
Sejak pertemuan Sheryl dan Omero di perpustakaan itu, Omero tidak pernah lagi menampakkan batang hitungnya di hadapan Sheryl. Cewek itu kini berjalan melintasi koridor, menemukan banyak pasang mata yang melihanya aneh.
“Simpenannya om-om gak sih?” bisik salah seorang cewek pada temannya, melirik Sheryl.
“Iya, kelihatannya aja baik. Palingan udah gak utuh.”
“Kasihan Alanzo, tahu gitu mending sama gue!”
“Padahal dia anak beasiswa loh!”
“Wah, kalo kepala sekolah tahu, bisa dikeluarin gak sih?”
Mendengarnya, Sheryl tidak terinterupsi sama sekali. Tidak ada niatan melabrak atau apa pun. Ia berjalan dengan eskpresi yang tenang dan santai. Tidak peduli. Lagipula, energi Sheryl tidak digunakan untuk menanggapi gosip aneh gak bermutu.
“Sheryl!” Seorang cewek kini menghampirinya kala ia hendak memasuki kelas yang kosong. “Sher, lo gak papa, ‘kan?”
“Emang gue kenapa?”
“Lo udah tahu trending topic Enternity High School, belum?” tanya Rimbi tampak khawatir. “Yang digosipin soal lo sama Alanzo itu gak bener ‘kan, Sher?”
“Udah tahu,” ucap Sheryl sekenanya. Kemarin, ia mengecek handphone dan melihat berita tentang dirinya yang putus dengan Alanzo. Berbagai macam teori pun muncul, tentang alasan putus, dan yang paling diyakini adalah Sheryl selingkuh.
Tidak ingin membahasnya lagi, Sheryl memasuki kelas.
“Hari ini kita pembelajaran di lapangan barat, penggunaan senjata panahan sama kemiliteran,” ucap Rimbi menghentikan langkah Sheryl. “Gue sengaja nungguin lo dateng loh supaya lo gak keliru ke kelas sendirian dna tahu info dadakannya.”
Sheryl mengerutkan kening. “Di lapangan barat, semua siswa?” Rimbi pun mengangguk. Secepat kilat, menarik lengan Sheryl menuju lapangan barat. Di sana, sudah banyak siswa dari kelas-kelas lain yang tengah bersiap. Sheryl kini bisa menyaksikan wajah orang yang hampir dua minggu memenuhi otaknya, orang yang tidak pernah memunculkan diri di hadapannya. Alanzo.
Alanzo terlihat berbeda dari terakhir ia bertemu. Cowok itu terlihat lebih garang dan berantakan. Bukannya semakin tidak menarik, Alanzo tampak lebih tampan dengan rambut messy cut-nya.
Tanpa sadar, kaki Sheryl perlahan hendak mendekat ke arah Alanzo. Namun, langkahnya itu kini terhenti saat seorang cewek yang tampak familiar menghampiri Alanzo, memeluk dirinya. Alanzo pun tidak menolak. Ia membalas pelukan cewek itu dan mengelus kepalanya. Di sela-sela itu semua, Alanzo tak sengaja melirik Sheryl dan semakin mengeratkan pelukannya seolah berusaha membuat Sheryl cemburu.
“Sayangg!” rengek cewek itu.
“Itu dia berita hot-nya! Alanzo deket dan jadian sama Leyana!” kata rimbi ikut menyaksikan itu. Jika kalian ingat, Leyana adalah cewek sekelas Sheryl yang melabrak Sheryl saat pertama kali Sheryl pacaran dengan Alanzo dulu. Leyana adalah cewek yang sedari dulu mengincar Alanzo.
Jangan tanyakan bagaimana perasaan Sheryl saat ini. Sesak, panas, dan emosi kian memenuhi dadanya. Ia hanya bisa diam menyaksikan itu semua. Diam dan berlagak tenang tanpa bisa dibaca orang lain adalah satu-satunya cara aman.
Prit! Prit! Semua siswa kini mulai berbaris di barisan kelasnya masing-masing saat seorang pria gagah berbaju militer meniup peluitnya.
***
“Karena sekolah kita adalah sekolah yang anti banting, sekolah pilihan yang tidak sembarang memasukkan siswa, sekolah spesial yang isinya siswa berprestasi tinggi dan anak orang penting, jadi hari ini kita bakal mengadakan pelatihan bela diri! Bela diri ini akan dimulai dengan penggunaan senjata panahan!” ucap kepala sekolah menyambut pria-pria berwajah tegas yang ada di hadapannya.
“Hari ini kita bakal belajar memanah. Mungkin sebagian dari kalian ada yang sudah diajari oleh orang tuanya, ada juga yang sudah bisa karena ikut ekskul panahan. Nanti, kami akan mengetes kalian satu per satu, dan mengelompokkan yang bisa dan yang tidak.” Pria itu menginstruksikan para siswa berbaris dan bersiap mengambil panah. Tes itu terbagi dalam sesi, satu sesi terdapat 5 anak yang maju untuk memanah secara langsung.
Satu per satu dari mereka mulai dites. Entah kebetulan atau apa, kebanyakan dari murid masuk dalam kelompok yang belum bisa memanah.
Kini, giliran anggota Gebrastal maju. Kelima cowok itu bersiap menembakkan panah secara bersamaan. Semua cewek yang menyaksikan berteriak histeris karena Leon kini melepas seragamnya yang penuh keringat lalu melemparnya pada cewek-cewek yang berebut mendapat seragam Leon. “Agghh! Gue dapet! Gue dapet!”
“ANJENG LO, LEON! ITU REYNA, CEWEK INCERAN GUA!” umpat Jehab hendak mencakar Leon, tapi Leon langsung menghindar sambil menjulurkan lidah.
“Siapa suruh gantungin cewek?” Alanzo, Kenart, dan Omero kini tertawa.
“Sialan lo!” Jehab mendengus kesal.
Kelima cowok itu mulai memegang panah, melihat target di depannya dengan kefokusan tingkat tinggi. Tidak perlu ditebak, kalian pasti sudah tahu. Kelima panah itu kini mengenai papan target, meski tidak pada bundaran pusatnya. Semua siswa kembali berteriak histeris penuh rasa bangga.
“Aaaa! Omero semangatt! Itu baru pacar gue!”
“Kak Leon! Argghh! Aku padamu!”
“Sayang! You’re my great boy!” ucap Leyana di tengah pekikan histeris lainnya. Sedangkan Alanzo langsung memeluk cewek itu usai sesi berakhir.
“Okey, sekarang giliran kelas 11 IPS 3! Untuk siswi yang bernama Sheryl Auristella, silahkan maju!” Suara sorakan yang sempat membuncah usai panahan yang dilakukan anggota Gebrastal itu mencuat begitu saja kala Sheryl berdiri dari duduknya, menuju lapangan tempat pengetesan. Tidak ada suara bising penyemangat, hanya ada bisik-bisik dan tatapan sinis.
Anggota Gebrastal kini menyaksikan cewek itu. Masih sama seperti dulu. Berwajah tenang dan tak terinterupsi.
“Ck, udahlah! Gak ada semangat-semangatnya ini mah kalo kelas sebelas IPS 3, palingan banyak yang gak bisa!”
“Iya, apalagi tuh cewek! Dia ‘kan cuma cewek biasa!”
“Lihat deh yang udah jadi mantannya Alanzo. Huhu, gak punya daya gak sih buat manah!”
“Hilih, palingan juga gak bisa! Dahlah mendig kita ke kantin! Gak usah nonton!”
“Iya, giliran kita masih lama!”
Semua kata-kata itu terdengar samar-samar di telinga Sheryl. Sheryl tidak peduli, meskipun kali ini ia juga dipandang remeh oleh anggota Gebrastal dan Leyana. Cewek itu mulai mengambil busur dan panah secara cepat sebelum diberi instruksi.
“Sheryl! Sebentar! Tunggu arahan kami!” ucap si tentara yang memegang mic. “Dengarkan saya, cara pegang panahnya—“
Slup! Belum selesai tentara itu membacakan petunjuk cara penggunaan panah, anak panah Sheryl telah melesat mengenai papan target di bundaran kuning. Para pria berbaju militer itu melebarkan mata tak percaya.
Sheryl tersenyum miring. Ia kembali mengambil anak panah untuk melakukan hal yang sama, memasangkannya pada busur dengan lihai. Tak perlu lima detik, anak panah itu mengenai targetnya lagi di warna kuning. Cara penembakkan panah Sheryl pun juga bisa dinilai plus karena jarang sekali orang yang menggunakan teknik yang Sheryl lakukan.
Kali ini bukan hanya pria berbaju militer itu yang terperangah kagum, tapi semua siswa Enternity High School, juga para guru yang menonton. Jangan lupakan anggota Gebrastal yang menatap aneh cewek itu,
Sheryl tidak peduli dengan keterdiaman semua orang. Ia kembali menembakkan panahnya pada papan target dengan terlatih, seolah itu adalah hal yang menyenangkan yang harus ia lakukan hingga puas.
“Aigo! Dia bisa!” ucap cewek yang tadi mengejek Sheryl, menelan ludah keras.
“Fiks! Dia pasti bukan cewek biasa!”
***