Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Tegang



“Emang gila lo berdua!” Jehab menatap Kenart dan Leon secara bergantian yang kini saling diam. Entah apa yang ada di pikiran keduanya, yang jelas mereka tampak panik kali ini. “Lo liat tadi pas Alanzo gendong Sheryl?! Gak mungkin kalo Alanzo gak ngamuk!”


“Lo juga, Njing! Gara-gara lo Sheryl mimisan!” tunjuknya pada Kenart. Kali ini Jehab tampak frustasi, ketar-ketir sekaligus menyiapkan diri kalau Alanzo datang ke markas dengan murka.


“Gue gak expect kalo dia sampek mimisan! Gue mikir itu phobia biasa!” jawab Kenart melotot pada Jehab yang sedari tadi tak henti-hentinya nyrocos.


“Lo gak lihat tadi?! Itu bukan cuma phobia! Dia sampek kejer udah kayak orang aneh! Dia juga sampek mohon-mohon ke lo, Bego! Arghh!” Jehab menendang benda di sekitarnya. Seumur-umur, tidak ada orang yang bisa melihat Jehab sefrustasi ini.


“Lo juga! Gue udah bilang! Bego lo, sumpah!” tunjuknya menyalahkan Leon yang masih diam di tempat dengan muka merah. Leon menyugar rambutnya ke belakang. Sial! Leon jadi gamang sekarang. Gimana kalau sampek terjadi sesuatu dengan Sheryl*?


Kini pintu markas menampakkan seorang cowok bertubuh tinggi dengan sorot mata permusuhan. Tangannya mengepal dengan seluruh otot yang berkontraksi. Semua orang yang sibuk dengan pemikirannya masing-masing itu mengarahkan padangan pada Alanzo. Tanpa bosa-basi kini Alanzo menghampiri Kenart, membogem muka cowok itu.


“Anjing lo!” ucap Alanzo lalu kembali memukuli Kenart dengan membabi buta. “Kurang ajar!”


Semua cowok menutup mulutnya jika sudah seperti ini. Tidak ingin membela Kenart karena Kenart memang salah. Kenart pun tidak terima, ia membalas pukulan Alanzo. Bugh! Alanzo terdiam sejenak lalu tertawa menyeramkan. “Berani lo sama gue?!”


Bugh! Alanzo memukul Kenart. “Setelah lo tidur sama mantan gue, sekarang lo nyakitin cewek gue?! Bajingan!” Satu pukulan kembali Alanzo layangkan pada Kenart.


Kenart menggertakkan giginya. “Lo yang bajingan! Lo yang duluan nyakitin cewek gue! Glenca!” Kenart menonjok Alanzo.


“Oh ya?! Jadi bukan Glenca yang nyakitin gue dengan tidur sama lo?!” tegas Alanzo mengisayaratkan permusuhan. Sungguh, Alanzo sangat benci kalau ia harus berantem perkara masa lalu tentang cewek. Namun, ia juga tidak terima jika Sheryl disentuh-sentuh.


“Gue cuma mau bales harga diri gue yang udah direndahin sama cewek gembel sok seleb itu!”


Bugh! Bugh! Bugh! Setelah memukul, Alanzo kini menendang cowok itu. “Jangan sekali-kali lo ngatain cewek gue!”


“Gue mau dia gak sok-sokan! Gue mau nunjukin sebetapa dia punya kelemahan! Gue mau dia lemah! Gue mau dia takut! Bukannya lo juga mau dia takut ke lo, ‘kan?!” Kenart merasa tidak takut dengan tatapan Alanzo saat ini, malahan cowok yang sudah tersungkur di tanah itu mengangkat dagunya ke atas seakan mengatakan sejatuh apapun dia, dia gak akan mengakah.


Bugh! Bugh! “Bangsat!” Alanzo semakin terbawa emosi. “Lo pikir lo bisa bahayain dia pake kelemahan?! Pengecut lo!”


“Udah, Zo!” Omero menarik Alanzo yang sedang memukuli Kenart yang hampir sekarat dan jika tidak dihentikan mungkin Kenart bisa gak bernyawa lagi. “Zo, dia bisa mati kalo lo terusin!”


Alanzo menghempas tangan Omero. Kini ia melirik Leon yang sedari tadi hanya diam. Sasarannya mungkin sekarang berganti. Bugh! Alanzo melampiaskan amarahnya pada Leon. Kini Omero bisa melihat, Alanzo bukan hanya emosi karena Sheryl dibuat pingsan, tapi seperti ada perkara lain yang membuat pikiran Alanzo tidak tenang.


Omero dibantu oleh Sean menarik Alanzo kembali. “Gue udah peringatin ke kalian semua, gak ada yang boleh nyentuh milik gue selain gue! Gak ada yang boleh nyakitin dia! Kalo masih ada yang bebal, gak cuman babak belur, tapi gue pastiin dia bakal pindah alam sekalian!”


Alanzo menghempas tangan Omero dan Sean. Ia menunjuk Leon. “Urusan kita belum selesai!” Kemudian cowok itu meninggalkan markas yang diikuti Omero. Menyisakan ketegangan di sana.


***


“Finally, kamu melek juga!”


Sheryl mengerjapkan mata sayunya yang perlahan terbuka, menoleh ke samping kala mendengar suara familiar itu. Menemukan Miss Evelyn yang sedang menata peralatan, obat, dan makanan di nakas. Sheryl mengerling ke langit-langit. Berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya sampai berada di sini.


Belum genap ia berpikir, Miss Evelyn kini mendudukkan diri di samping brankarnya. “Gimana keadaan kamu? Masih ada yang sakit?” tanyanya yang digelengi Sheryl.


Mendengar itu membuat Sheryl sekarang ingat bagaimana dirinya bisa berada di sini. Gara-gara Kenart.


“Miss seneng kamu bisa sadar. Tapi sekarang Miss gak akan nurutin kamu lagi. Udah cukup beberapa bulan ini Miss kecolongan. Mulai sekarang Miss bakal jaga kamu kemanapun kamu berada, Sheryl,” katanya memegang tangan Sheryl lembut.


Sheryl mengalihkan perhatiannya. “Aku bisa jaga diri ....”


“Buktinya kamu pingsan karena temen kamu?” ucapnya hati-hati.


“Justru kalo aku gak ngehadepin ini, gimana ada perkembangan?”


Miss Evelyn kembali menghela nafas. Susah untuk membujuk cewek itu. “Sheryl, kamu tahu ... papa sama kakak kamu bakal murka besar kalo tahu ini semua.” Seketika Sheryl menatap Miss Evelyn.


“Gak akan tahu kalo Miss gak kasih tahu.”


Miss Evelyn mengangguk saja. Susah merayu Sheryl. “Terserah. Pokok apapun yang terjadi, Miss bakal jagain kamu di mana pun kamu sekarang.” Sheryl tidak mau menanggapi lagi sekarang, dan Miss Evelyn merasa senang karena menang.


“Oh ya! Tadi ada cowok yang gendong kamu ke sini. Dia kelihatan panik dan khawatir sama kamu, teriak-teriak dokter biar muncul. Dia sampek rela ngusapin darah di hidung kamu pake tangan kosongnya. Dia pacar kamu?” tanya Miss Evelyn tiba-tiba membuat Sheryl mengerutkan kening dan kembali ingat terakhir kali ia jatuh di pelukan Alanzo.


Alanzo kah yang bawa dia ke sini?


“Sekarang dia kemana?”


“Ntah. Tadi sih dia nungguin depan. Sekarang gak ada.”


Sheryl mengerling ke arah luar ruangan, menerawang dinding rumah sakit yang transparan, tidak menemukan siapa pun di sana. Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Miss Evelyn yang sedang sibuk merapikan infus.


“Miss.”


“Iyup?”


“Miss tahu dari mana kalo aku pingsan gara-gara temen-temen aku?”


“Pantau dari orang suruhan,” jawabnya enteng. Sebenarnya itu sudah bisa Sheryl tebak, tapi Sheryl hanya memastikan kalau Miss Evelyn belum sempat ngobrol dengan Alanzo sebelum dirinya sadar.


“Miss, tolong jangan kasih tahu cowok yang udah nganter aku ke sini soal keadaan aku yang sebenernya.”


Miss Evelyn mengerutkan kening. “Kenapa?”


***


A/N:


Guyss jangan lupa like and komen ya, berharga bangettt dukungan kalian buat kembaliin mood nulis author eheheh😘