Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Awal dengan 'Dia'



Dulu setiap kali Alanzo bertengkar dengan papanya entah hanya karena masalah sepele atau karena masalah besar, akan selalu ada sosok Delana yang menemani Alanzo hingga cowok itu merasa tenang. Dia hanya gadis biasa yang selalu memanggil dirinya Kakak yang dengan sifat lembutnya itu mampu meluluhkan ego Alanzo.


Namun sekarang, gadis itu sudah tidak ada lagi dalam hidupnya. Gadis itu telah lama pergi jauh dan tak akan pernah kembali.


Alanzo menyenderkan kepalanya pada headboard. Tampang sangarnya itu masih tampak sangat kacau. Tangannya tak henti-hentinya mengelus foto bergambar cewek cantik berkulit putih yang mungil. Alanzo sangat suka dengan kegiatannya mengacak-acak rambut cewek itu sampai ia marah, seperti gambar di foto. Lucu.


Ingatannya kembali terangan ketika bagaimana awal ia bertemu dengan Delana waktu usianya masih sebelas tahun. Si gadis panti asuhan yang diadopsi oleh keluarganya karena Mahalika—mamanya—tidak bisa mengandung anak perempuan.


Flashback on


Alanzo melangkahkan kakinya mengikuti arah papa dan mamanya itu berjalan di tengah ramainya anak panti yang sedang berlari ke sana ke mana. Mamanya itu sedang berbicara dengan seseorang, entah siapa, yang Alanzo tahu wanita itu lebih tua dan anak-anak di sekitarnya meneriakinya, “Ibu Panti! Ibu panti!”


Alanzo mendengus kesal kala lengannya disenggol oleh beberapa anak-anak yang sedang bermain, menurutnya itu tidak sopan. Alanzo adalah anak yang terdidik untuk tidak menyentuh orang lain tanpa izin. Alanzo juga sosok yang tidak tersentuh.


“Maaf, Kak,” ucap sesosok gadis berusia satu tahun di bawahnya dengan keringat yang membasahi kening usai berlarian. Ia menatap Alanzo khawatir. Alanzo menoleh ke belakang, mendapati seorang gadis cantik nan imut yang tidak pernah Alanzo temui sebelumnya. Jika dibanding dengan anak-anak lain, gadis kecil itu terlihat lebih sopan dan soft.


Tidak mau menggubris, Alanzo dengan cuek pergi dari sana saat sang mama memanggilnya. “Jadi, mulai hari ini kamu bakal ada adek perempuan baru, lucuu! Kamu pasti suka sama adek perempuan kamu!” seru Mahalika tampak semangat, sangat berbeda dengan Jovan yang hanya mengembuskan nafas pasrah, seolah tidak suka jika keluarganya didominasi oleh anak panti yang tidak selevel dengannya.


Alanzo diam. Tidak menerima maupun menolak.


Beberapa detik, ibu panti kini datang bersama seorang anak gadis cantik berambut kepang. Gadis yang tadi meminta maaf pada Alanzo. “Nah, ini namanya Delana aja. Namanya cantik kayak anaknya, tapi nanti kalau mau ganti nama juga gak papa. Delana ini anak terpintar dan teraktif di sini. Dia baik, biasanya bantuin Ibu cuci-cuci baju, masak, nyapu,” kata Ibu panti mengelus rambut Delana yang tersenyum riang.


“Beneran?” kaget Mahalika, tidak pernah menemukan anak seumur sebelas tahun yang mau membantu pekerjaan rumah tangga. “Pinter bangettt!” kata Mahalika dengan nada lebay, mengajak Delana ke pelukannya.


Setelah melihat-lihat banyaknya anak di panti asuhan ternama itu, pilihan Mahalika memang sejak awal pada Delana yang sangat baik dan santun. Sejak saat itu, keluarga Gilbartan menjadikan Delana sebagai keluarganya dengan nama: Delana Daviero Gilbartan. Nama yang disamakan dengan Alanzo.


Hampir satu bulan berlalu, Alanzo kira Delana hanya akan jadi anak yang baik di awal, Alanzo kira Delana hanya berpura-pura baik supaya dipilih untuk diadopsi oleh keluarganya. Nyatanya Alanzo salah, anak itu masih bisa bertahan hingga dua bulan tersenyum tulus meski Alanzo bolak-balik mengabaikannya dan bersikap kasar. Delana masih menjadi anak yang rajin yang terkadang membantu Mahalika berkebun.


Hingga kenaikan kelas tiba. Tentu saja semua orang tua mengambil rapotnya di sekolah. Mungkin semua anak-anak akan senang jika kenaikan kelas karena menjelang libur, tidak dengan Alanzo yang kini mendapatkan amarah dari papanya karena nilainya yang merah.


“Itu akibat sering main PS! Nilai kamu anjlok! Lihat Vano! Nilainya bagus, peringkat tiga besar selalu! Gak malu kamu?!” cecar Jovan yang pusing dengan putranya yang semakin susah untuk belajar. Terkadang disuruh belajar malah main sepak bola, basket, atau malah main PS.


Setelah dimarahi seperti itu, anak lelaki itu akan mengurung diri di kamar dengan menutup pintu secara kasar. Delana yang sedari tadi mengintip, kini memberanikan diri ke kamar Alanzo. Anak gadis itu membuka pintu secara perlahan dengan takut-takut. Ternyata tidak dikunci.


Delana hanya diam saat Alanzo mengomel tidak jelas. Ia baru berani mendekat kala Alanzo diam. Tak Alanzo duga, cewek itu malah tersenyum dan mengelus pundaknya. “Yang Kakak lakuin itu udah terbaik. Kata Ibu Panti, jangan pernah kecewa sama hasil, yang terpenting itu usaha kita. Kalau kita gak usaha itu baru kita kecewa.”


Alanzo terdiam sejenak. “Iya kah?” Delana mengangguk. “Tapi kenapa Papa marah?”


“Mungkin karena Kakak selalu main waktu disuruh belajar, dan Kakak gak bisa bedain mana waktu buat belajar dan bermain. Begitu kata Ibu Panti.” Delana menyelesaikan kalimatnya penuh kedewasaan dan senyuman.


Ia mengeluarkan sesuatu dari kotak kardus, memberikannya pada Alanzo. Coklat. “Ini!”


“Buat apa?”


“Kalo makan coklat aku biasanya gak sedih lagi!”


“Tapi kata Mama gak boleh makan coklat, nanti giginya ompong!”


“Makan sekali gak bikin ompong kok!”


Alanzo akhirnya menerima coklat itu dari tangan Delana lalu memakannya secara perlahan. Benar. Makan coklat bisa membuat dirinya merasa senang. Beberapa detik kemudian Alanzo melotot. Dengan polosnya, ia berlari ke arah cermin untuk melihat giginya ompong atau tidak. “Ternyata gak ompong ya!” kata Alanzo sedikit tertawa.


Delana ikut tertawa. Alanzo kini mendudukkan diri lagi di samping Delana. “Di kotak itu kamu bawa apa?”


“Mainan lucu.” Delana mengeluarkan sebuah mainan monyet-monyetan berbunyi ‘Eok! Eok! Eok’ yang membuat keduanya tertawa riang.


Semenjak itu, Alanzo jadi percaya pada Delana. Ia merasa Delana memang baik. Hari itu juga yang membuat keduanya akrab dan sering bermain bersama. Benar kata mamanya, memiliki adik memang menyenangkan dan membuat dirinya tidak lagi kesepian.


Saat bermain dengan Alanzo, Delana juga merasa senang, tidak ada rasa takut. Keduanya sering meghabiskan waktu bersama. Makan ice cream, bermain di time zone, menonton pertunjukan, main PS. Sungguh hal paling menyenangkan ditambah kehadiran Vano yang merupakan sahabat Alanzo, menambah keramaian. Mereka sering bermain bersama sampai orang bilang kembar tiga.


Nyatanya mereka adalah anak-anak kecil yang masih bisa tertawa lepas tanpa memikirkan apa pun. Anak dari orang tua yang berbeda yang mungkin akan menumbuhkan rasa cinta kelak pada di antara mereka.


***