
Alanzo menceritakan dari awal. Sheryl terlahir sebagai seorang putri satu-satunya dan anak ketiga dari keluarga Widjodinirat dengan nama Indonesia: Sheryl Auristella Widjodiningrat. Anak dari Menteri Pertahanan dan Kemanan Nasional dengan pangkat tentara tertinggi dan seorang wanita berdarah Italia.
“Itu sebabnya dia bisa fasih bahasa italia,” ucap Alanzo.
Sejak lahir, Sheryl telah diajarkan dengan penggunaan senjata secara papanya adalah seorang petinggi kemiliteran, Letnal Jenderal. Mulai dari panah hingga pistol. Gunanya untuk antisipasi dan bela diri. Sheryl juga sering diajarkan judo oleh Helios.
Itu sebabnya Sheryl bisa menggunakan panah dan pistol serta membanting tubuh Vano kala itu.
Dulu, sebelum ke Jakarta, Sheryl adalah sosok yang troublemaker. Drifting dan koleksi mobil sport mewah adalah hobi Sheryl sejak dulu yang selalu ditentang papanya karena terkadang melenceng dari aturannya. Segala cara akan Sheryl lakukan agar bisa drifting dengan Taletta dan Hawra yang memiliki hobi yang sama. Meski itu harus terlambat ke sekolah atau bahkan dikejar-kejar petugas.
Sheryl juga mengenal dunia malam. Ingat, mengenal bukan berarti melakukan.
“Itu sebabnya dia biasa aja waktu gue bawa ke balapan malam dan gue suruh ke club waktu itu. Itu sebabnya dia gak tertipu sama minuman yang Leon kasih ke dia. Sheryl terlalu pintar untuk Leon bodohin waktu itu.”
Mungkin kalian akan bilang Sheryl ternyata sebelas dua belas dengan Alanzo. Tidak, Sheryl berbeda. Alanzo suka melakukan judi, balapan taruhan, main cewek, mabuk. Sheryl tidak melakukan itu.
“Sekarang gue tahu kenapa dia bisa tahu apa pun soal lo dan kita semua. Itu karena dia tahu dari info yang papa lo kasih khusus ke dia?” Alanzo mengangguk saat Kenart bertanya. Kenart mengacak-acak rambutnya.
“Jadi, kita selama ini main-main sama cewek yang salah,” simpul Verla.
“Lo tahu? Dulu, dia siswa berprestasi di Europan School. Sekolah elite di Surabaya yang bisa request milih kelas di Indo atau di Eropa. Tapi dia pindah ke Jakarta karena kejadian traumatic-nya.”
“Tuh ‘kan apa gua bilang! Gua tuh pernah nemu foto dia di Surabaya. Dia pindahan dari Surabaya, bukan Bandung!” kata Jehab.
“Kejadian yang lo maksud itu apa?” tanya Andro, tidak pernah merasa se-penasaran ini. Alanzo terdiam.
“Selama ini dia gak sakit otak, dia gak phobia sama gergaji itu. Tapi trauma.”
Entah kenapa, rasanya sekarang tenggorokan Kenart tercekat. Pikirannya kembali saat ia menakut-nakuti Sheryl dengan gergaji itu. Ternyata Kenart telah memunculkan traumanya.
“Malam itu, Sheryl pulang sekolah karena habis drifting.” Semua orang mulai menyimak dengan serius, merapikan duduknya. Mata Alanzo menerawang hanya membayangkannya saja. Cerita yang diceritakan Dirgantara padanya saat itu membuatnya merasa sangat bersalah pada Sheryl.
Ia ingat ia pernah berkata Sheryl tidak pernah merasa kehilangan seperti yang ia rasakan, nyatanya Sheryl lebih merasakan apa yang ia rasakan.
“Trus?” Jehab ingin cowok itu melanjutkan.
“Om Dirgantara dan kak Julian lagi bertugas di luar kota, dan Kak Helios lanjutin studinya di Italia. Jadi tinggal mereka di rumah. Papa Sheryl dapet dari rekaman cctv dan kesaksian penjaga, mereka dihajar oleh dua orang misterius malam itu. Waktu Sheryl masuk gerbang, semua penjaga udah KO, bahkan ada yang tertikam pisau. Sheryl masuk ke rumah dan dia nemu Mamanya udah gak bernyawa dengan berlumuran darah.”
“Gue dikasih tunjuk rekaman cctv malem itu sama om Drigantara, gue lihat dua orang laki ngehabisin mamanya pake gergaji chainsaw, dan waktu Sheryl dateng, Sheryl teriak kenceng sambil gemeteran. Sasaran orang itu selanjutnya Sheryl. Mereka megang gergaji chainsaw itu dan diarahin ke Sheryl. Sheryl hampir habis kalo dua orang itu gak ditembak dua orang polisi yang baru dateng.”
“Kata om Dirgantara, dua laki itu pembunuh berantai buronan yang kabur dari penjara waktu mau dijatuhin hukuman mati. Dua laki yang gak ada mental. Mereka ngincer perempuan berdarah luar negeri, dan udah banyak ngehabisin nyawa. Sejak itu, Sheryl trauma,” lanjutnya. Pandangan mata Alanzo kosong. Ia menelan saliva-nya susah payah.
Kenart, Leon, Jehab, Omero, Andro, Verla, dan Eginta menatap Alanzo dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Tentunya mereka sedang mematung di tempat. Bahkan, kalaupun ada seseorang yang menggoyangkan tubuhnya, mungkin mereka masih tetap menjadi patung.
“Apa ...?” tanya Kenart lemas. Seluruh darah di tubunya berdesir terbukti dari kulitnya yang memerah. Rasa bersalah langsung menggerogoti jiwanya.
Alanzo ingin melanjutkan, tapi rasanya tidak sanggup. Jika ada pilihan, Alanzo tidak ingin menceritakan ini, tapi teman-teman bodohnya itu harus tahu supaya mereka tidak berlaku seenaknya pada orang lain tanpa tahu latar orang itu. Seperti yang Alanzo lakukan dulu.
“Sheryl menderita gangguan pasca trauma tingkat tinggi. Sejak hari itu, dia ngurung diri di kamar, takut, gak biarin orang nyentuh dia, dan kumat kayak yang lo lihat waktu lo nakut-nakutin dia pake gergaji itu.” Alanzo kini menatap Kenart sengit.
“Om Dirgantara bilang, mereka udah ngelakuin segala cara pengobatan, tapi nihil. Mereka datengin psikiater ahli, tapi Sheryl udah kayak orang gak waras. Lo bisa bayangin ‘kan ketika orang yang lo sayangin meninggal dengan cara yang gak bisa lo terima di depan mata lo?”
Pikiran Alanzo bukan hanya pada apa yang Sheryl alami, tapi juga pada kematian Delana. Delana meninggal dengan cara yang tak bisa Alanzo terima. Namun, saat tahu Sheryl mengalami hal yang sama, itu semua mengunggah kesadarannya. Semua orang melihat Alanzo meneteskan air mata. Kaget, jelas iya. Alanzo tidak pernah menangis sebelumnya, apalagi di hadapan gengnya.
“Boys don’t cry!” ucap Alanzo mengusap air mata di wajah datarnya. Tujuh orang itu mengerti dan hanya diam.
“Om Dirgantara gak mau ini berlanjut, jadi dia sedikit nutup berita ini dari publik buat keamanan Sheryl, walaupun itu semua udah kesebar luas. Banyak reporter yang mulai nyerang Sheryl sama pertanyaan di Surabaya, ngebuat dia tambah down, jadi om Dirgantara pindahin dia ke Jakarta dengan identitas yang beda.”
Jika kalian masih ingat saat Alanzo mengajak Sheryl melewati gang yang berbeda dan Sheryl ketakutan, itu karena Sheryl harus melewati gang yang biasa ia lewati. Ya, Dirgantara menempatkan Sheryl pada kampung yang sudah dimodif dengan tidak boleh adanya gergaji dalam gang itu, dan jika lewat gang lain, kemungkinan besar akan ada suara gergaji mengetahui kampung itu masih dalam tahap pembangunan.
“Karena selama ini rakyat tahu anak om Dirgantara itu cuma kak Helios sama kak Julian, om Dirgantara percayain Sheryl ke papa buat sekolahin di sekolah kita, karena gak akan ada yang kenal dia.”
Alanzo kini tersenyum tipis mengingat sesuatu. “Dan eror 404 itu ....”
***
A/N:
Maaf baru up ehehe
Btw guys maaf ya kejadian yang dialami Sheryl gak aku ceritain lewat flashback, soalnya kalo flashback tuh biasanya detail, dan itu kejadian sadis banget takutnya ga boleh sama Noveltoon ehehe🙏