Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Apa? Seorang Alanzo Dihukum?



“Gue gak percaya lo bisa gantiin Glenca sama Sheryl dengan gampangnya!” ucap Kenart pada Alanzo tak percaya. Cowok itu mengucapkannya kala Alanzo baru memasuki ruangan markas, membuat orang-orang yang sedang bermain kartu menoleh ke arah mereka berdua.


“Kenapa? Ada masalah sama lo?” balas Alanzo menaikkan satu alisnya.


“Gue gak suka lo lakuin ini ya ke Glenca! Glenca nangis-nangis dan gak mau makan seharian gara-gara lo putusin! Apalagi denger kabar lo pacaran sama cewek gak jelas itu!” emosinya melotot pada Alanzo.


“Lo pikir gue peduli?”


Kenart mengepalkan tangannya tidak terima. “Anjing lo! Glenca itu sakit hati sama lo! Bisa-bisanya lo bilang gak peduli?!”


“Dia aja gak peduli waktu lakuin itu sama lo, ‘kan?!”


Kenart terdiam mendengar itu, menatap Alanzo sinis. “Seenggaknya kalo mau pacaran, cari yang lebih berbobot, gak usah sama cewek miskin kayak dia yang gak sebanding sama Glenca.”


Alanzo mengepalkan tangannya, menghampiri Kenart dan menarik kerahnya dengan rahangnya yang sudah mengeras. “Lo denger baik-baik, gue putus dengan siapa pun, gue jadian sama siapa pun, itu bukan urusan lo! Lo cuma wakil ketua geng yang habis ini bakal gue turunin jabatan! Masih baik gue gak ngehajar lo sampek habis gara-gara lo sama Glenca khianatin gue dengan langgar peraturan nyentuh apa yang udah milik gue!”


Mendapati keadaan yang sebentar lagi mendatangkan bencana, Omero mendekat untuk memisahkan. “Udah, Bro! Udah! Kita temen!”


Alanzo memundurkan kakinya. Matanya masih menajam ke arah Kenart yang membuang mukanya dan tak bisa berkata lagi. Omero mendudukkan Alanzo di sofa, sedangkan Kenart pergi begitu saja dari ruang markas dengan ekspresi muak.


“Ken! Mau ke mana lo?!” teriak Omero yang tak digubris. Hanya terdengar suara motor menyala yang berarti cowok itu cabut.


Omero mendengus kesal. Leon pun yang melihat itu, mendekat pada Alanzo. “Gue gak percaya, lo bisa jadiin Sheryl pacar lo, tapi ... emang sayang sih cewek cantik kayak dia gak dipacarin.” Leon menyipitkan mata, menatap curiga ke arah Alanzo. “Lo pasti punya rencana, ‘kan?”


Mendengar itu, Alanzo hanya tersenyum miring.


***


“Aduh! Masa iya catatan sosiologi gue ketinggalan!” kata Shakir yang sedang mencari-cari sesuatu di tasnya.


Sheryl menatap cewek itu sejenak sambil tertawa karean ulah lucu yang dibuatnya, mulai dari mengeluarkan semua barang dari tas, emnjungkir balikkan tas, sampai menghentak-hentakkan kaki di lantai. “Matiii gue hari inii!” Shakir tergeletak di lantai lesu.


Semua orang hanya memutar bola matanya, sudah biasa dengan tingkah ribut cewek itu. Tak berbeda dengan Sheryl yang memilih menulis sesuatu di buku sosiologinya.


Selang beberapa detik, suara kedangangan beberapa seorang menginterupsinya. Seorang cowok duduk tepat di depannya, menghadap pada dirinya tengah tersenyum manis. “Lagi nulis apa sih, Sayang?”


Sheryl mengalihkan perhatiannya pada cowok itu. Mata mereka saling menatap karena jarak wajah keduanya yang dekat. Jelas, Sheryl menatap Alanzo aneh. Apa katanya? Sayang?


“Lo waras, ‘kan?” Sheryl bertanya sambil menghindar.


“Waras! Masih waras buat manggil pacar gue sendiri sayang.” Alanzo menyeringai. Ia mengambil beberapa buku di tasnya, lalu meminta buku Leon dan Jehab untuk ia serahkan ke Sheryl. “Lo kerjain iu semua ya!”


Sheryl menatap tumpukan buku di hadapannya. Ia diam sejenak menatap buku itu, lalu menyerahkannya kembali pada Alanzo. “Lo bilang gue ucah jadi pacar lo, ‘kan? Jadi gue gak harus kerjain tugas-tugas lo atau lo suruh-suruh jadi babu.”


“Heh, lo denger! Gue emang jadiin lo pacar, tapi bukan berarti lo udah gak jadi babu gue!” Alanzo meletakkan buku-buku itu di atas buku catatan Sheryl.


“Cewek pintar!” Ia mengacak-acak rambut Sheryl sebelum kemudian mereka berempat mendudukkan diri di masing-masing bangku. Jangan tanyakan di mana Kenart. Setelah pergi dari markas kemarin, cowok itu tidak menampakkan batang hidungnya lagi sampai hari ini.


Sheryl melirik Alanzo, Leon, dan Jeab yang sedang asyik memainkan gadget mereka. Ia terkekeh. Mengerjainya tak semudah itu. Kalau mereka bisa mengerjai Sheryl, Sheryl akan membuatnya berbalik senjata makan tuan. Kita lihat aja nanti! Dengan tenang, Sheryl mulai mengerjakan tugas sosiologi di buku-buku milik mereka penuh kemenangan.


“Eh! Bu Ester! Bu Ester!” ribut seorang cewek yang berlari ngos-ngos dari arah pintu membuyarkan beberapa gerombolan yang sedang mengerjakan tugas sosiologi pargi-pagi itu duduk ke bangku masing-masing.


Seperti yang dikatakan Hestia, Bu Ester benar memasuki kelas. Guru wanita yang terkenal killer dan suka memberi hukuman tidak pandang kalangan itu, kini menyapa mereka dan mulai mengabsen satu per satu.


“Oke. Hari ini saya mau kalian mengumpulkan tugas yang kemarin di meja ini! Sesuai kesepakatan yang gak mengerjakan, lompat jongkok di depan!” Instruksi itu membuat para siswa menggerakkan kaki ke depan untuk mengumpulkan tugas mereka masing-masing. Ada juga yang berdiri jongkok di depan.


“Lo! Sekalian kumpulin tugas kita!” perintah Alanzo pada Sheryl yang telah selesai mengerjakan tugas Alanzo tadi.


“Biar gue aja!” tawar Omero kala Sheryl hendak berdiri. Sheryl mengangguk, memberikan buku-buku itu pada Omero.


Setelah semua buku itu terkumpul, bu Ester mulai mengecek satu per satu tugas mereka. Mereka sibuk menunggu dengan ketar-ketir, takut ada pekerjaan yang salah. Bu Ester itu guru yang perfeksionis, kalau salah disuruh mengulang, kalau enggak maka harus sanggup ikut-ikutan kena hukuman.


Alis bu Ester mulai mengerut saat memeriksa buku warna biru di mana buku itu milik Alanzo, Leon, dan Jehab. Wanita itu berdiri hingga senyum Sheryl terbit. “APA-APAAN INI, ALANZO! LEON! JEHAB!”


“KENAPA KALIAN NULIS INI?! KALIAN PIKIR LUCU?!” Suara ketus wanita itu kini menggema di sekujur ruangan yang hening, menggelegar di setiap dada siswa sebelas IPS 3.


Jehab melirik Leon dan Alanzo, cowok itu terlihat kebingungan. Sedangkan Alanzo dan Leon menatap Sheryl sinis.


“Bu Estronot yang lucu, buku ini sangat cantik seperti Ibu Estronot yang gendut dan galak. Maka dari itu saya tidak mau mengerjakan tugas di buku ini karena saya tidak mau buku yang mahal dan cantik ini ternodai oleh tinta dan air ludah Bu Estronot yang suka kemana-mana kalo ngomel,” baca Bu Ester pada buku Jehab dan Alanzo. Semua siswa mendelik, ada juga yang ingin tertawa tai ditahan


“Kalo Ibu mau saya ngerjain, nikah dulu sama saya, Bu!” bacanya lagi pada buku Leon. Bu Ester menatap mereka bertiga tajam.


“KALIAN CEPET KE SINI!” kelakarnya seperti toa masjid. Mereka bertiga maju ke depan menuruti wanita itu, menghadap ke seluruh siswa. Termasuk Alanzo yang menajamkan mata pada Sheryl yang sedang terkekeh. Kalau saja wanita ini benama Ester ini tidak punya relasi dengan papanya, mungkin Alanzo tidak mau menurutinya dan bisa-bisa ia memecatnya menjadi guru.


“Kita gak nulis itu, Bu!” Jehab angkat bicara.


“Trus? Siapa yang nulis kalo bukan kalian?! Ouh, jangan bilang kalian nyuruh orang lain ngerjain tugas?!” Bu Ester melotot dengan kedua tangan di pinggang.


“Sekarang, kalian lari di lapangan depan dua puluh kali!”


“Anjrit! Lapangan depan lebar, Bu!”


“Saya gak mau tahu! Kalian lari atau saya telepon pemilik sekolah!” Wanita itu tampak uring-uringan. Alanzo yang mendengar kata ‘pemilik sekolah’, mendengus kesal. Ia sangat malas berhubungan dengan papanya. Maka, ia memilih untuk segera ke lapangan depan untuk menjalani hukuman.


Dan ini pertama kalinya Alanzo mendapat hukuman di sekolah ini.


***