
Ensefalopati. Sebuah penyakit yang terdengar asing di telinga Alanzo maupun Mahalika saat dokter mengatakan bahwa Delana mengidap penyakit tersebut sejak lahir. “Ensefalopati itu gangguan yang menyerang fungsi otak. Orang yang kena penyakit ini biasanya akan tremor, linglung, ataupun kejang. Jadi, harus ditangani oleh dokter ahli,” jelas dokter Ivan kala itu.
Sejak malam yang menyatakan penyakit Delana itu, Alanzo menjadi lebih protektif terhadap adik perempuannya itu. Saking over-protektifnya, Alanzo tidak mau jika Delana jauh-jauh dari dirinya barang semeter pun. Bahkan, Alanzo meminta untuk menjadikan Delana sekelas kepada kepala sekolah meski mereka beda tingkat. Permintaannya itu hampir ditolak tegas oleh papanya dan pihak kepala sekolah kalau saja Mahalika tidak membela dirinya.
Setiap hari, Delana akan selalu sebangku dengan Alanzo. Alanzo tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh cewek itu, termasuk gerombolan Serkan yang selalu saja membuat masalah di kelas. Mulai dari iseng mencoret-coret bangku Delana, melempar penghapus yang dipotong kecil-kecil, sampai mencabut sehelai rambut Delana yang membuat Delana kesakitan.
“Anjing lo!” Kini Alanzo meninju Serkan, tidak lagi tahan dengan Serkan.
“Halah! Gitu aja ngamuk! Huuu!” ucap Serkan membuat Alanzo menonjoknya. Serkan juga tak kalah menonjok Alanzo. Keduanya kini beradu jotos, mengundang sorakan dari anak-anak kelas 8D. Perkelahian itu baru berhenti saat guru BK memanggilnya ke ruang BK.
Sejak hari itu, Alanzo dan Serkan saling mengikrarkan permusuhan.
***
Delana mengembuskan nafasnya, lelah melihat wajah Alanzo yang selalu bonyok sehabis berantem dengan Serkan—bukan karena melindungi dirinya saja—tapi juga karena permasalahan kecil. Delana menaruh mangkung berisi air hangat di nakas, mendudukkan diri di samping Alanzo.
“Kakak tuh gak harusnya berantem cuma buat belain aku,” ucapnya memeras kain basah dari mangkuk.
“Aku gak terima aja,” jawab Alanzo, melihat gerakan tangan Delana yang menempelkan kain hangat itu ke rahangnya. Delana mendekatkan diri, memencetnya pelan wajah serius. Dan, Alanzo bisa menangkap itu semua. Entah kenapa, jantungnya kini berdetak kencang dari biasanya. “Aws!”
“Sakit kah?” tanya Delana tampak panik. Ingin melepas kain itu dari rahang Alanzo, tapi dengan cepat Alanzo menahannya. Ia merasa nyaman saat tangan Delana mengelus rahangnya dengan kain itu.
“Gak papa, obatin terus!” pinta Alanzo. Delana menurut, mulai mengusap luka lebamnya dengan salep. Sedangkan Alanzo sedari tadi tak mengalihkan perhatiannya dari wajah Delana.
Alanzo tersenyum. Mungkinkah ia menyukai adik angkatnya itu? Jika iya, Alanzo tidak salah ‘kan? Sedari dulu, ia memang menyukai gadis itu dalam artian kagum dan nyaman, tapi kali ini berbeda. Alanzo merasa ia menyukai Delana dengan perasaan yang dialami remaja awam pada umumnya.
***
Hari beganti bulan, bulan berganti tahun, kini Alanzo mencapai bangku kelas sembilan. Delana pun memasuki kelas delapan. Tidak ada yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Alanzo mulai melepaskan cewek itu untuk memilih kelasnya sendiri, tidak lagi sekelas dengannya.
Alanzo sadar mengekang cewek itu hanya membuatnya sumpek.
Yang berbeda hanya Vano. Vano yang dulu sering bermain bertiga, jadi jarang berkumpul karena kegiatan yang padat, mulai dari jadi pengurus ekskul sampai mempersiapkan ujian sekolah nanti. Meski begitu, terkadang Vano masih menyempatkan waktu untuk bertemu dengan ketiganya.
Sebenarnya, Delana merasa sepi dan tidak rela kalau Vano jarang mengunjungi rumahnya, tapi Delana tahu ia tidak boleh egois. Hingga beberapa bulan, Vano yang jarang datang ke rumahnya itu, akhirnya tidak pernah sama sekali mengunjugi bahkan di sekolah mereka juga jarang bertemu. Rasanya Vano seperti menghilang dari muka bumi.
Mulanya semua baik-baik saja sampai Delana merasa kesepian tanpa kehadiran Vano. “Kak Vano ke mana sih? Dia sibuk?” tanya Delana pada Alanzo yang entah sudah ke berapa kali bulan ini.
“Aku juga gak tahu, Lan. Kenapa sih?” tanya Alanzo heran. Delana hanya menggelengkan kepala.
Rasa sungkan serta bersalah menggerogoti jiwa Delana. Rasanya Delana tidak tenang jika kehilangan seseorang yang dulunya dekat, menjadi tiba-tiba jauh. Cewek itu berinisiatif untuk mendatangi kelas Vano untuk memberikan kue yang semalam ia buat sendiri.
“Yah, Vanonya lagi sparing di lapangan basket,” kata cewek sekelas Vano. Delana pun mendatangi lapangan basket yang sedang ramai dengan para supporter cewek.
“Vanoo! Uwuu! Semangatt!” teriak cewek itu membuat Delana menoleh ke lapangan basket, menemukan seorang cowok yang selama ini ia cari. Cowok yang terlihat lebih tampan dari terakhir kali Delana lihat dengan keringat yang membasahi rambutnya. Delana tertegun di sana, menunggu hingga pertandingan usai baru ia mendekat pada Vano.
“Kak Vano! Kak Vano ke mana aja? Kenapa gak pernah ngabarin aku sama kak Alanzo? Kita kangen!” cerocosnya.
“Gue sibuk,” jawab Vano singkat, padat, jelas. Sangat anomali dengan wataknya dulu.
“Kakak kenapa jawabnya cuma gitu? Kakak marah sama kita?”
“Enggak.”
“Gue gak papa,” ujarnya datar.
“Ini kue buat Kakak kalau Kakak marah.”
Vano hanya tersenyum tipis. “Makasih.” Belum sempat ia menerima kue dari Delana, sebuah bola melambung ke arah Delana. Dengan sigap, Vano langsung memeluk Delana, melindunginya dari bola. “Lo gapapa?”
Tidak menjawab, Delana menegang di tempat. Meski ia sering mendapat perlakuan protektif dari Alanzo, entah kenapa rasanya beda saat Vano yang melakukannya. Rasanya seperti perlakuan manis. “Ga-gak papa,” ucapnya gugup.
Semua orang di lapangan bersorak ala-ala orang baper pada Vano dan Delana. Tidak tahu seberapa merahnya pipi Delana. Sedangkan Vano masih berwajah datar.
“Gue duluan,” ujar Vano meninggalkan dirinya yang masih menegang.
“I-iya.”
***
“Aku mau ngomong,” ucap Alanzo pada Delana yang sedang berdiri menikmati secangkir teh di balkon kamarnya. Di sakunya, Alanzo telah menyiapkan sebuah kotak hadiah. Kali ini Alanzo tidak akan menahannya lagi, ia akan mengungkapkan perasaanya meski ia tahu Delana adalah adik angkatnya.
“Aku juga mau ngomong sesuatu,” tanggap Delana yang sedari tadi tersenyum-senyum sendiri entah memikirkan apa.
Alanzo mengerutkan kening. “Mau ngomong apa?”
“Kakak duluan aja!”
“Gak. Kamu harus duluan!”
Delana menganggukkan kepala. Sejak lama, ia ingin membicarakan ini dengan kakak angkatnya. “Kak,” panggilnya masih dengan wajah malu-malu. “Enggak ah, Kak! Aku malu!”
“Kok malu? Kenapa?”
“Enggak papa.”
“Kenapa, Delana? Bilang aja! Gak usah malu!” pinta Alanzo lembut.
Delana menggigir bibir bawahnya sambil menunduk. “Sebenernya,” katanya tertawahn membuat Alanzo semakin penasaran. “Sebenernya aku mau minta tolong ke Kakak.”
“Minta tolong apa?”
“Aku ... aku suka sama Kak Vano. Aku ... aku gak tahu, tapi aku suka! Ah! Tapi ... gak tahu!” Delana memalingkan mukanya yang merah seperti kepiting rebus
Seketika Alanzo terdiam di tempat. Tidak bisa mendeskripsikan perasannya saat ini. Entah sedih atau senang. Yang pasti cowok itu ikut tersenyum, membatalkan niatnya untuk memberikan kotak hadiah di sakunya.
***
A/N:
Guys maaf ya, klo kemarin ga up dan belum balesin komen kalian, soalnya lagi banyak acara. Beneran. Tp tenang aja, nantinya aku ganti sehari up 2. Maybe minggu depan bisa up lancar lagi 🙏😭
Buat kalain yang masih bertahan di part ini, lup lupp, makasihh! Baca terus kelanjutannya! Udah mendekati ending😘