
Benzodiazepine. Sheryl menatap tablet di tangannya dengan mata nanar. Sudah lama ia mengonsumsi obat itu sejak kejadian yang berhasil membuat dirinya berubah total. Sheryl merasakan dirinya bukan seperti dulu, yang selalu tenang dan santai tanpa perlu memikirkan apapun yang terjadi. Tidak seperti sekarang yang hanya terlihat tenang dari luar.
Helaan nafas keluar dari hidungnya. Masih memegang tablet itu, cewek itu sibuk menimang-nimang apa ia harus membuang obat penenang itu ke tempat sampah atau tetap menyimpannya karena rasa takut kalau dirinya kembali kacau?
“Sheryl,” panggil seorang wanita paruh baya berjas putih dengan kacamata yang menambah kedewasaan wanita itu. Melambungkan seluruh pikiran dan lamunannya.
“Miss Evelyn?” beo Sheryl. Wanita yang sudah Sheryl anggap sebagai dokter pribadinya itu menghampiri, duduk di sampingnya sebelum memeluk tubuh Sheryl. Wanita itu kini menatap apa yang tengah Sheryl pegang. Sebuah obat yang dulu ia resepkan pada cewek itu. Wanita itu tampak mengerutkan kening saat Sheryl berusaha menyembunyikan dari dirinya dengan menggenggamnya erat.
“I know that! You don’t need to hidden the tablet!” Sheryl tidak menjawab. Matanya sibuk menerewang ke depan. “Sheryl, Miss tahu harusnya Miss gak ngeresepin itu ke kamu.”
“Ini yang Miss takutin dari kamu, obat penenangnya bisa buat ketergantungan.” Ia memegang tangan Sheryl erat saat Sheryl meneteskan air matanya. “Kamu boleh konsumsi obat itu waktu kamu bener-bener parah, Sheryl. Don’t consume every nigh! Don’t!”
“I’m trying,” jawab Sheryl.
“Karena setiap minggu kamu gak pernah dateng ke rumah sakit seperti instruksi Miss, mulai sekarang biarin Miss jaga kamu dengan menetap di rumah ini.” Mendengar itu, Sheryl langsung melepas genggaman tangannya, menatap wanita itu. Tidak, selama ini ia melarang dokter pribadinya itu tinggal bersama karena Sheryl tidak mau dikekang lagi, Sheryl ingin hidup bebas di Jakarta.
“Enggak, aku bisa jaga diri aku sendiri kok. Miss tenang aja.”
“Sheryl, kamu udah beberapa kali bolos setiap minggunya gak dateng ke rumah sakit. Kamu juga selalu ngelarang Miss buat jaga dan awasin kamu. Trus sekarang kamu kambuh lagi diluar pengawasan, dan setiap kali kamu kambuh kamu konsumsi obat itu lagi.”
“Tapi aku gak suka diawasi! Aku mau bebas!”
Dokter Evelyn menggelengkan kepalanya. “Miss gak mau kecolongan lagi, Sheryl. Minggu ini kamu udah tiga kali kayak gini, dan tiga kali konsumsi obat penenang tanpa sepengetahuan Miss,” ucapnya masih dengan nada lembut, menatap iba cewek itu. Sheryl tidak suka tatapan iba itu, tatapan yang seolah dirinya orang paling lemah sedunia.
Sheryl mengembuskan nafas, menatap ke arah lain. “Kasih aku kesempatan. Kali ini aja. Aku yakin aku bisa lupain kejadian itu tanpa obat, aku bisa lawan ini semua.” Muka serta nada cewek itu terlihat datar sekarang. “Aku mohon.” Ia menoleh pada Evelyn.
“Sheryl, kamu ....”
“Kalo Miss masih ngotot buat awasin aku setiap hari, tinggal sama aku, sampek ikutin aku ke sekolah, sama aja Miss gak yakin sama kemampuan aku buat berusaha.”
Evelyn menghela nafas berat, melihat Sheryl yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Evelyn benar-benar sayang dan mengkhawatirkan Sheryl, tapi ia tidak bisa memaksa cewek itu. “Oke, Miss kasih kesempatan satu kali lagi, kamu harus rajin ke rumah sakit setiap minggu, serahin obat itu ke Eros supaya bisa ngebatasi jumlah konsumsi kamu dalam sebulan, dan terus kabarin Miss! Miss gak mau terjadi sesuatu sama kamu!”
Sheryl menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban. Evelyn mengambil obat itu dari tangan Sheryl. “Biar Miss aja yang kasih ke Eros.”
“Miss pamit dulu, jaga diri kamu baik-baik! Inget kata-kata Miss tadi!” ucapnya sudah seperti ibunya sendiri. Wanita itu mengelus rambut Sheryl lalu berlalu dari samping Sheryl.
Sebelum ia benar-benar pergi, ia sempat berpapasan dengan Eros. “Kamu tahu ‘kan selama ini udah gak ada obat lagi yang bisa ngobatin dia? Dan saya juga gak mau Sheryl ketergantungan dengan satu-satunya obat itu. Tolong jaga dia baik-baik ....”
***
Leon menyipitkan mata, masih teringat apa yang Sheryl lakukan di kelas tadi. Sungguh hal yang sangat berbeda dari biasanya. Sebuah senyum kini terlintas di wajah cowok itu. “Sekarang gue tahu,” katanya sambil mengeluarkan kartu raja.
“Anjritlah lo!” umpat Jehab yang melihat kartu Leon sebelum kemudian menambah kartunya.
“Gue punya rencana buat ngerjain cewek itu!” Di ruang markas ini, hanya ada tiga orang yang singgah. Leon, Jehab, dan Andro. Entah pergi ke mana sisanya.
Andro yang sedari tadi menatap layar komputer, langsung mengalihkan perhatiannya pada Leon saat Leon menyebut ‘cewek itu’ yang jelas ia tahu siapa yang dimaksud. Tak jauh berbeda dengan Andro, Jehab kini menghentikan pergerakannya. Sedari tadi pikirannya memang tentang Sheryl.
“Lo lihat ekspresi dia tadi gak waktu liat layar LCD yang isinya gambar gergaji dan alat-alat bangunan?” tanyanya pada Jehab.
“Emang tadi dia kenapa?” tanya Andro tampak penasaran.
“Dia kayaknya agak ngeri kalo liat benda-benda tajam sampek dia keluar dari kelas saking gak suka lihat layar LCD!” kata Leon yang sepemikiran dari Jehab.
“Bentar, maksud lo phobia alat begituan?” tanya Andro yang diangguki Leon. Andro pun tertawa melihat anggukan kepala itu. “Lo pikir cewek kayak Sheryl bisa takut cuma sama begituan! Aneh lo!”
Andro menggeleng-gelengkan kepala seperti tidak percaya dengan Leon. Padahal Leon bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sheryl yang biasanya terlihat tenang tak terinterupsi, Sheryl yang biasanya santai tanpa ekspresi takut itu, mendadak aneh kala mendapati layar LCD yang menampilkan gergaji chainsaw. Meskipun Leon juga tidak percaya awalnya dengan berusaha mengelak, tapi instingnya mengatakan kalau Sheryl tidak suka benda-benda tajam itu. Phobia mungkin.
“Ck, lo gak lihat sendiri sih, Bang, gimana ekspresi dia tadi sampek dia lari dari kelas!”
“Terserah percaya atau enggak. Sekarang kita tahu kelemahan cewek itu, ‘kan?” Leon menaik-turunkan kedua alisnya pada Jehab seolah rencana di otaknya itu bisa tersalurkan hanya dari gerak-gerik wajah.
“Lo mau ngapain?” tanya Andro agak sanksi.
“Jahil-jahil dikit sama phobianya bolehlah ya. Gue penasaran kalo dia bisa teriak-teriak kayak Sean yang phobia kecoa.” Leon menatap Andro sambil tersenyum miring.
Leon tidak pernah tahu apa yang sebenanya terjadi dengan Sheryl.
***
Baca pesan author ya gess! Pentingg!