Error 404: Gebrastal

Error 404: Gebrastal
Follow Me



“Do you wanna dance with me, Princess?” Cowok tampan bertubuh tegap dengan hidung mancung dan mata elangnya itu kini berlutut di hadapan Sheryl, mengulurkan tangannya. Jantung Sheryl berdegub kencang, ditambah kini mereka berdua menjadi sorotan para sosialita kalangan atas.


Ada beberapa cewek yang merasa cemburu ingin berada di posisi Sheryl, ada yang merasa baper. Begitupun Mahalika dan Jovan yang tidak percaya jika Alanzo bisa meratukan seorang cewek, padahal Alanzo adalah cowok yang keras dan selalu dirajakan.


Sheryl sedikit tertawa, mengangguk, lalu menyambut tangan Alanzo. Alanzo mengajak Sheryl ke tengah hall. “Kamu bisa dansa?” Pertanyaan itu hanya digelengi kepala oleh Sheryl. “Ikutin aja!”


Alanzo menempelkan tangannya ke pinggang Sheryl, satu tangannya lagi terpaut dengan jari Sheryl. Ia mulai melakukan ketukan kaki yang membuat Sheryl juga bergerak mengikuti irama. Mata keduanya tak beralih sedikit pun, saling terkunci.


“Kamu cantik. Really pretty,” ucap Alanzo.


“And you’re look so handsome,” balas Sheryl.


“Besok kamu harus ikut aku.”


“Ke mana?”


***


Sheryl mengerutkan kening saat menemukan sebuah kertas kecil berwarna kuning yang tertempel di cermin lemarinya usai ia mandi.


'Kamu lama banget mandinya, lagi semedi?'


Tangan cewek itu mencabut sang kertas dari lemari. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri. Netranya itu menemukan sebuah tulisan lagi, kali ini di meja.


'Jangan lama-lama dandannya, cowok ganteng kamu nungguin di luar.'


Seketika mata Sheryl melebar. Cewek dengan handuk yang masih terpasang di kepala itu mengintip jendela dengan tirai yang masih tertutup. Di luar sana, terdapat seorang cowok taman berjaket hitam sedang duduk di atas motor sport hitamnya.


Senyuman tumbuh di bibir Sheryl. Cepat-cepat, ia mengganti pakaiannya dan berdandan secasual mungkin. Setelah lima menit, Sheryl akhirnya keluar dari rumah menggendong totebagnya.


“Kita hari ini mau ke mana?” tanyanya.


“Ikut aja! Gue bakal bawa lo ke tempat spesial gue.” Alanzo tersenyum misterius. Selalu saja seperti ini. Alanzo selalu merahasiakan sesuatu lalu memberi kejutan ke tempat yang tak Sheryl duga. Sheryl curiga jangan-jangan Alanzo bakal membawanya ke laut lalu menenggelamkannya.


Alanzo memakaikan helm untuk Sheryl. Sheryl tidak protes dan bertanya lagi. Ia segera menaikkan diri ke atas motor Alanzo.


***


Hawa sejuk langsung menerpa wajah Sheryl kala Alanzo melewati jalanan sepi yang rindang dan penuh pepohonan. Suasana yang jauh dari perkotaan. Tidak ada polusi, tidak ada suara klakson kendaraan, maupun gedung-gedung yang menjulur tinggi. Hanya ada suara motor sport Alanzo, kicauan burung serta jangkrik, dan keberadaan kedua manusia itu dengan ketenangannya.


Sheryl mengeratkan pelukannya pada Alanzo saat dirasa Alanzo menambah kecepatan laju motornya, melewati jalan yang berlika-liku. Membiarkan pipi merahnya itu tertepa angin.


Ternyata begini rasanya menjadi pacar ketua geng motor.


Alanzo yang merasa tidak bisa melihat wajah cantik Sheryl dari spion lagi, memelankan laju motor. “Nikmatin aja anginnya! Aku tahu kamu pasti pingin aneh-aneh!” kata Alanzo tegas setengah berteriak kalau-kalau suaranya tak terdengar oleh Sheryl.


“Aneh-aneh?”


“Boleh?” tanya Sheryl.


“Kayang di jok motor juga gak papa!” ucap Alanzo menerbitkan tawa di bibir Sheryl.


Kali ini, Sheryl menuruti yang Alanzo maksud. Namun, ia tidak berteriak. Melainkan merentangkan kedua tangannya ke atas sambil memejamkan mata menikmati semilir angin yang mengibarkan rambut indahnya. Ia menghirup udara serakus-rakusnya.


“Girl like me don’t cry!” teriak Sheryl seolah menyemangati dirinya kemudian tertawa begitu saja. Jujur, sudah lama Sheryl tidak berteriak dan merasa sebebas ini. Alanzo terkekeh mendengarnya.


“Wuuuhh!” teriak Alanzo sedikit memiringkan motor saat tikungan tajam. Sheryl cepat-cepat memeluk tubuh Alanzo. Setelah melewati tikungan pemacu adrenalin itu, keduanya kembali saling tertawa.


Kini motor kawasaki ninja itu berhenti si sebuah tempat parkir yang di depannya tersuguhi oleh pemandangan pantai dan pepohonan kelapa. Sheryl turun dari motor, mengamati sekeliling yang terlihat sepi dengan suara ombak yang membumbui. Ia jadi berpikir lagi, apa jangan-jangan Alanzo benar bakal membuangnya ke lautan?


Alanzo turun dari motornya, melepas helm. Tampang tampan berahang tagas itu kini menyipitkan mata saat angin menerpa. Ia menggandeng tangan Sheryl sebelum kemudian menariknya untuk berlari. “Ayo!”


Keduanya berhenti di bibir pantai. “Aku gak bawa baju ganti.”


“Nanti pake baju aku,” jawab Alanzo. Cowok itu kini melepas jaket dan kaus putihnya, menaruhnya di sisi pohon. Menyisakan celana boxer dan tubuh sehatnya seukuran anak SMA pada umumnya, berkulit eksotis sudah seperti cowok-cowok barat. Sheryl melihat itu kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah lain dengan ekspresi tenang dan masih santai, tidak kaget seperti ekspetasi Alanzo.


Yang membuat cewek itu tersentak adalah saat tanpa persetujuannya, Alanzo menarik tangannya semakin ke arah ombak, dan byur! Tiga detik sudah pakaian Sheryl kini basah oleh air garam itu. Sheryl melebarkan mulutnya saat Alanzo malah tertawa.


“Alanzo!” teriak Sheryl, mengejar cowok itu ingin memukulnya. Alanzo tertawa mengejek, semakin tergelak saat ombak kembali menerpa tubuh ramping Sheryl, membuatnya terjatuh.


Lucu. Pikir Alanzo.


Sheryl masih berlari mengejar. Alanzo memundurkan langkah membuat dirinya tersandung batu. Sheryl menertawakan ganti. Alanzo tidak kesal, malah ikut tertawa dan berganti mengejar Sheryl yang berlari.


Hup! Alanzo berhasil menangkap tubuh Sheryl dengan langkah kecil itu dari belakang. Dengan posisi memeluk, Alanzo mengangkat tubuh Sheryl lalu berjalan ke arah lautan, menjatuhkannya ke perairan dengan ombak yang menerjang.


“Uhuk! Uhuk! Alanzo!” teriak Sheryl saat hidungnya kemasukan air. Ia memukul-mukul dada Alanzo, mencipratinya dengan air laut. Alanzo tak kalah mencipratinya, membuat Sheryl semakin basah.


Alanzo kini menghindar saat cewek itu mendadak menjadi galak, ingin memukulinya lagi. Cowok itu tertawa menikmati wajah cantik Sheryl yang sebal. Sheryl ingin mengejar Alanzo, tapi lagi-lagi ia tertepa ombak dan terjatuh di tanah putih itu.


Kekehan terbit di wajah Alanzo. Kini Sheryl berlari untuk menggapai Alanzo. Sheryl tertawa ria karena hampir terjatuh kalau saja tangan Alanzo tidak menampanya. Kini keduanya saling kejar-mengejar dengan gelak tawa kembali ke masa kanak-kanak di bawah terik matahari yang menghangatkan dan suara sunyi lautan.


Melupakan sejenak segala masalah yang telah terjadi.


***


Cekrik! Alanzo memotret Sheryl yang sedang bermain ombak secara kendit. Sheryl yang merasa dipotret menoleh kemudian terkekeh. “Kamu suka ya sama aku?” tanya Sheryl.


Alanzo tidak menjawab, malah melihat hasil fotonya di kamera. Setidak siap apa pun Sheryl, kalau dasarnya cantik aibnya juga tetap cantik.


“Pinjem!” Sheryl meminta kamera itu, Alanzo memberikannya. Sheryl kemudian membuka kamera depan.


***