
Tanpa disadari, kasih sayang dari seseorang mampu membuat yang dicintainya jatuh hati. Tapi, tidak mudah untuk membuatnya jauh dari masa lalunya.
Suara riuh keramaian jalan menemani perbincangan mereka di dalam mobil. Garis bibir Elena terlihat lepas seakan hari-hari kemarin tak ada masalah yang menerpa dirinya. Ia tidak mengerti bagaimana cara menjelaskan kedekatan Elena dan Aldrian saat ini. Yang Elena tau, ia sangat bahagia akan keberadaan neneknya di sini.
"Jadi, ini acaranya makan malam di luar, ya?" tanya neneknya melihat cucu kesayangannya tampak bahagia.
Ditariknya garis bibir Elena, "iya, Nek. Sekalian jalan-jalan menghirup udara malam ditemani nenek."
"Nggak hanya nenek saja ini, mah. Nak Aldrian juga nemenin Elena, dong." kata nenek bercanda.
"Neneeek," panggil Elena memberi kode neneknya.
"Iya, Nek. Tampang wajah Elena juga senang, nih." sela Aldrian memihak nenek.
"Biasa saja kali!" balas Elena cemberut.
"Jangan suka kesal sendiri, loh, Elena. Ntar, kalo benci jadi cinta, gimana?" tanya nenek meledek Elena.
"Kalo sudah cinta. Tinggal nikah saja, Nek." tambah Aldrian meledek juga.
"Kebiasaan banget, sih. Ngegombal mulu." jawab Elena memutar kedua bola matanya.
"Jadi, kebiasaan mencintai setiap hari, dong?" sela nenek membela Aldrian.
"Nenek gimana, sih, masa cucunya sendiri dipojokin." ketus Elena kesal
"Bukan mojokin, Elena. Nenek, kan, juga pernah muda. Tau, dong, bagaimana seseorang itu mencintai. Jika keduanya sama-sama mencintai, itu bukan semacam bentuk gombalan lagi. Tapi, setiap kata yang ditunjukkan seseorang itu sangat berarti bagi yang dicintainya." kata neneknya menjelaskan.
Mereka pun sama-sama diam. Aldrian merasa selama ini Elena tidak pernah tau akan perasannya. Mungkin memang belum saatnya. Di sisi lain, pikiran Elena melayang pada kisah kasih dulu, dengan Khenzo.
Lagi-lagi malam ini rinduku tak lenyap juga. Namamu berkutik mengusik isi kepalaku. Tak ada lelahnya kamu berjalan terus menelusuri pikiranku. Jiwaku memberontak, ingin sekali hubungan yang tidak jelas ini segera usai. Namun, bagaimana bila hati mengikat nama kita dalam satu cinta. Saat diriku menatap tajam matamu, seakan ku temukan di dalamnya kau masih benar-benar mencintaiku. Namun, enggan ku masuk ke dalam hatimu, kau mengikhlaskan diriku seakan tak ada yang bisa kau gapai untuk kesekian kalinya akan cinta manismu, diriku.
Kasihku...
Bagaimana aku harus menata hatiku sekarang?
Haruskah ku memelihara perasaan ini seutuhnya sampai bila nanti kita tak saling memberi makna cinta kembali?
Atau biarkan aku membuang jauh perasaan yang telah lama masuk ke ulu hati?
Taukah dirimu?
Setiap langkah ini aku selalu berhati-hati menjaga perasaan yang lamanya tak kunjung kau temui
Haruskah ku menunggumu sampai bila nanti kau tiba untuk tinggalkan diriku sendiri?
Bagaimana aku harus bersikap?
Menyimpan baik cintamu?
Atau...
Mengenang kepergianmu?
"Elena, buruan turun! Kok, malah bengong, sih?" kata Aldrian menepuk tangannya tepat di depan wajah Elena.
"Eh, iya." jawab Elena sadar dari lamunannya.
"Elena, Nak Aldrian, duduk di bangku nomor tiga, ya?" pinta nenek berada di bangku yang tidak jauh dari langkah neneknya.
"Iya, Nek." jawab mereka bersamaan.
"Kamu pesan apa?" tanya Elena pada Aldrian hendak memesan makanan.
"Aku ikut pesan saja, deh." jawab Aldrian mengikuti Elena memesan menunya.
Setelah memesannya mereka segera duduk di bangku nomor tiga.
"Nenek ke kamar mandi sebentar, ya?" kata nenek tiba-tiba hendak ke kamar mandi.
"Elena temenin, ya, Nek?"
"Enggak, El. Kamu di sini saja."
"Jangan lama-lama, Nek!"
"Iya."
"Sayang banget sama nenek, ya?" tanya Aldrian membuka obrolan.
"Ya, gitu, deh."
"Dari kecil dekat dengan nenek?" tanyanya lagi.
"Hmmm... iya." balas Elena lagi-lagi singkat.
Ntah mengapa jika membahas masa kecil Elena, terkadang ia merasa tidak nyaman. Yang ada, balasan Elena akan terdengar sewot. Ditambah mood Elena jadi tidak baik.
"Aldrian?" panggil wanita tengah berdiri di depan mereka tiba-tiba.
"Vanesa?" balas Aldrian terlihat kaget.
"Kamu di sini juga? Sama si-?", dengan menoleh ke arah Elena, "Oh, ini."
"Kenalin, namaku Vanesa. Aku adalah pa-," kata wanita itu terpotong ucapannya.
"Dia teman aku dulu." jawab Aldrian memotong.
"Oh, aku Elena." balas Elena berjabat tangan.
"Salam kenal, ya." kata wanita itu dengan meremas tangan Elena.
"Ehhh, maaf. Aku pake high hils jadi ga seimbang berdirinya." ucapnya sedikit meliukkan tubuhnya.
"Oh, iya, gapapa." balas Elena dengan wajah polosnya.
Aldrian menangkap wajah Vanesa ada semburat rasa tidak suka pada Elena. Berharap Vanesa tidak akan mengganggu hidup Aldrian dan tidak akan mengusik hidup Elena.
"El, aku ke kamar mandi dulu, ya." pamit Aldrian seraya mengedipkan matanya pada Vanesa agar mengikutinya.
"Iya." jawab Elena tidak ada rasa curiga.
"Btw, aku pergi dulu, ya." ucap Vanesa pada Elena.
"Iya." jawab Elena dengan anggukan dan senyum ramahnya.
Di luar area yang jauh dari keramaian orang.
"Lepasin tanganku!" kata Vanesa memaksa.
"Aku minta sama kamu. Tolong jauhin aku dan jangan lagi menghancurkan kehidupanku!" pinta Aldrian dengan nada tinggi.
"Kenapa? Kamu takut sama aku, ya?" tanyanya dengan wajah liciknya.
"Awas aja, jika terjadi apa-apa. Aku nggak akan segan-segan memasukkan kamu ke pen-."
"Penjara? Di tempat itu tidak akan membuatku jera. Justru setelah aku keluar dari situ, aku akan semakin menghancurkan hidup kamu!" kata Vanesa dengan wajah dendamnya.
"Cukup!" kata Aldrian terlihat emosi.
"Belum cukup, Aldrian... Belum cukup aku membuat orang di sekitarmu lenyap di tanganku!" katanya dengan kemenangan
"Dasar wanita iblis!" balasnya tersulut emosi.
"Masa, sih? Kasian banget kamu, ya? Baru ditinggal kekasihnya dan sekarang nggak akan lama lagi kamu akan kehilangannya." kata Vanesa dengan nada mengejek.
"Apa yang kamu mau dari aku? Sudah aku bilang, pergi dari hidupku jauh-jauh dan jangan menggangguku lagi!" tukasnya sedikit meredam emosi.
"Aku mau kamu mati, Aldrian..."
"Wanita nggak waras!"
"Atau, kita mati bareng aja, ya... kasian kalo kamu sendiri." katanya dengan tertawa keras.
"Pergi dari hidup aku!" pinta Aldrian keras.
"Sebentar, ya. Tunggu aku berhasil membunuh orang yang kamu sayang. Setelah itu dengan mudah aku memilikimu dan nanti... hanya maut yang memisahkan kita, kamu akan mati lebih dulu Aldrian..." kata Vanesa dengan rasa bencinya.
"Vanesa! Cukup! Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti orang di sekitarku." seru Aldrian tidak terima.
"Dan aku juga tidak akan berhenti mencintai kamu. Ini adalah bentuk rasa cintaku, Aldrian sayang..." kata Vanesa mengejeknya.
"Aku nggak akan biarin kamu menyentuh orang di sekitarku sedikitpun!" kata Aldrian tidak terima.
"Lihat saja permainan kita nanti, Aldrian..."
Aldrian pergi meninggalkan Vanesa begitu saja dan tidak menganggap perkataan Vanesa lagi.
"Elena akan menjadi korban yang kedua!" katanya keras sampai menghentikan langkah Aldrian.
Aldrian menatap tajam Vanesa dan genggaman tangannya mengepal. Tak ada kata yang terlontar dari mulut Aldrian. Hanya diam saja. Segera ia melanjutkan langkahnya tanpa menggubris perkataan Vanesa.
"Ne-nenek?" tanyanya kaget melihat keberadaan neneknya Elena di sini.
Terlihat nenek terkejut.
"Elena akan baik-baik saja, kan?" tanyanya tidak percaya mendengarkan pembicaraan Aldrian dan wanita itu.
"Aku akan menjaga Elena dengan baik. Aku mohon sama nenek tolong jangan beri tahu tentang ini. Aku takut Elena akan menjauh nantinya." pintanya merasa kehilangan.
"Iya, selesaikan masa lalumu dengan baik, jangan melibatkan Elena dalam masalahmu dan jangan sampai Elena menjadi korban di antara kalian!" jawab neneknya dengan memperingatkan tegas.
"Aku tidak akan melukai Elena." kata Aldrian meyakinkan.
"Baik. Jangan sampai kamu merusak kepercayaan nenek!"
Nenek dan Aldrian segera kembali untuk makan malam bersama.
Dilihatnya Elena dan Vanesa berbincang-bincang dengan sendau guraunya.
"Nenek dan Aldrian sudah kembali, nih." ucap Elena dengan wajah senangnya.
Nenek dan Aldrian hanya diam saja melihat mereka begitu akrab.
"Oh, iya, perkenalkan ini Vanesa teman Aldrian, Nek. Boleh gabung makan bareng kita, ya?" tanya Elena merasa tidak keberatan.
"Emang di sini tadi sama siapa?" tanya Aldrian tampak tidak suka.
"Dia sendiri. Sekalian aja gabung sama kita. Toh, sudah lama nggak ketemu sama kamu. Jadi, apa salahnya barengan, sih?" jawabnya enteng.
"Maaf, ya, kalo aku mengganggu waktu kalian. Ya sudah, aku pindah bangku, ya?" sela Vanesa dengan dramatisnya.
"Eh, gapapa, Vanesa. Kamu di sini aja, nggak merasa terganggu, kok. Justru malah tambah rame ada kamu." jawab Elena mencegah Vanesa pergi.
"Makasih, ya." balas Vanesa tersenyum.
"Iya, santai aja."
Semakin lama Aldrian merasa risi dengan sikap Vanesa yang sok baik. Aldrian takut akan kehadiran Vanesa kembali. Sepertinya Vanesa tidak main-main atas ancamnya tadi. Apalagi Elena malah akrab dengan Vanesa. Memang Vanesa benar-benar licik dalam permainannya. Dia bisa melakukan apa yang dia inginkan. Sekarang Aldrian harus berhati-hati dengan satu orang ini dan menjaga ketat Elena agar tak ada sedikitpun orang yang berani menyakitinya.