
Alanzo turun dari motornya kala kawasaki ninjanya itu berhenti di parkiran sekolah. Ia membawakan tangannya untuk menyambut Sheryl. Sebuah perlakuan yang tidak pernah orang lain sangka. Sheryl tersenyum tipis, turun dari motor yang dibantu Alanzo. Belum sempat Sheryl merapikan rambut—yang dibuat berantakan oleh helm, Alanzo telah lebih dulu membuatnya saling berhadap-hadapan dan mengusap-usap rambutnya agar rapi.
Tanpa berbicara, Alanzo menautkan tangannya di antara jari-jari Sheryl seakan mengumumkan pada semua bahwa Sheryl adalah miliknya, dan tidak boleh ada yang menyentuh miliknya. Alanzo menggandeng tangan itu erat lalu mengajaknya melangkah.
Pandangan semua orang di kelas kini mengarah pada Alanzo dan Sheryl. Tak terkecuali Omero, Leon, Jehab, dan Kenart. Leon memandang mereka dengan ekspresi tak bisa diartikan. Sheryl hendak melangkah ke tempat duduk biasanya, tapi Alanzo mencegah. “Mulai sekarang gak usah deket-deket mereka!”
Ia menarik tangan Sheryl ke bangku paling pojok depan yang jaraknya dari ujung ke ujung jika dihitung dari tempat anggota Gebrastal duduk sekarang. “Gue mau duduk di sini sebelah Sheryl! Jadi lo bisa pindah ke tempat gue biasanya!”
Kedua cewek paling ambis di kelas kesayangan guru yang langganan duduk di depan itu mendongak, melebarkan mata saat Alanzo mengajaknya bicara. Ia melirik ke belakang—tempat yang biasa Alanzo dan Sheryl tempati—dan menemukan keempat anggota Gebrastal yang sedang menatapnya tajam. “Emm ... ma-mata aku minus jadi gak bisa pindah ke belakang!”
“Pindah sekarang juga!” perintah Alanzo tidak mau dibantah.
Sheryl memegang lengannya. “Kenapa harus duduk di sini? Kita bisa duduk di belakang—“
“Lo diem! Gue gak mau lo deket-deket sama bajingan!” sela Alanzo.
“Ta-tapi ... ki-kita udah biasa duduk di depan,” jawab cewek satunya takut-takut.
“Lo pindah tempat duduk, atau pindah dari sekolah ini?” Mendengar kalimat ngeri dari mulut Alanzo, kedua cewek itu langsung saja mengemasi barangnya dan beranjak pindah ke belakang pojok, tempat yang sudah seperti kandang singa bagi mereka berdua. Alanzo menarik Sheryl untuk duduk di sebelahnya. Tidak peduli dengan tatapan kesal Sheryl.
“Lo gak bisa semena-mena nyuruh orang pindah.”
“Yang gue lakuin itu buat lo, biar gak deket lagi sama para bajingan itu!”
“Mereka bukan bajingan, mereka temen lo,” tegas Sheryl terlihat tidak suka dengan kata-kata itu.
“Gue gak peduli, siapa pun yang udah lukain milik gue, gue gak akan maafin dia,” jawab Alanzo tak kalah sengit dari Sheryl. Belum sempat Sheryl ingin menjawab, seorang wanita paruh baya berpakaian rapi memasuki kelasnya dengan sebuah laptop di tangannya. Membuat seisi kelas langsung duduk tertib di bangku masing-masing.
“Good morning, Everyone!” sapa wanita berprofesi guru bahasa inggris di kelasnya.
***
Leon mengarahkan kakinya ke bangku di mana Alanzo dan Sheryl berada kala Miss Kinan selesai mengajar. Diikuti oleh Jehab dan Omero di belakangnya. Hanya Kenart yang duduk di bangkunya. Para siswa di kelas ini sudah pada keluar ke kantin, memberi kesan sepi di ruangan ini.
“Zo,” panggil Leon. Dari ekspresinya, cowok itu seperti tengah menyesali sesuatu dan Sheryl yakin jika cowok itu hendak memohon maaf pada Alanzo. Leon mendekat pada Sheryl, tapi dengan cepat Alanzo menarik Sheryl, menaruh cewek itu ke belakang punggungnya. Tatapan tajam dengan sinyal permusuhan langsung tertuju padanya.
“Mau ngapain lagi lo?! Gak puas nyakitin cewek gue?!”
“Kita ke sini mau minta maaf karena udah buat dia luka kemarin.” Omero angkat bicara untuk mewakili Leon. Meski ia tidak ikut-ikutan masalah kemarin. Alanzo hanya menatap cowok itu dingin, tidak berminat menjawab.
“Bacot!” sela Alanzo yang sedang tak berminta ribut, mengajak Sheryl pergi, tapi jalannya tidak dihalangi oleh Jehab.
“Minggir lo!” Meski ditatap tajam seperti itu, Jehab tetap tidak mau minggir.
“Kita nyesel udah ngelakuin sesuatu di luar sepengetahuan lo,” bebe Jehab tampak sangat menyesal. Nyatanya bukan hanya Jehab yang tampak frustasi. Sheryl bisa menangkap ekspresi mereka satu per satu yang mengatakan bahwa mereka menganggap Alanzo sudah seperti kawan keluarga. Seolah mereka tanpa ketua mereka bagaikan batang kara.
“Bacot!” ungkap Alanzo. Sejujurnya Sheryl juga tidak tahu apa yang sedang Alanzo pikirkan. Cowok itu menarik lengan Sheryl untuk pergi dari kelas. Kali ini tidak ada yang menghalangi mereka.
Alanzo membawa langkah keduanya menaiki sebuah tangga ruangan yang sangat familiar karena karena seringannya mereka mengunjungi tempat ini. Sedari tadi Sheryl hanya menuruti cowok itu. Mood Alanzo sedang tidak bagus. Balkon perpustakaan adalah hal yang dituju olehnya.
Keduanya saling berdiam menikamati pemandangan di sana sesaat sebelum Alanzo mengacak-acak rambutnya. “Lo tahu?! Mereka itu?! Argh!”
Sheryl tertegun sejenak sebelum menyentuh punggung Alanzo. “Mereka temen lo, Zo. Dan mereka bukan bajingan.”
“Mereka udah buat lo kacau! Mereka udah buat lo masuk rumah sakit!”
“Apa pun yang udah mereka lakuin ke gue, mereka cuma mau lindungin lo. Lo tahu? Mereka sayang sama lo!”
“Gue gak suka mereka lakuin itu ke lo.”
“Gue juga gak suka lo perlakuin temen-temen lo seolah mereka orang paling salah sedunia hanya karena belain gue!”
“Gue belain lo, harusnya lo seneng! Gue mau ngejaga lo! Lo malah belain mereka! Maksud lo apaan?!”
“Gue gak lagi belain mereka. Gue bilang, mereka temen lo dari dulu jauh sebelum lo kenal sama gue. Mereka yang udah ada sama lo, sedih seneng. Kalian dari dulu selalu bareng. Rasanya gak adil buat mereka kalo lo lebih milih orang baru ketimbang yang udah nemenin lo sejak dulu.”
Perkataan Sheryl membuat Alanzo terdiam cukup lama. Menelaah memori mereka di masa lalu, kala mereka tertawa bersama, memberi semangat untuk Alanzo, menyerang lawan bersama, tanpa ada permusuhan. Mereka juga yang membuat Alanzo merasa ada sebuah keluarga di dalamnya.
“Gue tahu gue gak mengenal kalian lama, tapi gue tahu kalian temen yang solid. Gue cuma gak mau hubungan lo retak hanya karena satu cewek.” Sheryl memegang tangan Alanzo dengan hangat sambil tersenyum tipis. Alanzo menoleh, langsung bertatapan dengan Sheryl.
“Gue gak mau gue jadi alasan kalian pecah. Mereka sahabat lo. Pun mereka lakuin salah, buktinya mereka minta maaf. Tuhan pemaaf, Zo. Gue harap lo juga jadi pemaaf,” katanya menepuk-nepuk punggung Alanzo dan mengelus tangannya. Alanzo tersenyum melihat wajah cantik nan redup Sheryl yang menenangkan. Semua perkataan Sheryl, entah mengapa menyalurkan energi positif pada dirinya.
“Jadi apa yang harus gue lakuin?”
Sheryl kembali tersenyum. Senyum yang mendebarkan bagi Alanzo. “Gue tahu lo bukan anak kecil. Gue tahu lo bisa mutusin sendiri apa yang harus lo lakuin.”
***