Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Kenart & Leon



“Dia pasti masih marah,” ujar Leon pada keempat cowok di sebelahnya, tak mengalihkan tatapannya dari Alanzo dan Sheryl yang sedang berbincang dengan Mahalika. Mengingat sebetapa marahnya Alanzo saat terakhir kali bertemu setelah membuat gara-gara pada Sheryl minggu lalu. Kini, Alanzo diikuti Sheryl menghampiri kelima cowok yang langsung berdiri dari duduknya.


Leon, Jehab, Omero, Kenart, dan Andro hanya diam menunggu Alanzo berbicara, seperti canggung akan sesuatu. Mereka tahu, salah satu sifat Alanzo adalah tidak akan memaafkan seseorang yang salah meski itu tak sengaja.


“Napa lo pada diem?” tanya Alanzo.


“Bos, kalo lo mau hajar kita boleh. Tapi jangan bubarin Gebrastal karena kita udah nakut-nakutin Sheryl kemarin! Kagak kita ulangin lagi dah!” ucap Jehab dramatis, tampak konyol. Memegang tangan Alanzo.


Alanzo hanya tersenyum. Sungguh diluar nayla, nalar maksudnya. Alanzo tidak pernah senyum tipis seperti ini. Ia menepuk bahu Jehab. “Kita temen, Bro! Gue gak akan sepayah itu untuk ninggalin temen yang udah ada sejak dulu sama gue.”


Kelima cowok itu—kecuali Kenart—melongo mendengar itu. “Gue tahu lo salah, tapi gue juga tahu. Gue cuma manusia yang gak baik kalo gue gak jadi pemaaf. Semua orang punya kesalahan, termasuk gue,” tambahnya membuat Sheryl tersenyum tipis. Andro saja sampai tersedak koktailnya.


“Kalo mau minta maaf, harusnya ke dia,” tunjuknya pada Sheryl. Kini pandangan Leon dan Jehab beralih pada Sheryl.


“Gue minta maaf,” kata Jehab. Leon diam saja, sejujurnya tidak pernah ada kata maaf pada cewek dalam kamus hidup Leon.


“Gue juga!” Leon berujar tanpa menatap Sheryl. Rasanya aneh.


“Santai aja!” Sheryl menggidikkan bahu dengan ekspresi yang tenang. Kini, hanya tinggal Kenart yang sedari tadi tak bereaksi apa pun. Cowok itu terlihat muak. Tanpa berkata, ia meninggalkan mereka, pergi entah ke mana.


“Udah, biarin aja! Tuh anak emang kayak begitu!” kata Andro, tapi pandangan Sheryl masih tetap tak beralih dari punggung Kenart yang perlahan menghilang. Tidak fokus lagi dengan apa yang Alanzo bicarakan dengan anggota gengnya.


“Aku ke kamar mandi dulu ya?” pinta Sheryl.


“Mau aku anter?”


“Asekk! Udah pake aku-kamu nih, Bos?” tanya Jehab tak percaya. Selama melihat Alanzo berpacaran dengan cewek lain, tidak pernah Alanzo menggunakan bahasa lembut itu, yang ada ‘lo-gue’ meski si cewek selalu memanggilnya ‘aku-kamu’.


“Enggak usah!” Sheryl menggeleng sebelum kemudian ngibrit dari cowok-cowok itu.


***



(Ilustrasi, cuma bedanya malam hari)


Kenart menghentikan langkahnya di balkon yang menghadap ke arah taman yang luas, menampakkan pemandangan malam. Meneguk sangria dari gelas snifternya. Antara sebal, kesal, tidak suka, bercampur aduk dari raut wajahnya. Kenart tidak akan datang ke pesta ulang tahun Mahalika kalau bukan karena dipaksa mamanya.


“Gue gak tahu ya kenapa lo benci banget sama gue,” ucap seorang cewek bermata almond yang kini berdiri di sebelah Kenart membawa gelas martini. Dari suaranya, tanpa menoleh Kenart tahu siapa dia.


Kenart meneguk sangrianya. “Tanpa gue kasih tahu lo aslinya tahu.”


Sheryl mengangkat bahunya, terkekeh. “Gue rasa lo gak cuma benci karena gue udah buat Alanzo putus sama Glenca, atau karena gue cewek miskin.”


“Itu karena gue gak suka lo deket sama Alanzo,” balasnya. Kini menatap mata Sheryl sengit. “Semua orang gak akan tahu niat lo, tapi gue tahu. Lo pasti punya niat bajingan.”


“Ternyata lo gak sepinter itu.” Sheryl tertawa saja sambil menguk minumannya.


“Lo pikir gue gak tahu, lo pesen hotel sama cowok? Trus sama om-om?” Seketika itu juga, wajah Sheryl menjadi datar, menatap Kenart.


“Lo gak tahu apa-apa,” katanya tanpa ada ekspresi sedikit pun, tapi wajahnya masih tetap tenang. Membuat Kenart susah menebak apa yang ada di dalam pikiran cewek itu.


“Apa pun itu, liat aja, Alanzo pasti gak bakal maafin lo,” kata Kenart muak.


“Gue tahu lo sayang sama Alanzo sebagai teman,” ucap Sheryl. “Lo ngerasa kehilangan temen lo karena gue?”


“Lo ternyata juga gak sedawasa itu buat baca situasi.” Kenart mengembuskan nafas secara kasar, benar-benar kesal dengan cewek di sebelahnya yang selalu membuat masalah dengan pikirannya.


“Kalo lo bicara sama gue cuma buat manipulasi gue supaya gue ada di pihak lo kayak anak Gebrastal lainnya, gue gak akan terpengaruh! Gue cuma mau peringatin ke lo, lo itu cuma anak pedagang bakpao! Cewek biasa yang gak akan pernah setara sama Alanzo, dan om Jovan gak akan pernah mau punya mantu kayak lo! Inget itu!” Setelah berbicara seperti itu, Kenart akhirnya pergi meninggalkan Sheryl yang terdiam diterpa semilir angin.


“Gak usah dipikirin, emang kek gitu dia!” ujar Leon yang tiba-tiba saja muncul, menjulurkan sebuah minuman dari gelas martini dengan maksud sebagai ganti minuman Sheryl yang habis.


Sheryl mengambil gelas itu dari tangan Leon. “Anti cewek miskin ya dia?”


Leon mengangguk. “Papa dia selingkuh sama orang kelas bawah. Makanya rada anti.”


Mendengar itu, Sheryl terdiam di tempat. Leon juga diam, memberikan jeda sejenak.


“Lo cantik malem ini,” katanya tiba-tiba. “Sayangnya milik Alanzo.” Leon tampak bercanda yang diberikan senyum oleh Sheryl.


“Gue mau ucapin makasih. Gue gak nyangka Alanzo bisa dateng ke acara orang tuanya gini, padahal biasanya dia cari alasan buat pergi. Gue juga gak nyangka, karena lo, dia jadi pemaaf.” Leon terlihat tertawa sekilas, tapi dari suaranya Sheryl tahu cowok itu sedang serius.


“Sebelumnya, Alanzo itu pemarah, moodyan, anti orang miskin. Sejak kenal lo, kayaknya beda.”


Mendengarnya membuat Sheryl juga tertawa. “Sebrengsek-brengseknya lo, ternyata tahu cara makasih.”


“Gue gak sebrengsek itu kali!” elak Leon.


“I know. Alanzo pernah bilang, lo adalah orang yang nemenin dia saat dia sulit. Gue tahu lo orang yang tulus, meski orang lain liat lo jahat dan gak bener.” Leon langsung menatap mata Sheryl yang melihatkan kehangatan. Tidak ada orang yang pernah memandang Leon seperti Sheryl memandangnya sebelumnya.


“Makasih udah buat kita akur. Maaf juga.” Akhirnya kata maaf yang sangat enggan Leon katakan itu keluar dari mulut Leon.


“Santai aja,” balas Sheryl dengan senyum tenangnya.


“By the way, Alanzo cerita apa aja?”


“Everything.”


“About her?” Kata ‘her’ yang dimaksud Leon pastilah Delana. Sheryl mengangguk.


“Permisi,” ujar seorang pelayan, membuat Sheryl serta Leon menoleh ke belakang. “Dengan nona Sheryl?” tanyanya yang diangguki olehnya.


“Ada yang mencari Anda, ingin bertemu secara privasi.” Pelayan itu tampak ragu membuat Sheryl mengerut. Ia kemudian ia membisikkan sesuatu di telinga Sheryl membuat Sheryl terdiam beberapa saat sengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan.


“Gue duluan,” ucap Sheryl pada Leon tampak tergesa-gesa. Membuat Leon mengerutkan dahi. Ada apa dengan Sheryl?


***


A/N:


Yang kepo dalem rumahnya Alanzo tuh gimana, kira-kira kek gini gaiss:




Oghey, guys! Lama gak nyapa nih, mau nyapa dulu! Jangan lupa like, komen, share!


Komennya paling utama guys, belakangan ini author lg kehilangan semangat nulis nih😭🙏