Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Smith and Wesson



Kenart, Omero, Leon, Jehab kini lengah. Tidak bisa melawan Zezan lagi kala setiap dari mereka dihajar dan ditahan oleh sepuluh anggota Vernos. Membatasi pergerakan mereka sampai ke tulang-tulangnya.


“Lepasin gua!” Jehab berusaha meninju orang gemuk di sebelahnya, tapi langsung diserang oleh orang sebelahnya lagi.


Hanya Alanzo kini yang masih awet dengan pukulannya pada Zezan. Satu lawan empat, sedangkan yang lain telah Alanzo kalahkan. Cih! Menurut Alanzo, Zezan terlalu lemah dan pengecut jika dibanding dengannya. Alanzo yakin, Zezan tidak akan menang jika tidak dibantu oleh anggota-anggota sialannya itu.


Bugh! Alanzo berhasil melengahkan tiga orang yang tadinya membantu Zezan melawan Alanzo. Kini sisa satu, Zezan. Mereka menjadi impas, satu lawan satu.


“Lo pikir lo bisa ngalahin gue?” remeh Zezan.


“Harusnya gue yang nanya gitu!” Alanzo kini menendang perut cowok itu dengan dengulnya memundurkan tubuh Zezan yang kini memegangi perut, berbatuk. Cowok dengan muka lebam itu maju, mencengkram lengan baju Zezan dan kembali melayangkan tinju. Bugh! “Lo pikir lo bisa ngejebak gue?!”


Bugh! Pipi Zezan sekarang membiru. “Lo yang bakal makan rencana lo sendiri! Lo yang bakal dipenjara karena tuduhan perkosa cewek murahan itu!”


Zezan tersungkur di tanah, berusaha berdiri. Alanzo yakin, satu pukulan lagi, ia pasti akan pingsan di tempat. Hendak memukul Zezan kembali, sebuah pisau kini menusuk punggung bagian belakang Alanzo.


“Zo!” teriak Jehab dan Omero secara bersamaan. Melototkan mata.


Alanzo terdiam sejenak, merasakan sakit dan darah mengalir di punggungnya. Pisau itu kini tercabut, membalikkan badan Alanzo yang menemukan seorang cowok berhodie hitam tak menampakkan wajah dengan tatapan mata dingin.


“Lo?” beo Alanzo yang mengenali cowok itu hanya dari mata. Sahabatnya sendiri.


Cowok itu kini memukul rahang Alanzo dengan keras hingga cowok itu tersungkur di tanah. Alanzo melawan, membalaskan tinjuan cowok berhodie itu. Namun, si cowok dengan lihai berhasil mengalahkan Alanzo yang telah lemas kehilangan darah.


“The King!” sorak Erza—wakil Vernos—penuh kemenangan. Cowok dengan jabatan ‘King’ itu membuka tudungnya, memperlihatkan wajah tampan nan dingin. Ia menangkup kedua tangan Alanzo.


“Sorry, Brother! Gue gak bisa biarin sahabat yang bener-bener sahabat gue mati di tangan lo!” ujar Vano membuat keempat anggota Gebrastal lainnya semakin kaget.


Zezan tertawa dan berdiri dari tersungkurnya. “Kita menang! Ahahaha!” ucapnya dengan nafas ngos-ngosan disoraki oleh anggota Vernos lainnya.


Omero terduduk lemas di tanah. Mati sudah nasib dirinya dan teman-temannya.


Bugh! Sebuah serangan dari belakang kini dilayangkan pada tengkung Vano. Semua orang langsung menatap ke arah seorang cewek bertudung kepala dengan maskernya yang kini berdiri di hadapan mereka semua.


“Wah! Ada cewek nih! Mau jadi pahlawan kesiangan!” ejek Erza.


“Lo semua belum menang! Lo lawan gue kalo lo pingin menang!” tantangnya dengan jari telunjuk mengarah pada Vano. Zezan hendak beraksi, tapi terhenti. “Satu lawan satu kalo geng lo emang bukan pengecut!” peringat cewek itu.


Vano mengangkat salah satu alisnya, memandang cewek itu dari atas hingga bawah dengan tidak yakin. “Lo yakin?”


“Seyakin gue bakal ngehabisin lo!” Tanpa aba-aba, cewek itu menyerang Vano dengan pukulannya. Vano mengusap bibirnya yang berdarah. “Gimana?”


Vano berdecak kesal. Ia segera menyerang cewek itu tak pandang gender lagi. Namun, dengan sekali jurus, cewek itu menggunakan teknik judonya, membanting tubuh Vano ke tanah. Semua orang di hutan ini terperangah melihatnya.


Vano tersenyum, semakin merasa tertantang. Ia berdiri dari tanah. Berusaha memukul cewek yang berhasil menghindar itu. Matanya menyipit saat kini bisa membaca teknik yang cewek itu lakukan. Kekehan langsung terbit di wajahnya. Saat cewek itu hendak menyerang, Vano langsung menangkap tangannya, membalikkan badan, dan mengunci pergerakan cewek itu.


Srek! Vano membuka tudung dan masker yang cewek itu kenakan. Betapa terkejutnya mereka mengetahui wajah Sheryl yang terpapang di sana. “Sheryl?” beo Vano.


“Itu ‘kan cewek yang dulu itu, Bos!” Seorang cowok berceletuk pada Zezan.


“Lo ngapain di sini?” tanya Vano khawatir. Alanzo yang tersungkur di tanah hanya mengamati itu tanpa berkata. Tubuhnya telah ditahan cowok-cowok gila itu.


“Lepas!” Pergerakannya masih dikunci Vano. “Lo pikir lo bisa menang! Lo curang! Bodat! Gak jelas! Psikopat! Gak waras!”


“Sheryl ... gue bakal anter lo pulang, oke? Ini masalah kita. Gue gak mau lo terluka.” Vano berucap lembut.


“Gue bukan cewek lemah! Bukan penghianat kayak lo yang khianatin sahabat lo sendiri!” pekiknya membuat Vano membalikkan badannya secara cepat, mencekal tubuhnya.


“Sheryl, gue tahu gue salah. Harusnya gue ungkapin ini ke lo sejak dulu supaya lo gak diambil sama Alanzo,” ucapnya menatap serius Sheryl.


“Lo berengsek!”


“Lo cantik, Sher! Gue gak nyangka lo bakal bisa bela diri! Tenang aja, lo bakal selamat kalo lo mihak gue!” katanya. Sheryl berusaha memberontak saat kini Vano mulai mencium bibirnya secara paksa. Vano kini menarik tengkuk Sheryl agar cewek itu membalas ciumannya. Ini, ini yang selalu Vano harapkan dari Sheryl sejak dulu.


Alanzo mengepalkan tangannya tidak terima. Dengan sisa tenaga, ia berusaha berdiri. Begitupun Kenart, Omero, Jehab, dan Leon.


Plak! Sheryl kini menampar Vano saat berhasil melepaskan bibirnya dari bibir cowok itu. Vano hanya terkekeh lalu membelai rambut Sheryl. Vano rasa dirinya sudah gila.


Sheryl berhasil melepaskan diri saat Alanzo menendang Vano dari belakang. Vano menoleh, menemukan tubuh Alanzo yang lemas. Ia hendak menghajar Alanzo dengan anggota Vernos lainnya, tapi suara ledakan dari sebuah peluru yang dilayangkan ke atas menghentikan semua pergerakan mereka semuanya.


Semua manusia di hutan ini melebarkan mata saat Sheryl memegang sebuah pistol yang diarahkan pada mereka semua sambil tertawa. “Lo tahu ‘kan ini pistol apa?”


Tidak ada yang berkutik. “Smith and Wesson!” gumam Erza kaget yang masih bisa didengar semua orang. “Pistol paling bahaya di dunia.”


Dengan santai dan tenang, Sheryl berjalan. Satu tangannya lagi mengeluarkan pistol di saku kirinya. Cewek itu membawa dua pistol. “Right!”


“Sher! Lo jangan gila!” teriak Omero merasa kaget, banyak plot twist yang terjadi hari ini.


“Lo-lo-lo dapet pistol itu dari mana?!” Erza merasa takut saat pistol itu mengarah pada dirinya.


“LO SEMUA ANGKAT TANGAN!” kelakarnya hingga ke penjuru hutan, menggelegar hingga ke ulu jantung setiap insan di sini, kecuali Alanzo yang hanya menatapnya datar dan lemas. Semua orang mengangkat tangan dan tidak ada yang berkutik.


Pertama-tama, yang Sheryl menodongkan pistolnya pada Leyana. “Pake baju lo!” Leyana tersentak dengan wajah syok. “Pakek!” ulangnya dengan nada santai, tapi menggempurkan.


“I-iya!” Dengan segera, Leyana memakai semua pakainnya lengkap.


Kini giliran gerombolan cowok yang menahan anggota Gebrasta. “Lo lepasin mereka! Lepasin, atau gue tarik pelatuk?!” pekiknya yang dituruti mereka semua.


Tanpa Sheryl sadari, Zezan sudah membuntutinya dari belakang dengan pisau yang siap menusuk dirinya.


“Sheryl! Awas!” pekik Alanzo yang langsung melindungi tubuh Sheryl dari pisau itu. Membuat tubuh Alanzo kembali tertusuk untuk yang kedua kalinya.


“Alanzo!”


***