Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Balapan



Semua orang melebarkan matanya, kecuali Alanzo dan Sheryl. Alanzo tersenyum miring kemudian melihat ke arah Sheryl yang hanya menatap cowok itu dengan mata sengit, tapi tidak nampak takut ataupun kaget, lalu bola mata cewek itu memutar seperti tak punya rasa takut. Sebuah mimik wajah yang menyebabkan Alanzo bertanya-tanya apa yang ada di pikiran cewek itu sekarang dan apa yang harus cowok itu lakukan agar membuat cewek itu menurunkan harga dirinya.


Tidak ada orang yang mau mengacungkan jari bertaruh dengannya. Mereka semua tahu, bertanding dengan Alanzo memang dijamin mendapat keuntungan besar jika menang, tapi jika kalah mereka harus mempertaruhkan hal yang besar juga.


“Lo pikir gue siapa lo?” bicara Sheryl tak terima tapi masih dengan nada tenang.


“Gak ada, just a game and revenge, supaya lo gak main-main sama gue.”


“I never played with you.”


“Kalo gitu biar gue yang main-main sama lo.”


“Damn you!” Cewek itu mengacungkan jari tengahnya tepat di wajah Alanzo yang membuat orang di dekat mereka kaget karena ini pertama kalinya ada seseorang yang berani melakukan itu pada Alanzo. Cewek itu hendak pergi dari sana. Namun, perkataan Alanzo membuatnya berhenti.


“Pergi aja kemana pun lo mau, tapi lo gak akan bisa keluar dari sini, karena akses sirkuit ini gue pegang!” Alanzo menunjukkan handphone yang terdapat akses lokced modern dan mengunci semua pagar sirkuit secara otomatis dengan satu pencetan jari. “Lo baru bisa pergi setelah gue tanding.”


“Satu lagi, lo inget lo gak bawa ponsel, ‘kan?”


Sheryl berhenti di tempatnya, berbalik arah pada Alanzo. “Oke, let’s play together.”


Semua orang tersenyum puas mendengar itu. Alanzo mengarahkan matanya pada semua orang. “Jadi? Ada yang mau lawan gue?”


“Gue,” ucap Leon mengacungkan jari. Alanzo menyetujui.


Sheryl langsung saja berdecih yang menyebabkan Alanzo memandangnya.


“Kenapa? Lo takut diapa-apain Leon kalo dia menang? Tenang aja, Leon bakal tidurin lo berkali-kali setiap malam,” kata Alanzo terdengar amat sangat brengsek. Namun, Sheryl malah tertawa.


“Payah!” capnya pada Alanzo yang mulai menggertakkan gigi. “Lo pikir ... gue gak tahu taktik lo? Lo tanding sama temen lo sendiri supaya kalo lo kalah lo gak akan merasa terhina, bisa jadi lo sengaja ngalah buat ngasihin gue ke temen lo. Beda halnya kalo lo tanding sama musuh lo, lo bakal mau ngalah?”


Sheryl masih saja tersenyum tenang mendapati emosi di wajah Alanzo.


“Ken! Cepet lo tantang Serkan ke sini buat balapan sama gue!” pintanya pada Kenart tanpa mengalihkan arah matanya pada Sheryl. Sheryl mengangguk-angguk saat Alanzo tahu maksud dirinya.


Sedangkan Leon berdecak kesal. Ia mendekati Sheryl. “Gue tahu lo cuma mau cari aman ‘kan?”


“Cuma mau ngetes aja.” Sheryl menggidikkan bahu.


***


Kali ini Serkan dan kawanannya benar-benar datang ke area balapan milik Gebrastal. Cowok dengan motor ducati itu tersenyum meremehkan pada Alanzo saat pertama kali datang. Semua orang menatap cowok itu sinis.


“Setelah kalah kemarin, gak kapok lo mau balapan lagi?” tanyanya. Alanzo hanya menatap Serkan muak.


“Gak usah bacot lo! Kita buktiin sekarang!” Alanzo menyahut kunci motor yang dipegang Jehab.


“Hoamm! Malem-malem gini lo nantang gue balapan, pasti ada gak mungkin kalo gak ada maksudnya, ‘kan?”


Alanzo mengangguk. “Kita taruhan! Kalo gue menang, gue mau motor gue balik! Tapi kalo lo menang, lo bisa dapetin nih cewek!” Ia menarik tangan Sheryl mendekat padanya. Sheryl menghempaskan tangan itu, sungguh sebenarnya ia tidak suka dijadikan bahan taruhan. Tetapi apa pun yang akan ia lakukan, percuma. Ia tidak bisa kabur dari sini.


Serkan menilik penampilan Sheryl dari atas hingga bawah. Matanya terlihat menyipit, hingga beberapa detik, ia membuat semua orang menunggu dan tersenyum lebar.


“Oke,” sanggupnya.


“Udah cepetan, mana uang lo!” tagih Vendra—salah satu anggota Gebrastal—pada beberapa kawanan pendukung Serkan sebagai taruhan. Masing-masing memberi tiga juta.


“Gue yakin sih Serkan yang menang!” kiranya.


Serkan sudah menaiki motornya. Alanzo dengan mata elang dan wajah tegasnya menarik tangan Sheryl ke arena balapan. Semua orang melihat itu. Kebingungan dengan maksud Alanzo.


“Lo ikut gue!” tegasnya tanpa penolakan. Ia mulai memakai helm dan menaiki motor. Sheryl hanya diam melihat itu.


“Cepet naik!”


“Gue gak mau.”


Alanzo turun dari motornya lagi. Tanpa aba-aba, ia menggendong tubuh cewek itu ke atas motor lalu memakaikannya helm secara paksa. Setelah itu Alanzo menaiki motor, meng-gonceng-nya.


Sungguh perlakuan yang menyebalkan.


Kedua motor itu saling menyala berderu di gendang telinga. Cewek yang tadi berjaga di start mulai menghitung mundur ala bahasa inggris bersama benderanya hingga keduanya mulai menarik gas motor amat kencang. Saking kencangnya, Sheryl terpaksa harus memeluk pinggang Alanzo.


Alanzo terkekeh merasakan tubuhnya dipeluk. Ia melihat wajah Sheryl lewat satu spion yang sengaja ia arahkan padanya. Ekspresi yang masih tenang dan mata indah yang diterpa angin. Alanzo semakin meningkatkan kecepatan motornya yang membuat pelukan Sheryl semakin erat dan menyandarkan diri di punggung cowok itu.


Alanzo tidak bisa melihat wajah cewek itu lagi sekarang, sudah ketakutan atau masih tetap tenang.


Motor Neiman Marcus miliknya itu kini saling salip-menyalip dengan motor Serkan. Alanzo mengacungkan jari jempol terbalik padanya, dan tak berselang lama Neiman Marcus itu sampai pertama ke garis finish.


“Woahhh! Pak Ketua kita emang keren!”


“Yow, Bro! Kemampuan lo tuh gak bisa diraguin!” Jehab memeluk Alanzo yang masih ada di atas motor. Tersenyum puas pada Serkan.


Serkan menyerahkan kunci motor Harley Davinson pada Alanzo dengan tampang datar.


“Wuhu! Akhirnya lo dapetin motor kesayangan lo lagi!” Kini giliran Kenart yang memeluk Alanzo.


Fokus pandangan Serkan kini bukan pada Alanzo lagi, melainkan pada Sheryl yang menampakkan tampang biasa-biasa saja, tetap bersikap tenang. “Gue mau tanya sesuatu sama lo!” katanya tanpa sadar.


Semua orang kini mengalihkan perhatiannya pada Serkan dan Sheryl. “Kita tuh pernah ketemu gak sih?” Serkan sibuk menyipitkan mata.


“Enggak,” jawab Sheryl seadanya.


“Tapi kenapa ya ... gue ngerasa pernah ketemu lo, kenalan, deket banget, jadian?” Serkan memiringkan kepalanya, membuat orang-orang saling bertatap-tatapan dengan kalimat itu. Tak jauh berbeda dengan Alanzo yang mengerutkan kening.


Di luar dugaan Serkan, Sheryl malah tertawa. “Trus lo bakal bilang itu semua di kehidupan kita sebelumnya?” tebak Sheryl. “Rayuan lo basi.”


Semua orang jadi mengerti bahwa ternyata yang dikatakan Serkan hanya sebuah rayuan. Serkan menarik sudut bibirnya, menarik. “Oke, gue Serkan,” kenal Serkan yang langsung dihadang Alanzo.


“Lo kalah,” peringatnya.


Serkan mundur beberapa langkah masih memperhatikan Sheryl. “Lain kali, gue bakal dapetin lo! Gue tahu lo pasti cewek yang belum pernah tersentuh.”


***