Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
I'm Here



Suasana malam mulai mendominasi kala matahari perlahan tenggelam di ufuk barat. Seusai membawa sekantung jajanan bolen di Chillax Sudirman yang paling terkenal, keduanya kini memutuskan untuk berjalan kaki menuju Stasiun Sudirman kembali dengan jarak sekitar 1 kilometer.


Awalnya Alanzo ingin mengajak Sheryl naik taksi, tapi kata Sheryl, “Biar tahu sensasinya jalan kaki, dengan jalan kaki ngebuat kita hadir di masa sekarang, menikmati dunia di sekeliling kita dengan cara yang gak bisa kita rasain waktu kita naik kendaraan.”


Alanzo sedikit tertegun mendengarnya. Hal yang membuat ia menurut saja. Ini pertama kalinya cowok itu berjalan di tengah ramainya suasana kota Jakarta dengan kerlap-kerlip lampu yang menghangatkan malam hari. Cowok berjaket hitam itu tersenyum saat melihat wajah Sheryl yang diterangi lampu-lampu kota sedang diterpa angin.


Benar kata Sheryl, berjalan kaki bisa membuat dirinya menikmati hidup yang tidak terburu-buru.


“Kamu sering jalan kaki?” tanya Alanzo mengerutkan kening.


Sheryl tersenyum tipis dan mengangguk. “Sering. Setiap weekend, aku sama ....” Sheryl menjeda kalimatnya, tidak mungkin ia menyebut nama orang itu pada Alanzo.


“Sama?”


“Sama temen aku. Kita sering jalan di trotoar buat nikmatin pemandangan kota. Hitung-hitung olahraga.” Alanzo mengangguk-angguk. Tangannya masih menggandeng tangan Sheryl sambil melihat-lihat sekitar. Jika dipikir, kota Jakarta memang cukup ramai dengan gedung-gedung tinggi yang baru Alanzo sadari setelah tinggal selama delapan belas tahun di kota ini.


Keduanya kini sempat melewati tempat yang sepi dan gedung-gedung dalam tahap pembangunan. Saking sibuknya mata Alanzo, cowok itu tidak sadar kalau genggaman tangannya merenggang. Sheryl berhenti di tempat. Alanzo menoleh pada Sheryl yang menunjukkan muka tegang.


“Kamu kenapa?” tanya Alanzo.


Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Sheryl. Alanzo bisa merasakan keringat dari tangan Sheryl yang ia genggam. “Sheryl?”


Mata Sheryl tertuju pada gedung di hadapannya yang sedang dibangun dengan beberapa pekerja lembur. Seketika suara gergaji mesin kini mendominasi telinganya dengan sangat keras. Alanzo melotot kala melihat para pekerja mulai memotong-motong kayu dengan gergaji itu, menyadari sesuatu. Ia merasakan getaran di tangan Sheryl yang perlahan terlepas dari tangannya.


Nafas Sheryl tersengal. Kedua tangannya menutup telinga dengan kasar. Dengan cepat, Alanzo menarik tangan Sheryl menjauh dari gedung itu, sedikit berlari cepat. Sayangnya, Sheryl masih saja bergetar. Memori di masa lalunya tiba-tiba saja merasuk di otaknya. “Huhh ... huhh .... huhh!”


Dengan nafas tak beraturan, Sheryl melepas pegangan tangan Alanzo kemudian berlari entah ke mana. Alanzo semakin kelabakan. Perasaannya mulai berkecamuk saat mendapati Sheryl yang kacau seperti ini. “Sheryl! Mau ke mana?!” Alanzo segera mengejar cewek itu.


Kening Alanzo kini mengerut kala langkah keduanya berhenti di depan gedung yang sudah lama mati. Gedung mewah milik menteri negara yang akan dilakukan pembangunan. Alanzo tahu, sangat tahu dari mamanya kalau tidak ada yang boleh menginjakkan kaki di gedung yang dijaga ketat itu mengetahui pemiliknya adalah penjabat negara, atau ia akan terkena pelanggaran hukum.


Sialnya, Sheryl berlari masuk ke arah gedung itu. Alanzo segera menahannya. “Sher! Hey, listen to me! Jangan masuk ke gedung itu!”


“Lepas!” Sheryl menghempas tangan Alanzo dan kembali berlari memasuki gedung yang di sana terdapat banyak sekali penjaga bertubuh kekar.


Para penjaga itu mendekati Sheryl yang terlihat kacau. “Gu-gue mau masuk!”


Mengetahui wajah Sheryl, para penjaga itu mundur sambil menunduk. Herannya, membiarkan Sheryl masuk begitu saja yang diikuti Alanzo di belakangnya. “Anjing lo semua! Ngapain biarin dia masuk?!” umpat Alanzo pada penjaga yang hanya diam. Alanzo semakin mengejar Sheryl, meneriaki namanya yang sungguh tak digubris.


Sheryl dengan cepat memasuki sebuah ruangan berdesain klasik dan berkelas, mengobrak-abrik barang-barang di dalamnya seolah sedang mencari sesuatu. “Ke mana ....”


Alanzo akhirnya bisa menemukan keberadaan Sheryl yang ada di ruangan HRD dari teriakannya. Ruangan itu tampak berantakan. Dengan jantung yang seolah disambar petir, Alanzo segera menghampiri Sheryl yang sedang terduduk di lantai balkon sambil memegangi dada serta kepalanya.


Deg! Alanzo terdiam sejenak. Menyadari sesuatu yang membuat dadanya seolah dihantam ribuan godam. Ingatannya mulai berputar pada sosok beberapa tahun yang lalu di hidupnya. Sosok yang sudah seperti belahan jiwanya, sosok yang selalu membuatnya tertawa, dan sosok yang memberinya alasan hidup. Dia.


Semua tingkah Sheryl ketika kacau, saat tubuh Sheryl bergetar, saat Sheryl meneteskan air mata, sama dengan sosok ‘dia’ saat penyakitnya kambuh.


Dengan cepat, Alanzo memeluk tubuh Sheryl, berharap cewek itu tenang. “Sheryl ...,” panggilnya lirih.


“Sheryl ...,”


“Sheryl ... look at me ...,” panggilnya lagi untuk yang ketiga kalinya. Ia mengarahkan wajah Sheryl menghadap wajahnya. “Hey, everything’s gonna be alright!”


“You will be safe with me. I’m here. You’re not alone.” Alanzo menyisihkan rambut Sheryl yang menghalangi muka itu. Kini netra almond Sheryl menatap tepat di retina Alanzo.


“I’m here. You will be safe with me. Belive me,” katanya hangat. Satu tangan Alanzo memegang tangan Sheryl yang bergetar, mengelusnya untuk menetralkan kekhawatiran cewek itu.


“Keep staring my eyes.” Tak disangka, perlahan jantung Sheryl kembali netral dengan getaran di tangannya yang menghilang. Saat menatap mata Alanzo, rasa tenang sedikit demi sedikit tersalurkan untuk dirinya.


“Will you stay here with me?” tanya Sheryl yang diangguki Alanzo.


“Saro sempre qui,” jawab Alanzo yang artinya ‘aku akan tetep di sini’ dalam bahasa italia.


“Promette?” (Janji?).


“Promette. Aku bakal di sini sampai kamu tenang. Kamu gak perlu cari apa pun, selain aku di sini.” Perkataan Alanzo seperti sebuah suplemen kekuatan bagi Sheryl. Kedua mata itu masih saling bertatapan dengan jarak yang kian menipis. Nafas Sheryl sangat bisa Alanzo dengar. Tak butuh waktu lama, Alanzo menempelkan bibirnya ke permukaan bibir Sheryl.


Sheryl memejamkan mata, membuka bibirnya. Menikmati sensasi asing seolah makhluk mikrobatik menggelitik dirinya bersamaan jantung yang tak henti-hentinya berdebar sangat kencang. Perasaan tenang langsung menyelimuti diri Sheryl. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada getaran di tubuhnya, tidak ada memori mengerikan lagi yang melewati otaknya.


Merasakan Sheryl yang tak menerima penolakan, cowok itu menarik tengkuk Sheryl. Semakin leluasa. Ototnya perlahan rileks dengan perasaan yang tak bisa Alanzo jelaskan. Sangat berbeda saat Alanzo mencium cewek lain.


Beberapa menit kemudian, Alanzo menjauhkan bibirnya. Melihat wajah Sheryl yang merah seperti tomat. Sheryl mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Keduanya saling diam, merasa canggung.


Sekian detik kemudian, bibir Alanzo melengkung, tersenyum tipis.


***