
...Perlahan, kamu mulai merubah padanganku tentang apa arti dunia yang sesungguhnya....
...***...
“Kita muter di sini sebanyak sepuluh kali,” ungkap Sheryl setelah keduanya hanya saling berdiam di dalam mobil. Bayangkan sepuluh kali mereka melewati jalan yang sama di tengah macetnya jalanan kota Jakarta di siang hari ini dengan suara klakson yang melengking di kendang telinganya. Sepuluh kali Sheryl bisa-bisa jadi sejarawan kota Jakarta saking hafalnya urutan bangunan di kota ini.
Herannya lagi, cowok yang mukanya sedang murung itu rela berhenti, melaju, berhenti, lalu melajukan mobilnya lagi setiap dua detik sekali hanya karena macet! Macet!
Alanzo melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Ia menoleh pada Sheryl. “Kita mau kemana?” tanyanya sangat-sangat konyol.
“Bukannya harusnya gue yang nanya gitu ke lo?” Sheryl terheran-heran.
“Kalo di tanya jawab, bukan nanya balik!”
Sheryl terkekeh kering, menatap Alanzo tak percaya. “Ya gue gak tahu mau kemana. ‘Kan lo yang ngajak.”
Alanzo mendengus seakan Sheryl telah besikap menyebalkan, padahal Alanzo sendiri yang aneh. Cowok itu kemudian memarkirkan mobil di sebuah mall yang terkenal di Jakarta sebelum akhirnya memencet sebuah tombol di remote-nya untuk membuka pintu mobil otomatis. Namun, sebelum itu Sheryl telah membukanya terlebih dahulu.
Melihat itu Alanzo mengerutkan dahi. Ini memang bukan pertama kalinya cowok itu membawa cewek menggunakan Lamborghini, tapi ini pertama kalinya ada seorang cewek yang tahu bagaimana cara membuka Lamborghininya dengan baik. Padahal biasanya mereka tidak akan pernah bisa membuka tanpa bantuan Alanzo karena Alanzo tahu ini adalah Lamborghini limited edition.
Cowok itu menyisihkan pikirannya tentang semua itu. Ia segera mengajak Sheryl untuk masuk ke dalam mall. Hal pertama yang ia lakukan tentunya berjalan, mengelilingi mall yang cukup ramai karena weekend. Sedangkan Sheryl masih mengikuti di belakangnya.
Tubuhnya berhenti seketika, berbalik badan secara tiba-tiba. Hal yang membuat Sheryl berdecak karena tubunya kini bertubrukan dengan Alanzo. Alanzo menunduk, melihat Sheryl yang lebih pendek darinya. “Jadi, sekarang mau beli apa?”
Sheryl kembali tertawa kering, dibuat heran dengan pertanyaan Alanzo. “Lo malah nanya gue?” tunjuknya pada diri sendiri.
“Jawab aja, mau beli apa! Ntar gue beliin!” katanya seperti menawar pada anak TK, bedanya lebih ke arah memaksa.
“Gue lagi gak mau beli apa-apa,” balas Sheryl jujur. Alanzo berdecak kesal kemudian kembali berjalan tak tentu arah yang diikuti Sheryl. Beberapa menit kemudian, hal yang sama terjadi. Alanzo tiba-tiba menghentikan langkah dan berbalik badan, menyebabkan tubuh Sheryl bertubrukan dengannya.
“Lo bisa gak kalo jalan di sebelah gue?! Lo pacar gue, ‘kan?!” Cowok itu mulai frustasi. Sheryl yang tidak ingin berdebat, akhirnya menempatkan diri di sisi Alanzo, berusaha menyeimbangkan langkah lebar Alanzo.
Alanzo kembali berhenti melangkah. Ia menatap Sheryl tajam kali ini. “Kenapa lo masih gak gandeng tangan gue, huh?!” Seumur-umur ia berpacaran tidak pernah ada cewek sepeti Sheryl yang masih tahan utuk tidak menggandeng tangan kekarnya, padahal ia sedari tadi sengaja melangkah cepat agar cewek itu berinisiatif menggandeng tangannya tanpa ia minta seperti cewek lainnya. Nyatanya Sheryl tidak melakukan itu.
Sheryl mendengus, menuruti perintah Alanzo untuk melingkarkan tangan di lenganya. Alanzo melepas tangan Sheryl. Sheryl pikir Alanzo sudah tidak mau digandeng, nyatanya Alanzo malah menautkan telapak tangan di antara jari-jarinya. Kini, rasa hangat langsung menyebar di seluruh tubuh Alanzo. “Jangan dilepas!” pintanya tajam.
Langkah keduanya berhenti di sebuah toko tas dengan brand ternama. “Sekarang lo mau beli tas apa?”
“Lo tahu?! Ini pertama kalinya gue yang nawarin buat beliin sesuatu ke cewek gue karena biasanya mantan gue sendiri yang bakal ngotot buat minta ke gue, jadi jangan sia-siain perlakuan gue!” Alanzo berkata seolah mengancam mangsanya. Sedangkan Sheryl yang ditatap tajam tak mengekspresikan rasa takutnya sama sekali, malahan cewek itu tampak heran.
“Ya kalo gitu lo tawarin aja sama mantan lo yang dulu!” tegas Sheryl ingin melepas tangannya dari Alanzo, tapi masih ditahan olehnya.
“Jangan coba-coba lo pergi dari gue!” Alanzo menarik Sheryl kembali dalam genggamannya. “Lo harus beli sesuatu di sini dan makanan di restoran ternama di mall ini!”
“Kalau gue gak mau?” Sheryl menjawab, sudah tidak mengerti lagi dengan keanehan Alanzo yang memang wataknya atau ada maksud tertentu.
Alanzo menggertakkan giginya. “Lo pacar gue, dan lo harus mau!” paksanya.
Sheryl terkekeh tidak percaya. “Gue pacar lo? Kalo gitu kita putus aja ya!” Ia melepaskan genggaman tangan Alanzo dengan keras. Hal yang membuat Alanzo tidak percaya dirinya bisa diputuskan begitu saja oleh cewek serupa Sheryl di depan umum. Selama ini tidak ada cewek yang meminta untuk putus darinya, kecuali Sheryl.
Ia menarik tangan Sheryl kembali. “Lo gak akan pernah bisa putus dari gue kecuali gue yang mutusin!”
“Mau lo apa sih?!”
“Lo tanya mau gue?! Harusnya lo tahu gue mau kita nge-date hari ini!” ucapnya tajam membuat Sheryl menganga di tempat dengan kekehan tak percaya. Sheryl tak mampu berkata-kata lagi untuk spesies seperti Alanzo.
“Gue gak mau tahu, entah itu makan, beliin yang lo mau, atau apalah! Yang penting hari ini kita harus nge-date!” lanjutnya. Alanzo memalingkan wajahnya. Entah kenapa rasanya aneh saat menyampaikan itu.
Mungkin ini semua gara-gara perkataan Serkan kemarin di lapangan yang membuat Alanzo tertantang untuk menjadikan Sheryl pacar seutuhnya dengan mengencaninya. Hanya saja Alanzo tidak pernah menyadari hal itu.
Berusaha bersabar, Sheryl menghela nafas. “Have you never dated your girlfriend before?” (Lo gak pernah kencan sama cewek lo sebelumnya?).
“Lo masih gak kenal gue?” balas Alanzo sengit.
“I think you indeed never have a date before.” (Gue pikir lo emang gak pernah).
Alanzo mendekatkan diri ke arah Sheryl yang masih menatap matanya lekat. “Because you can’t treat a girl well. Lo selalu ngajak cewek kencan dengan turutin apa yang mereka mau sebagai formalitas kencan, tanpa lo tahu mereka cuma suka sama uang lo, bukan lo. You don’t know what is the meaning of dating.”
Mendengar itu, Alanzo semakin tertantang dengan Sheryl. Mata elangnya perlahan meredup kala mendapati mata almond Sheryl. “If so, show me the meaning of dating.” (Kalo gitu, tunjukin apa maksud kencan sebenernya ke Gue).
Ujur bibir Sheryl terangkat, membentuk senyuman tipis. “Gue gak akan nyia-nyiain perlakuan lo kok. Lo mau gak pergi ke suatu tempat yang gue mau?”
***