
“Lo bilang Alanzo minta gue ke sini? Dia gak ada?” tanyanya yang hanya disuguhi senyum miring oleh Leon.
“Kanjeng Ratu duduk dulu! Kayaknya Baginda Raja lagi keluar!” Leon menyiapkan sebuah sofa empuk yang biasa Alanzo duduki. Sheryl pun duduk di sana sambil menatap cowok itu ragu dengan mata menyipit.
Andro yang tadi asyik dengan beberapa tumpukan tugas kuliahnya kini mengarahkan kepalanya ke tempat di mana Sheryl berada. Cowok itu tampak mengerutkan kening saat tahu wajah Leon penuh gembira, tak seperti biasa. Seakan sedang bersiap nonton konser.
“Lo ngapain bawa cewek itu ke sini?” tanya Andro saat Leon melintas di sekitarnya.
“Dia ‘kan pacarnya Alanzo, Bang. Bebaslah kalo mau ke sini.”
“Bukan itu! Maksudnya, Alanzo lagi ada urusan dan gak lagi ke markas, cewek itu gak nyariin Alanzo?”
Leon memanyunkan bibir sambil berpikir. “Sebenernya Alanzo gak tau sih kalo gue bawa dia ke sini.” Sebuah ekspresi mencurigakan itu Leon keluarkan dan semakin membuat Andro menautkan alis.
“Bentar, lo gak lagi ngerencanain sesuatu, ‘kan?” tebak Andro mulai sangsi.
Leon mengangguk-anggukkan kepala. Ia mendekatkan diri pada Andro, menepuk bahu cowok itu, lalu menyuarakan bicara lebih lirih agar hanya bisa didengar oleh mereka berdua. “Right, Bro! Tepatnya gue udah nyiapin sesuatu di gudang dan lo bakal dapet pertunjukan yang gak akan pernah lo temuin sebelumnya.”
“Gue gak suka kalo akhir-akhirnya lo nidurin dia secara dia masih punyanya Alanzo,” kata Andro memperingati.
“Tenang aja, Bang! Kali ini beda!” Andro bisa menangkap senyum misterius Leon kali ini. Entah mengapa, perasaannya jadi gak enak saat melihat senyum itu.
“Lo mau ngapain?” tanya Andro mulai penasaran. Dengan santai, Leon membisikkan sesuatu di telinga cowok gondrong itu yang disuguhi pelototan mata. “Gila lo?!” tanggap Andro.
“Aelah! Cuma gitu doang! Lagian lo juga penasaran ‘kan sama Sheryl? Dengan begini, kita bisa buat dia ngaku siapa dia sebenernya! Lo bakal tahu deh apa kelemahan dia tanpa harus nyari di web!”
“Enggak! Gue gak approve rencana lo!” Andro mengibaskan kedua tangannya.
Leon mendengus kesal. Ia melirik Kenart yang kini mendekati mereka berdua. “Kenapa gak approve? Gue sebagai wakil ketua Gebrastal aja setuju!” sahut Kenart mengantungi kedua tangannya di saku. Ya, jika kalian tanya ini rencana siapa? Ini semua bukan hanya rencana Leon, tapi Kenart.
Ngomong-ngomong soal pertengkaran mereka, Leon dan Kenart kini sudah akrab kembali seperti dulu sejak Kenart membantu Leon menyerang Vernos. Leon bukan tipe orang yang berantem lama karena cewek.
“Eh, lo bukan wakil ketua lagi, Bro!”
“Masih calon mantan wakil ketua. Posisi gue masih tetep sebagai wakil karena Alanzo belum turunin posisi gue. Jadi kalo gak ada Alanzo, kuasa gue ambil di sini.”
Ambil mengembuskan nafas. Ia tahu Kenart melakukan ini karena dendam pada Sheryl. Gara-gara Sheryl, hubungan Kenart dengan Alanzo jadi renggang. Andro kembali menatap Leon. “Lo dengerin gue, kalo sampek Alanzo tahu, lo bisa mati!”
“Cielahh! Tenang! Alanzo lagi ada urusan di luar kota! Kalaupun tau pasti bakal support kita!” Mendengar perkataan santai Leon membuat Andro frustasi.
“Terserah kalian dah! Tapi kalo sampek terjadi sesuatu, gua gak mau ikut-ikut!” Andro mengangkat kedua tangannya ke atas pasrah, menutup laptop dan segera mengambil jaket untuk pergi. Ia memilih menyelesaikan tugas kuliahnya yang lumayan bikin spaneng ketimbang ikut andil dengan Leon dan Kenart.
Leon tidak peduli. Ia menatap Sheryl yang masih duduk di sofa diajak bicara oleh Jehab.
“Gue mau kalian semua tutup pintu dan jendela markas ini!” pinta Kenart. Semua orang hanya saling tatap mendapati perintah Kenart. Begitupun Sheryl dan Kenart yang saling memandang sengit. Ada gemuruh benci dalam diri Kenart. Ia tidak suka Sheryl dan akan ia buat cewek itu menangis hari ini juga.
Semua pintu telah ditutup Jehab dan Leon. “Ngapain sih, woy, main tutup-tutupan kek ada zombi aja!” celetuk Sean merasa bingung.
“Dah lo ntar tahu!”
“Kenapa buru-buru? Lo gak mau nunggu kejutan dari kita?” tanya Kenart tersenyum miring. Sheryl hanya mengangkat salah satu alisnya sebelum melangkah ke arah pintu. Kenart langsung mengaktifkan tombol lock dengan remot di tangannya, otomatis membuat semua pintu dengan lock digital itu terkunci.
Kenart dengan kasar membawa Sheryl kembali duduk di sofa. Sedangkan Jehab kini mengikuti Jehab ke arah gudang. Bingung saat Leon memina bantuan pada dirinya mengeluarkan sebuah box berat. “Wait, Yon! Kayaknya ini bukan rencana awal kita?” tanya Jehab.
Leon tersenyum miring. “Emang bukan.”
“Maksud lo gimana nih? Rencana kita itu cuma tes dia pake alat kejujuran, kenapa ini malah gergaji mesin sih?”
“Udahlah, lo ngikut aja!” Leon membawa kotak itu keluar.
“Lo jangan aneh-aneh! Lo mau bunuh anak orang?!”
Leon kini menampol pipi Jehab. “Enggak, Anjir! Lo diemlah! Ntar juga tahu!”
Kini semua pasang mata tertuju pada Leon yang membawa sebuah box bergambar gergaji chainsaw. Kenart tersenyum miring pada Sheryl yang terdiam di tempat. “Selama ini lo selalu tampakin wajah tenang dan sombong lo itu, sekarang gue mau tahu seberapa phobianya lo sama alat ini.”
“Lo udah gila!” Omero berdiri dari duduknya.
“Lo diem! Lo bukan siapa-siapa di sini! Gue hari ini yang ngatur!”
“Gak! Gak! Phobia gak bisa dibuat main-main!” Omero tidak terima. Seseorang menarik tangan Omero untuk duduk kembali.
“Bacot lo!” ujar Kenar, ia mengalihkan matanya pada Leon. “Ayo, Yon!”
Deg! Jantung Sheryl berdetak kencang kala Leon mengeluarkan sebuah gergaji mesin dari box-nya. Tubuhnya perlahan bergetar saat Leon mulai menyalakan starter pada gegaji itu, membuahkan suara bising di seluruh ruangan. Leon semakin menarik recoil starter-nya menyebabkan bergagai asap di ruangan.
Sheryl memundurkan kakinya dengan nafas tersengal. “Matiin!” tegas Sheryl, tapi Leon tak menggubrisnya karena tidak dengar. Sedang Kenart tersenyum menang.
“Matiin!” teriak Sheryl lagi yang tak didengar. Sheryl menutup kedua telinga dengan tangannya. Namun percuma karena suara gergaji meski itu masih bisa masuk ke kendang telinganya. Keringat dingin kini membasahi tubuh Sheryl. Sheryl berdiri dari sofa, berlari ke arah pintu markas meski ia tahu pintu itu tidak akan terbuka tanpa Kenart.
Kenart tersenyum miring saat Sheryl mulai menggedor-gedor pintu meminta untuk dibukakan. Kenart kemudian menyahut gergaji itu dari tangan Leon, mengarahkannya pada Sheryl. Semakin membuat cewek itu ketakutan.
“Bu-buka! Bu-buka!” Setetes air mengalir di pipinya. Namun, Kenart malah tertawa menikmati itu.
“Bu-buka pintunya, Ke-Kenart! Bu-buka! Gu-gue mau keluar!” Sheryl semakin terisak saat merasakan seluruh tubuhnya seolah disambar petir. Merasakan sakit di kepalanya akibat suara itu.
“Ma-matiin i-itu!” teriaknya terbata-bata.
“Sayangnya gue masih belum puas! Lo phobia ini, ‘kan? Nih! Nih!” Kenart mendekat-jauhkan alat itu dengan tawa menggelegar seolah itu adalah hal terlucu yang pernah ia temui.
***
A/N:
Gais, maaf ya gantung lagi, kaga nyukup tadi, besok deh up sore! 😭