Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Error 404: Page Not Found



“Coba lo cari di google nama Sheryl Auristella Widjodiningrat!” Kenart mengambil laptopnya menuruti apa yang dikatakan Alanzo meski mereka bisa menebak hasilnya akan tetap sama: Eror 404.


Alanzo malah terkekeh. Ia tidak akan tahu tips ini jika tidak berbincang dengan papanya tadi. Semua orang menatap Alanzo heran. “Sekarang cari nama ‘Placida Nasheryl Fiorella’ pake nama italia!”


Kenart mengerutkan kening, tidak biasanya Alanzo bosa-basi seperti ini. Sepertinya cowok itu sedang kesambet. Namun, kini mereka semua membelalakkan mata kala melihat wajah Sheryl muncul di pencarian. Semua berita tentang Sheryl termuat di sana meski dalam bahasa italia.


“Lucu,” ucap Alanzo menggeleng-gelengkan kepala. Semua orang semakin tidak mengerti maksud Alanzo.


“Apaan sih?” tanya Jehab.


“Kalo lo pinter, lo pasti tahu.” Alanzo meneguk minuman kalengnya untuk merefreshkan pikiran setelah menceritakan banyak soal Sheryl. Gila! Ini ke sekian kalinya Alanzo bisa bercerita panjang soal orang lain.


“Elah, lo kek gak tahu gua sama Jehab! Otak kita terlalu cetek buat mikir ginian!” ucap Leon mencairkan suasana yang tadi sempat tegang.


Jehab langsung menggampar Leon. “Ngapain lo sebut gua, njing! Lo kali yang cetek! Gua masih bisa IT, Bro!” Sedangkan Eginta dan Verla menyipitkan mata, merasa tertantang saat Alanzo malah mengajaknya tebak-tebakan.


Omero juga mencari nama yang Alanzo sebutkan tadi. “Jadi, nama aslinya Placida Nasheryl Fiorella? Tanggal lahir aslinya tanggal empat bulan empat?”


Alanzo mengangguk. “Itu nama italianya.”


“Buset! Punya dua nama, punya dua akta nih!” Verla berdecak.


“Bentar! Bentar! Gue mulai ngerti!” ujar Eginta. “Eror 404 itu artinya page not found. ‘Page not found’ kalo disingkat PNF. PNF itu inisial nama dia bukan sih? Placida Nasheryl Fiorella! Dan 404 itu ... tanggal dan bulan lahir dia! Tanggal empat bulan empat!”


Penjelasan dari Eginta itu akhirnya menerangi otak mereka semua. Alanzo menganggukkan kepala.


“Itu sebabnya waktu kita cari nama ‘Sheryl Auristella’ selalu eror?”


Alanzo menggeleng. “Bukan cuma itu, tapi karena om Dirgantara mau sembunyiin identitas Sheryl dari kita, supaya gak ada reporter atau pertanyaan-pertanyaan lagi soal kejadian itu ke Sheryl.” Ia menggidikkan bahu kemudian. Alanzo sepertinya sudah kerasukan jin. Entah kenapa ia terlalu senang menyebut nama Sheryl dan memikirkan apa pun tentang Sheryl sekarang.


Padahal Alanzo tidak suka bercerita! Sial!


“Busett! Cantikk, anjir!” Jehab membelalakkan mata kala Verla yang tadi men-stalking instagram Sheryl menunjukkan padanya. Bukan, bukan Sheryl yang jadi fokus Jehab. Kalau Sheryl cantik, tidak usah ditanyakan. Tapi yang jadi fokus adalah dua cewek yang ada di sebelah Sheryl.


Cecryl.404




5.550 suka


@taletta.jpg @abouthawra


Di sana bukan hanya satu gambar yang menyatakan sebetapa akrabnya Sheryl dengan Taletta Hawra, tapi masih banyak lagi. Mulai dari saling pelukan, cium pipi, pake kaca mata viral, sampai duduk mengacungkan jari tengah. Akan tetapi semua gambar itu terlihat lucu.






Ada juga gambar Sheryl berdiri di depan mobil mewahnya usai balapan.


Cecryl.404




6.689 suka


Caption: just for fun



“Heh, cepet pencet tag-tag an cewek yang ama Sheryl tadi!” pinta Jehab.


“Mau apa lo?” tanya Verla.


“Ck, elah! Sini gua liat nama akunnya!” Verla mendengus, menunjukkan akun @abouthawra pada Jehab. Jehab tersenyum miring, akhirnya ia bisa move on dari Rayna.


“Alanzo, sudah kasih tahu temen-temen laknat kamu ini soal Sheryl?” tanya Jovan yang baru datang, membuat mereka terdiam mendengar perkataannya. Entah hanya candaan atau sindiran mengetahui Jovan yang sedari dulu tidak menyukai geng Gebrastal.


Alanzo menganggukkan kepala. Memang, Jovan tadi sempat menyuruh Alanzo untuk menceritakan semua tentang Sheryl ke teman-temannya supaya teman-temannya tidak melakukan hal yang aneh-aneh seperti tempo hari. Jovan ikut mendudukkan diri di sofa. “Bagus, dengan begini gak ada yang bisa nilai orang dari tampangnya doang, ‘kan?”


Mereka semakin terdiam. “Jadi gimana?”


“Gimana apanya?”


“Udah nyesel selama ini ngehina orang yang lebih dari kalian? Atau nyesel main-main sama orang yang salah?” tanyanya. Semuanya kembali merasa bersalah pada Sheryl. Selama ini mereka selalu menghina Sheryl anak orang miskn yang tidak punya harga diri, atau tidak pantas dengan Alanzo, menganggap Sheryl hanya sok-sok an. Padahal nyatanya, Sheryl lebih dari mereka.


Terkadang terlihat diam biasa saja bukan berarti cupu.


“Maaf, Om!” ucap Verla.


“Kenapa minta maaf ke Om?” Jovan mengernyit. “Kalian gak punya salah ke saya.”


“Pada intinya, saya cuma mau kalian gak ngremehin orang yang lebih rendah dari kalian. Pasalnya, kita semua sama, ‘kan?” Tidak ada yang menjawab. Mereka merenung masing-masing. Jovan menghela nafas. “Walau dulu saya sering pilih kasih, tapi sejak Delana gak ada saya juga sadar.”


Ia mengangguk. “Lanjutin. Jangan karena permasalahan ini pertemanan kalian rusak!”


***


“Bukannya Papa gak suka aku temenan sama mereka?” tanya Alanzo melihat ke arah bawah. Malam ini ia dan papanya sedang berada di balkon menikmati angin untuk saling bicara.


“Kamu boleh temenan sama siapa aja, asal gak ngelakuin hal negatif yang kamu lakuin dulu. Judi, taruhan, berantem, atau berhubungan di luar nikah, Papa gak suka.”


“Senakal-nakalnya aku gak bakal ngelakuin itu kali ke cewek!”


Jovan tertawa, meminum sodanya. “Papa percaya.” Ia menghadapkan Alanzo ke arahnya, memegang bahu cowok itu. “Denger Alanzo, Papa tahu selama ini Papa salah. Harusnya Papa gak nekan kamu buat jadi kayak Vano. Harusnya dulu Papa ikutin apa hobi kamu dan sadar kamu bukan anak yang suka ditekan. Papa minta maaf soal itu semua.”


“Bilang kayak gitu karena udah tahu Vano yang sebenernya?” kekeh Alanzo.


Jovan menggeleng. “Selama ini Papa gak pernah mihak antara kamu dan Vano, Papa cuma marah karena kamu bandel. Denger, semua yang Papa lakuin selama ini karena Papa sayang sama kamu!”


“Dulu Papa selalu mandang kamu buruk, tapi sejak ada Sheryl, Papa rasa kamu mulai berubah dan nunjukin kalau ternyata kamu punya sisi baik, itu cukup buat Papa lega.” Jovan menatapnya serius kemudian tersenyum tipis membuat Alanzo terdiam. Selama terlahir di dunia ini, Alanzo tidak pernah melihat papanya sekali saja tersenyum padanya.


“Sheryl bilang ke Papa, kamu bantuin dagangan orang di jalan. Kamu mau berbaur sama kalangan biasa, dan kamu gak pernah keluarin orang dari sekolah lagi kayak dulu.” Mungkin Alanzo tidak pernah menyadari itu, tapi orang lain mengamatinya.


Alanzo ikut tersenyum tipis. Mungkin, mulai hari ini Alanzo akan memperbaiki semua sifatnya karena perkataan papanya itu.


“Makasih udah jadi anak Papa.” Entah mengapa ada rasa senang dan kebanggaan tersendiri di dalam diri Alanzo mendengar itu. Percayalah itu adalah kata-kata yang selalu dinantikan seorang anak dari orang tuanya.


“Thanks juga, Pa.”


***


Biar aku jelasin, guys, yang belum ngerti. Jadi Sheryl lahirnya tanggal 04 bulan 04, jadinya 404.


Nama italia dia inisial PNF (Placida Nasheryl Fiorella)


Nah, PNF itu kepanjangannya Page Not Found juga, jadi nyambung ya.


Pokok gitu intinya, ngerti kan?😭


OKE GUYS BAB INI ADALAH INTI, APAKAH SIAP MENGHADAPI ENDING?!