Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Makan Siang



Alanzo dan Sheryl kini menuruni tangga secara bersamaan, menemukan Mahalika yang sedang menyiapkan makan siang di ruang makan. Ia bisa melihat Jovan, Dirgantara, Helios, dan Julian—kakak pertama Sheryl yang baru pulang dari Italia—telah terduduk di ruang makan.


“Nah itu mereka, udah turun!” kata Mahalika yang sedang merapikan beberapa piring bersama Mbok Inah.


Julian menatap Alanzo. “You must be Alanzo, right?” tebaknya membuat Alanzo mengernyit karena tidak mengenalnya. “Aku Julian kalau kamu ingat, cowok yang suka kamu panggil ‘om’ waktu kamu masih umur sepuluh tahun!”


Mata Alanzo menyipit artinya Alanzo tidak ingat.


“Dia kakak aku,” kata Sheryl.


“Wajar kalo gak inget, kita udah gak ketemu tujuh tahun!” Dulu, Julian selalu menjaga cowok itu bermain layaknya anak sendiri saat bertemu di acara-acara tertentu. Saat itu usia Julian masih dua puluh, sedangkan Alanzo sepuluh tahun. Julian selalu gemas dengan kenakalan Alanzo saat itu hingga ia harus pergi ke Italia tanpa pernah bertemu Alanzo lagi.


“Kalian tadi gak jadi?” tanya Mahalika tersenyum jahil.


“Apanya yang gak jadi?” Alanzo menyatukan alis, mendudukkan diri di kursi dekat Sheryl duduk.


“Buatin Mama cucu?” Semua orang langsung menatap Alanzo dan Sheryl seolah keduanya habis melakukan hubungan di luar batas di kamar tadi.


“Apaan sih, Ma! Kita gak ngapa-ngapain! Kita cuma ngobrol!” Alanzo terlihat sebal saat ini.


“Yah, padahal Mama pengin banget punya cucu.” Mahalika mencebikkan bibir. Dia hanya bercanda.


“Ma, mereka belum nikah,” desis Jovan tajam. Oh ayolah!


“Bercanda! Mama percaya kok kalian gak ngapa-ngapain!” Mahalika tertawa. Sedangkan Dirgantara tidak kaget lagi dengan kelakuan istri sahabatnya yang jahil.


“Awas, Ndoro. Nanti bercanda jadi kenyataan!” kata Mbok Inah ikut bercanda. Perlu diketahui, mansion ini bukanlah mansion yang isinya tegang yang bakal miss komunikasi dengan pembantu seperti orang kaya lainnya. Anomali, Mahalika biasanya suka bercanda dengan para pembantunya, menjadikan mereka seperti teman sendiri.


“Kalau kenyataan juga gak papa kok, hahay!” tawa Mahalika.


“Ma, udah,” bisik Alanzo merasa malu.


"Ck, bercanda!"


Suara bel kini berbunyi. Beberapa detik kemudian, seorang pembantu mendatangi Mahalika. “Ndoro, ada temen-temennya den Alanzo.”


“Siapa?”


“Katanya namanya Kenart, trus ada empat cowok lainnya, ada dua cewek juga, Ndoro!”


Mahalika langsung berdiri dari duduknya dengan sumringah. “Ah, Kenart sama anak-anak gengnya Alanzo! Suruh aja mereka masuk!” Meski menyuruh, tapi Mahalika kini ikut pergi ke arah pintu utama untuk menyambut beberapa cowok itu. Setelah satu menit, Mahalika kembali memborong anak-anak Gebrastal ke ruang makan.


Kenart, Omero, Leon, dan Jehab sempat kaget melihat kehadiran Sheryl serta seorang penjabat negara berpangkat tinggi serta kedua cowok dengan aura strong itu di sini. Pasalnya, mereka belum siap menghadapi Sheryl usai apa yang telah mereka lakukan padanya selama ini.


“Nah, berhubung semua udah di sini. Alangkah baiknya kita makan siang bareng-bareng!” ajak Mahalika memberi instruksi pada para pembantu menyiapkan kursi.


“Eh? Gak usah repot-repot, Tante! Lanjutin makan aja! Kita cuma mau ngobrol sama Alanzo nanti, kalau udah selesai makannya.”


“Ck, gak boleh! Pokoknya kalian harus makan siang bareng, ada pak menteri juga loh! Tante udah masak buanyak nih waktu kalian ngabarin mau ke sini tadi! Yuk!” Mau tidak mau, mereka mendudukkan diri di kursi yang telah disiapkan.


“Ekhem, Alanzo,” panggil Dirgantara membuat semua orang mengarahkan padangannya pada pria itu. Alanzo langsung mengangkat kedua alis. “Om mau ucapin minta maaf ke kamu, karena Sheryl, kamu jadi luka kayak gini. Makasih juga udah lindungin Sheryl waktu om gak dateng tepat waktu, kalau bukan karena kamu, mungkin dia gak selamat.”


Alanzo tersenyum tipis. “Suatu kehormatan buat aku bisa jaga putri Om satu-satunya. Om tenang aja, selama Sheryl sama aku, aku janji bakal lindungin dia,” ucapnya kini memegang tangan Sheryl lalu mengelusnya. Hal yang membuat keduanya saling bertatapan.


***


“Elah! Ini kita bakal diem-dieman gini doang?! Lo bilang lo mau ngomong?!” greget Jehab melihat para manusia itu sedari tadi saling tatap-menatap. Sekarang ini, mereka sedang duduk di ruang TV setelah makan siang tadi. Ceritanya Alanzo bakal ngomong sesuatu tentang apa yang terjadi dengan Sheryl, bagaimana Sheryl bisa ada di hutan itu, dan masih banyak pertanyaan lain.


Alanzo yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri entah memikirkan apa, dilempar bantal oleh Leon. “Noh, dalangnya udah gila noh, senyum-senyum gak jelas! Ditungguin juga!”


Alanzo malah mengambil minuman kaleng di meja. “Jadi, gimana Vano sama Zezan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


“Udah diproses tadi. Mereka udah ngaku salah dan dijatuhi hukuman penjara dua tahun delapan bulan,” jelas Omero yang diangguki Alanzo.


“Kagak nyangka gua, sahabat lo sendiri bisa nusuk lo dari belakang.” Eginta ikut-ikutan minum soda.


“Ck, Papa lo udah tahu soal Vano yang lakuin ini?” tanya Andro yang selama ini merasa greget dengan hubungan papa dan anak itu.


Alanzo meneguk minumannya sambil mengangguk. “Tahu, jauh sebelum gue tahu.”


“Ck, lo ngapain sih, Nyet?” Leon menggeser tubuhnya saat Jehab mendusel ke arahnya.


“Gara-gara lo, Bego! Gara-gara lo, gua kehilangan Rayna!” ucapnya sambil melihah Hp. “Sekarang lo aja dah yang gantiin dia. Kalo gue gak bisa jadi selingkuhannya Rayna, jadiin gua selingkuhan lo, Bang!”


Leon langsung menoyor Jehab. “Seromantis-romantisnya gua, gua masih normal ke cewek!”


“Makanya transgender sana biar gua pacarin sini! Gak bosen apa lo mainin cewek mulu!”


“Kalaupun gua cewek, ogah gua pacaran sama lo!”


“Sadar, Hab! Stok cewek masih banyak! Noh, Verla sama Eginta contohnya!” kata Andro.


“Kenapa gue?!” tanya Eginta tidak terima. Verla tidak menanggapi, hanya memakan kripiknya santai.


Kenart sedari tadi diam, memikirkan sebetapa canggungnya tadi ia berhadapan dengan Sheryl setelah tahu siapa cewek itu sebenarnya dan apa yang telah ia lakukan selama ini. Entah kenapa ia jadi merasa bersalah. “Soal Sheryl, kenapa lo sembunyiin tentang dia dari kita padahal lo udah tahu sebenernya?”


Perkataan Kenart membuat Jehab menghentikan perdebatannya. Alanzo yang tadi bersandar, menegakkan badan. “Gue sengaja, buat pacarin Leyana, nyelidikin soal Vernos dan penyerangan mereka yang bakal celakain kita. Gue tahu serangan yang Vernos lakuin kemarin pasti udah direncanain jauh-jauh hari. Itu sebabnya gue kerjasama sama om Dirgantara. Maaf gue gak bilang rencana gue ke kalian.”


Mereka semua sibuk menyimak saat Alanzo menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari mengapa ia tidak bisa mengeluarkan Sheryl secara sembarangan dulu, sampai penyakit yang diderita cewek itu. “Sheryl punya gangguan PTSD (post-traumatic stress disorder).”


Seketika mata mereka semuanya melotot tak percaya.


“Dan gue bakal cerita soal kejadian itu, dan alasan error 404.”


***