
“Ah iya! Zezan! Dia itu anak dari supir truk yang udah nabrak adiknya Alanzo sampek gak ada! Alanzo masukin supir truk itu ke penjara padahal mereka udah minta ampun! Itu sebabnya Zezan balas dendam!” Seketika, Sheryl lemas di tempat. Ia tahu tentang cerita Delana yang tertabrak truk, tapi Alanzo tidak pernah cerita alasannya bermusuhan dengan Vernos.
“Padahal yang salah keluarga Zezan sih walau gak sengaja. Tapi nih ya!” Rimbi menengok kanan dan kiri, semakin mendekatkan diri pada Sheryl. “Ada satu anggota dalem Vernos yang gak semua orang tahu, namanya Vano. Gue gak tahu sih siapa Vano, pokok namanya Vano.”
“Wait ... apa?!”
Rimbi memukul Sheryl, memegang tangannya. “Jangan keras-keras! Lo tahu gak alasan Vano gabung Vernos gak? Karena Vano gak terima, waktu itu dia juga ikut dipenjarain atas tuduhan gak bisa jagain adiknya Alanzo! Tapi, ini rahasia. Gebrastal juga gak tahu kalo Vano itu Vernos.”
Sheryl menarik tangannya, menatap Rimbi curiga. “Dari mana lo tahu semua info itu?” Kali ini, Rimbi menggigit bibitnya. “Gak mungkin sekadar nguping, ‘kan?”
“Gue beneran nguping waktu Leyana ngobrol secara privat sama gengnya bahkan sempet gue rekam. Leyana tahu semua tentang Vernos.” Rimbi mengaktifkan airpod-nya, memasangkannya ke telinga Sheryl. Sheryl bisa mendengar semua percakapan Leyana dengan teman-temannya dalam rekaman itu, dan semuanya sesuai dengan yang Rimbi katakan. “Gue gak tahu dia dapet info soal Vernos dari mana, gue cuma denger setengah-setengah.”
“Kenapa lo harus kasih tahu gue tentang semua ini kalo ini privat?”
Rimbi terdiam sejenak. “Karena gue rasa lo bukan cewek biasa yang gak bisa nebak yang terjadi.” Hal itu membuat Sheryl mengerutkan dahinya. Otaknya mulai berpikir membentuk benang-benang rumit.
“Wait ...,” ucapnya menyadari sesuatu. “Lo bilang Vernos gak mungkin gak nyerang hari ini. Leyana selama ini berusaha buat jadi pacarnya Alanzo. Leyana tahu semua soal Vernos. Leyana ngajak nge-date ke hutan dan tato Leyana itu ....” Sheryl melebarkan mata.
“Damn! Leyana itu anggota Vernos! Vernos bakal jebak Gebrastal hari ini hutan!”
“Apa?!” Rimbi jelas terlonjak. Baginya otak Sheryl terlalu cepat memproses berbagai macam teka-teki yang selama ini menggeluti otaknya.
Tin! Tin! Suara sebuah klakson mobil memenuhi pendengaran keduanya. Sheryl menoleh ke arah gerbang, menjumpai sebuah mobil caibri yang dikendarai oleh dua orang cewek. Sheryl menoleh pada Rimbi. “Gue harus pergi!” Setelahnya cewek itu berlari pada mobil calibri pink itu.
“Lo berdua turun deh!” pinta Sheryl.
“Hah? Lo mau ngapain dah?” tanya Hawra bingung. Pasalnya mereka ke sekolah untuk menjemput Sheryl, bukan mengantarkan mobil.
“Gue butuh mobil!”
“Iya, mau ngapain?”
Sheryl berpikir, tidak mungkin ia mengutarakan tujuannya pada dua cewek itu. Taletta dan Hawra pasti tidak akan mengizinkannya. “Mau drifting!”
“Sumpah?! Lo udah berani drifting kayak dulu?!” kaget Taletta.
“Cepetan!” Sheryl berteriak tergesa-gesa, membuat Taletta dan Hawra terpaksa turun dari mobil. Sheryl masuk ke dalam mobil, mengendarainya tanpa berpamitan. Tentu saja gerak-gerik mencurigakan Sheryl sedari tadi bisa mereka tangkap membuatnya saling bertatapan.
***
“Sayang, masih kurang jauh! Kalau di sini aja mah nanti kurang greget!” Leyana merengek selama di boncengan Alanzo. Sedari tadi, mereka berusaha mencri-cari tempat yang pas untuk piknik di hutan ini, tapi tidak ada tempat yang Leyana katakan cocok.
Motor warna biru laut paling depan yang dikendarai Omero kini berhenti, menoleh pada Alanzo dan kawan-kawannya yang berada di belakang. “Udah hampir jam lima nih, masih belum nemu juga?!” teriaknya membuat keempat motor di belakangnya ikut berhenti.
“Kayaknya kalian mau uwu-uwu nih sampek harus nemu tempat yang sepi dan cocok,” kekeh Kenart yang ditatap tajam Alanzo.
Alanzo mengambil ponsel untuk mengecek sinyal. Ia menemukan sebuah nama yang menghubunginya berkali-kali satu jam yang lalu. Sheryl. Cowok itu mengerutkan dahi. Kenapa cewek itu meneleponnya? Alanzo tidak peduli. Ia memasukkan iphone-nya ke dalam saku tanpa mengecek isi pesan dari Sheryl. Lagian, gak ada sinyal sekarang.
Kelima motor itu kembali melanjutkan perjalanan saat Leyana kembali merengek. Suara jangkrik dan hewan-hewan kecil mulai mendominasi di telinga mereka. Langit juga mulai gelap.
Kelima cowok itu sama-sama mengerutkan kening di balik helm fullface-nya saat mendengar suara deru motor yang kian bersautan. Suara motor-motor itu semakin keras dan kini kelimanya terpaksa menghentikan motor mereka masing-masing saat beberapa motor memutarinya.
“Apa-apaan nih!” Kenart dari balik helm berseru.
Gerombolan motor itu semakin berdatangan, bertambah menjadi puluhan kali lipat dari awalnya. Bukan hanya Kenart yang mengumpat, tapi Alanzo dan Leon yang kini melepas helmnya mengetahui jaket yang digunakan oleh gerombolan motor itu.
“Sial! Kita dikepung!”
Sebuah motor yang paling menonjol dari lainnya dimatikan, menurunkan seorang cowok berjaket dengan logo Vernos. Cowok itu membuka helm-nya, menyambut rasa kesal Alanzo dengan senyum miring. “Hey, Bro! Ketemu lagi kita!”
Melihat wajah menyebalkan itu, Jehab turun dari motor penuh emosi kemudian membogem Zezan yang membuat anggota Vernos lainnya turun tangan untuk menahan cowok itu.
“Apa mau lo?” tanya Alanzo.
“Mau gue?” Zezan tertawa. “Jelas lo tahu, gue mau lo dan geng lo itu masuk penjara kayak bokap gue sekarang dan gue pengin lo semua sujud ke kita Vernos kayak yang ibu gue lakuin buat mohon ke lo waktu itu.”
“Kalau kita gak mau?” Zezan melirik anggotanya yang kini ikut turun dari motornya dengan senyuman miringnya.
“Leyana sayang!” panggil seorang cowok anggota Vernos. Mendengar panggilan itu, Leyana tersenyum misterius, turun dari motor Alanzo. Semua anggota Gebrastal kini melongo tak percaya, ternyata Leyana tak seperti yang mereka kira. Leyana anggota Vernos.
“Kita dijebak, anjing!” kata Kenart emosi, ingin menghampiri Leyana untuk ia hajar, tapi banyak cowok Vernos yang menghadangnya.
Tanpa diduga, Leyana melepas semua pakaian sekolahnya di hadapan semua cowok itu, menyisakan pakaian dalamnya. Tidak ada yang kaget di sana, kecuali Alanzo dan keempat anggota Gebrastal.
“Mau ngapain lo?!” kata Leon. Meski bukan pertama kali melihat wanita tanpa busana, harga diri gengnya seolah tercoret oleh Leyana. Lebih epic-nya lagi, kini Leyana menjedot-jedotkan kepala ke pohon menghasilkan darah di dahinya.
“Karena jejak Leyana sama lo semua, selamat menikmati tangkapan polisi dengan tuduhan memperkosa Leyana!” tawa Zezan disambut oleh anggota lainnya. Alanzo mengepalkan tangannya, ia maju dan langsung memukul Zezan keras, membuatnya tersungkur di tanah.
“Kurang ajar lo!” Sekita sepuluh anggota Vernos kini menghampiri mereka, hendak menghajar Alanzo. Sayangnya Alanzo begitu kuat dan berhasi mengalahkan sepuluh orang sekaligus. “Gue gak akan biarin itu terjadi!”
Bugh! Ia kembali menghajar Zezan. Zezan juga tak kalah menghajar cowok itu. Keempat anggota Gebrastal kini ikut maju, meski mereka tahu mereka kalah jumlah.
***
A/N:
Guys jangan lupa like dan komen ya! Jangan lupa lanjut, hari ini aku up 3 bab sebagai ganti minggu kemarin blom up💗💗