Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Bencana



Alanzo mengalungkan jaket hitamnya untuk Sheryl saat udara malam mengelus kulit halus cewek cantik itu. Ia tidak rela jika gadisnya itu kedinginan barang secuil pun. Setelahnya, Alanzo kembali melajukan motor Kawasaki Ninjanya itu membelah jalanan sepi menuju kota.


Setelah mampir ke suatu restoran untuk makan malam, kini tujuannya rumah Sheryl. Alanzo tidak akan setega itu membiarkan cewek yang tak tersentuh macam Sheryl pulang berlarut malam.


Gasnya motornya memelan saat memasuki area gang. Hanya saja, dahinya kini mengerut saat mendapati banyak cowok berjaket hitam duduk di atas motor di depan rumah Sheryl. Semua orang menoleh ke arahnya kala menangkap flash dari motor Alanzo.


Sudah ada Andro, Omero, Jehab, Leon, Eginta, Verla, dan tentunya Kenart yang sangat bersemangat menyambut kedatangannya. Sheryl turun dari motor Alanzo yang disambut oleh wajah tak bersahabat anggota Gebrastal.


“Pada ngapain ke sini?” tanya Alanzo melepas helmnya dan turun dari motor.


“Mulai sekarang mendingan lo jauhin cewek murahan ini!” kata Kenart muak, menunjuk-nunjuk muka Sheryl. Tidak terima gadisnya ditunjuk seperti itu, Alanzo menghempas tangan Kenart secara kasar, maju untuk melindungi Sheryl dari Kenart.


“Maksud lo apa, huh?!” Alanzo mengangkat dagunya.


“Lo tahu? Cewek ini tuh simpanannya om-om!” tegas Kenart lantang. Anggota Gebrastal lainnya hanya diam, tidak mengelak apa yang Kenart katakan.


“Lo denger ya, gue lagi gak pengin bikin masalah malem ini! Gue udah biarin lo bebas setelah apa yang lo lakuin bukan berarti gue biarin lo ngelunjak!” Alanzo menekankan nada di setiap kata. Tangannya sudah mengepal, siap untuk membogem Kenart.


Kenart tertawa. “Sebucin itu ya lo sekarang sampek lo buta kalo dia udah bohongin lo!”


Sheryl kali ini langsung menatap Kenart, diam.


Alanzo mencengkeram kerah Kenart yang membuat Andro dan Omero turun tangan untuk mencegah keduanya adu jotos. “Udah, Zo! Lo dengerin kita dulu!” ucap Andro menahan tubuh Alanzo, dan Omero menahan Kenart. “Yang diomongin Kenart itu gak ada salahnya!”


Tubuh Alanzo menghempas Andro, menatapnya tajam. “Maksud lo apaan, huh?!”


“Cewek yang ini tuh gak kayak yang kita kira. Dia udah bohongin lo kalo dia cuma cewek polos yang diasuh penjual bakpao.” Eginta angkat bicara, menatap Sheryl yang juga menatap dirinya. Sheryl terlihat diam kali ini. Seolah membiarkan Eginta berbicara. Mungkin kali ini ia tidak akan berbohong lagi mengenai dirinya.


Eginta kini mengeluarkan handphone, menunjukkan sesuatu yang membuat Alanzo langsung menatap Sheryl tak percaya. “Lo lihat rekaman CCTV ini. Ini Sheryl, ‘kan? Dia sewa kamar hotel sama om-om. Kita udah cek kuitansi pada tanggal yang sama, dan bener, atas nama Sheryl Auristella,” katanya menyerahkan sebuah kertas.


Sheryl mendekat dan melihat apa yang ditunjukkan Eginta bingung.


“Ini lo, Sher?” tanya Alanzo masih tak percaya.


“Alanzo, itu ....”


“Gue butuh lo jujur, ini lo?!”


Sheryl ingin menjawab, tapi sebelum itu, Eginta kembali menunjukkan sesuatu yang sangat mengejutkan. “Lo lihat deh rekaman video ini, ini kita rekam secara sembunyi-sembunyi di pesta ulang tahun Mama lo kemarin. Waktu dia menghilang dan lo nyariin dia, dia ketemu sama om-om itu dan sempat cium kening kalo lo mau tahu!”


Alanzo langsung merebut ponsel Eginta darinya. Menamatkan video itu dari awal hingga akhir, mulai bagaimana reaksi Sheryl pada pria itu hingga pria itu mencium kening Sheryl dan Sheryl tidak menolaknya sama sekali. Dada Alanzo terasa panas kala mendengar kalimat terakhir Sheryl pada pria itu yang sangat terekam jelas. “I love you too.”


Ada rasa sakit dan amarah kini di matanya. Ia menoleh pada Sheryl dengan wajah datar. “Ini lo, ‘kan?”


“Aku bisa jelasin kalau itu—“


“Kita harus ngobrol—“


“GUE TANYA INI LO ATAU BUKAN?!”


Sheryl memejamkan matanya kala mendengar suara lantang Alanzo yang keras tepat di depan matanya. Ia tidak berekspresi apa pun saat ini, masih bisa berlagak tenang dengan berdirinya yang tegap. “Ya, itu gue.” Setelah itu, Alanzo terkekeh sambil memundurkan langkah masih dengan menatap Sheryl tak percaya.


“Jadi lo udah bohongin gue?” tanya Alanzo bernada datar, dipenuh perasaan sesak dan sakit hingga tulang-tulangnya.


“Maaf,” ucap Shery tidak mengelak.


“Sekarang gue mau tanya, lo bakal pilih gue atau dia?” Pertanyaan Alanzo itu membuat semua orang langsung menatapnya tak percaya. Mereka semua tahu, Alanzo bukan orang yang akan memberi kesempatan pada seorang cewek sekali cewek itu telah membohonginya. Biasanya Alanzo akan meninggalkan cewek itu begitu saja tanpa perasaan. Tapi kali ini?


“Apa-apaan sih lo, Zo?!” tanya Kenart tidak terima dengan tindakan tak adik Alanzo.


“Lo diem! Biarin gue selesein masalah gue!” tunjuk Alanzo pada Kenart. Auranya penuh emosi. “Jawab! Pilih gue atau dia?!”


“Kenapa pertanyaan lo kayak gitu?! Kenapa lo gak nanya siapa dia—“


“Gue gak suka bosa-basi, Nona!” tegas Alanzo, menandas mata Sheryl. “Gue udah tahu, lo simpenannya, ‘kan? Jadi gue tanya, pilih gue atau dia?”


“Maksud lo apa?”


“Lo pasti mau uang, ‘kan? Lo tinggal milih sumber keuangan lo, dia atau gue?” kekeh Alanzo merendahkan. Rasa sesak dan kecewa Alanzo kini telah mengalahkan rasa sukanya pada Sheryl. Sheryl menatap mata Alanzo nanar.


“Gue gak semurah itu, Zo!” tekan Sheryl.


“Pilih gue atau dia?”


Kali ini, Sheryl menatap mata Alanzo pernuh rasa kesal karena pandangan Alanzo yang tak lagi mempercayai dirinya. “Dia-lah. Kenapa gue harus milih lo? Orang baru di hidup gue yang gak tahu apa-apa soal gue? Sedang dia? Dia orang yang gue sayang dari dulu!” tandasnya tak kalah menatap tajam pada Alanzo, meski terselip rasa sakit di matanya.


Mendengarnya, Alanzo mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi yang membuncah di dada. Ia mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa hambar. “Haha, ternyata bener apa kata papa gue. Gue gak tahu apa-apa soal lo, dan lo udah bohongin gue. Gue bakal hilangin semua perasaan gue ke lo. Mulai hari ini kita putus!”


Jleb! Kata-kata terakhir Alanzo seakan merobek jantung Sheryl saat itu juga. Kenapa cowok itu pergi saat ia mulai memiliki perasaan padanya? Kenapa gak dari dulu?


Alanzo memundurkan kakinya, menaiki motornya. “Lo semua pulang ke markas! Mulai malam ini, gak usah datengin rumah ini lagi! Jangan ada lagi yang temuin dia! Gue gak akan ketemu dia lagi!” seloroh Alanzo pada semua anggotanya. Mereka semua menurut. Mengikuti sang Ketua yang kini melajukan motor dengan tatapan kecewa. Meninggalkan Sheryl yang masih mematung di tempat.


Suara motor yang kian pergi terngiang di telinganya. Ia memundurkan langkah saat merasakan hati serta tubuhnya remuk redam, seakan menyesal telah membiarkan sesuatu yang berharga pergi dari hidupnya.


***


A/N:


Guys boleh lanjut, hari ini aku up 2 eps ya sebagai ganti minggu lalu.