
Lip cream berwarna nut itu kini tergeletak di antara beberapa kertas yang bertaburan, membuncahkan warna kemerahan ke lantai. Kedua cewek itu langsung mengambil barang mereka yang terjatuh di lantai usai keduanya bertabrakan cukup keras.
“Uh, pecah!” ucap Leyana melihat lip cream berkemasan mewah itu yang isinya tinggal setengah. Sheryl hanya melirik, tidak berminat menanggapi. Lagian, tabrakan mereka juga ulah Leyana. “Lo gak ada minatan ganti lip cream gue ya?”
“Nggak. Lo sengaja ‘kan nabrak gue supaya bisa ngomong sama gue?” tebak Sheryl sambil terkekeh. Leyana langsung diam saat maksudnya terbaca oleh Sheryl. “Cara lo pinter juga.”
Leyana berdiri, menatap sinis Sheryl. “Siapa juga yang mau ngobrol sama cewek miskin murahan kayak lo? Gak level!”
“Buktinya lo sekarang ngomong, ‘kan?”
“Lo denger ya! Gue itu pacar dari ketua Gebrastal, jadi mulai sekarang lo gak usah sok berani ke gue! Gue juga cuma mau ingetin sih, Alanzo itu sekarang milik gue, jadi berhenti ngelirikin atau ngegodain dia lagi, karena dia udah muak sama lo!” kata Leyana maju beberapa langkah, memegang dagu Sheryl secara kasar.
Sheryl dengan refleks langsung menarik tangan cewek itu hingga terpluntir, membuatnya kesakitan. Namun, yang menjadi fokus Sheryl kali ini adalah sebuah tato di leher Leyana yang kini ketara. Tato yang sepertinya pernah Sheryl lihat.
“Anjing lo!” Leyana melepas tangannya secara kasar, begitupun Sheryl saat Alanzo dan gerombolannya melintas, menatapnya tajam.
“Lo apain cewek gue, huh?!”
“Sayang, dia tadi nabrak aku trus narik tangan aku! Sakit tahu! Kamu tahu? Gara-gara dia, lip cream mahal aku jadi pecah!” rengek Leyana. Sedangkan mata semua anggota Gebrastal menatapnya tajam.
“Nanti gue beliin yang baru!” ucap Alanzo.
“Beneran?” tanya Leyana yag diangguki Alanzo.
“Udahlah, mending sekarang kita ke lab, ada pembelajaran nih!” peringat Omero membuat Alanzo, Leyana, dan lainnya meninggalkan Sheryl yang hanya menatap semua itu tanpa ekspresi.
“Nanti pulang sekolah, kalian jadi nganterin aku sama Alanzo nge-date ke forest, ‘kan?” Samar-samar, Sheryl mendengar percakapan mereka saat mereka menjauh. Hal yang bisa Sheryl tangkap, keenam orang itu mungkin bakal healing ke hutan untuk rencana nge-date-nya.
***
Drrtt! Drrtt! Drrtt!
Cowok yang sedang menyesap rokoknya itu melirik ke arah ponsel yang terletak di sampin cangkir kopinya. Ia mengambil benda pipih berwarna kotak itu saat membaca nama yang tertera di layar. “Iya?”
Butuh sekitar hampir satu menit cowok itu terdiam untuk mendengar suara seseorang yang sedang berbicara di seberang sana sebelum akhirnya ia menjawab. “Terserah lo.”
Vano membuang putung rokoknya, menghela nafas secara perlahan kala telinganya mendengar suara melengking di teleponnya. Berpikir hingga bermenit-menit, membiarkan orang yang sedang meneleponnya itu menunggu. Ini adalah keputusan finalnya. Vano tidak ingin menundanya lagi. Kepalanya mengangguk perlahan. “Okey, gue siap!”
“....”
“Gue yakin. Lakuin seperti rencana lo, dan gue bakal beraksi waktu semuanya berjalan.” Setelah mendapat persetujuan dari orang di seberang sana, Vano menutup teleponnya. Ia menyesap kopinya mengingat sesuatu. “Sheryl ....”
“Kenapa gue harus selalu inget lo di setiap waktu?” gumamnya menatap sebuah japit kupu-kupu.
Bruk! Vano langsung menoleh ke arah orang yang telah menabraknya. Menemukan wajah seorang cewek cantik bermata almond yang juga menatapnya kaget. Mulai dari mata, hidung, bibir, alis, serta rambut yang indah. Ini baru pertama kalinya Vano bertatapan secara langsung dengan cewek yang selama ini ia kagumi.
“Lo ... gak papa?” tanya Vano tampak khawatir saat cewek itu seperti tergesa-gesa akan sesuatu dengan nafas ngos-ngosan.
“Gak papa, sorry!” Sheryl hendak melangkah kembali.
“Bentar!” teriak Vano menghentikan langkah Sheryl. “Lo Sheryl, ‘kan?”
“Gue Vano.” Vano menjulurkan tangannya. Belum sempat Sheryl menyahuti, kedua cewek yang tengah berlari dari arah yang sama dengan Sheryl, langsung menarik Sheryl untuk pergi.
“Ayo! Cepetan, Sher! Pak Nandes makin deket!” teriak Taletta. Ketiganya kini berlari menjauh. Vano hanya diam. Mengambil sebuah japit kupu-kupu yang tadi Sheryl pakai tak sengaja cewek itu jatuhkan. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya sambil menatap japit itu.
***
Bel pulang sekolah bebunyi. Murid-murid mulai keluar dari kelas masing-masng dengan air muka gembira, seolah bel itu adalah pelepas penat usai pembelajaran delapan jam lamanya. Sheryl mengemasi barang-barang di mejanya lalu mengayunkan tasnya ke pundak. Cewek itu mengetikkan sesuatu di ponselnya, meminta seseorang untuk menjemputnya.
“Dijemput?” Sheryl mengangguk saat Rimbi menanyainya. Dua manusia itu keluar dari kelas, berjalan di koridor menuju gerbang depan. Ngomong-ngomong, semenjak semua orang tahu Sheryl putus dari Alanzo dan banyak gosip beredar yang tak pernah diklarifikasi Shery, tidak ada orang di kelas yang mau mendekatinya lagi meski hanya sekadar menyapa, kecuali Rimbi. Hanya Rimbi yang masih setia menemani cewek itu.
“Sumpah, Sher! Lo kemarin kereenn bangett bangett bangett! Gue aja gak bisa berkata-kata!” puji Rimbi mengingat gimana kecenya Sheryl waktu memanah kemarin.
“Thank you,” ucapnya tersenyum. Rimbi mulai membuka buku diarinya untuk menuliskan sesuatu.
“Zaman gini masih nulis di dairi aja!” celetuk Sheryl sambil tertawa.
“Ini tuh namanya law off attraction! Gue lagi nulisin wish gue biar suatu hari terwujud!” balasnya yang diangguk-angguki Sheryl. “Sekarang tanggal berapa?”
Sheryl mengetuk layar iphone-nya. “Sebelas Mei.” Seketika, Rimbi berhenti menulis, bergaya seperti orang kaget. “Kenapa?” tanya Sheryl.
“Beneran sebelas Mei?” Sheryl menganggukkan kepala. “Tumben.”
“Kenapa sih?”
Rimbi melirik ke kanan-kiri, seakan ada sesuatu yang akan mengintai dirinya. Kepalanya mendekat pada Sheryl untuk berbisik. “Harusnya tanggal ini Vernos nyerang sekolah kita.”
“Hah?” Sheryl masih tak mengerti.
“Setiap empat bulan sekali, Vernos bakal nyerang sekolah kita buat ngelawan Gebrastal kayak waktu itu. Biasanya tanggal dari penyerangan mereka itu maju. Delapan bulan yang lalu mereka nyerang tanggal tiga belas, empat bulan yang lalu mereka nyerang tanggal dua belas, dan sekarang harusnya tanggal sebelas mereka nyerang, ‘kan? Gue selalu ngeprediksi itu semua, dan gak ada satu pun murid di sekolah ini yang nyadar.”
“Rasanya gak mungkin Vernos gak nyerang tahu mereka selalu rutin buat sekadar adu bogem atau adu kekuatan!” lanjutnya heran melihat suasana sekolah yang sepi.
“Ternyata lo sememperhatiin itu ya sama Gebrastal!” balas Sheryl yang sebenarnya juga heran.
“Gue tahu kali fakta-fakta rahasia Gebrastal yang orang lain gak tahu!”
“Tahu dari mana?”
“Nguping-nguping. Lo mau tahu gak alasan Gebrastal sama Vernos selama ini musuhan? Tapi lo harus diem ya!” Sheryl mendekatkan telinga. Ternyata Rimbi tidak sediam atau selurus yang ia kira. Cewek itu terlalu pintar untuk dikatakan cupu. Rimbi sosok yang tahu lebih dari yang ia tahu. Sosok intel jenius yang terlihat diam. “Gue pernah nguping, katanya ketua Vernos, gue lupa namanya siapa ya ....”
“Zezan?” tanya Sheryl.
“Ah iya! Zezan! Dia itu ....”
***
A/N:
Hay guys! Udah siap bertempur dan sampai ke puncak cerita?! Okey, guys sebelumnya maaf ya aku belum sempet nyapa pembaca, but besok aku sempetin. Makasih buat kalian yang udah mau baca sampek part ini, pantengin terus ya! Dikit lagi!