
“AYO CEPET! CEPET! BARIS DI DEKER TIANG BENDERA!” kerah pak Nando, mengarahkan semua siswa yang terkena guru piket karena bolos untuk hormat di bawah bendera, di bawah terik matahari yang siap-siap bakal menggosongkan kulit mereka.
“Aish ... kalian ini! Sukanya bolos!” gerutunya pada barisan itu.
Kini, suara Bu Ester yang mendominasi lapangan panas itu. Wanita itu memerintah Alanzo dan Sheryl yang baru datang untuk ikut hormat di bawa tiang bendera. Sheryl dapat mengenali semua siswa yang sedang baris itu. Ada Omero, Leon, Jehab, serta Serkan yang hanya mendengus malas.
Di susul Kenart yang juga datang bersama Glenca dan kedua babunya.
“Kamu? Sheryl anak beasiswa itu ya? Kamu juga bolos?!” kaget pak Nando yang tidak dijawab olehnya. Semua orang di sini melirik pada Sheryl. Pak Nando terlihat menggeleng-gelengkan kepala pusing. “Emang kalo anak baik-baik dicampur anak gak bener jadinya ikut gak bener.”
Alanzo mengepalkan tangan tak terima seolah ingin menonjok pria itu, tapi dengan cepat tangan lembut Sheryl menariknya. “Kalo lo bales berarti sama aja lo terima kalimat. Kalo lo tetep tenang, dia bakal ngalah dengan sendirinya. Calm down, itu semua cuma buang tenaga.” Sheryl mengatakan itu dengan mata lekatnya.
Entah racun apa yang Sheryl berikan, Alanzo perlahan dapat menenangkan diri dan mengontrol emosi kala menatap mata Sheryl.
“Tetep hormat dan berdiri di sini sampek pulang sebagai hukuman karena kalian bolos!” perintah pak Nando yang membuat Glenca melotot.
“What?! Yang bener aja! Empat jam kita bakal dijemur di sini?! Kulit saya bisa gosong, Pak! Lagi, saya gak pake sunscreen tadiii! Kulit saya sensitif! Nanti kalo merah-merah gimana dong?!” Glenca mengusap dahinya dengan lagak lebay.
“Saya gak mau tahu! Itu hukuman bolos kamu!”
“Pak, saya gak tahan sama panas matahari! Saya gak kebiasaan! Pak! Pak! Ih!” Glenca menendang tiang bendera kala yang dipanggil malah pergi dari sana, tak peduli.
"Heh, itu tiang bendera! Bendera buat dihormatin, bukan ditendang!" peringat Omero.
"Tiangnya doang kok!" otot Glenca.
“Saya awasi kalian dari sana, kalo ada yang kabur, saya tambahin hukuman!” ucap bu Ester penuh ancaman maut sebelum berlalu.
“Ihhh! Kenapa harus ada sinar matahari siih!” gerutu Aldys menginjak-injakkan kedua kaki di tanah.
“Supaya lo gak matilah, Bego!” tawa Jehab yang dibalas pukulan oleh Aldys.
Sheryl melirik saja. Menurutnya berbicara gak bermutu hanya membuang tenaga untuk menghadapi sinar matahari di atas kepala yang siap mematangkan telor. Ia mendongak dan menyipitkan mata kala keringat mulai membasahi dirinya.
“Meski udah keringetan, lo masih cantik,” ucap Serkan yang ada di sampingnya persis. Sheryl tak menanggapi. Malahan Alanzo melirik Serkan tajam sebelum menukar posisinya dengan Sheryl agar Sheryl tak berdekatan lagi dengan Serkan.
“Lo godain dia, gue gak segan-segan potong leher lo sekarang juga.” Alanzo melirik Serkan tajam.
***
Sudah satu jam para remaja iu dijemur di sini. Satu jam yang tak luput dari ocehan Glenca karena ngeluh kepanasan.
“Heh! Lo bisa diem gak? Lo pikir cuma lo yang kepanasan! Kita juga! Mulut lo tuh bikin tambah panas!” Omero yang sedari tadi diam akhirnya tidak tahan lagi.
“Alanzo—“ Glenca menutup mulutnya. Ia lupa kalau ia sudah putus dengan Alanzo. Tentunya cewek itu merutuki mulutnya. Beberapa hari ini ia menghindar dari Alanzo karena sudah tidak mau berurusan dan takut dengan cowok itu, tapi sekarang Glenca malah merengek. Umpungnya Alanzo berbaris jauh dari letaknya baris.
“Kenart! Panas!” Ia berganti sasaran pada Kenart. “Aku bisa pingsan kalau kayak gini. Kulit aku udah merah-merah pasti! Aku tuh gak biasa sama panas matahari kayak gini.”
“Kulit lo tetep, Ca,” jawab Kenart. Glenca menghentak-hentakkan kakinya. Ia berdiri lalu jongkok seperti anak kecil.
Sheryl yang melirik itu masih diam. Seluruh tubuhnya dibanjiri keringat, lemas. Nafasnya tersengal karena panas matahari yang menyengat. Ia mulai menggaruk-garuk kulitnya yang merah. Sheryl mengundurkan diri, menemui bu Ester yang masih berjaga di dekat mereka.
“Mau ke mana kamu?!”
“Ambil minum,” katanya lemas.
“Tapi—“
“Apa? Kamu mau bilang gak biasa sama sinar matahari kayak Glenca? Saya gak mau terima alasan klise,” tegas bu Ezter tidak ingin di ganggu gugat. Sheryl yang nafasnya sudah tersengal, melangkah kembali ke barisan.
Semua orang melirik cewek itu. Temasuk Glenca, Aldys, dan Ella yang tersenyum mengejek.
“Di sini aja,” ucap Alanzo memegang tangan Sheryl, tak mengalihkan perhatian dari sang bendera.
Kenart terkekeh. “Cewek beasiswa miskin aja sok-sok an gak tahan sinar matahari!” gumamnya yang hanya bisa ia dengar sendiri.
Tak ada satu menit, Sheryl merasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya. Ia merabanya dengan jari dan mendapati darah di sana. “Alanzo ....” Itu nama yang pertama ia sebut dengan lirih sebelum akhirnya terjatuh di tanah.
Semuanya mengalihkan perhatiannya pada Sheryl. Glenca kini berhenti mengoceh, menengok Sheryl. Bu Ester berbalik badan dan melotot.
“Ya ampun! Darah di hidung!” pekiknya. “Cepet bawa Sheryl ke UKS!”
Alanzo menepuk-nepuk pipi Sheryl sebelum akhirnya menggendong tubuh mungilnya. Begitupun Serkan yang ingin membantu tapi malah ditepis Alanzo. “Gue udah peringatin, gak usah sentuh cewek gue!”
“Pacar tapi gak pernah kencan, ‘kan?!” balas Serkan kesal. Alanzo menatap cowok itu tajam. Kalau saja ia tidak sedang menggendong Sheryl mungkin ia sudah memotong-motong tubuh cowok itu. Alanzo langsung saja berlari ke arah parkiran diikuti beberapa anak Gebrastal dan PMR yang sudah datang mendengar keributan.
“Zo? Mau dibawa ke mana?! Gak UKS?!” tanya Omero yang panik.
Alanzo terlihat memasukkan tubuh Sheryl ke mobilnya yang memang ia sediakan di sekolah. “Ke rumah sakit.”
“Tapi kak Sheryl bisa ditanganin di UKS kok!” bujuk seorang anak PMR.
“Gue gak akan percaya ke-bullshit-an lo lagi yang bilang Sheryl cuma kecapean! Gue tahu dia gak sekadar kecapean biasa!” gertaknya membuat cewek itu terdiam. Alanzo langsung saja masuk ke dalam mobil diikuti anggota Gebrastal lainnya di belakang.
***
“Dia udah baik-baik aja, udah siuman malah.” Pria berjas putih yang sudah menjabat sebagai dokter senior di rumah sakit milik keluarga Gilbartan berkata pada Alanzo. Alanzo hanya menyipitkan mata, menatap pria itu curiga.
Yang ditatap hanya mendengus. “Kamu bisa lihat sendiri, dia udah melek!” tunjuknya di balik pintu kaca rumah sakit pada Sheryl yang terbaring di sana.
“Gue mau tahu apa yang sebenernya terjadi sama Sheryl, bukan kasih tahu dia udah siuman!”
Dokter itu mengangguk, membuka catatan hasil pemeriksaannya. “Pasien memiliki kesensitifitasan terhadap sinar matahari yang terik. Saat dia dijemur lama, kecapean atau kepanasan, dia bisa pingsan dan mimisan karena keadaan kepala yang panas.”
Alanzo masih menyimak itu. “Tapi,” ucap dokter itu sambil mengerutkan kening. “Ini baru pertama kalinya saya menemukan pasien yang pinsang dengan keadaan sesak seperti adanya kecemasan hanya karena panas matahari. Padahal biasanya pasian lain cuma bakal mimisan biasa.”
“Trus?”
Sang dokter melirik Sheryl. “Apa pasien punya dokter pribadi?”
“Saya kurang ngerti sama keadaan pasien karena pasien seperti Sheryl pasti punya dokter pribadi, dan hanya dia yang bisa menangani. Kamu bisa tanyain ke dokternya,” lanjutnya membuat Alanzo menyatukan alis.
***
Jangan lupa like dan komen ya!
Peluk jauhh dari Malang!😘