Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Mahalika's Birthday



Alanzo memang sengaja berpura-pura sakit supaya Delana bisa berangkat berdua dengan Vano. Secara diam-diam cowok itu sedari tadi membuntuti mobil yang Vano dan Delana kendarai bersama kedua bodyguard-nya. Alanzo melihat semuanya dan tidak pernah menyangka bahwa Vano akan meninggalkan Delana di tengah jalan di malam gelap.


Ia sudah mengepalkan tangan ingin menghampiri Delana dan menghajar Vano. Belum sempat ia menghampiri, sebuah truk melaju kencang dan betapa kagetnya Alanzo saat mengetahui tubuh Delana telah terpental. Alanzo segerah mengendarai mobilnya yang berjarak seratus meter, menemukan Vano yang tengah terduduk di sisi tubuh Delana.


Alanzo tidak pernah tahu Vano meninggalkan Delana karena permintaan Delana yang mengancam. Alanzo tidak pernah tahu, Vano tidak benar-benar meninggalkan Delana. Meski begitu Vano tetap menyimpan rasa amat bersalah pada Delana.


Vano menghisap rokok elektriknya sata mengingat kejadian itu. Tidak ada seorang pun yang tahu jika dirinya merokok. Mereka hanya tahu dirinya adalah cowok teladan bergudang prestasi, serta pujian melimpah, tanpa tahu memendam frustasi.


“Andai lo tahu, Zo.” Ia mematikan rokok saat sebuah ponsel bergetar di sakunya. Ia melihat notif dari seseorang.


Mom: Besok kamu dateng ya ke ultahnya tante Mahalika!


Ia mendengus malas, hendak meletakkan ponsel di sakunya lagi kalau saja notif kembali berbunyi.


Mom: Sheryl dateng juga loh! Masa ga dateng?


Vano berpikir sejenak sebelum sebuah senyum terukir di wajahnya.


***


“Syudah selesai!” Seorang perempuan berumur dua puluhan berseru segar. Zlisty, beautican salon kepercayaan Alanzo itu menggiring tubuh Sheryl keluar setelah di-make-up serta dipakaikan gaun mewah yang Alanzo pilih sendiri khusus Sheryl.


Alanzo menilik Sheryl dari bawah hingga atas tanpa berkedip. Meneguk saliva-nya yang terasa susah. Sheryl sangat-sangat cantik dengan gaun beigh disertai highheels kaca yang menambah keindahan kaki jenjangnya. Jangan lupakan rambut Sheryl yang dililit ke belakang dengan beberapa bunga yang menghiasi membuat Sheryl semakin menawan di matanya.



Alanzo yang sudah siap dengan jas hitamnya itu berdiri dari duduknya saat Sheryl berjalan perlahan mendekatinya.


“Gimana? Cantik, ‘kan?” tanya Zlisty menyadarkan Alanzo dari keterpukauannya. Meski begitu, mata Alanzo tidak beralih sekalipun dari Sheryl.


“Cantik,” ucap Alanzo lirih. Dipandang seperti itu, entah mengapa membuat pipi Sheryl merah. Sial.


“Jadi, sebenernya kita mau ke mana?” tanya Sheryl yang masih bingung. Tadi, tiba-tiba saja Alanzo muncul di teras rumahnya dengan jas yang rapi, menariknya masuk ke dalam mobil, dan membawanya ke salon. Tanpa memberitahunya bakal ke mana.


Cowok itu mendengus saat mengingat ke mana tujuan mereka selanjutnya. “Hari ini Mama aku ulang tahun. Bakal banyak anak pengusaha, konglomerat, dan penjabat yang kumpul.” Sejujurnya, Alanzo terlalu malas untuk menghadiri acara ini hanya saja ini demi Mahalika yang merengek dengan alasan ulang tahun.


***



Pandangan seluruh orang di ruangan megah itu kini tersedot ke arah kedua remaja yang sedang bergandengan tangan. Beberapa pembicaraan senyap begitu saja kala melihat siapa gadis cantik yang tengah digandengan oleh putra tunggal keluarga Gilbartan itu. Antara terpukau dan penasaran.


Begitupun Mahalika yang tadi sedang bergibah ria dengan istri-istri penjabat, kini mengalihkan perhatiannya pada putranya yang tampak lebih tampan itu. Sheryl tersenyum anggun menatap mereka, tidak ada rasa gugup, santai dan tenang. Dagunya sedikit ia angkat untuk menambah kepercayaan dirinya.


Dari samping, Alanzo bisa menatap wajah tenang itu, seolah telah terbiasa berinteraksi dengan orang kalangan atas. Beberapa air muka laki-laki yang ia lewati menatap Sheryl tanpa berkedip, melupakan pasangan yang ia bawa di sebelahnya. Mengetahui itu, Alanzo langsung memeluk pinggang Sheryl secara posesif, menunjukkan bahwa Sheryl miliknya.


“Aumm! Anak Mama akhirnya dateng jugaaa!” Mahalika secara mendadak memeluk Alanzo kemudian tanpa malu mencium pipi cowok itu berkali-kali secara semangat. “Muah! Muah! Muah!” Semua orang terkikik kala Alanzo melotot dan mengusap pipinya. Tidak sampai situ saja, Mahalika memencet kedua pipi Alanzo yang tampak menggemaskan di mata Mahalika.


Alanzo yang sudah risih melepas tangan mamanya. “Apaan sih, Ma!” Ia melirik Sheryl yang terkikik di sebelahnya.


“Mama tuh kangen sama kamu! Kamu gak pulang seabad!”


“Seminggu,” jawab Alanzo sebal.


“Sama aja!”


“Sama aja kayak seabad!”


“Terserah Mama!” Kini, netra wanita yang berumur empat puluh tapi terlihat masih muda itu beralih Sheryl. Ia tersenyum.


“Kamu pasti pacarnya Alanzo ya?”


“Iya, Tante.”


“Ouhh! God! Kamu cantiiik banget! Pantesan Alanzo suka sama kamu!” Ia mencebikkan bibir. Mengusap pipi Sheryl yang terasa halus dan memegang bahu cewek itu.


“Thanks, Tante juga cantik.”


“Kamu tahu? Mantan-mantannya Alanzo tuh gak ada yang secantik kamu! Sumpah!”


“Ma,” kata Alanzo memijat kepalanya.


“Ya walaupun kamu cewek pertama yang Alanzo ajak ketemu sama Mama, tapi Mama ini tahu kalo mantannya Alanzo gak ada yang cantik!” bisiknya mengejek Alanzo lalu memeluk Sheryl.


“Yang pertama?”


“Iya! Alanzo tuh gak pernah ngajak cewek ke rumah! Jahat banget, 'kan? Kayaknya mendingan kamu nikah aja deh sekarang sama Alanzo langsung. Mama gak sabar punya cucu banyak yang cantik-cantik! Ouh! Pasti menyenangkan!” Mahalika terlihat membayangkan, sedangkan tamu undangan tertawa.


“Ma, udah,” bisik Alanzo melihat Sheryl yang hanya tersenyum. Sungguh, urat malu Alanzo sudah di ubun dengan watak dramatis mamanya.


“Ssstt! Kamu itu gak pernah pulang ke rumah! Rumah sepi! Mama butuh cucu!” Ia menggandeng lengan Sheryl untuk ia ajak berdiskusi, meninggalkan Alanzo.


“Mau ke mana, Ma?”


“Mama culik Sheryl dulu ya!” Hal yang membuat Alanzo mengikut dari belakang. Alanzo merasa sebal juga dengan Sheryl, mau-maunya diajak Mahalika. “Kamu mau minum apa? Sangria? Atau smoothies?”


“Smoothies aja, Tante!”


“No, don’t call me ‘tante’, panggil ‘Mama’ ya!” pinta Mahalika mengambilkan segelas smoothies untuk Sheryl.


Sheryl mengangguk dan menampa gelas itu. “Okey, Ma.”


Mahalika meneguk minuman yang sama dengan Sheryl. “Orang tua kamu kerja di mana?”


“Aku tinggal sama wali. Mereka pedagang bakpao keliling.” Mahalika mengerutkan kening. Ini baru pertama kalinya ia menemukan cewek sederhana. Dari dulu menguntit mantan-mantan Alanzo, mereka semua berstatus anak pengusaha maupun konglomerat.


Ia menyipitkan mata. “Bentar, kayaknya Mama pernah lihat kamu deh. Kayak gak asing gitu wajahnya.”


Seketika Sheryl tergemap. Namun, ia masih berlagak tenang. “Mungkin mirip sama orang lain.”


“Kamu ... kayak pernah kumpul deh sama Mama.” Mahalika terlihat mengingat-ingat sesuatu. Alanzo hanya menarik salah satu alisnya.


“Aku dulu pernah nemenin Tante—Mama beli dagangan bakpao bapak aku. Mama lupa?” ucap Sheryl secara tiba-tiba membuat Mahalika mengangguk-angguk.


“Lupa. Mungkin cuma perasaan Mama kali ya. Ah! Tapi udahlah! Sekarang mau tanya lagi, kalian awal kenal gimana?” tanya Mahalika merasa sangat kepo. Pertanyaan yang membuat Alanzo dan Sheryl saling lirik-melirik, hanya tersenyum membayangkan bagaimana awal pertemuan mereka yang tidak baik.


***