalan ke arah Leon lalu menepuk pundaknya. “Lo tahu apa yang dia lakuin tadi?”


“Tahu, bohongin gue dengan pura-pura mabuk.”


Alanzo kemudian menarik tangan Sheryl keras, menunjukkannya pada Leon. “Cewek ini kalah dari permainan. Sekarang dia milik gue. Gak ada yang bisa apa-apain dia selain gue.”


Leon kemudian menatap Sheryl dengan senyuman mengejek dan mengangguk-angguk. “Lo cantik sih, sayangnya gak bisa gue milikin dan terlanjur dimilikin pak ketua. Yah, gue bisa apa.” Sheryl tidak berminat menjawab. Setelahnya cowok itu meletakkan padangannya pada Alanzo, menepuk bahunya. “Gue pergi dulu, ada urusan!”


Alanzo mengangguk. Seusai kepergian Leon, ia kembali mengarahkan pandangannya pada Sheryl. “Lo mau ini?” tanya Alanzo mengimin-imin handphone case biru tosca milik Sheryl yang sempat Alanzo ambil tadi di sekolah.


Sheryl langsung saja ingin mengambilnya dari tangan Alanzo, tapi dengan cekatan Alanzo meninggikan tangannya ke atas hingga tak bisa Sheryl gapai. “Kayaknya nih HP emang seberharga itu buat lo, gue jadi penasaran isinya.”


“Gak usah lancang!” Ia hendak mengambil benda kotak yang sedang diamati Alanzo yang lagi-lagi Alanzo menjauhkannya.


“Lancang? Lo inget lo udah jadi milik gue? Lo harus turutin perintah gue termasuk tunjuki isinya ini?”


“Emang iya, tapi gak dengan privasi!” tegasnya. “Apalagi sampek lo tidurin!”


Mendengar itu, Alanzo langsung terbahak. “Tidurin lo? Asal tahu, senakal-nakalnya gue, gue gak suka berhubungan sama cewek sebelum nikah, dan gue gak berminat sama cewek kayak lo!” tajamnya serius dan Sheryl bisa melihat kebenaran yang ada di matanya.


Alanzo langsung menyodorkan ponsel milik Sheryl yang hanya ditatap datar olehnya. Sheryl tahu, Alanzo tidak benar-benar memberikannya. Cowok itu akan menariknya kembali.


“Lo gak mau ponsel lo balik?”


“Lo pikir gue bakal ketipu?”


Cowok itu kini mengetikkan beberapa nomor di handphone cewek itu tanpa membuka password. “Gue mau lo terima HP ini buat gue hubungin dan simpen nomor gue.”


Tanpa berkata, Sheryl langsung saja menyahut ponselnya dari tangan Alanzo. Cewek itu tanpa bosa-basi meninggalkan Alanzo dengan cepat dari sana. Ia berjalan ke arah keluar club. Tempat terlaknat yang pernah Sheryl datangi.


Sheryl ingin pulang sekarang. Ia membuka ponselnya, menghubungi seseorang tapi tidak terhubung. Sheryl kemudian membuka aplikasi ojek online yang ternyata tidak mudah mendapatkan driver mengingat jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Cewek itu berdecak kesal saat ternyata kuotanya habis.


“Gue anter pulang yuk!” ucap Omero yang tiba-tiba muncul di sebelahnya. Sheryl menoleh ke arah cowok itu.


“Gak usah. Gue bisa pulang sendiri kok.”


“Ekhem, ini udah malem.”


Sheryl tertawa. “Yang bilang siang siapa?”


“Ya ... malam tuh bahaya! Apalagi lo berdiri sendirian di sini, kalo ada yang ngelakuin engga-enggak?”


“Ya udah, tinggal bales aja,” tanggap Sheryl santai sambil menggidikkan bahu.


“Gue cuma mau anterin lo pulang.”


“Lo gak perlu SKSD dengan repot-repot anter gue pulang,” tawa Sheryl entah mengejek atau bercanda, tapi Omero senang dengan itu.


“Gue yang bakal anter dia pulang,” sahut seorang cowok dengan jaket varsity hitam yang melekat di tubuhnya. Ketiga cowok yang mengikutinya di belakang menoleh pada Alanzo tidak percaya.


“Buset! Lo serius?” tanya Jehab.


“Ayok!” ajak Alanzo pada Sheryl.


“Ini pertama kalinya pak ketua kita anterin cewek pulang!” ujar Jehab berbinar-binar seperti orang gila.


“Gue bisa pulang sendiri,” ucap Sheryl.


Jehab melongo lagi. “Dan ini pertama kalinya dia ditolak sama cewek yang mau dianter pulang! Wah! Harus diabdiin nih! Harus diabdiin!” Jehab mengambil handphone berlogo apel tergigit dari sakunya lalu memotret kedua orang itu. Setelahnya melihati foto itu seolah itu adalah peninggalan sejarah terindah se-Indonesia.


“Ngapain lo?”


“Kali aja ada penampakkan!”


“Gak jelas!” Jehab kembali menyahut ponselnya dan mengamati foto-foto Alanzo dan Sheryl.


Sheryl ingin melangkah pergi, tapi pergelangan tangannya langsung saja dicekal oleh Alanzo. “Anggep aja ini perintah pertama gue. Lo harus mau gue anter pulang.”


“Trus lo turunin di tengah jalan?”


“Niatnya sih, tapi udah ketebak,” jawab Alanzo mulai kesal. Ia menarik tangan cewek itu ke arah motor Harley Davidson yang terparkir tepat beberapa meter dari lobi. Langkah keduanya juga masih diikuti oleh ketiga cowok di belakangnya.


Setelah Alanzo menaiki motor bersama Sheryl, Jehab lagi-lagi memotretnya berkali-kali dengan flash, entah apa gunanya. Tidak ingin berlama-lama, Alanzo akhirnya melajukan motornya.


Hanya ada suara motor yang berderu di telinga keduanya. Sheryl menatap jalanan di sekitar yang nampak sepi. Wajah cantiknya dikibas oleh semilir angin yang bisa Alanzo tangkap dari spion motornya.


Cowok itu menyeringai saat sesuatu terlintas di otaknya. Ia melajukan motornya di atas rata-rata. Hal yang membuat Sheryl langsung saja memeluk dan menempelkan kepalanya di punggung Alanzo.


***


“Apa?” kata Sheryl, menepis lengannya yang tadi ditahan oleh Alanzo saat dirinya ingin memasuki rumah.


“Permintaan gue, mulai sekarang lo harus ngucapin terimakasih kalo gue bantu lo.”


“Makasih,” ucap cewek itu tidak ingin ribet. Alanzo mengangguk saat mendapat yang ia mau. Kalau semudah itu Sheryl menurunkan harga diri Alanzo, sekarang akan semudah itu untuknya menurunkan harga diri Sheryl juga. Cowok itu memutar mototnya dari gang sempit kediaman Sheryl sebelum melajukan motor tanpa meninggalkan pesan lagi.


Sheryl mengembuskan nafas. Ia segera membuka pintu rumah dengan kunci yang ada dalam sakunya.


Suara reyotan kayu dari pintu langsung terdengar di gendang telinganya kala cewek itu membuka pintu. Ada rasa nyaman juga rasa kesal karena tidak ada seorang pun yang mengangkat telopon untuk menjemput dirinya tadi. Cewek itu memencet saklar lampu, menerangkan ruangan yang tadi gelap gulita.


“Dari mana aja lo jam segini baru pulang?” tanya seorang cowok bernada dingin yang langsung membuat Sheryl berbalik badan. Diikuti beberapa orang di belakang yang menatap Sheryl khawatir.


“Ka—kak?” beo Sheryl tergagap. “Kakak sejak kapan ke sini?”


“Jawab dulu!”


“Aku cuma mau ambil HP aku di temen aku.”


“Ambil HP atau ngeclubing? Lo pikir gue gak tahu lo main kartu dan berususan sama Gebrastal?!”


Semua orang di ruangan ini hanya diam, tidak berani berbicara. Sheryl menyipitkan matanya. “Kakak nguntitin aku ya?”


“Gue mau lo jawab, bukan gantian nanya!” tajamnya menusuk hingga ke retina mata Sheryl, tapi Sheryl hanya mendengus sambil memutar bola matanya.


“Ya, aku main sama mereka karena HP aku di mereka? Udah?”


“Gue cuma gak mau lo celaka, Sher! Gue kakak lo! Gue gak mau lo sampek berurusan sama mereka, ngeclub, atau buat onar yang bisa celakain lo!”


Sheryl mengangguk-angguk. “Gini ya, Kak. Aku tahu Kakak khawatir, tapi urusan aku di Jakarta itu bukan tanggung jawab Kakak lagi. Saran aku, mendingan Kak Helios fokus sama skripsi Kakak di Italia!”


Sheryl benar-benar penat malam ini. Ini sudah dini hari, dan ia ingin segera tidur. Ia benar-benar tidak ingin berurusan dengan Kakaknya yang jika diteruskan akan berujung keributan. Tanpa menunggu, ia melangkah ke kamarnya.


Namun sebelum itu, teriakan dari kakanya berhasil membuat dirinya terdiam. “Gue khawatir! Gimanapun lo harus tetep inget sama penyakit lo!”


***