
...Ketika kamu memutuskan untuk tidak melawan apa yang terjadi karena kamu takut, kamu tidak akan pernah menjadi pemberani....
...***...
“Kalo calon suami gue tahu lo pura-pura bilang punya gangguan otak, wah dia bisa marah sih!” kata Hawra pada Sheryl yang hanya santai memakan buah-buahan.
Sedangkan Taletta mengerutkan kening. “Calon suami?”
“Iya, kak Helios.”
Taletta memutar bola matanya. “Ngayal lo! Kak Helios ‘kan udah ada kak Zenia.”
“Udah putus.” Seketika Taletta tersedak buah pir yang sedang ia makan. Kini Sheryl menggelengkan kepala tidak mengerti menatap Hawra.
“Putus?!” ulang Taletta. Hawra menganggukkan kepala sebagai jawabannya.
“Kemarin dia habis telepon ke gue, nangis-nangis gara-gara gak lulus sidang skripsi trus diputusin pacarnya. Kan gue jadi merasa arrgghh gitu ditelepon doi waktu dia lagi down!” Hawra tersenyum ceria menaruh kedua tangannya di dagu sambil mengingat-ingat dua hari yang lalu saat cowok ganteng alias kakaknya Sheryl meneleponnya.
“Lo tuh cuma pelampiasan doang! Bukan berarti dia suka balik sama lo, ege!” peringat Taletta pada Hawra yang tak digubris.
Sheryl mengerutkan kening sambil menyandarkan diri di dinding. Berpikir sejenak. Helios tak sebodoh dan semalas itu sampai tidak lulus sidang skripsi. Sheryl yakin, kakaknya itu rela sering bolos kelas kuliah karena mengurusi dirinya di Jakarta. Sheryl melototkan mata kala menyadari sesuatu. Sial!
Belum genap semenit, apa yang ia pikirkan benar. Helios kini muncul di pintu ruangannya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan, disusul oleh Eros, Yanuar, dan Dian yang hanya menunduk. Helios melangkah pada Sheryl cepat.
“Gue udah bilang sama lo, ‘kan?!” geramnya. “Jangan sekali-kali lo berhubungan sama Gebrastal yang gak jelas itu! Ini akibatnya!”
Di tengah-tengah suasana tegang itu, Hawra berbisik pada Taletta dengan wajah kesemsem. “Walau marah gitu, masih tetep ganteng calon suami gue.” Taletta menoleh pada Hawra, langsung saja menempa baha Hawra. “Aw! Sakit, Let!”
Sedangkan Sheryl, dibilang seperti itu malah menengok ke arah lain lalu menggigit buah pir di tangannya seperti tidak peduli dengan omongan kakaknya. “Ngurusin aku sampek lupa ngurusin diri sendiri?”
“Gue khawatir sama lo!”
“Khawatir Kakak berlebihan, sampek gak lulus sidang skripsi, diputusin pacar, cuma gara-gara ngurusin urusan aku di Jakarta?”
“Bisa gak, gak usah bahas itu?”
“Bisa gak fokus aja sama kuliah Kakak?”
Helios menghela nafas kasar. Ia mendudukkan diri di samping brankar Sheryl, melihat dirinya serius. “Sheryl, lo adik gue satu-satunya. Gue gak suka ada orang yang nyakitin lo apalagi sampek kayak gini. Gue bisa lapor polisi—“
“Gak usah lebay, Kak. Buktinya aku juga gak papa.”
“Gak papa gimana? Kalau papa tahu lo di sini, dia juga bakal marah besar!”
Sheryl mengalihkan perhatiannya ke arah lain sambil menghela nafas. Helios masih berusaha membujuk-mbujuk adiknya itu. “Lo tahu? Gue sayang banget sama lo sebagai adik gue.”
“Kalau Kakak sayang, harusnya Kakak percaya sama aku. Kakak pasti juga mau aku balik kayak dulu lagi.” Sheryl menatap Helios. “Kak, kalau aku gak pernah melawan apa yang akan terjadi cuma karena aku takut, gak akan pernah berubah. Kalau seseorang takut melangkah, dia gak akan tahu ada banyak hal baik di setiap langkahnya.”
Helion mengelus rambut Sheryl. Sedari lahir, dia memang sangat mengenal karakter adiknya yang tak takut dengan apa pun yang terjadi untuk menggapai hal baik. “Gue percaya sama lo. Tapi kenapa lo harus pacaran sama Alanzo? Lo ‘kan bisa pacaran sama orang yang lebih baik? Dia cuma mainin lo doang.”
Karbondioksida kini keluar dari saluran pernafasannya. Sheryl menatap kakaknya. “I know that. Aku juga aku bisa nolak Alanzo kapan pun yang aku mau, tapi aku punya alasan. Kalau dia bisa mainin aku, kenapa aku nggak nantinya?”
“Kakak tenang aja. Lagian, aku juga gak serius kok sama dia,” tambahnya lagi terlihat santai, mengigit pir yang ada di tangannya. Entah kenapa, hatinya berkata lain saat mengatakan kalimat terakhir itu.
***
Hari ini Sheryl sudah bisa masuk sekolah dari rumah sakit. Cewek itu membuka pintu dan jendela rumah minimalisnya, memberikan jalan udara untuk masuk. Alisnya menyatu kala netranya menangkap sebuah objek di depan rumahnya yang tak berpagar.
Seorang cowok berjaket hitam kulit dengan helm fullface yang melekat di wajahnya, duduk di atas motor. Sheryl menghampiri cowok itu lalu tersenyum saat berhasil menebak siapa orangnya. “Lo ... ngapain?”
Cowok itu membuka helm, menampakkan wajah tampan berahang tegas yang menatap dirinya penuh maskulin. “Karena gue gak mau kejadian kemarin keulang, mulai hari ini, gue yang bakal nganter dan jemput lo. Jaga dan ikutin ke mana pun yang lo mau. Ayo, naik!” ucapnya dengan suara serak.
Sheryl menurut saja. Ia menaikkan diri di atas motor. Dari depan, Alanzo masih bisa melirik ke belakang. Ia melepas jaketnya kala menyadari sesuatu, memberikannya kepada Sheryl. “Seragam hari ini roknya pendek.”
Sheryl masih diam, tidak tahu dengan isyarat Alanzo. Cowok itu berdecak kesal. Ia turun dari motornya kemudian menalikan jaket itu di paha Sheryl secara posesif. “Gue gak suka kalo ada cowok yang liatin milik gue! Apalagi paha!”
Seketika Sheryl ngeh, melirik ke arah pahanya. Padahal roknya itu sudah cukup menutup pahanya. Bahkan gak kelihatan sama sekali, tapi Alanzo?
Tak menunggu Sheryl bicara, cowok itu menarik kedua tangan Sheryl untuk memeluk pinggangnya, tidak membiarkan cewek itu melepaskannya. “Pegangan! Atau gue turuninin di tengan jalan!”
Alanzo melajukan motornya melebihi kecepatan rata-rata. Tentu saja Sheryl memeluknya erat dan meletakkan kepala di punggung Alanzo. Menikmati semilir angin pagi yang menerpa wajahnya.
“Kalau dingin bilang, gue gak bisa meluk lo dari depan!” ujar Alanzo, mengelus tangan Sheryl yang terasa dingin.
“Gue dingin ...,” bisik Sheryl di belakang helm Alanzo, mencoba menebak apa yang bakal cowok itu lakukan. Sheryl kira cowok itu bakal menambahkan jaket ke tubuhnya. Di luar dugaan, Alanzo kini menepi menghentikan motor dan turun dari motor.
“Maju!”
“Hah?”
“Maju di sini, Sayang!” Alanzo tersenyum jahil, menepuk-nepuk jok yang tadi ia tempati.
“Lo mau ngapain?”
“Gak usah mikir enggak-enggak! Maju aja!”
Mau tak mau, Sheryl menuruti Alanzo untuk maju duduk di jok di mana cowok tadi duduk. Alanzo kini menaikkan diri belakang Sheryl dan menyalakan motor dengan posisi Sheryl di depannya. Tak diduga, Alanzo menaruh dagu di pundaknya. Hal yang membuat posisi keduanya dekat, tanpa jarak sesenti pun, dengan posisi Alanzo memeluk dirinya dari belakang.
“Sekarang lo gak bakal dingin lagi, Sheryl ...,” bisiknya hangat sambil melajukan motor. Seketika, ritme jantung Sheryl berdetak hebat dua kali lipat dari biasanya. Seolah ada sebuah kupu-kupu yang terbang di perutnya.
***
A/N:
Aaa maapkan kemarin lupa gak up😭🙏
Soalnya kemarin sibuk dan aku lagi sakit, jadi maapkan, mungkin besok up 2 buat gantiin, doain moga up 2 yakk wkwk!