
“Ka-Kak ... a-aku ta-takut. A-aku ga-gak ta-tahu ke-kenapa ....” Cewek itu memegang erat lengan Alanzo dengan tubuh yang tremor, layaknya orang linglung. Seluruh keringat membasahi dahinya. Terlihat sangat kacau dengan rambut yang awut-awutan. Hati Alanzo selalu mencelos kala melihat keadaan cewek itu. Hal seperti ini adalah yang paling ia takuti dan paling ia benci.
“Hey! Dengerin gue! Dengerin! Gue di sini!” kata Alanzo mengeratkan pegangannya dengan cewek itu. Berusaha menenangkan.
“A-aku ga-gak bisa te-tenang, Kak ... aku ... aku ... be-benci kayak gini, Kak.” Cewek itu mulai menangis, memeluk erat tubuh Alanzo. Alanzo langsung saja mengelus punggung cewek yang paling ia sayangi itu, menggosok-gosok tangannya, berusaha menyalurkan seluruh energi positif yang ada di tubuhnya.
Alanzo berkata lirih. “Semuanya bakal baik-baik aja. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Gak ada apa-apa.” Terus saja mengulang perkataan itu dengan lirih sampai beberapa menit, cewek di pelukannya merasa tenang. Hal yang membuat Alanzo tenang karena dapat meredakan penyakit cewek itu. Alanzo masih mengusap-usap punggungnya hingga tanpa sadar cewek itu tertidur di pelukannya.
Hari itu adalah hal yang paling Alanzo ingat karena Alanzo tahu hari itu terakhir kali ia menenangkan dia sebelum kejadian itu.
Alanzo menghisap rokok elektrik di tangannya, mengembuskannya ke udara malam yang semakin menggelitik kulitnya. Pikirannya masih terbang pada dua tahun. Saat ‘dia’ masih hidup. Awalnya Sheryl adalah orang yang melintas di otaknya. Akan tetapi, semakin memikirkan Sheryl membuatnya semakin teringat dengan sosok dia.
Cowok itu kini melangkahkan kakinya dari balkon apartemen masuk ke dalam ruangan gelap dengan lampu yang sengaja tak ia nyalakan. Cowok itu memencet saklar lampu. Tak menyangka ada keberadaan seseorang yang duduk di sofa.
“Udah berapa kali Papa peringatin kamu buat jauhin Sheryl? Kamu ternyata bebal,” ucapnya. Pria paruh baya itu melirik ke arah putra tunggalnya yang sedang menatapnya sengit. Meski terlihat santai, ada bibit-bibit kemurkaan pada wajah Jovan kala menghunuskan matanya.
“Bukan urusan lo gue deket sama siapa aja!” tandas Alanzo muak.
“Urusan Papa karena kamu masih bagian dari keluarga Gilbartan! Jangan buat Papa malu dengan kamu terus-terusan jadi cowok brengsek yang deketin cewek kayak Sheryl!”
“Kalo gitu keluarin sekalian gua dari KK! Gue gak butuh keluarga bacot yang luarnya mulus, dalemnya busuk!”
Bugh! Dengan sekali pukulan, Jovan berhasil membuat pipi Alanzo membiru. Alanzo memegang tulang pipinya, menatap elang papanya yang tampak kesal dengan perkataannya. “Papa gak mau ada lagi kekacauan kayak dulu! Kamu boleh deketin cewek manapun yang berkelas, asal jangan Sheryl! Pindah kelas, jauhin Sheryl, dan jangan pernah kamu ciptain interaksi apa pun sama dia!”
Mendengar perkataan Jovan, Alanzo hanya terkekeh. “Kenapa? Kenapa sama Sheryl? Lo suruh gue jauhin, karena dia cuma anak asuh dari pedagang bakpao? Malu lo kalo lo nanti punya mantu yang gak berkelas? Gak suka lo deket-deket sama orang biasa?”
Jovan diam di tempat, tidak menjawab apa pun. Mata merahnya masih menatap Alanzo kesal.
“Itu ‘kan yang lo perlakuin ke Delana? Lo gak pernah suka sama kehadiran Delana. Sampai dia mati pun, lo juga gak peduli.”
Nyes! Rasanya dada Alanzo seperti diserang oleh berbagai besi panas saat pikirannya berkibar pada masa lalunya. Tentang dia. Delana. Tentang bagaimana pria di hadapannya memperlakukan Delana. Tentang bagaimana kesuraman yang selalu Delana alami setiap harinya.
Jovan mengembuskan nafas. “Jangan bahas dia. Dia udah gak ada,” katanya tidak suka. “Apa pun yang Papa perintahkan buat kamu, itu yang terbaik. Kamu gak pernah tahu siapa Sheryl sebenernya. Bisa aja dia ....” Jovan menggidikkan bahu, sedangkan rahang Alanzo mengeras. Ia sangat tahu maksud Jovan yang merendahkan Sheryl.
“Sheryl itu, orang baik-baik! Gak kayak lo sama Vano yang bajingan!” Alanzo menarik kerah Jovan, melotot padanya.
“Anak kurang ajar! Gak tahu sopan santun!” Jovan menghempas tangan Alanzo, memukul rahang cowok itu agar sadar dengan tindakannya. Alanzo berusaha melawan, tapi tenaganya selalu tidak sebanding dengan Jovan. Jovan menarik kerah Alanzo. “Papa ngedidik kamu buat jadi anak baik-baik! Bukan jadi anak pembangkang!”
“Sekarang harusnya kamu tahu bedanya kamu sama Vano,” tambahnya semakin memanasi kuping Alanzo. Jovan melepas kerah Alanzo.
“Mau ke mana kamu?! Papa belum selesai bicara!” teriak Jovan saat Alanzo sudah keluar dari apartemen.
***
Alanzo meninju tembok tak bersama di ruangan itu. Jika mansion yang merupakan rumah utama serta apartemennya telah direcoki oleh papanya, maka sasaran Alanzo adalah rumah kedua milik keluarga Gilbartan. Tempat di mana ia menyimpan semua koleksi motornya. Rumah dengan lokasi yang jauh dari perkotaan dan tidak bisa dijangkau oleh papanya karena Alanzo sendiri yang melakukan pembangunan meski masih atas nama Gilbartan.
“Anjing!” Cowok itu melempar beberapa barang-barang di ruangan itu kala pikirannya terkontaminasi oleh seluruh perilaku papanya pada dirinya, hingga gerakannya terhenti saat barang yang hendak ia lempar adalah sebuah bingkai foto dirinya bersama seorang cewek. Alanzo terdiam mengamati foto itu.
Matanya kian meredup. Foto itu diambil tiga tahun yang lalu disaat Alanzo memenangkan lomba bersama medali yang melekat di lehernya. Sedang cewek di sebelahnya terlihat tertawa bahagia.
“Andai lo masih ada di sini, gue gak bakal se-kacau ini,” ucap Alanzo.
Flashback on
“Bangsat!” umpat Alanzo membanting berbagai macam alat di meja. Cewek yang baru saja datang dengan panik ke kamarnya itu terlihat melebarkan mata dengan perasaan iba setengah takut. Ia mengerling ke sekitar, menemukan ruangan layaknya kapal pecah. Beberapa saat kemudian, ia baru berani mendekati Alanzo di saat Alanzo sudah terduduk di lantai dengan kepala yang menyandar di tembok.
Cewek itu dengan hati-hati, mengelus pundak Alanzo, berusaha menenangkan.
“Lo tahu?! Dia bangsat!” Alanzo mengoyak-ngoyak rambutnya ke belakang, berbicara dengan bahasa kasar.
“Dia ... papanya Kakak. Dia yang udah besarin Kakak.”
“Gue gak berharap jadi anaknya dia!”
“Kakak jangan gitu ....”
Alanzo melempar barang di sekitarnya kembali. Sedangkan cewek itu membiarkan saja Alanzo melakukan sepuasnya hingga tenang. Hingga beberapa saat cowok itu akhirnya lelah juga. Kini Alanzo menyenderkan kepalanya di bahu cewek itu dengan perasaan yang tak karuan.
“Kenapa gak kamu gak larang Kakak buat ngamuk? Kenapa biarin Kakak rusakin semua barang?” tanyanya melemah.
“Karena kadang kita butuh melampiaskan segala hal yang kita inginkan sampai kita lega, kita gak perlu nahan apa pun yang terjadi, itu cuma bakal menambah kelelahan kita, Kak.”
Itu adalah kata-kata yang selalu Alanzo ingat hingga saat ini. Kata-kata yang selalu membuat dirinya tenang.
***