
“Buon pomeriggio!” sapa seorang cewek berambut brunette dalam bahasa italia yang artinya ‘selamat sore!’, membawa banyak sekali paper bag, box kue, dan ranjang buah. Sheryl dan Miss Evelyn yang tadi sibuk berbicara, kini menoleh ke pintu. Menemukan dua cewek yang tengah berdiri di sana dengan senyuman ceria, atau lebih ke arah senyuman misterius?
Sheryl langsung saja bertatapan mata dengan Miss Evelyn yang mengerutkan kening kala mereka tanpa izin memasuki ruang inapnya. “Hai, Miss Evelyn! You’re look so beautiful from the last i saw!” ucap cewek itu.
“Thank you. How are you, Taletta?”
“Ouh, not fine when i see my bestie here,” jawab Taletta mencebikkan bibir berlagak sedih. Sheryl masih menatap Taletta dan Hawra heran campur terkejut karena nyatanya kedua cewek itu masih stay di kota ini, belum pulang ke habitat asalnya. Ia menatap Taletta seolah berkata ‘apa-apaan nih?’.
Taletta hanya membalasnya dengan satu kedipan mata kemudian menatap Miss Evelyn. “Waktu kita denger Sheryl masuk rumah sakit dari Eros tadi, kita panik bangettt. Untungnya kita lagi di Jakarta, jadi kita mutusin buat beli buah sama kue-kue buat jenguk.”
“Apalagi Sheryl masuk rumah sakit gegara temen-temen laknat dia, panik dong kita!” tambah Hawra diangguki Taletta.
“Jadi Eros cerita semua ke lo? Sejak kapan lo berdua kontakan sama Eros?” tanya Sheryl menyelidiki.
Hawra lalu tersenyum. “Sejak kita berdua ke sekolah lo, trus kita tahu alamat lo. Sejak itu, kita minta nomornya Eros. Kita nyuruh dia laporin apapun yang terjadi sama lo ke kita. Makanya kita tahu soal lo. Tapi lo tenang aja, mulai sekarang, lo gak bakal sendirian lagi. Kita bakal jagain lo kemana pun lo berada. Kita bakal serumah sama lo, sesekolah sama lo, pokoknya kemanapun tanpa perantara Eros lagi!” cerocos Hawra enteng.
“Enggak, nggak usah,” tolak Sheryl yang tak bisa membayangkan jika hidupnya dilengketi oleh kedua manusia di depannya.
Taletta memutar bola matanya. “Lo tuh gak bisa jaga diri lo kayak dulu. Lo non-pengawasan. Jadi kita bakal jagain lo!”
Mendengar itu Sheryl terkekeh. “Lo berdua bukan bodyguard gue, kan? Ada kerjaan lain yang lebih guna daripada ngawasin gue!”
“Anggap aja ini perintah dari papa kita!” Mendengar alasan klise itu, Sheryl menyipitkan mata. Nyatanya ekspresi Taletta dan Hawra yang mencurigakan itu dapat ia tangkap. Sheryl mengembuskan nafas saja, menatap ke arah lain. Taletta tersenyum miring melihat Sheryl tak membantah lagi lalu tatapannya beralih pada Miss Evelyn sambil tersenyum manis.
“Miss Evelyn mau jagain Sheryl ya?” tanya Taletta yang membuat Miss Evelyn hanya diam. “Gini, Miss, karena kita itu temen yang baik dan tahu apa-apa soal Shery, mendingan kita aja yang jagain Sheryl. Dijamin deh tiap hari dia bakal kinclong!”
“Saya sebagai dokter, tetap gak bisa melepas Sheryl.” Miss Evelyn membalas senyum manis itu.
“Sheryl butuh oksigen loh, Miss. Masa gak dilepas? Sakarotul maut dong ntar!” celetuk Hawra tanpa berpikir yang langsung mendapat pukulan dan pelototan dari Taletta. Hawra hanya tersenyum kikuk. “Maaf-maaf.”
“Miss.” Taletta mengambil nafas lalu mengeluarkannya. “Ini itu perintah Papa kita, karena kalo Sheryl gak sama kita, dia gak akan sembuh.”
Justru kalo mereka berdua gak ada, Sheryl merdeka, batin Sheryl.
Miss Evelyn hanya mengembuskan nafas mendapati puppy eyes Hawra dan wajah serius Taletta. Ia tahu keduanya adalah teman dekat yang selalu bisa membuat Sheryl tertawa sedari dulu. “Okeh. Saya bolehin. Saya serahin Sheryl ke kalian. Tapi inget, apa yang dia konsumsi, sama siapa dia berinteraksi, dan berapa kali minun obat harus diperhatiin. Kalian bisa?”
“Ck, gampang itu mah! Kita tuh super power rangers! Semuanya serba bisa!” Taletta mengacungkan jempol meyakinkan Miss Evelyn untuk menganggukkan kepala.
“Berhasil ‘kan rencana kita?” ucap Hawra yang diangguk-angguki Sheryl. “Berkat kita, Miss Evelyn gak akan ngawasin lo, dan lo bisa hidup bebas. Kita tuh lagi nolongin lo dari Miss Evelyn.”
Sheryl menggidikkan bahunya. Rencana keduanya itu sudah bisa Sheryl tebak. Ia lebih memilih memakan buah yang dibawakan Hawra tadi. Taletta pun juga begitu ikut-ikutan makan buah dan kue yang ia bawa sendiri dengan duduk di kursi samping brankar Sheryl. “Gue kepo sama yang namanya Alanzo, pacar lo ya?”
“Tau dari mana?”
Taletta menggigit apelnya, men-scroll layar HP dan menunjukkan pada Sheryl. “FYP dong, di-posting sama akun Jehabohoho.” Di sana terdapat sebuah JJ yang isinya foto Alanzo dan Sheryl. Sheryl meilhat itu, sebuah potret kala Alanzo pertama kali mengantarnya pulang usai dari club dulu. “Lumayan. Lebih ganteng dari si Vano.”
Mendengar nama itu, Sheryl mengerutkan kening. “Wait, Vano? Pacar lo?”
Hawra menganggukkan kepala. “Masih inget gak? Anak IPA 2? Dia sering nanyain kabar elo loh ke kita. Gimana lo di Jakarta. Padahal dia sendiri ‘kan juga sering pulang pergi Jakarta, Bandung, Surabaya, Eropa.”
“Vano siapa?”
Taletta dan Hawra saling bertatapan.
“Seriusan gak kenal cowok yang famous di sekolah kita dulu gegara gantengnya gak ada obat itu? Cowok jenius yang sering menangin olimpiade itu?” Sheryl hanya menggelengkan kepala.
“Masa bodo, sekarang bahasnya Alanzo aja! Kok lo bisa cepet pacaran sih?!” sewotnya. Sheryl lagi-lagi menggidikkan bahu, malas bercerita. Matanya mengerling ke luar jendela ruangan. Mendapati seorang cowok tampan ala dewa Yunani bertubuh gagah disertai tatapan menghunus sedang mengarahkan kaki ke ruangannya.
“Kalo dia ke sini, bilang aja kalian temen gue dari Bandung. Gue gak mau dia tahu sebenernya.” Taletta dan Hawra sangat-sangat paham alasan Sheryl yang satu ini. Belum sempat menanggapi, cowok tampan tadi kini memasuki ruangan.
Mata Alanzo menemukan kedua cewek cantik di sisi Sheryl yang menatap dirinya dengan mulut terbuka lebar, syok.
“Oh. My. God!” Taletta menyenggol Hawra yang juga melongo di tempat. “Ganteng banget, Anjir!” bisiknya dengan nafas tertahan.
“Ini Alanzo?” tanya Hawra refleks dengan pipi merah. Menelan saliva menyaksikan mahakarya tuhan yang tiada taranya. Badan gagah dan tinggi seukuran anak SMA, muka kinclong non-jerawat, alis tebal ala manurios, jawline rahang tegas, bibir pink dengan hidung mancung, dan tatapan mata jernih seperti elang. Ouh, God! Hawra belum pernah menemukan manusia se-ganteng ini.
“Alanzo ... iya! Dia pasti Alanzo soalnya mirip di tiktoknya Jehabohoho! Anjrit, wajah aslinya lebih ganteng dari di foto!” bisik Taletta pada Hawra tak mengalihkan perhatiannya dari Alanzo.
Alanzo mengerutkan kening, menatap manusia yang masih mematung itu dengan aneh sebelum menghampiri Sheryl seolah tak peduli akan keduanya. “Kamu udah gak papa?”
***